Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Kakek kembali menunjukkan kekuasaan


__ADS_3

Sepulang dari belanja, Chara dan Ardian dikejutkan oleh banyak orang yang sedang sibuk di rumah.


"Mas, ini ada apa?" Chayra menatap suaminya, yang ditatap hanya menggeleng pelan karena sama-sama tidak tau.


Chayra akhirnya mendekati seorang pria bertubuh kekar yang sedang berdiri santai memerintah pada orang-orang yang sedang sibuk. "Mm.. permisi, Pak." Chayra menunduk sopan di depan orang itu.


"Eh, astaga Nona, jangan bersikap seperti ini. Maafkan saya tidak menyadari kedatangannya." Pria itu berbalik menunduk hormat pada Chayra.


"Maaf mengganggu pekerjaannya, Pak. Tapi, ini kok rumah saya direnovasi secara mendadak seperti ini. Perasaan, saya dan suami saya tidak pernah membayar orang untuk merenovasi rumah kami."


"Maaf, Nona. Ini perintah langsung dari Tuan Besar. Tuan Besar meminta kami untuk merenovasi rumah ini agar layak pakai."


"Maksudnya rumah ini tidak layak pakai bagaimana? Saya nyaman kok tinggal disini." Chayra merasa keberatan. Kakeknya itu benar-benar tidak pernah menghubunginya setelah datang di rumah sakit saat memarahi suaminya di hari itu. Chayra hanya bisa menarik nafas panjang. Dia hampir lupa kalau Kakeknya itu memiliki mata dan telinga dimana-mana yang akan mengawasinya di manapun dia berada.


"Sudah, Sayang. Biarkan saja, mereka hanya menjalani tugas dari Kakek saja, benarkan, Pak?" Ardian beralih menatap pria bertubuh kekar di depannya.


"Untuk malam ini, Tuan dan Nona menginap di apartemen yang sudah disewa Tuan Besar untuk Tuan dan Nona."


"Aku nggak mau. Aku mau tunggu sampai acara renovasi ini selesai."


"Kami akan bekerja kemungkinan dua atau tiga hari ke depan, Nona. Itulah sebabnya Nona diminta untuk tinggal di apartemen sementara waktu."


"Aku lebih baik tinggal di rumah Ibu saja daripada di apartemen."


"Anda bebas memilih, Nona." Pria itu kembali menunduk.


"Ayo, Mas.." Chayra menarik tangan suaminya menjauhi pria itu.


Ardian hanya mengusap wajahnya kasar karena bingung dengan situasi ini. Masuk ke dalam mobil mengikuti istrinya yang sudah masuk duluan.


Ardian Pov...

__ADS_1


Aku sangat bahagia ketika melihat istriku bisa tersenyum lagi setelah dari rumah cemberut karena menahan lapar. Dia tidak jadi mengganjal perutnya karena kami langsung berangkat setelah selesai shalat.


Aku hanya terkejut saat dia memesan dua porsi nasi dan satu mangkuk besar sup iga. Setelah pesanannya datang, dia menyatukan nasinya menjadi satu piring. Wow, amazing... aku sampai menganga saat dia melakukan itu. Aku mengernyitkan dahi melihatnya. "Kamu yakin bisa menghabiskan itu, Chay?" Tanyaku dengan hati-hati takut menyinggungnya.


Dia hanya mengangguk mantap sambil menuangkan kuah sup iga ke piringnya. Terlihat mulutnya mengucap do'a tanpa suara lalu menyuapkan satu sendok besar nasi ke mulutnya.


"Kamu cuma pesan pasta, Mas? Nggak mau pakai nasi aja kayak aku?" Tanyanya di sela-sela makannya.


