Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Rencana terselubung Ardian


__ADS_3

"Ini sudah terlalu malam, Dit. Gila kamu nyuruh aku keluar. Chay bisa ngamuk nanti." Ardian mengecilkan suaranya. Mereka baru saja sampai rumah dan Dodit menghubunginya untuk kembali karena suatu urusan. Ardian memijit pelioisnya.


"Kalau kamu mau rencana kamu sukses, kamu harus datang sekarang juga."


"Kamu kok maksa banget sih, Dit. Kenapa tadi nggak ngebahas itu pas aku masih disana."


"Kan ada istri lu, Kamvreet..."


"Eh, nggak sopan lu sama Bos.." Ardian menatap ke belakang, takutnya Chayra sudah keluar dari kamar mandi dan mendengar percakapannya dengan Dodit.


"Di luar jam kerja nggak ada istilah Bos dan Asisten, Pak. Kita sejajar sekarang. Jadi, gw bebas mau bilang apa aja sama lu."


"Tapi aku nggak bisa sekarang." Ardian membuang nafas kasar. "Aku ..." ucapan Ardian terhenti ketika mendengar suara pintu yang terhubung dengan Balkon tempatnya berdiri, dibuka oleh seseorang.


"Teleponan sama siapa, Mas?" Chayra berdiri dengan bersandar di tiang pintu.


"Eh, mm.. anu, Sayang. Ini.. Dodit, dia menanyakan pekerjaan yang belum beres tadi." Ardian menunjukkan layar handphone pada Chayra agar wanita itu percaya. Ardian menggigit bibir bawahnya karena gugup. Chayra menautkan alisnya membuatnya semakin gugup.


"Ya udah, ngapain kayak tampang orang ketahuan maling, kalau yang menghubungi kamu cuman Pak Dodit." Chayra menyerahkan kembali handphone suaminya. "Perasaan aku nggak galak-galak amat, Mas. Kok kamu kayak gitu. Aku kan hanya bertanya saja tadi."


Ardian tersenyum meringis, "sebenarnya aku cuma terkejut tadi. Heheheh ..."


"Udah, Mas Ardian ambil air wudhu' dulu sana. Kita belum shalat Isya, Mas."


"I.. iya, Sayang ..." Ardian mengikuti Chayra masuk ke dalam kamar. Sambungan telepon sudah terputus. Sepertinya Dodit yang sengaja memutus sambungan telepon.


Sementara itu ...


Dodit tertawa puas berhasil menjahili Ardian. Dia sudah bisa memastikan kalau Ardian tidak akan mau keluar malam. Sebenarnya bukan Chayra yang tidak mengizinkan, tapi Ardian yang terlalu posesif pada istrinya.


Flashback on...


Usai makan malam, Ardian yang naik duluan ke dalam kamar mendapati handphonenya sedang berbunyi nyaring. Saat melihat benda gepeng itu, nama Asisten kesayangannya terpampang jelas. Tanpa pikir panjang, Ardian langsung menyentuh ikon berwarna hijau.


"Iya, Dit ... ada apa kamu menghubungiku?"


"Aku sedang di Pusat Perbelanjaan Xx nih, Ar. Aku menemukan ada yang spesial disini."


Ardian mengerutkan keningnya. "Spesial ... maksud kamu?"


"Ada Pak Dosen lu yang sedang jalan-jalan sendirian. Dia terlihat sedang galau. Mm... jika kamu datang untuk menambah kegamangannya, mungkin itu akan seru."


"Ah, kamu ini, Dit. Jangan berpikir yang nggak-nggak deh,"


"Aku sih cuma nawarin aja. Soalnya dia terlalu sering membuat masalah untuk kamu. Ganti niat kalau begitu. Kamu datang kesini, niatnya untuk memberi pelajaran pada Pak Dosen. Mudah-mudahan ke depannya pintu hatinya bisa terbuka untuk bertaubat, agar bisa menerima kalau Bu Ayra memang bukan jodohnya."

__ADS_1


Lama Ardian berpikir. Dodit akhirnya kembali bertanya karena Ardian tidak ada respon. "Bagaimana, Pak?"


"Mm ... tapi Adzra nggak ada di rumah, Dit. Saat aku dan Chay pulang tadi sore, neneknya membawanya."


"Nah, apalagi si gembul nggak ada, Ar. Kamu akan lebih leluasa jalan berdua dengan Bu Ayra. Sekalian nanti kita bahas masalah rencana lu yang belum sempat kita bahas dari kemarin."


"Kamu sih, sibuk terus. Padahal aku cuma meminta kamu membantuku mengadakan persiapan."


"Ayo makanya kamu datang kemari. Nanti kita bahas itu. Sekalian lu datang pakai motor baru itu. Sekalian lu buat panas dingin Pak Dosen biar kapok."


"Lu jangan berlebihan, Dit. Istighfar ..."


"Assalamu'alaikum ..." Dodit langsung mengucap salam untuk menutup sambungan telepon. Hal itu membuat Ardian menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ada-ada aja deh lu, Dit." Ardian menyandarkan tubuhnya sambil berpikir. Ucapan Dodit tadi ada benarnya. Sudah beberapa kali Ghibran membuatnya kesal. Pria itu bahkan berani bertamu ke kantornya, hanya karena meragukan jabatannya.


Ardian bangkit seraya menarik nafas panjang. Ucapan Dodit tadi ada benarnya. Orang itu harus di beri pelajaran agar dia tidak terus-terusan menatapnya dengan sebelah mata.


Flashback off...


Ardian kembali menghubungi Dodit setelah selesai shalat. Ia segera ke Balkon saat Chayra turun untuk mengambil air minum.


"Kamu masih disana, Dit?"


