
Ardian mendapati istrinya sedang menangis dalam pelukan mertuanya sesampainya di dalam ruangan.
Sepersekian menit ia berdiri tanpa ada yang menyadari kedatangannya.
"Suami kamu sudah memaafkan kamu, Nak. Dia yang menjagamu dari tadi disini. Ardian tidak pergi. Dia cuma keluar untuk shalat Isya, Nak. Percaya sama Ibu."
Ardian hanya melihat istrinya menggeleng-geleng pelan. Masih tidak percaya dengan semua yang diucapkan ibunya.
"Aku sudah menghubunginya agar cepat kembali, Kak. Tapi, aku lupa kalau handphonenya aku yang bawa dari rumah." Bian ikut membujuk.
"Kamu harus tenang, Sayang. Tekanan darah kamu sangat rendah. Apalagi dengan kondisi kamu yang sedang hamil sekarang."
Ardian melangkah mendekat. "Assalamualaikum.."
Semua langsung terdiam. Santi langsung menoleh dan mendekati Ardian. "Ibu tidak bisa membujuk Ayra. Coba kamu yang lakukan, Nak." Mendekati sofa dan menyandarkan tubuhnya disana.
Chayra mengalihkan pandangannya saat melihat Ardian mendekat. "Kamu kenapa nangis, Chay. Kamu nggak boleh sedih, Sayang." Mengusap air mata istrinya dengan ibu jarinya.
Chayra masih diam. Terlihat malu menatap suaminya.
Ardian tersenyum seraya duduk di kursi tempat mertuanya duduk tadi. "Aku tidak akan meninggalkan kamu. Aku cuma keluar untuk shalat Isya tadi. Ibu baru datang, jadi aku baru bisa mendirikan shalat karena tidak ada yang menjaga kamu kalau aku meninggalkan kamu untuk shalat dari tadi." Menggenggam tangan Chayra erat.
"Maafkan aku, Kak."
"Jangan ungkit masalah itu lagi. Anggap itu semua tidak pernah terjadi."
"Tapi..."
"Sssttt...." Ardian meletakkan jari telunjuknya di depan bibir istrinya. "Kamu nggak boleh banyak pikiran, Sayang. Ada anak kita dalam rahim kamu. Istri yang baik akan nurut pada ucapan suaminya."
Perlahan-lahan, Chayra menatap suaminya. "Aku.. aku bukan istri yang baik, Kak."
"Kamu bisa belajar mulai dari sekarang. Aku juga akan belajar menjadi suami yang baik dan juga suami yang bertanggung jawab." Ardian mencium tangan Chayra dengan lembut. "Kita mulai lagi dari awal."
"Makasih, Kak."
"Tekanan darah kamu rendah. Kamu jangan kecapekan. Skripsinya ditunda saja dulu. Nggak apa-apa walaupun kamu wisuda belakangan."
"Nggak mau. Aku nggak mau nambah waktu kuliah lagi. Capek, Kak."
"Terserah kamu kalau begitu. Dokter udah datang periksa lagi kan, Bu?" Ardian menoleh pada mertuanya.
"Sudah, Nak. Alhamdulillah, tensinya naik sedikit. Delapan puluh per seratus. Jadi, Sedikit lebih baik daripada sebelumnya."
Bian tiba-tiba mendekat. "Kak ada pesan dari Kak Zidane." Menyerahkan handphone Ardian pada pemiliknya.
Ardian tersenyum seraya melafadzkan hamdalah beberapa kali membaca pesan itu.
"Ada apa, Kak. Kenapa senyum-senyum sendiri?"
"Aku diminta datang untuk interview besok. Kata Kak Zidane, insya Allah aku diterima."
__ADS_1
"Aamiin..."
Santi bangkit dari sofa. "Nak, Ibu keluar sebentar mau beli cemilan. Sekalian mau mencarikan makan malam untuk kamu. Kamu belum sempat makan, kan?"
"Aku nggak lapar, Bu."
"Mami kamu langsung pulang tadi?"
"Tidak, Bu. Katanya, Papi juga di rawat di Rumah Sakit ini."
