Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Hidupmu pelit


__ADS_3

"Kenapa kamu tidak membawa cucuku kemari, Ardian?"


"Chay tidak mau, Kek. Aku sudah berulang kali membujuknya. Katanya, masalah semalam sudah dia anggap selesai. Tidak ada lagi yang perlu diselesaikan."


Pak Akmal tersenyum sinis sambil berjalan memperhatikan dekorasi ruangan Ardian. "Lalu dimana wanita kurang ajar itu sekarang?"


"Mm... dia masih dijalan, Kek. Dia tidak masuk kerja karena kurang enak badan sejak pulang dari pesta semalam."


"Itu adalah alasan paling umum yang diucapkan oleh seorang pengecut." Timpal Pak Akmal, masih memperhatikan dekorasi ruangan Ardian.


Dodit yang duduk di sofa untuk mendampingi Ardian hanya bisa menelan ludahnya. Dia tidak pernah berhadapan dengan Pak Akmal sebelumnya. "Dimana Papi kamu sekarang?"


"Papi ada di ruangannya, Kek."


"Apa kamu tidak pernah menginformasikan kepadanya, kalau Kakek akan berkunjung ke Perusahaan ini?"


"Sudah, Pak. Tapi, Pak Sucipto juga sedang menerima tamu. Beliau akan kemari jika tamunya sudah pergi." Dodit yang menjawab.


Pak Akmal manggut-manggut. "Ternyata orang-orang di Perusahaan ini sibuk dengan urusan mereka masing-masing."


Dodit menautkan alisnya mendengar ucapan Pak Akmal. Semua orang sudah pasti sibuk dengan urusan masing-masing sesuai dengan keahliannya. Orang tua itu terlihat sangat santai, duduk bersandar di sofa sambil menaikkan sebelah kakinya.


"Kamu dikasih jabatan apa sama Sucipto disini, Nak?"


Dodit yang tidak siap dengan pertanyaan Pak Akmal sedikit terkejut. "Eh, mm... anu, Pak. Saya disini sebagai sekretaris Pak Ardian."


Pak Akmal kembali mengangguk-angguk. "Istri kamu kira-kira sedang ngapain sekarang, Ardian?" Pak Akmal beralih menatap Ardian.


"Kalau jam segini, Chay biasanya sedang tidur bersama Adzra."


Percakapan terus berlanjut sampai Pak Akmal bosan karena tidak ada tanda-tanda Anita akan muncul.


"Mana orangnya, Ardian. Apa kamu berniat menipu Kakek?"


"Mana ada, Kek."


"Benar, Pak. Bu Anita katanya tadi sudah di jalan pas saya menghubunginya satu jam yang lalu."


"Kalian ternyata bisa ditipu oleh bawahan kalian sendiri." Pak Akmal bangkit. "Kakek mau pergi sekarang. Jangan lupa titipkan salam Kakek untuk cucu dan cicit Kakek. Kakek sudah transfer ke rekening istri kamu sejumlah uang. Pakai uang itu untuk mengajak istri kamu jalan-jalan nanti. Kamu ini perhitungan sekali, Ardian. Kalian hampir tiga tahun menikah, kamu tidak pernah mengajak istri kamu keluar. Pelit sekali hidup kamu."

__ADS_1


"Ehehehe...." Ardian tersenyum meringis tidak tau mau berkata apa.


Pak Akmal mendengus lalu keluar dari ruangan Ardian dengan langkah gontai. Menjentikkan jarinya pada tiga orang pengawal yang menyertainya.


"Buahahahah...!" Tawa Dodit langsung meledak begitu Pak Akmal menghilang dari pandangan.


Ardian mengernyit. "Kenapa lu tertawa nggak jelas kayak gitu?"


"Nggak jelas bagaimana maksud kamu, Ar? Itu tadi Pak Akmal mengucapkan dengan sangat jelas, kalau kamu pelit pada istrimu. Hahahaha...."


"Nggak lucu, tau nggak?!" Ardian melengos seraya berlalu. "Sudah sana lanjutkan kerjaan kamu. Persiapkan berkas yang akan dibawa rapat siang ini. Semua harus sempurna agar kita tidak mengecewakan pihak luar."


"Siap Pak Komandan. Anda tinggal mempelajarinya saja nanti. Saya segera siapakan sekarang." Dodit gerak jalan cepat meninggalkan ruangan Ardian.


***********


Chayra menopang dagu menatap suaminya yang sedang melahap makan malamnya. "Kamu nggak makan siang ya tadi?"


Ardian hanya menjawab dengan anggukan kepalanya.


"Jadi GM itu sibuk banget ya, sampai nggak ada waktu untuk makan siang?"


"Apa kesimpulan hasil rapat dengan Kakek."


Ardian menggeleng. "Tidak ada hasil apa-apa, Sayang. Kakek hanya duduk menghina aku. Dia bilang aku pelit, Chay. Aku nggak pernah ajak kamu jalan-jalan selama kita menikah. Jangan tanyakan masalah bulan madu. Kita tidak pernah berbulan madu karena awal yang berbeda."


Chayra sedikit terkejut mendengar cerita suaminya. "Hmmm... aku tidak pernah mempermasalahkan hal itu, Mas. Aku hanya ingin menjalani pernikahan ini dengan baik. Kita saling memperingatkan jika ada yang membuat salah. Kita selalu Istiqomah menjaga shalat dan tetap taat pada perintah agama. Aku nggak butuh jalan-jalan sampai keluar negeri, Mas. Biarkan Kakek mengucapkan apapun yang dia inginkan. Ucapan Kakek itu terkadang kelewat batas. Kamu jangan terlalu memikirkan ucapan Kakek."