"Nggak.. aku cukup makan pakai ini saja." Setelah itu kami terdiam sampai Chay menghabiskan makanannya. Dia bersandar di kursi seraya menarik nafas panjang beberapa kali. Nasi dan sup iga itu benar-benar habis tak bersisa. Aku masih tidak percaya melihat wanitaku ini benar-benar menghabiskan makanan yang begitu banyak dalam waktu singkat. Saat aku tatap, dia malah melihat ke arahku. Bukan, lebih tepatnya melihat ke arah piringku. Eh, dia malah seperti tergiur melihat pasta yang sedang aku nikmati dengan santai. Saat aku tanya, dia malah seperti tersinggung. Akhirnya aku memilih diam dan membiarkan dia melakukan apapun yang dia inginkan. Eh, jus jambu milikku tandas diminumnya. Aku hanya bisa terdiam, hanya terkejut saja melihat jus yang belum aku minum malah dihabiskan olehnya.


Habis belanja, Chay langsung mengajakku pulang. Capek dan pingin istirahat itulah alasannya. Tidak dipungkiri aku juga sangat capek. Dari pagi tidak pernah istirahat karena harus pindah rumah.


Daammm, kami terkejut saat sampai di depan rumah. Banyak orang yang sedang bekerja. Apa-apaan ini.. Chay juga terkejut.


"Mas, ini ada apa?"


Eh, dia malah bertanya padaku, padahal dia juga melihat kalau aku terkejut dengan semua ini. Saat Chay mengajak orang yang bertubuh kekar bicara, aku bisa menebak kalau ini semua karena Kakek. Kakek ternyata orang hebat dan berpengaruh di masyarakat. Pantas saja namanya sering disebut-sebut dalam dunia bisnis. Lagi-lagi Kakek menunjukkan kekuasaannya padaku. Mungkin Kakek sengaja melakukan ini agar aku lebih berhati-hati ke depannya. Aku bukan sedang berurusan dengan orang sembarangan. Hatiku merasa sedikit tersentil saat orang itu dengan santainya mrngatakan kalau rumah kami tidak layak pakai. Tidak tau apa, aku menghabiskan uang berapa ratus juta untuk membeli tanah dan membangun rumah ini. Kalau untuk merenovasi sekarang, aku belum mampu. Itu aja untuk membangun rumah ini sampai selesai, aku meminjam uang di Ibu mertuaku tanpa sepengetahuan istriku. Walaupun Ibu mertuaku yang baik itu tidak mau aku mengganti uang itu. Karena bagaimanapun juga, perjuanganku ini juga untuk kebahagiaan putrinya. Tetapi aku bersikeras untuk menggantinya nanti kalau aku sudah ada uang. Saat Chay menarik tanganku untuk masuk ke mobil aku hanya bisa pasrah.


Author POV...


"Maaf ya, aku belum bisa memberikan tempat tinggal yang nyaman sesuai dengan standar Kakek untuk kamu." Ardian menggenggam tangan istrinya dengan sebelah tangannya. Sedangkan tangannya yang lain dipakai untuk nyetir.


"Aku udah cocok kok Mas, dengan rumah itu. Kakek aja yang suka berlebihan. Mentang-mentang rumahnya sebesar istana, eh malah semaunya merombak rumah orang. Dia itu selalu melihat dari standar dia. Ibu aja dulu berulang kali disuruh renovasi rumah. Memang sih, dananya dari dia. Tapi, Ibu selalu menolak dengan kata-kata sopan, selalu mengatakan kalau rumah akan direnovasi kalau memang uang tabungan sudah cukup untuk hal itu. Eh, Kakek malah marah saat Ibu tiba-tiba berangkat haji. Tapi, Ibu tidak pernah mengambil pusing semua tindakan Kakek karena Ibu sudah mengenal baik karakter Kakek." Chayra asyik bercerita sepanjang perjalanan sampai tidak terasa kalau mereka sudah sampai rumah Bu Santi.


Chayra melengos saat melihat mobil Kakeknya terparkir disana. "Ini nih, si biang kerok ternyata ada disini." Chayra menunjuk mobil dengan kesal.


"Sssttt... ada penjaganya, jangan terlalu besar suaranya." Ardian menutup mulut istrinya yang terlihat ingin menendang mobil itu. Sedangkan para penjaga berdiri tak jauh dari mobil itu.


