
Setelah mengakhiri panggilan dengan calon menantunya, Bu Santi senyum-senyum menatap putrinya. Ia kembali menatap handphone Chayra yang masih di tangannya.
"Ibu kok jadi penasaran, Nak. Bagaimana rupanya calon menantu yang tidak pernah kenalan sama mertuanya ini."
"Ibu..." Chayra menghambur memeluk ibunya. "Ayra malu.. sama Ibu..."
"Lho, kok malu, Nak?" Bu Santi mengusap-usap kepala putrinya. Ia memejamkan mata, menghirup dalam-dalam oksigen di ruangan itu.
"Ibu kenapa?" Chayra mendongak menatap heran ibunya.
"Apa yang membuatmu menyetujui ajakan ta'aruf Ghibran, Nak? Selama ini kamu kan tidak pernah mau mengenal dekat laki-laki. Ibu masih tidak percaya dengan keputusan kamu, Nak."
Chayra menarik nafas dalam. Melepaskan pelukannya perlahan. "Ayra... Ayra melakukan istikharah beberapa kali, Bu, sebelum mengiyakan ajakan ta'aruf Kak Ghibran. Ayra juga mencari tau tentang Kak Ghibran dari teman-teman Ayra di Pesantren. Abah juga selalu mendukung Ayra."
"Kamu baru berapa bulan mengenal dia, Nak? Ibu kok masih ragu dengan keputusan kamu."
"Insya Allah, keputusan yang Ayra ambil benar, Bu. Ayra juga sudah lama kenal dengan Kak Ghibran. Bisa dibilang selama Ayra di Pesantren, Bu. Kak Ghibran itu guru pembimbing Ayra sebelum shalat Subuh. Jadi, Ayra mengenalnya sejak pertama kali Ayra mengikuti kelasnya."
"Ibu hanya belum siap berpisah lagi dengan kamu, Nak." Bu Santi kembali memeluk putrinya. "Lalu bagaimana juga dengan kuliah kamu?"
"Ayra akan tetap kuliah walaupun sudah menikah nanti, Bu."
"Apa kamu sudah yakin, Nak?"
"Insya Allah, Bu. Semoga Allah meridhoi keputusan Ayra ini."
"Aamiin, Nak. Ibu hanya bisa mendukung saja. Besok Om kamu akan datang kemari bersama Kakek dan Nenek kamu." Bu Santi menghela nafas berat. "Untung saja Ibu sudah merenovasi rumah ini. Jadi, kita tidak akan kekurangan kamar sekarang."
"Alhamdulillah, Bu." Chayra tersenyum hangat pada ibunya. "Oh iya, Bu. Teman-teman Ayra akan kemari sekarang."
"Oh iya, Nak? Dua minggu sekali mereka juga selalu kemari."
"Maksud Ibu?"
"Ibu mengamalkan ilmu yang Ibu punya pada ketiga teman kamu, Nak. Setiap malam Jumat dan malam Minggu, mereka selalu datang kemari."
Baru saja mengakhiri kalimatnya, tiga gadis yang sedang dibicarakan tiba-tiba menghambur masuk ke dalam kamar.
"Ayra Sayang...!" Ketiganya langsung berebut memeluk Chayra.
Chayra memeluk tiga sahabatnya erat. "Masya Allah, akhirnya aku bisa bertemu kalian lagi." Air mata tiba-tiba mengalir tanpa diminta.
"Gue nggak sedang mimpi kan, Ayra?" Amira menepuk-nepuk pipinya.
"Gue sempet nggak mau bangun tadi pas si Alesha ngebangunin gue." Tina tersenyum sumringah.
Chayra meraba pipi sahabatnya satu persatu. "Kalian apa kabar? Maaf tidak mengabari kalian kalau aku pulang. Soalnya, aku pulangnya juga mendadak."
"Lho berhutang penjelasan sama gue." Alesha langsung menunjuk Chayra.
"Penjelasan apa maksud lho?" Chayra pura-pura bingung.
"Eh, Mira,Tina, kalian harus tau kalau si Ayra sekarang punya pacar."
__ADS_1
"What..?!" Kompak Amira dan Tina.
"Lho punya pacar, Ayra? Lho yakin berani sama laki-laki?" Amira masih tidak percaya.
"Bukan pacar lagi, akan tetapi C-A-L-O-N S-U-A-M-I." Bu Ainun berdiri di depan pintu. Memotong percakapan empat gadis di kamar itu.
Mereka semua menoleh serentak ke arah pintu. Bu Ainun tersenyum mendekat ke arah mereka dengan nampan di tangannya.
"Maksud Tante?" Tina yang tidak bisa penasaran langsung menyahut.
Bu Ainun kembali tersenyum. "Ayra pulang karena Minggu depan dia akan dilamar."
Alesha, Amira dan Tina menganga lebar. Memutar kepalanya dan menatap Chayra seolah-olah minta penjelasan.
"Jelaskan pada kami sekarang, Ayra." Alesha langsung menarik tangan Chayra.
Chayra tersenyum meringis. "Hihihi.. aku kan sudah bilang tadi, kalau aku pulang mendadak."
"Lho kan dulu takut sama cowok, Ayra. Kok, dua tahun hidup di Pesantren tiba-tiba lho udah mau nikah aja."
"Takdir.." Chayra mengangkat dia jarinya
Alesha, Amira dan Tina menyebikkan bibirnya mendengar jawaban Chayra.
