Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Kemarahan Pak Akmal


__ADS_3

"Oleskan saja salep ini agar tanda itu cepat hilang." Dokter yang memeriksa Chayra menyerahkan sebuah salep pada Bu Santi.


"B.. bagaimana keadaan putri saya, Dokter?" Tanya Bu Santi setelah Dokter itu keluar dari kamar Chayra.


"Sepertinya keadaan psikis putri anda sedikit terganggu. Untuk saat ini, jangan biarkan dia sendirian. Saya khawatir kalau dia sampai melakukan hal-hal di luar kendali."


"M.. maksud Dokter?"


"Intinya, Ibu jangan meninggalkan dia sendirian. Mentalnya sedikit terganggu karena kejadian yang menimpanya ini. Ibu usahakan untuk selalu ada di sampingnya. Kalau Ibu akan meninggalkannya, suruh yang lain untuk menjaganya." Dokter muda itu menatap Bu Santi dengan raut wajah khawatir. "Mm.. kenapa Ibu tidak membawanya ke Rumah Sakit saja untuk penanganan yang lebih lanjut."


Bu Santi langsung menggeleng. "Saya tidak mau aib putri saya menjadi konsumsi publik."


"Tapi ini demi kebaikan putri Ibu."


Bu Santi kembali menggeleng. "Saya hanya akan melakukan rawat jalan untuk putri saya. Saya percaya kalau Dokter akan melakukan yang terbaik untuknya."


"Saya akan usahakan semampu saya, Bu." Tersenyum tapi terlihat seperti dipaksakan.


"Mm.. apakah anak saya bisa sembuh, Dokter?"


"Lho, kenapa Ibu berkata begitu? Allah itu Maha Kuasa, Bu. Orang yang sudah divonis Dokter akan mati dalam jangka waktu sekian hari atau sekian bulan pun, terkadang bisa hidup dalam waktu yang lebih lama. Itu semua bisa terjadi karena apa, Bu? Karena Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu."


Bu Santi tersenyum kaku langsung menundukkan kepalanya, terdiam mendengar penjelasan Dokter itu.


"Kalau begitu saya pamit dulu. Insya Allah, besok pagi saya akan datang lagi untuk melihat perkembangan putri Ibu." Dokter itu bangkit dari sofa seraya menyalami Pak Ismail yang duduk di depannya.


"Terimakasih atas waktunya, Dok." Ucap Pak Ismail.


"Assalamualaikum.."


"Wa'alaikumsalam.."


Pak Akmal dan Bu Fatimah ( Kakek dan neneknya Chayra) keluar dari kamar Chayra dengan raut muka sedih.


"Kenapa cucuku bisa sampai seperti itu, Ismail?"


Pak Ismail tersentak mendengar pertanyaan mertuanya. Keduanya menatap Pak Ismail seolah meminta penjelasan.


"Apa yang terjadi padanya? Kenapa dia terlihat sangat terpuruk seperti itu?" Tambah Pak Akmal lagi.


Pak Ismail menghela nafas berat. "Panjang ceritanya, Abi."


"Kalian biarkan dia kemana sehingga kondisinya bisa sampai seburuk ini?" Bu Fatimah tidak mau kalah.


"Ayra tidak pernah kemana-mana sendiri, Ummi. Tapi, malam itu dia dijebak oleh seseorang yang mengaku sebagai teman dekatnya. Memakai nomor handphone temannya Ayra untuk melancarkan aksinya." Jelas Bu Ainun.


"Apa kalian sudah mengetahui pelakunya?"


Mendengar pertanyaan Pak Akmal itu, semua yang ada di ruangan itu saling pandang.


"Kenapa kalian hanya diam? Kalau kalian sudah tau bilang tau, atau sebaliknya."


Masih tidak ada yang mengeluarkan suara.


"Atau Abi yang akan mencari tau sendiri siapa orang yang telah berani berbuat keji pada cucu Abi."

__ADS_1


"K.. kami semua belum mengetahui pelakunya, Abi. Kami takut kalau menduga-duga malah jadi su'udzon pada orang. Selama ini, seperti yang kamu ketahui Ayra tidak punya musuh. Itulah yang membuat kami bingung sampai sekarang."


