
Rencana ke Rumah Sakit malam itu benar-benar ditunda sampai besok malam. Pasalnya, Ardian benar-benar mengisi energi, bahkan sampai menyelesaikan dua babak. Chayra hanya bisa menghela nafas berat menyikapi tingkah suaminya. Namun, ada rasa bahagia juga karena bisa memenuhi kebutuhan energi batin suaminya. Seperti kata Ardian tadi saat merayunya, jika energi sudah terisi penuh di rumah, maka tidak ada alasan untuk singgah mengisi energi di tempat lain.
Ardian terlelap usai mengisi penuh energinya. Sedangkan Chayra, gadis itu bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan badannya. Takut kalau terlalu malam akan beresiko pada kehamilannya.
Chayra langsung mendirikan shalat Isya usai mandi. Setelah shalat, ia membaca Al-Qur'an beberapa lembar. Ketukan di pintu kamarnya membuatnya terpaksa mengakhiri bacaan Al-Qur'an itu.
"Kak Ayra, Kak Ardian. Kalau lagi berdebat berhenti dulu, nanti dilanjutkan. Ibu menyuruh Kakak makan malam dulu.
Tok... tok.. tok..
Bian semakin keras mengetuk pintu.
Chayra akhirnya bangkit, membuka pintu saat mendengar suara malas Bian yang terus-terusan mengetuk pintu.
"Ada apa, Dek?" Membuka pintu kamar dengan lebar.
"Disuruh makan malam sama Ibu. Tadi habis Maghrib ditunggu, tapi Kakak nggak keluar-keluar juga. Kami semua sudah selesai makan malam. Tinggal kalian berdua yang belum."
"Iya, nanti dulu. Kak Ardian masih tidur."
"Hah.. tidur apaan jam segini?" Bian menongolkan kepalanya ke dalam kamar.
Chayra mendorong kepala adiknya. "Sudah... keluar sana. Kak Ardian capek kerja. Nanti aku bangunkan dia. Kalau dibangunkan sekarang, kasihan. Dia baru saja terlelap."
"Iye... ke.." Bian kembali menongolkan kepalanya.
"Cerewet ni bocah.. hus.. hus.. pergi sana." Chayra mendorong tubuh Bian sedikit menjauh. Menutup pintu kamar dengan cepat agar Bian tidak memaksa untuk membukanya lagi.
Chayra menggoyang-goyangkan tubuh suaminya setelah tidak ada lagi suara Bian mengetuk-ngetuk pintu.
"Kak, bangun.. udah jam sembilan. Kakak belum shalat Isya."
"Mm...." Ardian hanya menggeliat mengubah posisi tidurnya.
"Aku mau makan duluan kalau Kakak nggak mau bangun."
"Mm.."
"Ya Allah bener-bener deh ni orang." Chayra kembali menggoyang-goyang tubuh Ardian. "Bangun, Kak. Aku lapar nih..."
"Iya ntar dulu, sebentar saja.."
"Aku tinggal nih. Aku mau makan duluan."
"Iya, kamu makan saja, Sayang. Mata aku nggak bisa di buka nih."
"Iya udah, kalau nggak mau aku makan duluan. Awas saja kalau Kakak minta ditemani nanti." Menarik selimut yang menutupi tubuh suaminya dengan kasar. Langsung keluar kamar setelah melihat selimut jatuh ke lantai.
"Kenapa sih?! Tau orang ngantuk." Ardian mengangkat kepalanya menatap kepergian Chayra. Kembali menempelkan kepalanya pada bantal karena matanya benar-benar mengantuk
Usai makan, Chayra menarik nafas dalam saat melihat suaminya masih tidur. Mendekati tempat tidur seraya duduk di sisi ranjang. "Secapek apa sih dia?" Tangannya membelai lembut kepala Ardian. "Tidurnya pulas amat deh. Ngapain ngajak ke Rumah Sakit segala tadi kalau dirinya aja kecapekan?" Bersungut-sungut sendiri.
