
Ardian tertegun beberapa saat mendengar pertanyaan papanya Tina. "M.. maksudnya, Pa?"
"Anak ini katanya sedang melakukan ta'aruf dengan putriku. Dia bilang kalau dirinya menyukai Elsa Tina Miranda. Bagaimana menurutmu?"
Ardian hanya tersenyum hambar. Bingung mau menjawab dengan apa kalimat pertanyaan yang dilontarkan papanya Tina. Bagaimanapun juga rencana memperkenalkan Dodit dengan Tina adalah rencana yang dibuatnya. Walaupun Dodit juga menginginkannya, tetapi tetap saja dia merasa bersalah.
"Bagaimana, Ardian? Apa kamu setuju melihat putriku dengannya? Heh, aku malahan melihat kalau putriku terlihat sangat tidak cocok dengannya."
"Kenapa Papa menyimpulkannya begitu?" Chayra akhirnya angkat bicara.
"Ayra, seharusnya kamu bisa menilai laki-laki ini. Dia bahkan tidak tau seluk beluk keluarganya. Seperti anak jalanan saja yang tidak tau keluarga sendiri. Terus dapat keberanian darimana dia mengatakan mencintai putriku. Hal yang sungguh tidak masuk akal sama sekali."
"Papa salah dalam menilai orang. Walaupun Pak Dodit tidak mengetahui keluarganya, setidaknya dia sudah bisa menjamin Tina akan bahagia jika hidup dengannya."
"Kenapa kamu berkata begitu?"
"Papa pasti sudah tau kalau Pak Dodit memiliki pekerjaan tetap. Insya Allah, dia juga orang yang taat beragama. Selama aku mengenalnya, dia tidak pernah lalai dalam mendirikan shalat. Sejauh ini, yang aku ketahui Tina juga mencintai Pak Dodit. Seharusnya Papa mempertimbangkan maksud baik kedatangan Pak Dodit."
"Mm... bagiamana kalau Papa dan Mama memberikan waktu untuk mereka berdua untuk bicara. Menurut aku, yang akan menjalaninya mereka."
"Mama setuju dengan usul Nak Ardian."
"Tapi, Ma.."
"Sssttt... kita serahkan semuanya pada Allah, Mas. Masa jalan pikiran kita kalah sama anak kemarin sore seperti Ayra dan Ardian. Apa Papa lupa dengan perjalanan pernikahan mereka berdua?" Bu Tantri menunjuk Chayra dan Ardian. Menepuk-nepuk pundak suaminya untuk menenangkan.
"Papa juga bisa melihat dari seluk beluk keluarga Ayra dan Ardian. Mereka jauh berbeda kan, Pa. Kalau dipikir dari garis keturunan, Pak Akmal pasti menolak mentah-mentah Ardian untuk menjadi cucu menantunya. Apalagi melihat kehidupan Ardian yang dulu. Tapi, Pak Akmal tidak pernah seperti itu. Dia selalu menganggap sama semua orang." Bu Tantri kembali meluruskan jalan pikiran suaminya.
"Terserah Mama.. " langsung bangkit dan berlalu dari ruang tamu.
Bu Tantri tersenyum seraya menatap kepergian suaminya. Ia beralih menatap Dodit yang masih menunduk. "Nak Dodit jangan menunduk terus. Coba diangkat wajahnya dari tadi."
Dodit mengangkat wajahnya seraya tersenyum lemah. "Maafkan kelancangan saya, Bu."
"Kok ngomong gitu, Nak. Hal seperti ini biasa terjadi sebelum pernikahan. Anggap saja ini cobaan untuk kalian. Mama juga pernah mengalaminya dulu. Papa kalian itu tidak mendapatkan restu dari kedua orang tua Mama. Kami bahkan ditentang keras untuk menikah. Papa kalian berasal dari keluarga yang pas-pasan. Sedangkan Mama berasal dari keluarga mapan. Iya... setelah menikah, Papa kalian diberikan pekerjaan yang menjanjikan di keluarga Mama. Dan.. alhamdulillah, Papa kalian berhasil mengangkat derajat dirinya dengan prestasi yang dan keberhasilan yang semakin meningkat."
__ADS_1
"Terus kenapa Papa menentang kami sekarang, Ma? Seharusnya dia ingat dong siapa dirinya. Kenapa sekarang malah jadi orang sombong?" Tina yang dari tadi menyimpan kekesalan karena perkataan pedas papanya akhirnya mengeluarkan uneg-unegnya.
"Kayaknya Papa kamu mau balas dendam.."
"Hah, balas dendam untuk apaan? Aku kan anaknya, bukan anak Kakek atau sepupu Mama." Tina melengos kesal.
"Mama bisa atur hal ini.."
"Tapi Mama setuju kan, kalau aku menikah dengan Kak Dodit?"
"Kalau Mama sih, orangnya netral, Nak. Yang penting laki-laki itu menjamin kehidupan kamu. Seperti kata Ayra tadi.."
Tina tersenyum bahagia mendengar ucapan Mamanya. Serasa seperti mendapatkan angin segar setelah sesak mendengar ucapan papanya yang menyakitkan.
"Mm.. Ma, Ayra dan Kak Ardian mau pamit. Kami mau ke rumah Papa Panji sebentar."
