
Chayra menggandeng erat lengan Ardian. Pria itu tersenyum menikmatinya. Digandeng Chayra di area Kampus seperti itu membuatnya seperti melayang di atas angin.
Matanya berulang kali melirik Chayra sambil menahan senyum. Gadis itu pura-pura sakit kaki, agar teman-temannya tidak mempertanyakan kenapa caranya berjalan terlihat berbeda.
"Hei, Bro.. tumben nih, gandeng-gandengan tangan di area Kampus?" Kate tiba-tiba menyenggol lengan kiri Ardian.
"Apaan sih, ganggu orang aja. Syuh, syuh.."
"Gue bukan ayam kale.." Kate memutar bola matanya. "Ngomong-ngomong istri lho kenapa itu?"
"Kakinya sakit."
"Sakit kenapa?" Kate memajukan kepalanya, menatap Chayra yang pura-pura berjalan sedikit pincang.
Ardian langsung menahan kepala Kate. "Jangan menatap bini gue, nanti lho jatuh cinta."
Chayra tersenyum kaku menanggapinya. "Pelankan langkah Kakak sedikit, aku kewalahan mengikuti langkah Kakak."
"Astagfirullah, sorry, sorry." Ardian menghentikan langkahnya. Tangannya beralih merangkul pinggang Chayra. Menatap Kate sambil menaik turunkan alisnya bangga. "Gue hebat, kan?"
"Huh, gue cabut. Lho nggak asik sekarang. Kebanyakan membuat gue iri aja lho." Kate langsung bergegas tanpa menunggu persetujuan dari Ardian.
Ardian tertawa kecil. "Masih sakit nggak?" Bisiknya pada Chayra.
"Sebenarnya sih udah nggak sakit lagi. Tapi, seperti ada yang menghalangiku untuk berjalan dengan normal." Chayra tersenyum meringis menatap Ardian.
Ardian membuang nafas kasar seraya tersenyum. Dia harus bersabar memberikan kenyamanan pada wanita itu. Dia hanya merasa khawatir dengan ujian Chayra hari ini. Bukannya dia meragukan kemampuan istrinya. Tapi, yang dia ragukan adalah perhatian yang akan diberikan sang Dosen pembimbing untuk istrinya.
"Kalau sudah selesai menjawab soal nanti. Kamu langsung keluar saja ya. Aku akan tunggu kamu di depan kelas."
"Lho, kenapa?"
"Aku nggak mau kamu berlama-lama di dalam kelas dengan Pak Ghibran."
"Aku kan tidak sendiri, Kak. Kan banyak teman-teman yang lain juga."
"Tetap saja perhatiannya pasti fokus sama kamu."
"Jangan berlebihan. Kak Ghibran tidak seburuk yang Kak Ardian pikirkan."
"Huh, bela saja terus. Kamu tau, aku benci melihat kamu terlalu sering berinteraksi dengannya."
"Astagfirullahal'adzim.. jangan seperti ini, Kak. Kan Kakak sendiri yang bilang, kalau aku milikmu dan kamu milikku."
Ardian terdiam seraya mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
Chayra menarik tangan Ardian agar duduk di bangku panjang depan kelasnya. "Hei, Kakak lihat aku.." menarik muka Ardian agar menatapnya.
"Apa..?" Ardian menimpali malas.
"Huh, diajak ngomong baik-baik malah kayak gini. Iya sudah kalau begitu. Aku mau masuk kelas. Nggak usah tunggu aku segala. Aku pulang sama Alesha dan Tina nanti." Chayra membuang pandangannya. Pura-pura ngambek mungkin bisa membuat Ardian berubah sikap.
"Kok jadi kamu yang marah, Chay..." Giliran Ardian yang menarik wajah istrinya. "Hei, lihat aku sini. Jangan marah dong.." Ardian terlihat khawatir.
Chayra ingin tertawa. Namun, dia harus berusaha menahan sikap kesalnya, agar Ardian merasa bersalah. "Aku mau masuk."
"Eh, tunggu dulu. Biar aku antar kamu masuk."
"Nggak usah, aku bisa sendiri."
"Astaga, ni cewek bener-bener deh." Ardian akhirnya hanya bisa menarik nafas dalam. Tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya menatap Chayra yang berjalan meninggalkannya.
Chayra langsung tersenyum setelah masuk kelas. Namun, senyumnya langsung pudar saat melihat Alesha dan Tina yang berjalan mendekatinya.
"Ayra, lho kenapa jalan kayak gini..?" Tina menggandeng tangan Chayra. Berniat membantu temannya itu karena ada keganjalan yang dia lihat.
"Aku lagi bisul. Jangan bertanya lagi karena ini rasanya sangat sakit." Melanjutkan langkahnya dengan sedikit tertatih.
Alesha dan Tina saling pandang. Saling bertanya lewat tatapan mata masing-masing. Berlari kecil ke Chayra yang sudah mendaratkan pantatnya di atas kursinya.
"Eh, Ayra.. lho beneran lagi bisul atau lho habis malam pertama."
"Lepasin, apaan sih, lho?! Gue kan cuma bertanya sama Ayra. Iya... kalau dia memang beneran lagi bisul tinggal bilang iya atau tidak. Soalnya, dulu si Amira kan jalannya kayak gitu waktu dia main sama Kak Ardian."
