
"Mereka datang dengan niat baik, Nak. Nak Ghibran datang kesini berniat untuk mengkhitbahmu untuk menjadi istrinya." Pak Ismail mengusap-usap kepala Chayra. Namun, tatapannya tertuju pada tiga orang di depannya.
Chayra langsung tertegun. Entah apa yang dipikirkan Pak Ismail sehingga bisa setenang itu mengucapkan kata-kata itu.
"Pernikahan itu hal yang sakral, Nak. Perlu pertimbangan dan juga kesiapan mental." Sambung pak Marzuki ayahnya Ghibran. "Kami juga terkejut kemarin. Karena pulang dari sini, biasanya Ghibran akan langsung minta di temani ke rumah Omanya atau rumah keluarganya yang lain. Tapi, kali ini permintaannya membuat kami sebagai orang tua langsung pangling."
Ghibran menyenggol lengan papinya." Papi, ihh, aku kan jadi malu."
"Memang benar kan, Nak?" Ucap Pak Marzuki.
" Jangan terlalu di perjelas, Pak." Sambung Pak Ismail sambil tersenyum.
Mereka semua diam, menatap Chayra yang tidak pernah mengangkat wajahnya sejak diberitahukan maksud kedatangan orang tua Ghibran.
"Bagaimana perasaan kamu, Nak? Apa kamu sudah siap mengarungi bahtera rumah tangga dengan Ghibran?" Pak Ismail melontarkan pertanyaan pada Chayra yang sama sekali tidak mau mengangkat wajahnya.
Air mata yang sudah menganak sungai dari tadi akhirnya mengalir juga. "Ayra belum siap, Abah."
Jawaban singkat yang membuat Ghibran langsung tertunduk lemah.
"Kenapa, Zahra?" Tanya Ghibran. Hanya kata itu yang mampu ia keluarkan dari bibirnya yang sudah bergetar.
"Kak Ghibran sudah berjanji tidak akan mengajak Ayra nikah dalam waktu dekat. Tapi, sekarang kenapa malah lain ceritanya?"
Ghibran memalingkan wajahnya mendengar jawaban Chayra. "Itu bukan alasan yang seharusnya kau lontarkan, Zahra."
Chayra mengangkat wajahnya, memberanikan diri menatap Ghibran. "Abah, bolehkah kami bicara berdua sebentar ?" Chayra bertanya pada Pak Ismail, tapi tatapannya tetap pada Ghibran.
"Silahkan, Nak."
Chayra langsung bangkit dan berjalan keluar rumah. Ghibran ikut bangkit, tapi tangannya di tahan oleh Bu Laela.
"Ada apa, Mami?"
"Seharusnya kau diskusikan dulu rencanamu dengan Ayra. Sekarang selesaikan masalahmu dulu. Kita tidak bisa mengambil keputusan sepihak, Nak. Ini bukan hanya tentang kamu saja, tetapi tentang kalian."
Ghibran mengangguk. "Maafkan kecerobohan Ghibran, Mami. Kalau begitu Ghibran susul dia dulu."
Bu Laela mengangguk, melepaskan tangan anaknya. Ghibran langsung bergegas menyusul Chayra.
Chayra duduk menunggu Ghibran di pinggir kolam ikan. Dia menggerutu kesal. Bisa-bisanya Ghibran mengambil keputusan sepihak tanpa meminta persetujuan darinya.
"Assalamualaikum, Zahra Sayang.."
Chayra menoleh, dia mendapati Ghibran yang sedang tersenyum menatapnya. "Wa'alaikumsalam," jawabnya dengan ketus.
"Sayang, kok galak banget?"
"Jangan panggil aku Sayang, Kak. Aku bukan istrimu."
"Tapi kamu calon istriku, dan kamu adalah belahan jiwaku."
"Aku hanya butuh penjelasan sekarang. Rayuan mautmu tidak akan mempan dalam situasi seperti ini."
Ghibran tergelak. "Aku tidak sedang merayu kamu, Sayang. Aku benar-benar ingin menghalalkanmu karena Allah." Raut mukanya berubah serius.
"Dan aku sudah menjawabnya tadi."
"Berikan aku alasan yang masuk akal."
"Aku belum cukup umur, Kak. Kuliahku baru semester dua dan Kak Ghibran tau sendiri Ibuku tidak ada di sini."
"Masalah Ibu, aku akan datang ke rumah untuk minta restu padanya. Tapi, aku tidak bisa menerima alasanmu yang lain. Tidak ada orang yang melarangmu kuliah walaupun kamu sudah menikah nanti."
Chayra mendengus. "Kak Ghibran terlalu egois."
__ADS_1
"Apa yang melatar belakangi mu mengatakan aku egois?"
"Keputusan itu diambil melalui musyawarah, Kak."
"Aku sudah tau itu."
"Lalu kenapa Kak Ghibran mengambil keputusan tanpa meminta persetujuan dariku?"
"Inikan, aku sedang memintanya padamu."
"Astagfirullahal'adzim, Ya Allah, kenapa Kak Ghibran sangat menyebalkan?"
Ghibran tersenyum. "Jangan ajak aku berdebat, Sayang, karena kamu tidak akan menang."
"Terserah Kak Ghibran."
Ghibran kembali tersenyum. "Jadi bagaimana?"
"Apa?"
"Tatap aku, Zahra."
"Aku tidak mau, Kak Ghibran menyebalkan. Lagian aku nggak mau mendapat dosa, karena Kak Ghibran bukan suamiku."
