Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Berita yang menyisakan luka


__ADS_3

Sejak kejadian Dodit memergoki Ardian waktu Chayra memberikan bekal batin, Pria itu tidak berani langsung masuk ke dalam ruangan Ardian lagi. Dia selalu mengetuk pintu sebelum masuk. Akan tetapi, selama itu juga Chayra tidak pernah muncul lagi di Kantor suaminya. Rasa malunya karena ketahuan waktu itu masih membekas sampai saat ini.


Pagi itu, suasana di rumah berjalan seperti biasa. Chayra yang sibuk dengan keperluan suaminya dan menyiapkan sarapan. Walaupun memiliki seorang pembantu, tetapi dia tidak mau terlalu tergantung.


Ketukan di pintu depan membuat Chayra menatap Bi Idah yang sedang mencuci piring di wastafel. "Bi, siapa yang bertamu sepagi ini?"


"Bibi juga nggak tau, Non."


"Boleh minta tolong, Bibi lihat ke depan."


"Baik, Non." Bi Idah segera membersihkan tangannya untuk melihat tamu tuannya.


"Siapa, Bi?" Chayra kembali bertanya karena Bi Idah tak kunjung kembali ke Dapur.


"Anu, Non, tamunya Tuan Ardian. Itu loh, Non.. katanya dia itu Asistennya Tuan."


Chayra menautkan alisnya. "Orangnya laki atau perempuan, Bi?"


"Laki, Non. Orangnya cakep, kulitnya sawo matang, matanya lebar, terus.. hidungnya pesek tapi orangnya tetap kelihatan cakep. Walaupun tidak terlalu putih, tapi tetap cakep juga, Neng."


"Ya Allah, Bi.. menilai orang sampai segitu amat. Udah, Bibi buatkan kopi untuknya. Aku mau memanggil Mas Ardian dulu. Kalau untuk Mas Ardian Bibi buatkan susu full cream saja." Chayra menggeleng-geleng seraya berlalu. Ternyata Bi Idah lama di ruang tamu tadi karena memperhatikan tamu terlebih dahulu. Chayra bergegas untuk menemui suaminya. Dodit tidak mungkin datang sepagi ini kalau tidak ada urusan mendadak.


Chayra turun kembali bersama suaminya setelah cukup lama berdiam di dalam kamar karena Ardian yang belum selesai bersiap..


"Lama sekali baru turun." Dodit langsung protes begitu Ardian duduk di depannya.


"Aku sedang bersiap tadi. Ada apa kamu datang sepagi ini?"


"Mm... Papi kamu, Ar. Dia berada di Rumah Sakit sekarang."


"Astagfirullah, terus bagaimana keadaan Papi sekarang?" Ardian yang terkejut spontan menanyakan keadaan papinya.


"Aku juga kurang tau, Ar. Aku hanya di minta untuk mengabari kamu. Kata Bu Renata kamu sedang bersitegang dengan Pak Sucipto. Itu yang membuat Bu Renata sungkan kalau harus menghubungi kamu."


"Aku tidak pernah merasa bersitegang. Yang kemarin itu hanya peringatan saja agar Papi tidak terus-terusan mengambil gaji aku."


Dodit terkesiap mendengar cerita Ardian. "M.. maksud kamu Pak Sucipto mengambil gaji kamu, bagaimana?"

__ADS_1


"Aku juga nggak tau, Dit. Intinya aku tidak mendapatkan gaji sesuai dengan posisiku. Bahkan gajiku bulan kemarin hanya empat puluh persen yang aku terima. Aku bertanya pada Pak Randi berapa gaji yang dia peroleh selama menjadi GM. Saat aku menanyakan itu kepada Papi. Hal itu malah membuat Papi menyuruhku untuk mengganti uangnya."


Dodit hanya menyimak. Mau berkomentar, tetapi tidak tau mau bilang apa.


Ardian menghela nafas berat. "Sudahlah, Dit. Hal ini tidak usah dibahas lagi. Kita akan ke Rumah Sakit, tapi kita sarapan dulu. Aku tidak biasa berpergian sebelum sarapan."


"Kamu sarapan saja dulu. Aku akan menunggu di sini."


"Kamu juga ikut sarapan."


"Mmm...." Dodit terlihat ragu untuk mengiyakan permintaan Ardian.


"Ayo.. jangan terlalu banyak mikir." Ardian menarik tangan Dodit agar ikut bersamanya ke ruang makan.


Usai sarapan, Ardian pamit pada istrinya.


"M.. Mas.. aku mau ikut menengok Papi." Chayra mendongak menatap mata suaminya usai mencium tangannya.


Ardian tertegun beberapa saat. Ternyata istrinya mendengar percakapannya dengan Dodit tadi. "Nanti malam kita pergi bersama. Kalau sekarang aku akan pergi bersama Dodit untuk melihat keadaannya saja."


"Kalau begitu hubungi aku kalau kamu sudah sampai di Rumah Sakit."


Dodit hanya bisa menelan ludahnya melihat interaksi suami istri itu. Ardian dan Chayra memang terlihat berlebihan saat berinteraksi, tetapi itu bukanlah drama karena begitu memang cara mereka berinteraksi.


*********


Ardian berdiri terdiam di samping Papinya. Tubuh Pak Sucipto sudah dipenuhi alat yang Ardian sendiri tidak tau nama alat itu satu persatu. Ingin marah karena tidak diberitahu sejak awal, tapi marah pada siapa? Maminya tidak enak menghubunginya gara-gara pertikaiannya dengan sang Papi.


