Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Ghibran bimbang


__ADS_3

Ghibran masih berdiri di depan kamar Chayra. Tangannya beberapa kali terangkat untuk mengetuk pintu. Namun, selalu ia urungkan dan menarik tangannya lagi.


"Ketuk saja, Nak." Bu Santi akhirnya angkat bicara karena Ghibran tak kunjung mengetuk pintu itu.


"Eh, iya, Bu. Ghibran takut mengganggu istirahat Zahra."


Bu Santi menautkan alisnya. "Kamu memanggil Ayra dengan nama Zahra?"


Ghibran tersenyum. "Maaf, Bu. Tapi, saya sangat senang memanggilnya dengan nama Zahra."


Bu Santi berjalan mendekati Ghibran. "Almarhum Mas Ari juga sering memanggilnya dengan sebutan itu." Tersenyum pada Ghibran. "Eh, Ibu lupa cerita sama kamu, kalau Mas Ari itu Bapaknya Ayra. Mm.. kamu juga tumben datang kemari. Jadi Ibu tidak bisa cerita banyak tentang Ayra sama kamu."


Ghibran tersenyum kaku. "Tapi alhamdulilah, saya sering ke makam Bapak, Bu. Diajak sama Zahra dan juga Abah Ismail."


"Benarkah begitu, Nak?"


Ghibran mengangguk, kembali tersenyum kaku seraya menundukkan sedikit badannya.


"Mm.. nggak apa-apa kan, kalau Ibu tinggal sebentar ke dapur?"


"Eh, jangan, Bu. Ghibran nggak enak kalau harus bicara berdua dengan Zahra."


"Kamu aja belum mengetuk pintu, bagaimana mau bicara dengan putri Ibu."


Ghibran tersenyum meringis seraya menunduk malu.


"Ibu akan meminta Zidane menemani kamu. Tunggu sebentar ya.."


Ghibran akhirnya mengangguk, membiarkan Bu Santi berlalu dari hadapannya.


Selepas kepergian Bu Santi, ia menarik nafas dalam. Mengumpulkan semua keberaniannya dari segala penjuru untuk berhadapan dengan wanita yang belum tentu akan mengizinkannya masuk ke dalam kamar.


"Bismillah," perlahan tangannya terangkat dan mengetuk pintu dengan sangat pelan. "Assalamualaikum, Zahra.."


Tidak ada jawaban. Ghibran kembali mengetuk pintu. Sangat berharap akan melihat wajah gadis yang mampu membuat hatinya tenang saat menatapnya.


"Zahra, aku mau ngomong sesuatu sama kamu. Bisakah kita bicara, sebentar saja."


Masih sunyi senyap. Hal itu membuatnya kembali menarik nafas panjang. Dia harus bersabar menghadapi situasi ini. Andaikan Chayra tidak mengalami musibah itu. Mungkin saat ini gadis itu sudah halal untuknya.


Ghibran akhirnya duduk di sebuah sofa di depan kamar Chayra. Mungkin karena kemunculan yang tiba-tiba membuat Chayra bersikap seperti ini. Duduk termenung sambil memikirkan bagaimana caranya agar gadis itu mau keluar kamar.


"Hei..!" Zidane datang dengan wajah cerah. Sepertinya dia baru selesai melaksanakan shalat Dhuha. "Belum berhasil?" Tanyanya, menatap pintu kamar yang masih tertutup rapat.


Ghibran menggeleng lemah. "Mungkin Zahra sedang istirahat. Aku akan menunggu sampai dia siap."

__ADS_1


"Udah shalat?"


"Belum.."


"Shalat aja dulu kalau begitu. Minta petunjuk dulu sama Allah biar dikasih kemudahan dalam menghadapi masalah ini."


Ghibran hanya mengangkat sebelah bibirnya. Menghempaskan tubuhnya di sandaran sofa. "Ya Allah.. aku kok aku seperti akan putus asa menghadapi ini semua." Mengusap-usap wajahnya.


"Huh, cemen lho. Masalah itu dihadapi, Bro, bukan dihindari. Udah tua juga, masa secepat ini mau putus asa."


Ghibran tersenyum kecut. "Aku bimbang, Zidane. Kamu nggak pernah di situasi seperti yang aku hadapi ini."


"Makanya shalat dulu. Insya Allah, kemudahan akan datang setelah kita mengadu pada Allah. Jiwa yang bimbang pun, akan menjadi tenang."


Ghibran menarik nafas dalam lalu menghembuskannya dengan kasar. "Iya sudah, aku shalat dulu kalau gitu. Ini sudah jam berapa sih?" Mengedarkan pandangannya mencari jam dinding di ruangan itu."


"Ngapain cari jam di dinding, Ghi? Itu di tangan kamu ada jam tangan melingkar."


"Ehheheh, pikiranku terlalu kacau." Ghibran menggaruk-garuk kepalanya seraya berlalu. Ia berbalik lagi setelah berjalan beberapa langkah.


"Ada apa lagi?" Zidane yang masih menatapnya lekat langsung melontarkan pertanyaan begitu melihat Ghibran berbalik.


"Musholla dimana?"


"Shalat di kamar aku aja."


"Yang di sebelah kiri kamar yang kedua sebelah utara. Kalau kamu bingung, kamu bisa tanya Ummi yang sedang duduk di ruang tamu dengan Bu Sulis."


