Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Menyerahkan diri


__ADS_3

Ardian menelan ludahnya. "A.. apa.. apa yang kamu lakukan?"


Chayra sesenggukan, "aku bilang, jangan pergi. Kenapa Kakak keras kepala sekali. Tolong, turuti keinginanku kali ini saja." Chayra masih meremas bajunya karena tangisnya membuat dadanya terasa sesak.


Ardian berjalan mendekat. Tiba-tiba saja dia merasa malu walaupun hanya sekedar untuk menatap istrinya. "Maafkan aku tidak mengerti perasaanmu." Memungut jilbab Chayra seraya memasangkannya dengan penuh kehati-hatian. Kembali menelan ludahnya saat melihat keindahan ciptaan Allah yang melekat pada istrinya.


"Kenapa Kak Ardian masih saja ingin mendatangi tempat itu? Apa yang membuatmu masih saja mencari yang lain sedangkan Allah mendatangkan aku dalam hidupmu. Apa gunanya aku di sini kalau Kakak tidak membutuhkan aku. Kakak sendiri yang mengatakan kalau Kakak membutuhkan aku."


Ardian menunduk. Sakit kepalanya dia tahan dari tadi agar bisa segera menyelesaikan masalahnya. "M.. maafkan aku. Aku.. aku tidak bisa menyentuh kamu."


Chayra hanya diam seraya menelan ludahnya. Dia tidak berniat untuk menawarkan diri. Namun, kekesalannya membuatnya tidak sadar apa yang dia ucapkan.


"Aku malu padamu. Aku sadar, kalau diriku tidak pantas untuk wanita sebaik dan se-solehah kamu. Itulah mengapa, aku ingin memantaskan diri sebelumnya." Ardian memungut cadar Chayra. Namun, dia tidak memakaikannya lagi. Dia hanya meremas benda itu.


"Aku mohon sama kamu, jangan memakai ini lagi jika kamu hanya bersama denganku. Jika aku tidak bisa menyentuhmu, setidaknya aku bisa menikmati keindahan wajah istriku." Ardian bangkit, meletakkan cadar itu di atas meja belajar istrinya lalu kembali mendekati Chayra.


"Jika kamu keberatan melihat aku keluar sendiri sekarang, ikutlah denganku. Aku benar-benar harus menyelesaikan masalahku dengan wanita itu agar tidak ada lagi yang menjadi beban pikiranku."


"Aku sudah bilang, Kakak jangan pergi. Aku benar-benar tidak sudi melihat Kakak kembali lagi ke tempat itu." Chayra meringsut mendekat. Tiba-tiba saja tangannya menggenggam tangan Ardian. "Aku akan coba untuk mencintaimu. Aku yakin, Allah pasti memiliki rencana indah dibalik semua ini. Allah menghendaki kita bersama sudah pasti ada tujuannya."


Ardian tersenyum samar. "Temani aku pergi kalau begitu. Aku benar-benar harus menyelesaikan semuanya."


"Apa sebenarnya masalah Kak Ardian dengan wanita itu. Kenapa Kakak bersikeras ingin menemuinya malam ini."


Ardian membuang nafas kasar. "Dia mengancam ku. Dia akan merusak reputasi keluargaku."


"Dengan modal apa dia bisa merusak reputasi keluarga orang?"


Ardian menggeleng pelan dengan tampang putus asa. "Dia menyimpan video buruk tentang hubunganku dengannya. Dia mengancam akan menyebarkan video itu. Aku tidak mengkhawatirkan harga diriku. Tapi, harga diri Papi dan Mami yang membuatku harus mempertimbangkan semuanya." Ardian bangkit. "Jika kamu benar-benar ingin berjuang hidup bersamaku, temani aku menemuinya. Aku yakin, kehadiran kamu nanti akan membuatnya sadar kalau aku benar-benar ingin berhenti dan keluar dari kehidupan mereka."


Chayra masih diam. Dia sedang mempertimbangkan aduan suaminya.


