
Ardian bergegas menemui istrinya yang sudah duduk di kursi tunggu di depan pintu ruang periksa. "Sudah nomor antrian berapa yang masuk?" Duduk dengan nafas sedikit terengah-engah.
Chayra menarik nafas lega melihat kedatangan suaminya. "Huh, kirain Kak Ardian sudah lupa sama aku. Biasa kan, kalau Kakak udah ngobrol dengan teman Kakak yang itu sering lupa waktu."
"Tidak akan sampai lupa kalau itu berurusan dengan kamu."
"Mm... Ibu bisa tinggal sekarang, Nak. Ibu mau ke Musholla. Nanti kita ketemu disana. Nggak apa-apa kan?" Santi memotong pembicaraan karena Adzan Maghrib terdengar berkumandang.
"Iya, Bu. Nanti aku masuk sama Kak Ardian." Jawab Chayra. Dia tau kalau ibunya paling tidak suka menunda waktu shalat. Chayra kembali menatap suaminya setelah Santi berlalu. "Bagaimana hasil pembicaraannya, apa sudah ada titik terang?"
Ardian mengangguk. "Aku dapat titik terang. Tapi Kate masih bercerita saat kamu nelpon tadi. Aku sudah janjian akan bertemu saat aku punya waktu luang."
"Aku kan sudah menyuruh Kak Ardian untuk diam disana. Aku bisa masuk bersama Ibu saja seperti biasa."
"Aku nggak mau kehilangan momen ini lagi. Udah datang dan merencanakan dari jauh-jauh hari untuk menemani kamu. Kalau pertemuan dengan Kate kan, tidak disengaja."
"Tapi informasi dari dia kan jauh lebih penting, Kak."
"Siapa bilang begitu. Aku juga sangat ingin tau kondisi anak aku. Kamu kan tidak pernah mau menjelaskan dengan panjang lebar kalau aku tidak menemani kamu. Kamu pelit informasi."
"Terus masalahnya apa? Salah Kakak sendiri tidak bertanya panjang lebar. Pakai bilang anak aku segala. Ini anak kita, bukan hanya anak Kakak. Yang mengandungnya kan aku bukan Kakak."
"Tapi ini semua bisa terjadi karena kerja sama kita berdua, Sayang. Aku juga sangat berperan penting dalam proses pembuatannya. Jika berat sebelah tidak akan terproses dengan sempurna." Ardian tidak mau kalah.
Perawat yang berdiri di depan ruang periksa hanya bisa menahan senyum mendengar percakapan Chayra dan Ardian. Ingin rasanya meledakkan tawanya, tetapi dia tidak mungkin tertawa karena sedang bertugas menjaga pintu.
"Huh, dasar tetap saja tidak mau kalah."
"Hehehe..." Ardian hanya tersenyum seraya menggenggam tangan istrinya.
Setelah pasien nomor sembilan belas keluar dengan digandeng mesra suaminya. Nama Chayra akhirnya disebut untuk masuk ke ruang periksa.
"Ibu Chayra Azzahra.." Perawat yang tadi menahan senyum memanggil Chayra. "Eh, ternyata Mbaknya yang namanya Chayra." Ucap perawat itu lagi keceplosan.
"Iya, Mbak saya, Chayra. Apa ada masalah?" Tanya Chayra ramah.
"Ng.. nggak ada, Mbak. Silahkan masuk.."
Chayra langsung memasuki ruangan begitu di persilahkan.
"Kenapa Perawat tadi terlihat menahan senyum saat kita lewat?" Ardian masih heran melihat Perawat yang terlihat bertingkah aneh saat melihat istrinya berdiri.
"Sssstttt... jangan bahas apapun sekarang. Kita mau bertemu Dokter."
__ADS_1
Ardian akhirnya hanya bisa mengangguk mendengar titah sang istri.
"Eh, tumben ditemani suaminya." Dokter yang ternyata sudah mengenal baik Chayra langsung berasa-basi begitu melihat Ardian berjalan di belakang Chayra.
"Iya alhamdulillah, Bu Dok. Batu ada sempat. Ini aja kita sudah sudah adakan perjanjian dari jauh-jauh hari agar tidak ada pekerjaan yang menghalangi." Timpal Ardian.
Dokter itu tersenyum. "Silahkan berbaring, Cantik. Kayaknya kalau bersama suami, jenis kelaminnya tidak mau disembunyikan lagi."
"Rencananya sih begitu, Dok. Dia sudah memperingatkan aku kalau tidak bisa ikut lagi, maka jenis kelaminnya akan kembali disembunyikan."
"Itu artinya istrinya butuh perhatian, Dek. Makanya waktunya jangan dihabiskan untuk kerja. Nanti malah istrinya ngambek mau diapakan?"
"Hehehe..." Ardian hanya cengengesan sambil menggaruk-garuk tengkuknya. Yaelah ini Bu Dokter malah ikut mojokin gue lagi ucap Ardian dalam hati.
Dokter itu hanya tersenyum melihat ekspresi Ardian. Setelah Perawat mengoleskan gel di perut Chayra, Dokter mulai menggerakkan tuas di perut Chayra.
"Wah, anaknya ini terlihat nggak mau diam, Dek. Anggita tubuhnya lengkap semua. Kalian mau melihat wajahnya juga?"
"Mau, Dok." Ardian langsung menjawab dengan antusias.