"Mmm.." Ghibran melanjutkan langkahnya walaupun masih bingung.


Benar saja, ia bingung melihat lima kamar yang berderet berhadapan sebelah kanan dan sebelah kiri. Ia berjalan pelan mendekati Bu Ainun.


"Assalamualaikum, Ummi."


"Eh, Nak Ghibran.. ada apa, Nak?"


"Mm.. Ghibran mau tanya, kamarnya Zidane yang mana. Soalnya Ghibran bingung walaupun sudah dijelaskan sama Zidane tadi."


"Pikiran kamu yang terlalu penuh sehingga kamu tidak bisa fokus." Bu Ainun menggeleng-geleng seraya beranjak bangun. Menunjukkan kamar Zidane pada Ghibran.


"Yang tadi siapa, Bu Ainun? Temannya Zidane ya, Bu? Kok orangnya tampan sekali..." Tanya Bu Sulis saat Bu Ainun kembali duduk di sebelahnya.


Bu Ainun tersenyum. "Dia itu... laki-laki yang akan mengkhitbah Ayra, Bu," menatap ragu pada Bu Sulis.


Bu Sulis terbelalak. "Jadi dia laki-laki yang sudah membuat Ayra seperti itu, Bu?!"

__ADS_1


"Astagfirullahal'adzim, b.. bukan, Bu. Ibu salah mengartikan ucapan saya."


Bu Sulis menautkan alisnya menunggu penjelasan Bu Ainun. "Lalu maksud Bu Ainun apa?"


"Dia itu laki-laki Sholeh. Pegang tangan perempuan yang bukan mahram saja belum pernah. Apalagi sampai berbuat serendah itu, Bu?"


Bu Sulis semakin penasaran dengan maksud ucapan Bu Ainun.


"Dia itu memang sudah berniat untuk mengkhitbah Ayra sebelum ini, Bu. Ghibran dan Ayra sudah melakukan ta'aruf sejak tujuh bulan yang lalu." Bu Ainun menghela nafas berat sebelum melanjutkan ceritanya. "Sebenarnya, tujuan Ayra pulang kemarin adalah untuk memberitahu sekaligus minta izin pada ibunya, kalau dia akan dikhitbah oleh laki-laki tadi. Tapi, Allah berkehendak lain dan membuat kami harus menghadapi cobaan ini."


"Ya Allah, ternyata aku su'udzon. Maafkan ucapanku yang terlalu lancang ya, Bu."


"Tidak apa-apa, Bu. Namanya juga kita tidak tau." Bu Ainun menepuk pelan paha Bu Sulis.


Sementara itu...


Zidane duduk di sofa sambil mengutak-atik handphone di tangannya. Dia sedang berkirim pesan dengan Chayra, agar gadis itu mau keluar kamar menemui Ghibran.


Saat sedang menunggu balasan dari Chayra, tiba-tiba saja matanya tertuju pada handphone Ghibran yang tergeletak di atas sofa yang ia duduki. Tanpa berpikir panjang, ia mengambil benda gepeng itu dan mencoba menyalakannya.


"Pakai password.." ucapnya lirih. Mencoba berpikir, kira-kira kata apa yang digunakan Ghibran sebagai password handphonenya. Zidane tersenyum, tangannya mencoba memasukkan kata kunci yang terlintas di otaknya.


"G-H-I-B-R-A-N.."


Zidane melongo saat kata kunci yang ia masukkan salah. "Mm.. kata kuncinya apa ya, kalau begitu?" kembali berpikir. Entah kenapa dia penasaran dan ingin tau, apa saja isi handphone Ghibran.


"Coba yang ini.. C-H-A-Y-R-A.." salah lagi.


Zidane menyebikkan bibirnya. "Kata kuncinya apa kalau begitu?"


"Mm.. coba, A-B-D-U-L-L-A-H.."


Peringatan langsung muncul di layar handphone Ghibran.


Anda sudah tiga kali memasukkan kata kunci yang salah. Silahkan ulangi lagi setelah tiga puluh detik.


"Gkgkgk..." Zidane cekikikan melihat pesan itu. "Kok aku jadi kepo gini ya, ingin tau isi handphone Ghibran. "Password-nya apa ya, kalau begitu.."


Tiba-tiba saja panggilan khusus Ghibran untuk Chayra terlintas di otaknya. "Ok, kita coba yang ini." Kembali menatap layar handphone yang masih menghitung mundur waktu tiga puluh detik.


"Lima, empat, tiga, dua, satu.." Zidane tersenyum dan mencoba memasukkan kata kunci itu. "Z-A-H-R-A.."


"Yess..!"Zidane mengepalkan tangannya ke atas karena senang kata kuncinya benar. Menatap layar handphone yang sudah terbuka. Zidane sedikit terkejut saat melihat pesan di aplikasi WhatsApp yang kebetulan sedang terbuka. Membaca pesan terakhir dari orang terdekat Ghibran.


Lepaskan saja dia, Nak. Masih banyak wanita yang menginginkan kamu yang jauh lebih baik dari wanita itu. Dia sudah tidak perawan lagi. Apa kamu akan mendapatkan sisa orang, padahal kamu sendiri selalu menjaga kehormatanmu untuk dia.

__ADS_1


Zidane memejamkan matanya setelah membaca pesan itu. Ada rasa penyesalan, kenapa ia lancang membuka handphone orang.


******


__ADS_2