Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Tahap awal


__ADS_3

Sudah beberapa malam ini, Ardian rutin belajar. Mulai dari menghafal bacaan-bacaan shalat, sampai pada mengenal nama-nama huruf Hijaiyah. Seperti terlihat malam ini. Ardian di tuntun Chayra untuk melakukan shalat Maghrib. Usai mendirikan shalat Maghrib, Ardian duduk di depan meja belajar Chayra. Sedangkan Chayra berdiri di depan pria itu.


"Ini apa namanya?" Ardian menunjuk hurup Hijaiyah yang berdiri seperti tiang. Tidak sengaja, tangannya menyentuh sedikit ujung jari Chayra. Sontak, gadis itu langsung menarik tangannya karena terkejut.


"Maaf.. ini.. ini.. namanya huruf Alif." Suaranya sedikit tergagap. Mengalihkan pandangannya agar tidak terpampang dengan jelas di hadapan Ardian.


"Eh, sorry. Gue nggak sengaja nyentuh lho." Ardian juga ikut terkejut karena tindakan spontan Chayra.


"Nggak apa-apa. Mari kita lanjutkan lagi." Jawab Chayra mencoba tidak menghiraukan kejadian tadi. Walaupun jantungnya berdetak sangat cepat. Namun, dia berhasil menguasai keadaan.


Ardian malah tidak mendengarkan ucapan Chayra. Dia sibuk memperhatikan Chayra. Lama-lama penasaran juga dengan wanita ini. Keteguhan Chayra dalam menjaga auratnya benar-benar membuatnya berdecak kagum.


"Apakah anda mendengarkan penjelasan saya?" Chayra baru sadar kalau Ardian sedang menatapnya dan tidak menatap buku iqro yang sedang dia tunjuk.


"Eh, iya iya gue denger kok. Lanjutkan saja penjelasannya." Ardian langsung memfokuskan pandangannya ke buku iqro lagi. Sehingga pembelajaran buku iqro berlangsung sampai pria itu berhasil menyebut hurufnya satu persatu sampai huruf ya'.


"Kita keluar untuk makan malam dulu." Chayra menutup buku iqro.


"Lah, gue kan belum hafal huruf-huruf tadi."


"Semua butuh proses. Yang instan itu sudah pasti tidak baik atau kurang baik."


"Terserah lho kalau begitu."


Mereka akhirnya beranjak keluar untuk makan malam. Sampai di ruang makan, mereka langsung disambut dengan tatapan kesal kedua orang tua yang sudah menunggu agak lama.


"Kalian ngapain saja? Kenapa beberapa malam ini, kalian terlambat terus keluarnya." Pak Sucipto yang sudah tidak bisa menahan kesal langsung mencecer Ardian dan Chayra dengan pertanyaan.


"Apakah Papi tidak suka melihat anak Papi satu-satunya ini berduaan dengan istrinya di dalam kamar?" Timpal Ardian santai. Tidak tau kalau ucapannya itu membuat hati kedua orang tuanya berbunga-bunga.


Chayra tampak cuek. Enggan berkomentar karena pada kenyataannya, mereka berduaan di dalam kamar karena Ardian sedang belajar ngaji.


Sampai sejauh ini, pria itu belum ada niat untuk benar-benar berubah. Dia hanya berniat mempermainkan Chayra. Gadis itu benar-benar terlihat serius untuk mengajarinya ilmu agama. Berpura-pura serius belajar untuk membangun kepercayaan gadis itu padanya.


Sucipto dan Renata saling pandang lalu tersenyum. Semua itu tidak luput dari pandangan Ardian.


Ok.. perlahan-lahan, Ardian. Seperti yang gadis itu katakan, semua butuh proses, batinnya.


"Kita keluar malam ini." Ucap Ardian di sela-sela makannya.

__ADS_1


"Mau kemana?"


"Ke suatu tempat yang tidak pernah lho kunjungi sebelumnya."


"Nanti saya pertimbangkan dulu."


"Untuk apa dipertimbangkan. Lho akan keluar bersama suami lho."


Chayra terdiam. Memperdebatkan hal sepele seperti itu di depan mertuanya membuatnya tidak nyaman.


"Tidak apa-apa kalau kalian keluar berdua. Yang Papi khawatirkan, kalau Ardian keluar sendiri dan pulang-pulangnya sudah oleng seperti orang gila." Timpal Sucipto seolah-olah mendukung rencana putranya.


"Iya, Mami juga sependapat." Renata ikut menimpali. "Mmm.. apa kamu tidak kewalahan makan dengan memakai cadar seperti itu, Nak?" Renata tiba-tiba mempertanyakan Chayra yang tidak pernah melepas cadarnya walaupun sedang makan.


"Ayra sudah terbiasa, Mi."


"Tapi, Mami melihat kamu sangat kerepotan untuk menyuapkan makanan ke mulut kamu."


Chayra tersenyum. "Itu hanya perasaan Mami saja. Aku tidak merasa seperti itu kok."


Renata akhirnya hanya tersenyum. Menggoyahkan pendirian wanita yang Istiqomah memang sangat sulit adanya.