"Aku nggak takut sama mereka, sama pemilik mobil ini juga aku nggak takut. Aku cuma takut sama Allah." Chayra malah meninggikan suaranya. Sengaja melakukan itu agar Kakeknya mendengar. "Assalamualaikum..." Saat membuka pintu, matanya langsung menatap kakeknya dengan tajam.


"Wa'alaikumsalam, duduk sini, Sayang.." Pak Akmal menepuk sofa di sebelahnya dengan santai tanpa memperdulikan ekspresi cucunya.

__ADS_1


Chayra masih berdiri di tempat. "Kenapa Kakek menyuruh orang merenovasi rumah kami? Kami udah capek-capek beres-beres juga." Tatapan tajam masih Chayra tunjukkan untuk Kakeknya itu.


"Duduk dulu sini, Sayang. Dengarkan Kakek dulu." Pak Akmal tetap tersenyum melihat ekspresi cucunya. Baginya, Chayra tetaplah anak kecil yang masih membutuhkan dirinya.


"Ayra nggak mau sebelum Kakek menjelaskan agar aku tidak sakit hati lagi."


"Oh... ternyata cucuku sudah berani menentang sekarang. Coba Ardian kamu ajak istri kamu duduk. Mungkin kalau pawang yang mengajaknya duduk dia akan mau."


"Ini suamiku, Kek. Mas Ardian bukan pawang ular."


"Hahaha... siapa yang bilang suamimu pawang ular, Sayang. Maksud Kakek dia itu pawang kamu sekarang"


Chayra hanya melengos, tangannya digenggam Ardian dan perlahan ikut tertarik duduk di samping kakeknya.


"Sebentar lagi kamu akan melahirkan. Cicit Kakek harus mendapatkan tempat tinggal yang layak dan steril. Kamu bisa lihat sendiri rumah yang dibuatkan suami kamu seperti rumah pembantu. Sebaiknya kamu tinggal disini dulu sampai rumah itu selesai direnovasi. Kakek tidak mau menerima penolakan apapun. Bukannya Kakek tidak menghargai usaha suami kamu selama ini, tetapi Kakek hanya ingin membantu. Anggap saja rumah itu adalah hadiah pernikahan kalian dari Kakek."


Chayra akhirnya hanya bisa menghela nafas berat. "Aku hanya tidak ingin merepotkan siapapun, Kek."


"Tidak ada yang merasa direpotkan, Sayang. Kakek hanya ingin menyempurnakan kebahagiaan kamu. Kakek harus menggantikan peran Almarhum Bapak kamu dengan membahagiakan kamu. Bapak dan Ibu kamu juga selalu bersikap seperti kamu ini dulu. Jarang mau menerima bantuan dari Kakek walaupun mereka terkadang tidak ada uang untuk membeli makanan."


"Mas Ardian akan mengganti uang Kakek kalau dia sudah ada uang nanti."


"Nggak perlu, Kakek sudah bilang kalau rumah itu akan menjadi hadiah pernikahan kalian dari Kakek. Sekarang istirahatlah, Kakek tau kalian capek."


"Tapi, barang-barang kami sudah dipindahkan ke rumah baru, Kek."


"Sudah dibawa balik semua. Rumah itu membutuhkan waktu kurang lebih satu bulan untuk direnovasi."


"Eh, kok satu bulan? Kata Bapak bertubuh kekar tadi cuma beberapa hari saja."


"Dia hanya menjalankan tugas. Kunci utama ada di Kakek. Kamu akan tinggal di rumah Ibumu sampai kamu melahirkan nanti. Kalian bisa menempati rumah baru itu setelah ada instruksi dari Kakek." Pak Akmal memeluk tubuh cucunya sekilas lalu mencium pucuk kepalanya. "Sekarang kamu istirahatlah, Kakek tau kamu capek."

__ADS_1


Chayra mencium tangan Kakeknya diikuti oleh Ardian. Dia lupa belum salim saat datang tadi. Hanya Ibunya yang menemani sang Kakek duduk di ruang tamu. Mereka masuk untuk beristirahat. Hari ini benar-benar terasa panjang dan melelahkan.


*********


__ADS_2