Melihat istrinya hanya berdiam diri. Ardian meraih handphonenya dari saku jaketnya. "Kamu sudah tau kehidupan kelam yang aku jalani selam ini. Jadi, apa salahnya kalau kamu melihat video itu." Menyodorkan handphonenya pada Chayra.


Tangan Chayra sedikit bergetar meraih handphone itu. Handphone yang sedang memutar video panas suaminya dengan seorang wanita berkulit sawo matang. Chayra menelan ludahnya. Untuk pertama kalinya dia melihat video yang begituan. Ingin dia membuang handphone itu. Namun, dia harus menahan tangannya agar tidak melakukan itu.


Usai melihat video itu, Chayra menatap suaminya dengan tajam. Kekejaman Ardian waktu itu tiba-tiba saja memutar kembali dalam memori otaknya.


"Jangan menatapku seperti itu. Itu sudah sangat lama terjadi. Sekitar satu tahun yang lalu. Sebelum kita menikah, tapi..."


"Tapi apa..?" Chayra bertanya sinis.


"Setelah... aku.. menodai.. kamu waktu itu." Ardian mengalihkan pandangannya, tidak kuasa menatap Chayra. "Aku sering tidak bisa menahan diri setelah menyentuh kamu waktu itu. Itulah mengapa aku sering mencari wanita untuk melampiaskan semuanya. Kebetulan, wanita itu yang selalu ada di tempat ketika aku butuh. Itulah mengapa aku sering melakukan itu padanya. Sekali lagi maafkan aku.."


Chayra menarik nafas panjang seraya beristighfar. Dia ingin marah, tapi dia menahannya. Setidaknya dia harus menghargai usaha suaminya untuk berkata jujur padanya.

__ADS_1


"Ayo, temani aku. Jika kamu tidak mau, aku juga tidak jadi pergi. Tapi pertimbangkan satu hal berat yang akan terjadi ke depannya. Mertuamu akan kehilangan harga diri mereka karena ulah anaknya yang bejat ini."


Chayra mengangkat wajahnya. Ingin menolak tapi seperti kata Ardian. Harga diri kedua mertuanya yang akan dia pertaruhkan. "Tapi Kak Ardian harus janji, kalau Kakak tidak akan mengajakku masuk ke dalam."


Ardian tersenyum mendengar ucapan Chayra. "Aku tidak berani menjanjikan hal itu. Aku tidak bisa membaca kondisinya dari sekarang. Ikut saja denganku. Aku akan menjamin keselamatan dan kehormatanmu akan terjaga." Mengambil cadar Chayra yang tadi dia letakkan. Kembali mendekati wanita itu.


Ardian tidak bisa berkata-kata saat bibir Chayra mengulas senyum. Gadis itu terlihat semakin cantik dengan tersenyum seperti itu.


"Kenapa diam? Mana cadar yang tadi Kakak ambik, aku mau memakainya lagi."


Lamunan Ardian langsung buyar. "Eh, maafkan aku. Ini milikmu.." menyerahkan cadar Chayra.


"Kakak yang pasangkan." Chayra menyerahkan cadar itu kembali.


Dada Ardian bergemuruh. Berusaha mengontrol diri agar tidak sampai memeluk Chayra.


"Kenapa lama sekali?" Chayra kembali protes.


"Eh, iya.. aku gugup."


"Hah...?" Chayra berbalik seraya menatap Ardian dengan heran. "Kok gugup. Gugup kenapa?"


"Senyuman kamu terlalu manis kalau hanya untuk diabaikan."


"Maksudnya?"


Chayra kembali tersenyum. Namun, senyumannya kali ini terlihat malu-malu. Ucapan Ardian tadi mampu membuatnya tersipu.


Ardian bangkit, tersenyum bahagia melihat tingkah Chayra. "Ayo kita berangkat sekarang. Nanti orangnya keburu ngambek dan benar-benar melakukan ancamannya." Mengulurkan tangannya, berharap gadis itu akan menyambut uluran tangannya.


Chayra mengangguk setuju seraya menyambut uluran tangan suaminya. Hal itu tentu saja membuat perasaan Ardian semakin berbunga-bunga.