"Iya sih, takdir. Tapi, semua kan pasti ada prosesnya. Tidak mungkin kan, tu cowok langsung ngajak lho nikah tanpa adanya proses terlebih dahulu."
"Panjang ceritanya." Chayra tersenyum salah tingkah. "Kita bahas yang lain aja lah."
Amira dan Tina saling pandang. "Cie... yang mau nikah." Serentak keduanya.
"Apaan sih?" Chayra mengusap-usap pipinya yang sudah merona merah.
Bu Ainun tersenyum melihat interaksi empat gadis di depannya. "Kalian benar-benar kompak. Tumben Ummi melihat persahabatan seperti kalian."
"Oh jelas dong, Ummi. Persahabatan kami tidak ada tandingannya. Memang persahabatan harus seperti ini kan? Saling menguatkan disaat ada yang terpuruk atau sebaliknya." Timpal Alesha.
"Kenapa kalian tidak ikut ke Pesantren aja biar kalian berkumpul?"
"Pinginnya sih begitu, Ummi. Tapi, kami kan berasal dari keluarga yang memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Apalagi si Mira nih. Bakalan langsung dapat penolakan deh saat akan menyampaikan keinginannya pada Mom and Dad-nya." Tina melirik ke arah Amira.
"Nggak begitu juga kali." Amira melirik Tina kesal. "Mami and Papi gue emang jarang shalat. Tapi bukan berarti mereka juga akan melarang gue untuk memperdalam ilmu agama. Mereka malah selalu tersenyum bahagia melihat gue kalau habis mendirikan shalat."
"Terus, kenapa mereka tidak shalat?"
"Belum dapat hidayah mereka. Gue sih selalu mengajak mereka. Tapi ya seperti yang gue bilang tadi. Allah belum membuka pintu hidayah untuk mereka."
"Semoga Allah segera membukakan pintu hidayah."
"Aamiin.." Serentak mengamini ucapan Chayra.
Percakapan mereka terus berlanjut sampai pukul sembilan pagi. Mereka mendirikan shalat Dhuha dan lanjut dengan sarapan pagi.
* * *
__ADS_1
"Kita ke Mall sore ini. Kita jalan-jalan puas sebelum lho resmi dilamar oleh kekasih lho yang suangaaat.. tampan icu." Tina masih bersikeras mengajak Chayra yang masih enggan untuk mengiyakan ajakannya.
"Aku mau istirahat. Besok-besok lah setelah aku puas memeluk bantal di kamarku."
"Yang benar saja lho ini, Ayra. Please deh, Sob. Kalau lho tidak akan kembali lagi ke Pesantren, ya fine fine aja walaupun lho bilang besok besok. Tapi, ini kan waktu lho cuma sebentar. Dan lagi kalau lho udah nikah nanti. Kita tidak akan bisa seperti ini lagi. Malah suami lho Ustadz lagi. Pasti semua kegiatan lho dibatasi deh sama dia."
Chayra menarik nafas berat. "Kalau untuk sore ini aku benar-benar nggak bisa. Aku ada kegiatan dengan Ibu dan Ummi. Kalau kalian mau bantu-bantu juga nggak apa-apa."
"Huh, terus kapan dong kita bisa keluar?"
"Insya Allah, besok. Soalnya, kalau lusa dan hari-hari selanjutnya pun, aku juga akan sangat sibuk."
"Gue akan kesana sekarang. Gue ajak Mira dulu."
"Tunggu, tunggu.."
"Apa..?"
"Kamu tidak ajak Alesha juga?"
"Dia sedang di Kampus, ada jam kuliah. Gue ke rumah lho sekarang. Assalamualaikum.."
"Wa'alaikumsalam.."
Setengah jam kemudian, Tina dan Amira sudah duduk manis di ruang tamu rumah Chayra.
"Cepet banget sampainya?" Chayra ikut nimbrung, menghempaskan tubuhnya di atas sofa.
"Memangnya gue dari Jakarta kemari?" Tina menatap sekeliling rumah yang terlihat sepi. "Ibu sama Ummi Ainun kemana?"
"Ke Bandara, jemput Abah sama Kak Zidane."
"What...??" Tina dan Amira tersentak kaget. Merubah posisi duduknya. Yang tadinya bersandar santai menjadi duduk tegak.
"Kalian kenapa sih? Biasa aja kali.."
"Kenapa lho nggak cerita kalau Kak Zidane akan kemari juga?" Amira menatap Chayra sambil menautkan alisnya. Hidungnya kembang kempis.
"Problem for you?"
"Jelas problem, Ayra. Kalau tau Kak Zidane akan kemari, kami akan dandan cantik dulu tadi. Ini kami datang dengan wajah kusut seperti ini."
Tina hanya mengangguk-angguk menyetujui ucapan Amira.
"Niat banget carper sama Kak Zidane. Dia mah lempeng-lempeng aja sama wanita."
"Justru karena Kak Zidane lempeng-lempeng aja. Makanya kami berniat untuk cari perhatian. Siapa tau kecantol."
"Pacar lho yang dulu itu mana? Kalau sudah punya pasangan, ngapain cari yang lain."
Amira menyebikkan bibirnya. "Siapa tau ada yang mau sama gue, laki-laki yang lebih baik. Gue akan melepaskan Kak Ardian kalau ada yang lebih baik yang mau sama gue."
Chayra dan Tina hanya melongo mendengar ucapan Amira.
__ADS_1
* * *