"Apa kalian sudah lapor polisi. Apa pelakunya susah diproses hukum?"


Mereka semua kembali saling pandang.


"Kenapa kalian semua diam? Apa kalian membiarkan dia bebas tanpa memikirkan bagaimana perasaan cucuku yang telah dia buat seperti itu?" Pak Akmal menunjuk ke arah kamar Chayra. "Dimana otak kalian semua?!" Mengusap wajahnya kasar.


"Kami... kami hanya tidak mau gegabah, Abi."


"Gegabah bagaimana maksud kamu, Ismail? Ini perbuatan keji yang sangat jelas dan sudah jelas hasilnya. Kamu lihat keponakan kamu sekarang. Dia trauma dan hampir tidak bisa mengenal kami. Bagiamana kalau dia ha....?" Pak Akmal tidak melanjutkan kalimatnya. Kembali mengusap wajahnya dengan kasar untuk melampiaskan rasa kesalnya. "Astagfirullahal'adzim..." memejamkan matanya sambil memijit pelipisnya yang berdenyut lebih kencang.


"Kami berniat akan menyelidiki pelakunya tanpa melibatkan kepolisian." Pak Ismail mencoba meyakinkan.


"Tidak semudah yang kamu ucapkan, Iamail. Penjahat itu mempunyai beribu macam cara agar kejahatannya tidak sampai diketahui." Pak Akmal menarik nafas panjang seraya duduk di sofa. "Seharusnya kalian menyerahkan urusan ini pada pihak yang berwajib. Andaikan kalian melaporkan kejadian ini sejak awal, masalah ini tidak akan sampai serumit ini."


"Maafkan kebodohan kami, Abi. Sebenarnya, Santi ingin melaporkan kejadian ini malam dimana Ayra hilang. Tapi, aku yang mencegahnya." Ucap Pak Ismail jujur.


Pak Akmal menghela nafas berat. "Panggilkan teman-teman Ayra sekarang! Semuanya tanpa terkecuali." Pak Akmal menekankan pada kalimat terakhirnya.


"Tapi.. mereka sedang kuliah, Abi."


"Panggil mereka sekarang! Tidak usah lewat telepon. Jemput mereka ke Kampus mereka."


"Tapi mereka tidak tahu-menahu masalah ini, Abi."


"Abi bilang, jemput mereka sekarang!"


Bu Ainun langsung terdiam mendengar bentakan Abinya.


Bu Ainun hanya mengangguk seraya berlalu dari hadapan semua orang. Masuk ke dalam kamar Chayra untuk memanggil Zidane yang sedang menemani Bu Santi disana.


*********


Tiga gadis yang sedang duduk di ruang tamu rumah Chayra benar-benar kebingungan. Sudah berpuluh-puluh pertanyaan yang dilontarkan Pak Akmal pada mereka. Namun, tidak satupun dari pertanyaan itu membuat mereka mengerti apa yang sebenarnya diinginkan pria paruh baya yang sedang mengintrogasi mereka itu.


"Maaf, Kek." Alesha akhirnya bertanya karena sudah bingung mendengar pertanyaan Pak Akmal yang hanya membahas dengan siapa Chayra pergi malam itu. Dengan siapa Chayra berkirim pesan juga."


"Kami bingung, Kek. Kenapa Kakek terus-terusan bertanya tentang hal yang tidak kami ketahui sama sekali. Apa Kakek sudah mendapatkan titik terang siapa orang yang sudah menculik Ayra?"


"Menurut kalian?" Pak Akmal malah balik bertanya.


Tiga gadis itu saling pandang karena bingung.


"Tapi, kami benar-benar tidak mengetahui kejadian sebelum dan sesudah Ayra diculik, Kek. Handphone Ayra di temukan tergeletak bersama dengan handphone Amira. Tapi yang jadi masalahnya. Handphone Amira hilang pas kami pergi bersama. Ayra juga mengetahui hal itu dan ikut membantu mencarinya. Apakah Kakek mencurigai kami telah menjebak sahabat kami sendiri?" Tina memicingkan mata menatap Pak Akmal.


Pak Akmal tersenyum sinis. "Motif penculikan itu bermacam-macam, Nak."


