
"Alhamdulillah, Operasinya berjalan lancar." Chayra keluar dari ruang Operasi bersama Dokter yang melakukan tindakan operasi terhadap suaminya.
Semua yang berdiri langsung menarik nafas lega setelah mendengar ucapan Chayra. Dokter yang mengoperasi Ardian hanya tersenyum ramah.
"Alhamdulillah..." Sucipto, Renata dan Santi berucap serentak.
"Pasien akan segera dipindahkan ke ruang rawat inap. Keadaannya masih belum siuman karena pengaruh obat bius. Kalian bisa menemuinya kalau pasien sudah dipindahkan nanti. Saya permisi dulu, Pak, Bu." Dokter itu pamit. Membiarkan Keluarga itu berunding.
Renata langsung menghambur memeluk suaminya. Sedangkan Chayra, ia memeluk ibu dan adiknya.
"Sudah waktunya Mami menjelaskan tentang penyakit yang diderita Ardian." Sucipto mengelus-elus lembut kepala istrinya. Namun, ucapannya itu membuat Renata seperti dicakar-cakar kepalanya.
"Eh, nanti dulu lah, Papi. Sedang enak-enaknya meluk, ucapan Papi membuat Mami terkejut."
"Ardian sudah selesai operasi, Mi. Bisa-bisanya Mami menyembunyikan masalah besar ini."
"Sebenarnya Kak Ardian tidak sakit, Pi. Tapi..."
Santi menarik tangan putrinya. Menggelengkan kepalanya pelan sebagai isyarat agar putrinya itu tidak ikut campur.
"Lanjutkan saja, Nak. Kalau menunggu Mami kamu bicara, nanti Papi keburu sakit hati. Mami kamu terlalu berbelit-belit dan suka banyak alasan." Sucipto mempersilahkan Chayra agar melanjutkan penjelasannya.
"Iya, Nak. Kamu saja yang cerita. Mami bingung menjelaskannya."
"Maafkan Ayra, Pi. Ayra yang meminta Kak Ardian melakukan ini."
"Maksud kamu?"
"Ayra yang meminta Kak Ardian menghapus t*** di punggungnya."
"T***? Apa putraku membuat itu di punggungnya?"
Chayra menatap Renata untuk meminta persetujuan wanita itu untuk melanjutkan ceritanya.
Renata tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.
Chayra kembali menatap Sucipto. "Apa Papi tidak tau tentang benda di punggung Kak Ardian itu?"
Sucipto menggeleng, mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. "Aku tidak tahu menahu hal seperti itu. Selama ini aku terlalu sibuk sampai tidak tau keseharian putraku. Aku tidak bisa menyalahkannya atas semua ini." Kembali menatap Chayra. "Kenapa kamu menyuruhnya menghilangkan itu? Benda itu kan sudah terlanjur dia buat."
"Maafkan aku, Pi. Aku tidak suka melihat benda itu. Lagian, benda itu akan menjadi penghalang dia saat melakukan ibadah nanti."
"Maafkan Papi yang terlalu awam dengan masalah agama. Terimakasih, Nak telah membimbing Ardian sampai dia mau berubah seperti sekarang ini."
"Sudah kewajiban kita untuk saling mengingatkan."
Sucipto tersenyum hambar. Memeluk menantunya dengan menahan haru. "Maafkan Papi, Nak."
Mereka semua menoleh saat Ardian didorong perawat menggunakan brankar untuk pindah ruangan. Mereka semua mengikuti dari belakang.
__ADS_1
Dua jam berlalu...
Chayra sendirian di dalam ruangan menunggu suaminya siuman. Dia duduk di samping ranjang Ardian sambil membaca ayat suci Al-Quran.
"Chay... Chay..." Suara Ardian tersendat-sendat menyebut namanya. Perlahan-lahan, matanya terbuka. Mengerjap-ngerjap mencari keberadaan Chayra.
Chayra menautkan alisnya sambil menahan senyum. "Alhamdulillah, Kakak sudah sadar?"
"Punggungku ngilu..."
"Tunggu sebentar ya.. aku panggilkan Dokter."
Setelah diperiksa dan Dokter mengatakan tidak apa-apa, Ardian bisa bernafas lega.
*********
Dua minggu sudah Ardian melakukan operasi. Dia sudah sembuh total sekarang. Namun, bekas di punggungnya tidak bisa hilang. Itu akan menjadi bekas luka permanen seumur hidupnya.
Pagi itu, Ardian bersiap untuk berangkat kuliah. Melihat baju ganti yang disediakan istrinya, ia berdecak. Namun, dia beristighfar setelah sadar kalau dia tidak memberitahu Chayra kalau hari ini dia akan masuk kuliah.
"Kemana dia.." Ardian keluar kamar dengan melilitkan handuk di pinggangnya. Sedangkan handuk kecil yang biasa ia pakai untuk mengeringkan rambutnya, dia sampirkan di leher.
"Chay... where are you, Honey.." Ardian mengeraskan suaranya. Matanya menelisik setiap ruangan. Berharap menemukan istrinya disana.
"Kamu cari siapa?"
Ardian mendengus saat melihat maminya yang datang. "Chay mana, Mi?"
"Iya.. istri akulah. Siapa lagi kalau bukan dia?"
Renata tersenyum mendengar nama panggilan. sang anak untuk menantunya. "Sudah berangkat ke Kampus sekitar satu jam yang lalu. Dia ada praktek katanya tadi. Memangnya ada apa kamu mencari-cari dia?"
"Ardian juga mau masuk kuliah, Mi. Tapi, Chay malah menyiapkan baju rumahan untuk aku."
"Memangnya kamu sudah sehat betul?" Renata menapakkan raut wajah khawatir.