Chayra hanya bisa menarik nafas dalam mendengar ucapan temannya itu. Tina memang selalu blak-blakan dari dulu.
"Kita temenin lho ke Dokter nanti. Siapa tau bisulnya menyebabkan infeksi. Sehingga lho jalannya sampai kayak gitu." Ucap Tina lagi.
"Nggak usah repot-repot. Besok juga pasti lebih baik kok."
Tina mendekatkan wajahnya ke dekat telinga Chayra. "Eh, Ayra.. lho beneran lagi bisul atau seperti yang gue katakan tadi sih?! Gue bisik-bisik nih, biar lho mau bicara jujur."
Chayra menggeleng-geleng pelan. "Memangnya kenapa? Mau aku malam pertama atau tidak. Aku dan Kak Ardian kan sudah halal. Mau aku ngapain aja, itu mendatangkan pahala, bukan dosa."
Tina langsung terdiam. Ekspresi wajahnya sedikit berubah. Jika Chayra menjawabnya dengan jujur. Sudah pasti itu akan menjadi laporan yang menarik untuk ia laporkan pada Amira nanti.
*********
Ardian duduk khawatir di sofa ruang keluarga. Tangannya saling bertautan. Papinya ingin membicarakan hal yang serius hari ini. Matanya tidak henti-hentinya menatap ke arah anak tangga. Sudah setengah jam dia duduk menunggu Chayra. Namun, istrinya itu belum ada tanda-tanda akan turun.
"Kamu mau menunggu istri kamu, atau Papi ngomong sekarang?" Sucipto menatap putranya.
__ADS_1
"Tunggu Chay aja sebentar, Pi."
"Kamu panggil dia kalau begitu. Papi ada acara setelah ini."
"Iya, Pi." Ardian bangkit dan meninggalkan ruang keluarga. Berlari kecil menaiki anak tangga.
Sampai di dalam kamar. Ardian mendapati Chayra sedang bicara dengan seseorang melalui panggilan suara. Gadis itu berdiri di Balkon kamar, membelakangi pintu penghubung. Ardian berjalan mendekat dengan hati-hati.
"Sudah berapa kali aku bilang maaf. Aku nggak bisa menolak, aku takut dosa."
"Lho sudah berjanji kan, tidak akan berhubungan badan dengannya, Ayra."
"Aku nggak pernah bilang berjanji untuk tidak melakukan itu. Aku hanya berjanji akan merubah Kak Ardian untuk kamu, Mira. Aku tidak pernah berjanji untuk hal itu. Aku tidak bisa membaca kondisi yang akan datang. Lagian, aku berjalan seperti itu karena aku memang lagi sakit. Siapa sih, yang memberikan kamu informasi yang belum jelas seperti ini?"
"Lho nggak perlu tau lah darimana gue dapat informasi. Gue hanya butuh jawaban jujur dari lho. Lho beneran sudah melakukan itu dengan Kak Ardian atau tidak, itu aja."
"Aku nggak bisa menjawab pertanyaan kamu. Pertanyaan kamu itu menyangkut privasi aku. Jadi maaf, aku tidak bisa menjawabnya."
"Lho nggak bisa seenaknya gitu dong, Ayra. Gue percaya sama lho, kalau lho akan menjaga Kak Ardian untuk gue. Tapi, sekarang kok gue merasa dikhianati sama lho."
"Astagfirullahal'adzim, Mira.." Chayra hanya bisa memijit pelipisnya. Temannya yang satu ini benar-benar menguji kesabarannya. Chayra yakin, kalau informasi ini pasti disampaikan oleh salah satu temannya. Kalau tidak Alesha, pasti Tina pelakunya.
"Makanya jawab pertanyaan gue, Ayra. Gue nggak akan bisa tenang kalau lho masih bungkam."
"Apa untungnya untuk aku, kalau aku menjawab pertanyaan kamu?"
"Lho berbelit-belit banget deh lama-lama."
"Kenapa kamu tidak fokus saja pada pernikahan kamu."
"Jangan libatkan masalah pernikahan itu. Itu urusan pribadi gue."
"Sama dengan aku. Jangan libatkan urusan ranjang karena itu urusan pribadiku."
"Susah ngomong sama lho. Pokoknya lho nggak boleh hamil. Okelah, gue tidak jadi mempermasalahkan urusan ranjang lho dengan Kak Ardian. Yang penting, LHO TIDAK BOLEH HAMIL. Titik...!"
Chayra hanya bisa menarik nafas dalam. Enggan menimpali ucapan Amira. Temannya yang satu ini hanya mau didengar tanpa mau mendengar.
Ardian tiba-tiba memeluk tubuhnya dari belakang. Hal itu tentu saja membuatnya sangat terkejut. "Astagfirullah, Kak. Ngagetin aja deh."
"Halo, Ayra.. Lho sedang dimana sih?!"
"Aku tutup teleponnya, assalamualaikum."
Chayra menutup panggilan itu. Kalau Amira sampai bertanya lagi, akan semakin panjang ceritanya. Ardian juga sudah mengatakan, sangat enggan untuk berurusan lagi dengan mantan kekasihnya itu.
__ADS_1
********