Setelah mondar-mandir beberapa kali, Chayra melirik jam dinding. Empat puluh menit yang lalu dia makan. Berfikir kalau sudah boleh merebahkan tubuhnya karena lambungnya sudah pasti menerima keberadaan makanan yang tadi masuk.
Chayra menatap wajah Ardian. Wajah pria itu tampak tenang saat sedang istirahat. Jari telunjuknya menyapu pelan bulu mata Ardian yang lentik.
Mata Ardian mengerjap-ngerjap karena merasa terganggu. Menggosok-gosok matanya karena gatal seraya menghembuskan nafasnya.
__ADS_1
"Kakak belum shalat Isya. Sebentar lagi jam sepuluh malam. Apa belum puas tidur?" Menepuk-nepuk pipi Ardian. "Padahal tidurnya dari jam tujuh. Kakak juga belum mandi wajib."
Mata Ardian terbuka perlahan. "Kamu udah selesai makan, Chay?"
Chayra mendengus. "Udah mau makan lagi ini. Tidurnya nyenyak banget sampai lupa ini jam berapa."
"Nggak tau, Sayang. Aku lelap banget." Menarik tubuh Chayra agar lebih mendekat. Merengkuh tubuh wanita itu ke dalam pelukannya.
"Jangan peluk-peluk dulu. Kakak belum mandi, belum shalat. Nanti kalau sudah menjalankan kewajiban, malahan aku yang akan memeluk Kakak."
Ardian tersenyum kecil. Matanya terlihat masih malas terbuka. "Beneran nih?"
"Mmm..."
"Energi tadi sepertinya berkurang banyak, Sayang."
"Hah, energi perutnya itu yang nggak ada. Mana ada energi itu yang habis. Tadi malah diisinya dobel."
"Kan energinya aku bawa tidur. Pasti terkuras, Sayang." Sekali lagi boleh ya..." menaik turunkan alisnya menggoda istrinya.
"Berhubungan itu yang wajar dong, Kak. Masa iya, sampai tiga kali semalam. Aku juga belum isi energi kalau harus diminta transfer energi ke Kakak lagi." Menyebikkan bibirnya kesal.
"Hahaha..." Ardian tidak bisa menahan tawanya melihat ekspresi Chayra.
"Kenapa ketawa? Kayak orang yang bahagia banget melihat aku menderita."
"Bukan kayak gitu, Sayang. Aku hanya merasa sangat terhibur melihat ekspresi kamu. Kok, pingin aku cium aja bibir kamu yang seperti itu." Mengusap bibir Chayra dengan jarinya.
"Jangan macam-macam deh, Kak. Mandi dulu sana terus shalat Isya." Menepis tangan Ardian yang mulai nakal.
"Heh, aku saja yang lagi hamil berani mandi, Kak. Masa lu yang punya tubuh kekar tanpa beban malah berpikir seperti itu. Kan Kak Ardian sendiri yang bilang tadi, sekali-kali boleh. Yang bahaya itu kalau terlalu sering. Nggak malu sama ucapan sendiri?"
"Hehehe.." Ardian akhirnya hanya bisa cengengesan. Bangkit dengan malas.
"Mandi pakai air hangat biar nggak menggigil nanti."
Ardian menoleh seraya tersenyum. "Istriku baik banget. Selalu mengutamakan kesehatan dan kedisiplinan suaminya."
Akhirnya drama itu berakhir karena Ardian masuk ke dalam kamar mandi dan Chayra tertidur karena benar-benar mengantuk. Meladeni kekonyolan suaminya lumayan menguras tenaga dalamnya.
*********
"Kak, bangun.." Chayra menepuk-nepuk pipi Ardian. Baru saja pria itu terlelap. Kini dia dikagetkan dengan tepukan keras di pipinya.
"Ada apa, Chay?" Mengerjap-ngerjapkan matanya karena terasa sangat berat.
"Aku lapar.."
"Kan kamu sudah makan tadi. Aku saja yang tidak makan malam tidak lapar."