"Aku sudah pulang, capek nungguin orang yang tidak mau diperjuangkan."


"Eh, sekarang lu yang jadi Kamvreet.. Besok kita bertemu kalau begitu. Aku akan ke Apartemen kamu agar tidak ada yang menguping pembicaraan kita." Ardian langsung memutus sambungan telepon saat terdengar suara Chayra memanggilnya.


"Iya ..."


"Memangnya urusan yang tadi belum selesai?"


"Belum, Sayang. Besok aku akan ke Apartemennya Dodit untuk membahasnya lagi."


"Besok kan hari Minggu, Mas."


"Itu makanya, aku tidak akan ke Kantor, tetapi aku akan menyelesaikannya di tempat Dodit."


"Kenapa kamu tidak minta Pak Dodit saja yang kemari. Kalau kalian bertemu disini, aku kan bisa menyiapkan sesuatu sebagai teman berdiskusi."


Ardian terdiam, otaknya langsung bekerja mencari alasan agar istrinya tidak curiga. "Aku nggak tau, Sayang. Dodit meminta aku yang datang ke tempatnya. Mungkin ... karena terlalu banyak berkas yang harus dibawanya jika dia yang datang kemari." Ardian menatap istrinya, menunggu respon wanita itu mendengar alasan yang diutarakannya.


"Hmm ... terserah kamu saja kalau begitu, Mas." Chayra merebahkan tubuhnya.


"Chay ... jangan tidur dulu, Sayang." Ardian menarik tubuh istrinya agar menghadapnya.


"Ada apa, Mas?"

__ADS_1


"Apa kamu lupa dengan apa yang kamu ucapkan tadi?"


"Hah..? aku bilang apa, Mas?"


"Pas kita pulang tadi, Sayang. Aku langsung menghentikan motorku ketika kamu mengucapkan hal itu." Ardian menaik turunkan alisnya menggoda sang istri.


"Ehehehe ..." Chayra menggaruk-garuk kepalanya.


"Kalau kamu mau hamil lagi, kita harus rajin-rajin, Sayang."


Chayra tersenyum meringis. Kakinya bergerak-gerak karena gerogi. "R.. rajin ngapain, Mas?"


"Rajin-rajin berdo'a dan berusaha, Sayang. Do'a tanpa usaha sia-sia. Usaha tanpa do'a itu sombong namanya." Ardian menahan senyum melihat ekspresi istrinya. "Katanya mau hamil lagi. Kok, tidurnya pakai piyama seperti ini?" Ardian menyentuh baju tidur istrinya yang berlengan panjang.


"Tadinya ... aku kira kamu tidak akan langsung ikhtiar malam ini, Mas."


"Loh, kebaikan itu tidak boleh ditunda, Sayang."


"Mm... aku harus ganti baju dulu ya, kalau begitu?"


"Nggak usah ... mau pakai kayak gini atau yang tidak berlengan, sama saja aku pasti akan membukanya."


Chayra hanya bisa menelan ludahnya. Pasrah dengan apapun yang akan diperbuat suaminya malam ini.


*********


"Kak Ayra ... Kak Ardian ... bangun..!" Bian menggedor pintu kamar kakaknya dengan keras. "Mentang-mentang telurnya dibawa Ibu, kalian malah enak-enakan tidur sampai siang."


Adzra yang sedang digendong Bian ikut-ikutan menggedor-gedor pintu seperti yang dilakukan Bian. "Pukul pintunya lebih keras lagi, Dek. Panggil papa sama mamanya." Adzra malah tertawa mendengar perintah dari pamannya.


Bian sudah mengangkat tangannya untuk menggedor pintu lagi. Tetapi, penghuni jantan membuka pintu dari dalam. "Astagfirullahal'adzim ..." Bian menggeleng-geleng pelan melihat Ardian keluar dengan memakai celana kolor. Belum lagi wajahnya kusut. "Abang beneran masih tidur?"


"Iya, kenapa emangnya. Beeisik deh lu, Bi." Ardian menggaruk-garuk kepalanya. Kesadarannya belum pulih total, tetapi ia terpaksa bangun karena gedoran di pintu cukup mengganggu.


"Aku datang pagi-pagi mau mengembalikan telur Kakak. Aku ada kegiatan organisasi di Sekolah. Ibu mau ke toko. Tadinya Ibu mau bawa ni bocah. Tapi, mengingat ni bocah nggak bisa diam, aku akhirnya membawanya kembali ke induknya. Kak Ayra mana?" Bian celingukan menongolkan kepalanya agar bisa melihat ke dalam kamar.


"Apaan sih lu, Bi ..." Ardian mendorong kepala Bian. "Kamu jangan coba-coba berniat melihat ke dalam kamar. Kakak kamu sedang tidak pakai baju, nanti kamu terkejut melihatnya."


"Astagfirullahal'adzim ..." Bian langsung berjalan mundur. "Abang ini kenapa polos banget sih?! Bicara sama remaja seperti aku ini seharusnya pakai saringan. Kalau ceplos-ceplos kayak gini, nantinya saringan di kepalaku tidak berfungsi dengan baik."


"Salah sendiri lu datang ke kamar orang yang sudah menikah."


"Huh," Bian melengos. "Nih, telurnya aku kembalikan." Bian menyerahkan Adzra pada Ardian. "Gara-gara Abang keluar kayak gini, tadinya aku mau minta uang jajan, tapi nggak jadi." Bian bergegas meninggalkan depan kamar kakaknya. "Bian pamit, Bang. Assalamu'alaikum ..."


"Wa'alikumsalam ..." Ardian tertawa puas melihat Bian kocar-kacir.

__ADS_1


********


__ADS_2