Santi terkejut mendengar penuturan Ardian. "Papi kamu juga sedang sakit?"
"Kata Mami tadi begitu. Tapi, aku belum sempat mengunjungi Papi. Aku mengkhawatirkan keadaan Chay."
"Biar Ibu yang kesana sekarang. Papi kamu dirawat di ruang apa?"
"Ruang ICU. Kata Mami, Papi terkena serangan jantung."
"Astagfirullahal'adzim.." Santi langsung tertegun. "Itu penyakit berat, Nak. Kenapa kamu tidak menengok Papi kamu dulu sebentar."
Ardian menghela nafas berat. "Insya Allah, nanti aku kesana. Aku harus memastikan kalau istriku baik-baik saja terlebih dahulu."
"Tidak baik seperti itu, Nak. Walaupun kamu sudah berkeluarga, tetap utamakan orang tua kamu."
"Mereka saja tidak pernah mengutamakan aku. Jadi, karena mereka bersikap semaunya,tidak ada salahnya kalau aku juga bersikap begitu."
"Tidak..." Santi menggeleng-geleng pelan. "Ibu tidak setuju dengan ucapan kamu. Sekarang temui Papi kamu dulu. Ajak Bian juga bersamamu. Kalau perlu kamu nginap dan tidur dibawah kakinya. Biar istri kamu Ibu yang jaga."
Ardian menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Bian, temani Kakak, yuk. Kakak nggak nyaman kalau harus sendirian ke sana."
Renata menangis haru melihat kedatangan putranya. "Kamu datang, Nak. Papi kamu menyebut-nyebut nama kamu dari tadi."
Ardian tersenyum ketus seraya menyalami Maminya asal. "Aku tidak akan kemari kalau tidak Ibu Santi yang memintaku. Dia terlalu baik padaku. Itu yang membuatku tidak enak kalau harus menolak permintaannya."
Renata terdiam. Dia memang mengaku salah. Tidak pernah mencari tau keadaan putranya setelah suaminya mengusir Ardian beberapa bulan yang lalu. Saat mendengar anaknya akan wisuda waktu itu, dia baru tau, kalau putranya benar-benar selesai kuliah tepat waktu. Itulah mengapa dia memaksa suaminya untuk datang dan menghadiri acara itu. Walaupun mereka hanya sampai di halaman gedung Kampus.
"Bagaimana keadaan Papi sekarang?"
Renata terkejut mendengar pertanyaan putranya. Lamunannya langsung buyar. "Kamu.. kamu bisa melihatnya di dalam. Mami tidak bisa ceritakan keadaannya sama kamu. Masuklah dan lihatlah sendiri."
Ardian menarik tangan Bian agar ikut masuk ke dalam ruangan. Matanya tidak bisa berkedip menatap Papinya yang sedang terlelap. Berjalan mendekat, "maafkan Ardian, Pi." Bisiknya pelan seraya mencium dahi Papinya. Mata Ardian menatap sekujur tubuh Papinya yang dipenuhi alat-alat medis. "Maafkan Ardian tidak bisa menjaga hari tua Papi. Maafkan Ardian yang tidak bisa menjaga nama baik Papi. Ardian hanyalah anak yang tidak berguna. Tapi mulai sekarang, Ardian akan berjuang, Pi. Ardian akan berjuang untuk merasakan kerasnya perjuangan Papi sampai bisa seperti sekarang. Tapi, Ardian akan berjuang, tetapi perjuangan itu akan disertai dengan do'a." Ardian mengusap air matanya yang tiba-tiba jatuh. Mundur perlahan dan keluar dari ruangan itu.
"Kamu sudah bicara dengan Papi kamu, Ardian? Kenapa cepat sekali?" Renata menatap heran ke arah putranya yang masuk hanya beberapa menit.
"Papi sedang istirahat, Mi. Apa aku harus membangunkannya? Aku akan datang lagi nanti. Aku mau mengunjungi istriku dulu." Kembali menyalami Maminya dengan asal. "Assalamualaikum.. ayo, Bi, kita kembali ke ruangan Kakak kamu."