"Tapi aku yang lapar. Sepertinya anak kamu yang lapar di dalam. Dari tadi dia gerak-gerak terus. Temani aku mencari makanan ya.." mengusap-usap pipi Ardian.
"Anak aku udah bisa nendang-nendang di dalam." Meraba perut istrinya. Namun, tidak ada respon.
"Kok nggak ada. Perut kamu nggak respon?"
"Sekarang di udah tidur lagi. Kayaknya ngambek karena papanya lambat menyadari tendangannya." Memindahkan tangan Ardian yang masih menempel di perutnya.
__ADS_1
"Aku lapar, Kak.."
"Yang benar saja, Sayang. Ini baru jam sebelas. Aku baru saja terlelap. Kamu kan bisa ke dapur sendiri."
"Aku lapar, tapi aku tidak mau makan makanan yang ada di dapur." Chayra bangkit seraya menarik tangan Ardian agar ikut bangkit. "Aku mau makan sate, Kak. Kok, rasanya seperti sudah ada di ujung lidahku."
Ardian tersentak kaget, langsung bangkit mengucek-ngucek matanya. "Jangan bilang kalau kamu mau makan itu sekarang. Terus...."
"Iya, aku mau makan sate sekarang terus Kakak temani aku mencari penjual sate sampai dapat." Menatap suaminya dengan tatapan memohon.
"Ya Allah, astagfirullahal'adzim." Ardian mengusap wajahnya kasar. "Apa nggak bisa besok saja, Sayang? Atau besok aku belikan pas aku pulang kerja." Mencoba melakukan tawar menawar.
Chayra menunduk seraya menggeleng pelan. "Aku pinginnya sekarang, Kak. Kalau besok aku pasti tidak ingin lagi."
Ardian menghela nafas berat. "Iya sudah, aku akan cari satenya sekarang. Tapi kamu tunggu aku di rumah. Biar aku yang mencarinya sendiri."
Chayra mengangkat wajahnya dengan mata berbinar. "Ikut..."
"Kamu sedang hamil, Sayang. Nanti kamu masuk angin, terus paginya muntah-muntah. Mau kayak gitu?"
"Nggak sih. Tapi aku ingin jalan-jalan."
Ardian menatap istrinya tajam. Tidak mungkin membawa wanita itu keluar di jam segini. Apalagi dengan kondisinya yang sedang hamil. "Kamu tunggu aku di rumah atau aku tidak jadi mencarikannya untuk kamu."
Chayra membuang nafas kasar mendengar ucapan suaminya. "Aku mau makan satenya di tempat. Nggak mau makan di rumah."
Ardian mengernyitkan keningnya. "Masa ada sih, ngidam kayak gitu? Tumben dengar akunya."
"Kak Ardian kurang update berita yang begituan. Ayo.. aku beneran mau ikut."
Ardian berpikir sambil melirik istrinya beberapa kali. "Yakin kamu akan baik-baik saja kalau keluar jam segini?"
Chayra mengangguk mantap.
"Kamu nggak alergi sama angin malam, kan?"
"Nggak..! Ayo buruan, nanti penjual satenya keburu pulang."
Ardian akhirnya mengalah. Mengambil kunci mobil yang tersimpan di dalam laci nakas.
"Salah ambil kunci, Kak."
"Salah? nggak kok. Ini beneran kunci mobil aku."
"Tapi aku maunya pakai motor. Pakai motor Kak Zidane."
Ardian menelan ludahnya. "Kamu mau dibonceng pakai motor gede, gitu maksudnya?"
Chayra mengangguk sambil tersenyum meringis.
"Kok permintaan kamu aneh banget, Sayang." Meletakkan kembali kunci mobilnya.
Chayra menggandeng tangan Ardian keluar kamar. "Nggak boleh nolak. Nanti anaknya ileran kalau udah lahir."
"Alasan aja kamu ini." Ardian akhirnya hanya bisa menggeleng-geleng pelan. Namun, dia terus melangkah mengikuti langkah istrinya menuju kamar Zidane.
******
__ADS_1