
Hari demi hari terus di lewati Chayra. Tidak ada yang berubah walaupun pernikahan sudah hampir satu bulan. Mereka hanya tidur di satu kamar, tetapi tidak pernah terjadi apa-apa. Mereka layaknya dua orang asing yang tinggal satu atap. Jangankan untuk tidur bersama, bertegur sapa walaupun tinggal dalam satu kamar pun jarang sekali terjadi.
Pagi itu, seperti biasa keluarga Sucipto sarapan bersama sebelum berangkat kerja. Sesaat hening terjadi sebelum Sucipto membuka percakapan.
"Ardian, hari ini kamu ikut Papi ke Kantor." Menatap putranya menunggu jawaban.
Ardian berhenti mengunyah makanannya saat mendengar ucapan papinya. "What for?"
"Mulai sekarang kamu harus ikut andil di perusahaan. Kamu tidak mungkin terus-terusan meminta uang pada Papi. Kamu sudah punya keluarga sekarang. Istri kamu pasti butuh sesuatu yang ingin dia beli."
Ardian hanya diam sambil terus mengunyah makanannya.
"Setelah selesai sarapan, kamu langsung bersiap-siap. Papi tunggu kamu disini."
"Biar Ayra siapkan pakaiannya sekarang." Chayra bangkit untuk menyiapkan pakaian suaminya.
"Habiskan sarapan kamu dulu, Nak." Renata menghentikan Chayra yang sudah balik badan.
"Tidak apa-apa, Mi. Ini sudah menjadi kewajiban Ayra. Sarapan akan Ayra lanjutkan nanti." Chayra tersenyum, berbalik melanjutkan langkahnya.
"Apa belum pernah terjadi apa-apa pada kalian selama menikah?"
Ucapan Sucipto membuat Ardian kembali berhenti mengunyah sarapannya. "Maksud Papi apa?"
"Papi lihat istrimu sangat taat pada agamanya. Apakah dia belum memberikan hakmu sebagai suami?"
Ardian menarik nafas dalam. "Dia selalu seperti ninja, Pi. Tidur aja seperti itu. Bagaimana Ardian akan berani mengganggunya kalau dia selalu menutup diri seperti itu."
"Itulah kenapa agama meminta wanita untuk menutup auratnya. Jika wanita menutup auratnya, maka keindahan yang ada pada dirinya akan selalu terjaga."
Ardian hanya mendengarkan tanpa berniat untuk menjawab ucapan papinya.
"Dulu waktu dia belum halal untukmu kamu berani menelanjanginya. Lalu sekarang kenapa kamu malah tidak berani menyentuhnya saat dia sudah menjadi milikmu."
Ardian mengangkat wajahnya, tertegun mendengar ucapan papinya. Nasi yang sudah dia kunyah hampir tidak bisa ditelannya.
"Papi ngomong apa sih?" Renata menepis lengan suaminya yang ngomong tanpa saringan.
"Aku hanya menghargainya, Pi." Ucap Ardian kemudian, kembali menundukkan kepalanya.
"Penghargaan macam apa itu? Tidak menyentuh istri bukan menghargai namanya, Nak. Hal itu justru akan menyakiti istrimu karena dia akan merasa tidak diinginkan."
Ardian diam beberapa saat. "Tapi.. Ardian malu, Pi. Dia terlalu baik untuk Ardian."
"Kalau kamu merasa seperti itu, kenapa kamu tidak mencoba untuk memperbaiki diri? Waktu kamu masih banyak untuk berubah. Jangan sampai kamu menyesal kemudian setelah dia tidak ada di sampingmu lagi."
"Aku tidak mencintainya, Pi."
__ADS_1
"Kamu harus belajar untuk mencintainya. Bagaimanapun juga, dia adalah istri kamu sekarang."
"Wanita seperti itu bukan selera Ardian, Pi."
"Lalu kenapa kamu menodainya kalau kamu tidak menginginkannya."
"Aku membencinya, Pi. Waktu itu aku melakukan itu karena aku muak dengan sikapnya. Dia selalu ikut campur dalam urusanku dengan Amira."
Sucipto diam karena melihat Chayra menuruni anak tangga.
"Aku hanya ingin melampiaskan rasa kesalku padanya. Tapi, masalah itu malah menjadi serumit ini."
"Hentikan, Ardian!" ucap Sucipto dengan suara pelan. Chayra sudah berdiri di belakang Ardian tanpa disadari pria itu.
"Kalian memaksakan pernikahan ini padaku walaupun aku tidak menginginkannya. Aku muak, Pi. Aku juga butuh kebebasan. Menikah dengannya membuatku seperti terpenjara dalam penjara bawah tanah."
Chayra berjalan pelan setelah mendengar ucapan Ardian. Kembali duduk dengan tenang di kursi yang didudukinya tadi. Tersenyum kecil sambil menatap Ardian yang langsung terdiam setelah menyadari kehadirannya. "Terimakasih, Kak. Tapi yang perlu anda tahu juga. Saya melakukan ini, agar saya bisa menutup aib besar karena perbuatan anda. Saya tidak mau dicap sebagai wanita yang hancur Kehormatannya karena diperkosa. Menjadi janda akan lebih baik sebutannya dari pada wanita yang hilang keperawanannya karena diperkosa."