"W.. wa'alaikumsalam.." Renata hanya bisa menelan ludahnya . Menatap punggung putranya yang berjalan semakin jauh.
********
"Kenapa Kakak bisa kemari? Seharusnya Kakak kerja, kan?"
__ADS_1
Hari ini adalah hari keempat Chayra dirawat. Dokter belum mengizinkannya pulang karena tekanan darahnya belum juga stabil.
Ardian juga sudah mulai bekerja. Saat interview kemarin, dia langsung di terima karena bisa dengan lugas menjawab setiap pertanyaan yang diajukan kepadanya. Dia juga menjaga etika. Itulah yang membuatnya langsung diterima.
Ardian mengusap-usap dahi istrinya lembut. Beberapa kali mendaratkan ciuman karena mereka hanya berdua di ruangan itu. "Ini jam istirahat, Sayang."
"Bagaimana kalau macet nanti. Kakak bisa telat. Karyawan baru, masa telat. Kan itu bukan imej yang bagus."
"Insya Allah aman.. aku balik pas selesai shalat nanti."
Chayra melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul dua belas. "Jam berapa balik?"
"Pukul satu tiga puluh." Ardian mengambil satu buah apel yang tergeletak di atas meja.
"Aku kok ingin makan bareng, Kak."
"Kamu kan lagi sakit. Kamu nggak boleh makan sembarangan. Kalau satu piring berdua itu berarti..."
"Kakak harus makan apa yang aku makan."
Ardian langsung mual. Mengingat menu makan istrinya yang selalu hadir hati ayam di dalamnya. "Aku nggak suka hati, Sayang. Membayangkannya saja aku mual, apalagi sampai harus memakannya."
"Belikan makanan di luar dong. Aku juga bosan tau, makan makanan dari Rumah Sakit terus." Memonyongkan bibirnya kesal.
Ardian menyambar bibir istrinya. Tidak menyia-nyiakan kesempatan langka itu. Beberapa hari ke belakang ini, dia tidak pernah bermesraan dengan Chayra. Lama mereka saling mendalami ciuman mereka. Tidak sadar kalau sepasang mata yang berdiri di dekat pintu sedang menyaksikan kelakuan mereka berdua.
"Hhhmmm... hhmmmm... maaf mengganggu." Zidane mengalihkan pandangannya saat pasangan itu tersadar.
Chayra langsung menarik diri. Melepas paksa ciumannya. Memasang niqabnya untuk menyembunyikan wajahnya.
"Eh, Kak Zidane.." Ardian menggaruk-garuk kepalanya salah tingkah.
"Kalau rindu sama bibir istri, setidaknya kunci pintu dulu, Ardian. Untung saja aku yang datang. Bagiamana kalau Dokter atau Perawat yang masuk? Malu-maluin, kan?"
"Insya Allah aman, Kak." Ardian cengengesan.
"Mentang-mentang udah baikan." Zidane menggerutu seraya merebahkan tubuhnya di atas sofa. "Kapan kemari, Ar?"
"Baru aja datang, Kak."
"Jangan sampai telat balik. Jam setengah dua kamu harus sudah di kantor."
"Iya, Kak. Selesai shalat Zuhur nanti aku langsung meluncur. Aku kepikiran Chay tadi. Makanya aku kemari, mumpung baru istirahat."
"Bagaimana pekerjaan baru kamu ini, tidak memberatkan kamu atau bagaimana?"
"Alhamdulillah, aku bisa handel semuanya."
"Aku mau makan siang di luar. Kamu mau ikut?" Zidane bangkit dari sofa.
"Nggak boleh!" Chayra yang menimpali. "Kak Zidane keluar saja sendiri. Aku mau berduaan lagi dengan suamiku."
__ADS_1
Zidane mendengus seraya bangkit. "Jangan lupa kunci pintu kalau mau kayak tadi lagi. Ingat, kalian tidak sedang di dalam kamar." Berlalu keluar lalu menutup pintu dengan pelan.
********