"Wah Bapaknya ini antusias banget ya.. efek tumben menemani istri periksa kayaknya." Bu Dokter kembali meledek sambil tangannya terus menggerakkan tuas di perut Chayra
Ardian kembali cengengesan. Mau menanggapi tapi bingung mau bilang apa.
"Mau, Dok." Ardian kembali memberikan jawaban spontan.
Dokter itu hanya melirik tanpa berkomentar lagi. Kembali fokus pada monitor. "Berat badannya lebih dari cukup. Ini malah beratnya kelewatan. Harus diet ini ibunya biar anaknya tidak terlalu besar. Mm... untuk jenis kelaminnya, bayinya tampan kayak Bapaknya ini."
"Wahahaha.. aku ternyata lebih berpengaruh dari kamu, Chay." Ardian langsung heboh.
"Kaka Ardian ngomong apaan sih?" Chayra mencubit tangan Ardian yang sedang menggenggam tangannya.
Setelah USG selesai, Perawan mengusap gel lalu menutup kembali pakaian Chayra.
Raut wajah Ardian terlihat sumringah sampai keluar ruangan. Informasi dari Dokter kalau anaknya laki-laki membuatnya merasa sangat bahagia.
"Aku pulang sama Ibu saja, aku lihat Audy masih menunggu. Itu berarti, temannya Kak Ardian yang tadi masih disini." Ternyata Chayra melihat keberadaan Audy di ruang tunggu tadi. Walaupun wanita itu memakai masker, tapi Chayra bisa mengenalinya. Audy juga menyadari keberadaan Chayra dan Arsian. Itulah mengapa dia langsung memakai masker sebelum Chayra menyadari keberadaannya.
"Aku akan antar kamu pulang dulu. Aku mau menanyakan keberadaan Kate dulu sekarang. Mudah-mudahan dia masih disini." Ardian mengambil handphonenya di dalam saku bajunya untuk menghubungi Kate.
"Assalamualaikum, Bro. Lho masih di Klinik nggak?"
"Wa'alaikumsalam, gue masih disini. Gue di Musholla nih, bersama mertua lho."
__ADS_1
"Langsung menjemput hidayah kayaknya lho. Ok lah, gue ke sana sekarang. Jangan kemana-mana."
"Mm..."
Ardian berjalan cepat, sampai lupa kalau dirinya sedang menggandeng wanita yang sedang hamil tua.
"Kak, aku kewalahan nih, nggak bisa jalan cepat kayak Kakak. Bisa di pelankan sedikit volume jalannya."
"Eh, Astagfirullahal'adzim, aku lupa kalau sedang jalan bersama kamu." Ardian memperlambat jalannya. "Aku khawatir kalau Kate malah meninggalkan aku nanti. Dia itu suka iseng dari dulu. Pas lagi dibutuhkan malah main tinggal."
"Iya tapi ini kan aku juga sudah berjalan maksimal. Maunya sih lari aja biar cepat sampai. Tapi kan ada anak kita diperut aku."
"Iya, Sayang maafkan aku."
Ardian mengedarkan pandangannya sampai di depan Musholla. Melihat Kate sedang duduk menunduk di depan Santi membuatnya berjalan mendekat. Tapi, kali ini jalannya pelan karena sadar ada wanita hamil yang menjadi tanggung jawabnya.
"Assalamualaikum,"
"Wa'alaikumsalam.." Santi yang menjawab.
"Eh kutu kamvret gue udah peringatkan lho kalau harus menjawab saat orang mengucapkan salam." Ardian menepis lengan Kate yang hanya diam saja. Kepalanya menunduk dalam. Ardian terdiam saat melihat isyarat dari mertuanya. Menyadari kalau ada hal ganjal yang sedang terjadi pada temannya.
"Kalian sudah shalat kenapa langsung menghampiri kami?" Tanya Santi.
"Eh, b.. belum, Bu." Ardian menjawab dengan takut-takut.
"Kenapa kemari kalau belum shalat? Waktu Maghrib udah mau lewat ini. Seharusnya kalian ke tempat wudhu' terlebih dahulu, shalat, baru hampiri kami disini. Ibu tidak akan meninggalkan kalian kok."
"Eh, i.. iya, Bu." Ardian menarik tangan Chayra yang hanya bisa menahan senyum melihat suaminya kena semprotan.
"Lah, ini kok malah bawa aku ke tempat wudhu' pria." Protes Chayra saat Ardian terus saja menariknya tanpa melihat situasi sekitar.
"Eh, astagfirullah, gue kenapa sih hari ini." Mengusap-usap wajahnya kasar karena banyak tindakannya yang tidak ia sadari.
"Udah ah, aku mau ke tempat wudhu' yang seharusnya. Harus muter lagi ini lagi ceritanya." Chayra balik badan karena tempat wudhu' wanita ada di sebelah Utara, sedangkan Ardian menyeretnya ke Selatan.
"Maaf, Sayang."
"Mm..." Chayra menjawab tanpa menoleh.
Usai mendirikan shalat Maghrib Ardian menoleh melihat istrinya. Terlihat Chayra masih hanyut dalam do'a membuatnya langsung menghampiri mertuanya sendirian.
"Teman kamu mau belajar ke rumah katanya. Bosan dengan kehidupan yang pahit seperti kata kamu. Dia bilang, hidup kamu yang terlihat manis, tidak asin apalagi pahit seperti kehidupan dia membuatnya ingin sekali berubah seperti kamu." Santi langsung menjelaskan hal yang membuat Ardian kebingungan sebelum shalat tadi.
__ADS_1
********