********


"Kita sudah sampai."


Ucapan Ardian membuatnya mengangkat kepalanya. Matanya membulat sempurna melihat lalu lalang muda mudi yang berpakaian dengan berbagai gaya dan berbagai model.


"Anda membawa saya kemana ini?"


"Gue sudah bilang dari awal. Gue akan membawa lho ke tempat yang tidak pernah lho kunjungi sebelumnya. Gue ingin lho berkenalan dengan dunia gue."


"Anda jangan macam-macam ya.." Chayra mulai tidak nyaman. Menarik nafas berulang kali untuk menenangkan pikirannya yang mulai kacau.


Ardian terus memperhatikan Chayra. "Macam-macam bagaimana maksud lho?" Ardian pura-pura bingung. "Gue kan sudah berkenalan dengan dunia religius lho. Nah, sekarang giliran lho dong, yang harus berkenalan dengan dunia gue."


"Tidak. Saya tidak tertarik sama sekali dengan dunia anda."


"Gue tidak meminta lho untuk tertarik apalagi sampai masuk ke dunia yang gue senangi. Tapi, setidaknya lho berkenalan dan tau kehidupan yang gue jalani selama ini." Ardian masih memperhatikan Chayra. "Gue juga ada janji dengan teman gue di dalam. Ayo temani gue, biar mereka percaya kalau gue sudah menikah dan punya istri cantik dan shalihah seperti lho."

__ADS_1


"Saya sudah bilang TIDAK!" Lebih menekankan pada kata tidak. "Jangan paksa saya atau saya akan laporkan perbuatan anda ini ke Papi dan Mami."


Ardian mendengus. "Apakah lho hanya bisa mengancam gue dengan kalimat itu? Apakah lho tidak berfikir kalau gue bisa saja mengelak atas tuduhan lho itu. Lagian gue juga tidak berniat menjerumuskan lho, kan? Gue hanya ingin membawa lho berkenalan dengan teman-teman gue. Mereka tidak percaya kalau gue sudah menikah. Itulah gue perlu bawa lho agar mereka percaya."


"Tapi tidak harus ke tempat terkutuk ini. Anda sepertinya sedang menjebak saya. Kalau anda benar-benar ingin mengenalkan saya pada teman-teman anda, anda bisa membawa mereka ke rumah."


"Udah ah, kita turun sekarang. Mereka sudah menunggu kita di dalam." Ardian turun dari mobil. Tidak perduli dengan penolakan gadis itu. Membukakan pintu mobil untuk Chayra. Mengulurkan tangannya ke hadapan gadis itu. "Ayo.. jangan buat gue harus memaksa lho."


"Anda tidak usah memaksa saya karena saya tidak akan mau keluar walaupun anda memaksa."


"Ayo, buruan.." Ardian menarik tangan Chayra agar mau keluar.


"TIDAK...!!" Menepis tangan Ardian dengan kasar. "Anda mau saya berteriak dan meneriaki anda maling."


Ardian berdecak kesal. "Lho hanya menemani gue masuk. Kalau lho nggak ikut masuk, gue akan terjebak dan tidak bisa keluar dengan normal. Apa lho mau melihat gue pulang dengan keadaan oleng, seperti yang Papi katakan saat kita makan malam tadi?"


"Anda memiliki banyak pilihan. Jika anda tidak mau itu terjadi, anda tidak usah masuk lagi ke tempat itu."


"Tapi, teman-teman gue sudah menunggu di dalam."


"Pilihan ada di tangan anda. Jika anda memilih untuk masuk, saya akan pulang menggunakan taksi." Chayra menatap pria itu untuk menunggu keputusan.


"Tunggu, gue akan memberi tahu mereka dulu kalau gue tidak bisa ke dalam."


Baru saja akan menghubungi nomor handphone Kate. Pria itu malah memanggilnya dari arah belakang.


"Ardian... lho ternyata udah sampai. Lho jadi, membawa bini lho kemari?" Kate bersalaman dengan Ardian dengan gaya khas mereka.


Ardian melirik wanita berpakaian seksi yang sedang menggandeng tangan Kate. "Cewek lho?" tanyanya pada Kate.


"Oh, jelas dong, Bro.." Kate mengecup bibir wanita itu, yang disambut dengan senyuman hangat si wanita.


Chayra langsung mengalihkan pandangannya melihat adegan itu. Melafadzkan istighfar beberapa kali. "Saya mau pulang sekarang. Anda mau pulang sekarang, atau nanti?"


Ucapan Chayra membuat tiga orang yang sedang ngobrol santai di depan mobil langsung menoleh.


"Pacar lho mau pulang tuh." Wanita yang menggandeng Kate menatap ke dalam mobil. Matanya terbelalak saat melihat Chayra yang datang ke tempat hiburan malam menggunakan busana muslim lengkap.


"Pacar lho salah kostum atau lho memang benar-benar bawa Ustadzah?" Ucap wanita itu lagi.

__ADS_1


"Jangan banyak bacot lho. Dia bukan pacar gue, tapi istri gue."


********


__ADS_2