Jawaban Pak Akmal membuat tiga gadis itu saling pandang keheranan.


"Kami akan membantu sebisa kami, Kek. Mudah-mudahan Ayra baik-baik saja."


"Cucu saya tidak baik-baik saja. Dia seperti orang yang mati tapi hidup!"


Alesha, Amira dan Tina tersentak kaget. "M.. maksud Kakek?" Alesha langsung bangkit disela keterkejutannya.

__ADS_1


Pak Akmal hanya menunjuk ke arah kamar Chayra yang tertutup rapat.


Tiga gadis itu serentak menoleh ke arah kamar. Mereka saling tatap lalu bergegas menuju kamar itu.


Pak Akmal hanya menatap kepergian tiga gadis itu dari hadapannya dengan tatapan nanar.


"A.. Ayra.." Ucap Alesha, Amira dan Tina tergagap. Tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.


"Sssttt.. kalian jangan berisik. Dia baru saja memejamkan mata." Zidane memberi instruksi seraya mendekati tiga gadis itu. "Kita bicara di luar. Jangan sampai Ayra mendengar suara kalian."


Mereka mengangguk kompak, walaupun sebenarnya ingin sekali mendekat dan memeluk sahabatnya yang sedang terlelap itu.


"Apa kalian sudah mendapatkan titik terang, siapa yang mengambil handphone kamu, Amira?" Zidane langsung melontarkan pertanyaan begitu pantatnya mendarat di sofa.


Mereka bertiga menggelengkan kepala kompak. "Sebenarnya kami mencurigai seseorang. Dan.. kami sudah mengunjungi rumahnya kemarin malam. Tapi, rumah itu dijaga ketat oleh dua orang pengawal. Kami sudah mencoba memberi banyak alasan. Tapi tetap saja pengawal itu tidak mengizinkan kami masuk. Mereka bilang, Tuan dan Nyonya besar mereka sedang ada di rumah. Jadi tidak ada yang boleh bertamu malam itu."


Zidane manggut-manggut mendengar penjelasan Amira. "Terus.."


"Kami mencoba memaksa, Kak. Tapi, penjaga itu malah mengusir kami dengan kasar," timpal Tina. Raut wajahnya terlihat kesal mengingat kejadian kemarin.


"Gue juga didorong sampai jatuh. Heh, sungguh mengesalkan." Amira memutar bola matanya sambil bergidik ngeri.


Zidane beralih menatap Alesha yang masih diam. "Bagaimana dengan kamu?"


"Aku..?" Alesha menunjuk dirinya sendiri.


"Iya, kamu. Aku ingin dengar pendapat kamu."


"Aku tidak tau mau bilang apa, Kak. Aku hanya ingin melihat Ayra sekarang." Mata Alesha berkaca-kaca.


"Kamu kan sudah melihatnya tadi."


"Tapi gue tidak melihat wajahnya. Gue ingin memeluknya, Kak. Please... boleh ya.."


Zidane menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Kondisinya sangat buruk. Kalian tidak akan tega melihatnya."


Mereka tersentak saat mendengar bentakan Pak Akmal pada seseorang dari teras rumah.


"What happen?" Alesha bangkit mencoba mencari tau.


"Jangan mencoba mencari tau. Kakek sedang marah besar. Jangan sampai kamu juga menjadi tempat pelampiasan kemarahannya."


Alesha mengurungkan niatnya untuk melihat keluar. Ia kembali duduk dan menatap Zidane dengan heran. "Ceritakan bagaimana keadaan Ayra, Kak."


"Buruk.." Zidane mengalihkan pandangannya. "Aku takut kalian tidak kuat mendengarnya." Raut wajahnya berubah serius.


"Seburuk apa?" Tanya Amira tidak sabar.


"Kalian akan tau nanti." Zidane bangkit seraya meninggalkan tiga gadis yang sedang menyimpan rasa penasaran itu.


Mereka kembali dikejutkan oleh suara bentakan Pak Akmal.


Amira menatap kedua temannya. "Kita harus lebih serius mencari tau, siapa yang mencuri handphone gue hari itu. Jika pencuri handphonenya sudah ditemukan. Maka pelaku penculikan ini akan mudah ditemukan juga."


*********

__ADS_1


__ADS_2