"Iya, aku juga berpikir begitu sekarang. Tapi, tadi siang Kakek mengatakan aku pelit di hadapan Dodit. Si Dodit malah sampai tidak bisa menahan tawanya. Huh, menyebalkan sekali.."


Chayra tersenyum melihat tampang suaminya. "Unyuk-unyuk si Abang terlihat tampan kalau ngambek kayak gitu." Chayra menjembel pipi suaminya gemes.


Ardian tersenyum seraya meletakkan sendoknya. "Alhamdulillah..." mengelap mulutnya karena sudah selesai makan.


"Chay..."


"Mm..." Chayra kembali menopang dagunya di hadapan sang suami. Mengedip-ngedipkan matanya menggoda sang suami.


"Jangan kayak gitu, Sayang. Bagaimana kalau aku tidak tahan lalu memangsamu disini."

__ADS_1


"Apaan sih, Mas.."


"Kamu jangan ngedip-ngedip kayak tadi. Aku merasa tertantang untuk melaksanakan yang lebih jauh dari sekedar bertatap mata dengan kamu."


"Silahkan saja, Mass..." Chayra berbisik lembut sengaja menggoda suaminya.


Ardian merinding saat nafas Chayra mengusik ketenangan telinganya. Ia segera mengusap-usap telinganya. "Sayang... please deh, jangan suka bisik-bisik kayak gitu. Kamu tau kan itu kelemahan aku. Aku geli, Chay..


"Bercanda, Mas. Aku seneng banget lihat tampang kamu yang kayak tadi. Hahahah... itu menjadi hiburan tersendiri setelah aku capek seharian main sama Adzra."


Ardian menyebikkan bibirnya. "Kamu sih enak, Sayang. Tidak kerja tapi setiap bulan transferan dari Ibu selalu lancar. Belum lagi dari Kakek. Lah, aku kalau tidak kerja siapa yang mau kasih uang. Papi dan Mami mana perduli aku punya uang atau tidak. Yang ada Papi malah sengaja memotong gaji aku."


"Maksudnya..?"


"Papi sengaja memotong gaji aku dua juta setiap bulan. Aku pernah tanya Dodit berapa gaji sekretaris Direksi di perusahaan itu. Eh, tau-taunya yang aku terima kurang dari yang seharusnya. Aku akan lihat bulan ini. Aku sudah tau jumlah gaji yang seharusnya aku terima. Kalau Papi memotongnya lagi, aku akan langsung mengundurkan diri dan meminta pekerjaan pada Kakek. Lebih enak digaji sama orang kalau begini modelnya."


"Kamu sendiri yang bilang kemarin kalau kamu tidak mau terlihat seperti orang yang meminta pada keluarga istri."


Ardian menghela nafas berat. "Kalau aku pikir, aku salah menerjemahkan maksud Kakek memintaku untuk bekerja di perusahaannya. Aku disana kan disuruh bekerja. Aku mendapatkan gaji karena aku bekerja. Aku dipercaya karena aku memiliki kemampuan. Jadi, aku dikasih uang sebagai gaji karena aku bekerja."


"Terus kamu akan pindah kerja setelah mendapatkan jabatan tertinggi ini?"


"Iya... kalau gajiku terpotong lagi. Aku juga mendapatkan jabatan ini, pasti tidak lepas dari campur tangan Papi dan Mami. Jabatan ini juga terasa berat aku jalani, Chay."


"Hmm... baru aja sehari, Mas. Pas kamu gantiin Pak Randi sampai berminggu-minggu kemarin kamu nggak pernah ngeluh. Kok sekarang ngeluhnya."


"Nggak tau juga, Sayang. Aku kok merasa malas sekarang. Habis shalat Ashar tadi, Papi mengantarkan beberapa lembar peraturan yang harus aku taati. Bingung aku, Sayang. Diangkat jadi GM, kok kerasa dijadiin budak sama Papi. Hari pertama aku kerja aja, Papi udah main tegas sama aku. Pas kemarin gantiin Pak Randi aja, sikapnya jauh berbeda. Dilema aku jadinya, Sayang."


Chayra menarik nafas panjang. "Ya.. mau bagaimana lagi, Mas. Kamu jalani aja dulu. Jangan mudah menyerah. Ini kan baru permulaan. Kalau kamu kerja dengan baik ke depannya, insya Allah, Allah pasti mempermudah jalan kita."


Ardian tersenyum kecil. "Aku kok merasa kecil sekarang. Sejak Kakek mengatakan hidupku pelit, aku jadi berpikir kalau Kakek nyindir aku. Setiap bulan seharusnya gajiku lebih dari cukup untuk semua kebutuhan kita. Tapi, yang ada pasti kamu yang menutupi semua kekurangan itu. Aku mikir juga tadi, kenapa tidak sekalian aku kerja pada Ibu saja biar aku mendapatkan gaji yang seharusnya."


"Udah ah, Mas. Nanti kita bahas lagi. Kita istirahat sekarang. Kami pasti capek kan? Aku pijit yuk di kamar, biar badannya rileks lagi." Chayra menarik tangan suaminya agar ikut bangkit.


"Aku maunya pijit plus-plus, Sayang. Otak bawah juga mau dirilekskan biar bisa kerja dengan benar besok pagi."


Chayra langsung menggeleng-geleng. "Pikiran kamu, Mas...."


*********

__ADS_1


__ADS_2