"Iya, Mi. Kalau nggak sehat mana bisa aku seperti ini."
"Coba Mami lihat."
Ardian berbalik dan memperlihatkan luka bekas operasi di punggungnya. "Sudah sembuh kan, Mi?"
"Iya kayaknya."
Ardian kembali berbalik. "Chay pergi bawa mobil sendiri?"
"Iya.. Papi menyuruhnya untuk diantar jemput. Tapi, istri kamu nggak mau. Terlalu merepotkan katanya."
"Dia memang seperti itu orangnya. Tidak suka menyusahkan orang lain. Berbeda dengan putramu ini."
__ADS_1
Renata menyebikkan bibirnya. "Sudah sana masuk. Rajin belajar biar cepat selesai. Papi kamu sudah tua, butuh istirahat. Sudah waktunya kamu mengganti posisinya."
"Ardian sedang mempersiapkan diri, Mi." Beranjak kembali masuk ke dalam kamarnya. Terpaksa dia mencari baju ganti sendiri.
Sampai di Kampus, Ardian langsung mencari tau keberadaan isterinya. Maminya bilang, istrinya ada praktek di lapangan. Ardian merogoh handphonenya untuk menghubungi Chayra sambil mengedarkan pandangannya.
Tatapannya terhenti pada empat orang yang sedang duduk di bawah pohon Ketapang yang sedang menggugurkan bunganya. Apa yang dilakukan orang itu. Mengapa dia bisa duduk bersama istrinya. Walaupun panas matahari sudah sedikit terik, akan tetapi jam segini masih dikatakan pagi.
Ardian menarik nafas dalam-dalam. Dia harus bisa menguasai diri agar emosinya tidak meledak.
Perlahan-lahan, dia mendekat dari arah yang tidak bisa dilihat oleh empat orang itu. Mengambil posisi duduk di bangku yang bersebrangan dengan bangku yang di duduki empat orang tadi.
"Sudahlah, Ustadz. Anda terlalu memaksakan kehendak. Ayra sudah bersuami dan dia sedang belajar untuk mencintai suaminya. Berhenti terus-terusan mengikutinya seperti ini." Suara Alesha yang meledak-ledak membuat Ardian bisa mendengar dengan jelas.
"Sampai kapanpun kamu belajar, kamu tidak akan pernah bisa mencintai laki-laki itu, Zahra. Aku tau kamu masih mencintaiku. Sama seperti aku yang masih mengharapkan kamu untuk kembali."
"Siapa yang bilang begitu, Kak? Sekarang saja aku nyaman bersamanya. Jangan menghakimi perasaan seseorang. Kak Ghibran sama seperti aku. Kita hanya manusia biasa." Chayra menunduk. Tidak sedikitpun ia mau menatap Ghibran.
"Apa yang istimewa dari pria itu, Zahra? Dia itu hanya pria yang memenuhi K*** setiap malam."
"Jaga omongan Kak Ghibran. Aku yang paling tau kegiatan suamiku. Dulu memang dia seperti itu. Tapi sekarang, dia hanya mengisi malamnya dengan tahajjud bersamaku."
Ghibran tersenyum sinis. "Sampai kapan kamu akan berbohong dan menyembunyikan kebusukan suamimu itu, Zahra. Kamu tau, dari ujung kepala sampai ujung kakimu tidak pantas di sentuh suamimu yang pe***** dan p******* wanita itu."
"Tutup mulutmu, Kak! Aku tidak memintamu untuk membuka aib hamba Allah di depan hamba yang lain. Seburuk apapun Kak Ardian Di mata Kak Ghibran. Dia tetap suamiku. Jadi, berhenti mengatakan hal yang tidak-tidak tentangnya."
"Aku tidak akan berhenti sampai aku benar-benar mendapatkan kamu kembali."
"Apa kamu baik-baik saja, Chay..? Maaf membuatmu harus menanggung malu karena perbuatan yang pernah aku lakukan di masa lalu." Ardian langsung melompati bangku yang didudukinya, mendekat setelah tidak bisa lagi menahan diri.
Semua tersentak melihat Ardian yang sudah berdiri di hadapan mereka.
"Kak Ardian.." Chayra tersenyum melihat kedatangan suaminya. Sontak, ia langsung bangkit dan menghambur memeluk suaminya.
Ghibran mendelik kesal seraya mengalihkan pandangannya.
"Kenapa nggak bilang kalau Kakak mau masuk kuliah." Chayra masih memeluk erat tubuh pria itu. Sebenarnya, dia melakukan itu hanya untuk membuat Ghibran sadar akan posisinya sekarang.
Ardian mencium pucuk kepala istrinya. "Maaf, aku lupa. Apa masalah orang itu, kenapa dia mengganggumu?"
"Nggak tau.." Jawab Chayra, masih memeluk erat pinggang Ardian.
"Mohon untuk kalian bisa menjaga sikap, ini di area Kampus. Ini bukan sedang di rumah kalian."
Ardian melepaskan tangan Chayra dari pinggangnya. Berjalan lebih mendekat pada Ghibran.
"Seharusnya saya yang mengatakan itu pada Anda, Pak Ghibran Abdullah yang terhormat. Anda mengganggu istri saya di area Kampus. Anda bahkan berkata hal-hal yang tidak wajar untuk menghasutnya. Maaf, seharusnya anda yang menjaga sikap."
Ardian berbalik, meraih tangan istrinya dan mengajaknya meninggalkan tempat itu. Sengaja merangkul pundak gadis itu, agar Ghibran bisa melihatnya. Alesha dan Tina tersenyum sambil mengucapkan 'permisi' sebelum ikut berlalu mengikuti langkah Chayra dan Ardian.
__ADS_1
**********