"Kamu tau kita dapat dosa, kita ngobrol aja kita berdosa, Zahra. Itulah mengapa aku ingin segera menghalalkan segala yang menjadi tirai di antara kita."
"Tapi..."
"Jangan ada kata tapi lagi, aku tidak mau mendengarnya."
"Kalau begitu, beri aku waktu."
"Berapa lama?"
"Aku akan mengabari Kak Ghibran nanti."
"Iya, Kak!" Chayra berteriak.
"Kecilkan suara kamu, Sayang. Jangan sampai mengganggu orang lain."
"Para Santri pergi Sekolah, Kak."
Ghibran menatap Chayra yang duduk berjarak sekitar satu setengah meter dari tempatnya berdiri. Pandangannya yang terhalang pohon mahoni tidak membuatnya risih.
"Zahra.."
Chayra menoleh. "Apa, Kak?"
"Lihat aku, sebentar saja."
"Untuk apa?"
"Untuk membuktikan kalau kamu benar-benar mencintaiku."
"Pembuktian macam apa itu?"
"Lakukan saja, Sayang."
"Aku tidak mau, Kak!"
Ghibran mendengus, tapi dia tertawa bahagia. "Cerewetmu ini yang membuatku semakin tidak bisa menunda lagi untuk menghalalkanmu."
"Apaan sih, Kak."
"Katakan, kalau kamu bersedia menjadi istriku."
__ADS_1
"Aku kan sudah bilang, beri aku waktu."
Ghibran menarik nafas panjang. "Ayo, kita kembali, kita sudah terlalu lama bicara berdua di sini."
Chayra bangkit, ia mengusap-usap bagian belakang baju gamisnya, membersihkan rumput-rumput kering yang menempel pada bagian bawah baju gamisnya itu. "Ayo, Kak." Ucapnya sambil berjalan melewati Ghibran yang masih berdiri memperhatikannya.
"Tunggu!"
Chayra menoleh. "Apa lagi, Kak?"
"Aku mencintaimu."
Chayra menatap Ghibran sambil tersenyum, lalu berjalan mundur. "Aku juga mencintaimu, Kak." Chayra berbalik, berjalan agak cepat meninggalkan Ghibran. Mukanya merona merah, tanda kebahagiaan yang tercipta dari obrolan singkatnya dengan Ghibran Abdullah.
"Yess..! Aku mendapatkan tatapan cintamu, Zahra. Hah, inikah yang dinamakan bahagia karena jatuh cinta, Ya Allah!" Ucapnya berteriak. Kebahagiaannya disaksikan oleh ikan-ikan yang berlalu lalang di dalam kolam itu.
Chayra mengulas senyum mendengar teriakan Ghibran sambil terus berjalan.
* * *
Pagi itu, Chayra berjalan santai dengan Tania di pinggir kolam ikan seperti biasa. Dia memberi tau pada Tania, kalau dia akan pulang ke rumahnya beberapa hari lagi.
"Ayra, beneran aku mau ikut ke rumah kamu. Saras juga pasti mau ikut." Tania berjingkat senang.
"Yakin? Rumahku jelek. Udaranya juga tidak sejuk, tidak seperti di sini."
"Aku tetap mau ikut kalau kamu mengizinkan. Sebenarnya kamu mau pulang, ngapain?" Tanya Tania karena penasaran.
"Rindu Ibu, rindu Adik, rindu rumah, dan aku rindu dengan teman-teman ku di rumah."
Tania manggut-manggut. "Kapan kamu pulang?"
"Jika tidak berhalangan, Insya Allah, Minggu depan."
"Nanti deh, aku tanya Saras, mudah-mudahan dia mau ikut."
Chayra mengangguk. "Kamu urus dulu surat izin dari Pesantren."
"Apa kamu lupa, Ayra? Aku bukan santri lagi sekarang, tetapi aku Pengasuh Santri. Jadi, kalaupun tidak minta izin tidak akan jadi masalah."
"Tapi, bagaimana perasaanmu jika meninggalkan Pesantren tanpa izin."
"Iya juga sih. Nanti deh aku urus."
"Kenapa Saras nggak ikut ke sini?" Tanya Chayra, mengalihkan topik pembicaraan.
"Dia sakit perut kan tadi. Palingan, dia masih ngantri di depan toilet." Jawab Tania santai.
Chayra membelalakkan matanya tak percaya. "Masa sih, masih ngantri? yang benar saja, Nia?"
"Iya, beneran."
"Barang itu tidak bisa ditunda kalau sudah mau keluar."
"Hal itu tidak berlaku di tempat ini. Iya.. karena itu."
"Itu apa?"
"Sakit tidak sakit tetap ngantri. Mau segera keluar, pun tetap ngantri."
"Sekejam itu kehidupan di Asrama kalian?"
"Memang begitu peraturan, kan? Yang datang dahulu didahulukan, yang belakangan ngantri di belakang."
Chayra hanya diam mendengar penuturan Tania. Mereka melanjutkan langkah mengitari kolam ikan itu. Menikmati suasana pagi di tempat yang sama setiap pagi. Chayra tersenyum saat melewati tempat dimana dia dan Ghibran ngobrol kemarin.
__ADS_1
Tania hanya mengernyit, tidak paham melihat Chayra yang senyum-senyum sendiri. Namun, dia tetap melangkahkan kaki, mengikuti gadis yang sedang bahagia di sampingnya.
* * *