"Panji tidak ada di rumah, Ayra. Dia dan istrinya sedang ke luar kota." Timpal Bu Tantri. "Tapi, kayaknya Alesha ada di sana. Semalam Mama lihat dia datang dengan suaminya."
"Kami akan mencoba mencari tau." Chayra dan Ardian bangkit. Ardian mengambil alih Adzra yang tidur sejak berangkat tadi.
Spontan Ardian membalik kembali tubuhnya. "Biar aku pijit. Bagian mana yang kebas, Sayang?"
Bu Tantri tersenyum melihat hal itu. Dia tidak menyangka kalau Ardian yang sangat bejat dahulu bisa berubah seperti sekarang. Dia bahkan sempat tidak percaya dengan cerita Tina tentang Ardian yang sudah berubah total. Tapi, saat melihat perhatiannya tadi membuat hatinya terasa tersentil. Sampai saat ini, masih saja ada rasa kesal kalau melihat Ardian. Bagaimana pria itu memperlakukan Chayra. Dia bahkan sempat mengutuk Ardian karena bencinya pada pria itu. Tapi, sekarang dia hanya bisa tersenyum tidak percaya melihat harmonisnya pernikahan Ardian dan Chayra.
**********
Ardian menepikan kendaraannya saat melihat istrinya tertidur dengan memangku putra mereka. Habis shalat Maghrib tadi, mereka langsung bersiap ke rumah Bu Santi. Rencananya, Chayra dan Adzra akan dititipkan disana selama tiga hari ke depan karena Ardian akan keluar kota.
Ardian memperhatikan wajah anak dan istrinya. Ingin memindahkan Adzra agar tangan istrinya tidak kebas. Hal itu justru membuat Chayra terbangun.
"Eh, ada apa, Sayang?" Spontan tangan Chayra memeluk tubuh Adzra.
"Kamu tidur saja, Adzra biar aku yang jaga. Nanti tangan kamu kebas kayak kemarin kalau ditindih terlalu lama."
"Tidak apa-apa, Mas. Sebentar lagi kita sampai kan?"
__ADS_1
"Masih jauh, Chay.."
"Jarak dari rumah dan rumah Ibu kan cuma tiga kilometer, Mas. Kamu lanjut saja, nggak usah lirik ke arah kami biar kamu fokus nyetir."
Ardian terdiam beberapa saat memperhatikan istri dan anaknya.
"Jalan saja, Mas. Aku baik-baik saja kok." Chayra berusaha meyakinkan suaminya karena Ardian masih saja terlihat khawatir.
"Ayo buruan biar kita cepat sampai."
"Kamu yakin akan baik-baik saja?"
"Mm... insya Allah, aku akan baik-baik saja kok."
Ardian akhirnya mengalah dan melanjutkan perjalanan. Baru beberapa meter istrinya terlihat menguap lagi. "Tidak mau mampir membeli sesuatu?"
"Mau membeli apa, Mas?"
"Apa saja terserah kamu. Kita tidak bawa oleh-oleh untuk Ibu dan Bian. Aku nggak mau diprotes sama adik kamu itu nanti."
"Aku malas turun, Mas. Nanti saja aku kasih dia uang caranya."
"Tapi uangnya dia saja lebih banyak dari uang kamu, Sayang."
"Tapi uangnya Bian dibawa Ibu. Anak itu kalau dikasih bawa uang sendiri, yang ada dia malah menyalah gunakannya nanti."
Ardian kembali mengalah. Istrinya terlihat kecapekan, mungkin itu yang membuatnya malas turun. Sudah tiga hari ini Ardian memang selalu pulang terlambat. Untung sore tadi ada break sehingga dia bisa pulang sebentar. Jam sembilan nanti, dia masih ada pertemuan dengan orang penting. Dia tidak tau sampai jam berapa pertemuan nanti. Intinya, dia sudah mengamankan istrinya. Dia tidak enak meninggalkan Chayra di rumah karena maminya sering meminta uang berlebihan padanya. Parahnya lagi, istrinya selalu memberikannya dengan alasan tidak enak.
Ardian POV...
Aku beberapa kali melirik ke arah Chay. Matanya memang masih terbuka, tetapi dia berulang kali menguap. Ada rasa kasihan melihatnya seperti itu. Sudah tiga hari terakhir ini aku selalu kerja lembur. Kemarin libur cuma satu hari, sekarang malah lembur sampai tiga hari. Apalagi besok sore aku akan berangkat ke luar kota. Huh, benar-benar deh, jabatan ini sering sekali menguras tenaga dan akal sehatku. Aku malah merasa lebih senang saat numpang di rumah mertuaku dulu. Kerjaannya ringan ditambah selalu bersama istri siang dan malam. Hahaha.. tapi aku bukanlah laki-laki tidak tau diri yang keenakan numpang. Jika aku Ardian yang dulu, mungkin aku tidak akan mau pindah dari rumah itu.
Aku kembali menatap istriku. Hah, ternyata dia sedang menguap lagi. Andaikan Bi Idah tidak pulang kampung, mungkin dia tidak akan terlalu lelah. Sudah satu minggu Bi Idah pulang. Saat aku menghubunginya pagi tadi, dia bilang belum bisa kembali karena anaknya masih belum sembuh total. Ya Allah, andaikan aku tidak ada tanggung jawab dengan saham itu. Ingin aku menyewakan dua orang Asisten agar istriku tidak kecapekan seperti ini.
*********
__ADS_1