"Tunggu sebentar di sini. Aku akan ambilkan jaket untukmu." Berlalu menuju ruang ganti.


Dengan telaten, Ardian memasangkan jaket itu di tubuh istrinya. Tiba-tiba saja muncul ide di kepalanya untuk menjahili Chayra


"Mmm... kamu kan sudah menyerahkan diri padaku tadi. Jadi, sebelum kita berangkat, boleh dong, aku minta satu pelukan dari kamu biar aku semangat. Siapa tau, pelukan hangat dari kamu membuatku merasa lebih baik."


"Memang beneran bisa membuat Kakak lebih baik atau ini hanya modus saja."


Ardian cengengesan. Bingung mau menjawab apa pertanyaan istrinya. "Hehehe.. kayaknya mo.. dus deh. Tapi, mudahan aja benar-benar bisa mengurangi rasa pusingku."


Chayra menggeleng-geleng pelan. Tiba-tiba saja dia teringat kata Ardian yang mengatakan dirinya sudah menyerahkan diri.


"Eh, tunggu, tunggu. Apa maksud Kakak mengatakan aku menyerahkan diri?"

__ADS_1


Ardian tersenyum gemas. Tangannya menangkup pipi Chayra. "Kamu membuka cadar dan jilbab kamu dihadapan aku, itu apa namanya? Bukankah itu berarti kamu sudah menyerahkan diri kamu kepadaku?"


Chayra tertegun. Matanya tidak berkedip menatap Ardian. "Aku.. aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya kesel tadi sama Kakak. Bisa-bisanya baru selesai shalat dan berdoa lalu pergi ke tempat terlarang."


"Aku kan sudah menjelaskan semuanya kepadamu."


"Iya, sekarang. Tadi kan belum."


Ardian mencubit pipi istrinya dengan gemas. Refleks, tangannya merengkuh tubuh Chayra tanpa meminta persetujuan gadis itu terlebih dahulu. "Jangan berontak. Aku hanya ingin memelukmu seperti ini."


Chayra mengurungkan niatnya untuk mencoba melepaskan diri. Membiarkan Ardian memeluknya erat.


Satu ciuman mendarat di pucuk kepala gadis itu. "Aku mencintaimu.." bisiknya lembut.


Chayra hanya diam. Membiarkan apapun yang ingin dilakukan pria itu.


"Ayo kita berangkat. Berlama-lama seperti ini membuatku semakin hanyut dalam cintamu."


"Apaan sih?!" Chayra mencubit pinggang Ardian.


"Aw, sakit. Jangan cubit bagian itu, nanti adikku bangun."


"Adik..?"


"Jangan dibahas nanti panjang ceritanya. Kita berangkat saja sekarang." Tangannya masih memeluk erat tubuh Chayra.


"Masa iya, kita pergi sambil berpelukan."


"Tanganku terkunci cinta. Tidak bisa lepas nih."


"Please deh, Kak." Chayra menepis pinggang suaminya.


Ardian terkekeh. Walaupun berat, akhirnya dia melepaskan pelukannya. Giliran tangan Chayra yang dia genggam. "Jangan marah ya.. Biarkan aku menikmati kebahagiaan mencintaimu sekarang. Aku tidak akan menuntut mu untuk membalasnya. Cukup biarkan aku memperlakukan kamu dengan istimewa. Itu sudah cukup bagiku."


Chayra hanya mengangguk. Hanya tangannya mempererat pegangan Ardian.


"Terimakasih untuk semuanya. Semoga kedepannya perjuangan ini membuahkan hasil."


"Aamiin..."


Akhirnya mereka keluar rumah dengan bergandengan tangan. Chayra dengan hati-hati menaiki motor gede yang sudah ditunggangi suaminya.


"Pegangan, peluk pinggangku. Aku tidak akan ngebut kok. Tapi, setidaknya kamu sudah ada pengaman kalau terjadi sesuatu."


Walaupun merasa tidak nyaman. Chayra akhirnya melingkarkan tangannya di pinggang Ardian.

__ADS_1


********


__ADS_2