"Apa.. apa yang membuat Papi sampai seperti ini, Mi?" Tanyanya pada sang Mami tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun dari tubuh papinya.


"Mami juga tidak tau, Nak. Terakhir, Mami hanya mendengarnya marah di telepon. Mami tidak tau dia teleponan dengan siapa." Bu Renata bercerita dengan air mata berlinang. "S.. saat Mami ke Balkon, Papi kamu sudah tergeletak di lantai. Dokter bilang, pembuluh darahnya pecah. Dan sekarang.. Papi kamu koma, Nak." Bu Renata sesenggukan tidak kuasa menahan tangisnya.


"Kita berdo'a saja semoga Allah meringankan penyakit Papi." Ardian menarik tubuh Bu Renata sampai bersandar di dadanya. "Aku hanya berharap semoga Papi baik-baik saja, Mami..." Ardian ikut menangis. Ia menenggelamkan wajahnya di atas kepala sang Mami.


Ardian mengusap air matanya setelah puas menangis. Tidak menyangka perasaannya sehancur ini saat melihat Pak Sucipto tak berdaya di ruang ICU. Perbuatannya yang kurang sopan pada Papinya sebelum ini, terputar rapi di memory otaknya. Ia beberapa kali membuang nafas kasar seraya mengusap wajahnya dengan kasar. Papinya pernah seperti ini sebelumnya, tetapi dia tidak merasakan hancur seperti saat ini. Mungkin karena dulu Pak Sucipto sedang membuangnya ketika kejadian itu.


"Ar, apa kita bisa ke Kantor sekarang? Ada rapat siang ini."

__ADS_1


"Aku tidak akan kemana-mana, Dit. Aku tidak akan beranjak dari tempat ini sampai Papi aku sadar."


"Tapi Ar, rapat ini benar-benar penting. Kita juga tidak bisa membatalkannya."


"Aku nggak perduli, Dit!" Ardian bangkit menatap Dodit dengan kesal. "Kalau saat ini kamu memaksaku, aku tidak mau. Terserah mau mereka membatalkan kerjasama atau apapun itu. Aku tidak mau meninggalkan Papi untuk saat ini." Ardian menarik nafas panjang seraya beristighfar. "Aku mohon, kamu mengerti, Dit. Aku tidak mungkin meninggalkan Papi aku dengan kondisinya yang seperti ini. Aku tidak bisa, Dit. Aku mohon kamu handel semuanya untuk hari ini."


Dodit terdiam menatap Ardian. Mau mengiyakan, tetapi rapat siang ini tidak bisa diwakilkan.


"Kalau kamu tidak bisa mengambil alih rapat ini, kamu undur jadwalnya sampai aku bisa. Kamu bisa mengurusnya sekarang mumpung masih pagi."


Dodit hanya bisa mengangguk-angguk bingung. "I.. iya.. a.. aku ke Kantor sekarang." Dodit berlalu dengan langkah ragu. Masih bingung apa yang akan dia lakukan sekarang. Apakah dia benar-benar bisa menghandle pekerjaan bosnya sekarang.


"Dit, tunggu..!"


Dodit berbalik saat mendengar namanya disebut. "Ada apa, Ar?"


"A... apa aku boleh minta tolong?"


"M.. minta tolong untuk apa, Ar?"


"Minta tolong jemput istriku saat kamu pulang dari Kantor nanti. Aku.. tidak bisa membiarkannya kemari sendirian."


"Baik.. aku akan menjemputnya nanti. Kamu tidak usah khawatir."


Ardian tersenyum lemah. "Terimakasih, Dit." Dodit melanjutkan langkahnya setelah mengangguk dan melihat Ardian kembali duduk.


Sepanjang perjalanan ke Kantor, Dodit terus memikirkan solusi untuk rapat siang ini. Untuk meminta bantuan pada sekretaris Direksi dia merasa enggan. Melihatnya saja dia malas karena sekretaris baru itu terlalu judes. Tapi... kembali ia berperang dengan pikirannya sendiri. Ini adalah satu-satunya cara agar rapat siang ini tidak dibatalkan. Jika Sekertaris Direksi tidak menolak untuk mewakili Ardian, dia tinggal mengirim hasil rapat pada Ardian nantinya.


Dodit memantapkan hatinya untuk meminta bantuan. Manusia memang saling membutuhkan. Kenapa harus malu minta tolong.


Sementara itu, perasaan Chayra mulai tidak tenang karena suaminya tidak kunjung memberi kabar. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Ardian berangkat pukul tujuh tiga puluh. Seharusnya suaminya sudah menghubunginya untuk memberitahukan keadaan mertuanya. Sudah tiga kali dia mencoba menghubungi suaminya. Tetapi ia tak kunjung mendapatkan jawaban.


"Bagaimana, Non.. apa Tuan sudah bisa dihubungi?" Bi Idah ikut cemas melihat raut wajah Chayra.


"Mas Ardian bisa dihubungi, Bi. Tapi dianya yang tidak menjawab panggilan. Aku hanya khawatir kalau terjadi apa-apa sama Papi. Papi ada riwayat sakit jantung, Bi, itu yang membuat aku sangat khawatir."


"Kita doakan yang terbaik saja, Non. Semoga Bapak baik-baik saja."

__ADS_1


Chayra hanya bisa mengangguk pasrah. Ingin rasanya pergi langsung ke Rumah Sakit untuk mengetahui keadaan mertuanya. Tetapi, dia tidak mau membuat masalah dengan melanggar perintah suaminya.


__ADS_2