"Sudah, Nak." Renata mendekati Chayra dan langsung memeluknya erat. "Maafkan suami kamu, Nak. Bimbing dia agar dia bisa menjadi pria yang lebih baik."
"Do'akan aku, semoga aku bisa melakukannya, Mi. Anak Mami ini terlalu keras kepala. Salah saja tidak mau kalah, apalagi kalau benar." Chayra melepaskan pelukan Renata dengan sedikit memaksa. "Aku mau ke kamar, assalamualaikum.." Chayra bergegas meninggalkan meja makan.
Setelah masuk ke dalam kamar, ia langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badannya. Hanya beberapa menit, ia keluar dengan tampang yang lebih segar. Menggelar sajadah di samping ranjang besar yang tidak pernah ia tempati untuk tidur. Karena selama tinggal di rumah itu, Ardian yang selalu menempati ranjang itu. Dia akan memilih tidur di sofa atau menggelar kasur lantai.
Sementara itu, Ardian duduk kembali. Entah kenapa, sekarang dia tidak bisa melampiaskan rasa kesalnya. Dia selalu memendam semuanya. Mungkin dia tidak mau terlihat lemah di hadapan kedua orang tuanya.
"Lho, Papi nggak jadi mengajak Ardian ke Kantor?" Renata mengejar suaminya yang sudah sampai pintu.
"Dia harus dewasa dulu. Papi nggak mau perusahan yang Papi bangun dengan jerih payah dan keringat yang bercucuran, hancur jika dia tidak bisa bersikap dewasa."
"Terserah Papi kalau begitu." Renata akhirnya hanya bisa mendukung apapun itu keputusan suaminya. Meraih tangan suaminya dan menciumnya lembut. Sejak pertengkaran hebat malam itu, Renata berubah drastis dan selalu bersikap lebih sopan pada suaminya. Mengenyampingkan egonya yang tinggi. Dia benar-benar telah berubah saat ini.
Sucipto hanya membalas perlakuan istrinya dengan senyuman. Hanya tangannya yang menepuk-nepuk kepala istrinya. Hatinya terasa adem saat melihat istrinya yang sekarang.
"Hati-hati di jalan, Pi. Semoga Allah memudahkan setiap pekerjaan Papi."
"Aamiin.. aku berangkat, assalamualaikum.."
"Wa'alaikumsalam.." Renata tersenyum melepas kepergian suaminya.
Renata terkejut saat suaminya tiba-tiba berbalik dan menghampirinya. "Ada apa, Pi? Apa ada yang ketinggalan?"
"Tidak ada yang tertinggal. Aku hanya ingin, kamu pastikan kalau Ardian benar-benar minta maaf pada istrinya. Papi tidak mau ambil resiko lebih dari yang disebabkannya sebelum ini. Sudah cukup dia membuat masalah. Papi malu sama Pak Akmal."
"Iya, Pi. Mami akan langsung menyuruhnya minta maaf sekarang."
"Jangan hanya menyuruhnya. Kamu harus pastikan kalau dia melakukannya. Kalau perlu, jangan tinggalkan dia sampai dia mengucapakan maaf itu di hadapan kamu."
__ADS_1
Renata mendengus. Suaminya ini benar-benar membuatnya menjadi pengawal putranya hari ini. "Iya, Papi Sayang. Sudah berangkat sana. Mami pastikan Ardian akan minta maaf pada Ayra."
"Good luck." Sucipto mencium kening istrinya kemudian pergi tanpa berbalik lagi.
Ardian membuka pintunya perlahan. Dia berangan-angan kalau dia akan mendapati Chayra yang sedang menangis tersedu-sedu atas ucapannya tadi. Dia tersenyum sendiri membayangkan hal itu.
Bukannya isak tangis yang Ardian dengar. Dia justru mendengarkan suara merdu bacaan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Ardian akhirnya hanya berdiri di depan pintu menunggu gadis itu selesai ngaji.
Bisa-bisanya dia terlihat sangat tenang dan tidak terusik dengan perkataanku tadi. Setegar apa sebenarnya wanita ini?
Ardian bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Lama dia berdiri sampai dia menghayal dan tidak menyadari kalau Chayra sudah melepas mukenahnya. Wanita itu kembali memakai cadarnya.
"Apa ada yang bisa saya bantu?"
Pertanyaan itu membuat Ardian tersadar dari lamunannya.
"Saya lihat anda berdiri di sana sudah lama sekali. Apa ada yang anda butuhkan, mungkin saya bisa bantu?"
"Nggak ada. Gue cuma mau istirahat, ngantuk." Ardian berjalan pelan mendekati ranjangnya dan langsung menghempaskan tubuhnya dengan kasar. Menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.
Chayra tetap diam ditempat. Duduk di sisi ranjang, walaupun Ardian menjatuhkan tubuhnya tepat dibelakangnya.
Helaan nafas berat terdengar dari mulut gadis itu. "Kenapa anda tidak jadi pergi dengan Papi?"
Ardian terdiam mendengar pertanyaan Chayra. Tumben gadis itu bertanya duluan. Biasanya dia akan diam kalau Ardian tidak bertanya terlebih dahulu. Ardian menyibak selimutnya dan duduk di belakang gadis itu.
"Nggak tau. Papi tiba-tiba sudah pergi saat gue keluar setelah ganti pakaian tadi."
Hening..
Mereka kembali terdiam setelah itu. Ardian sedikit mencondongkan badannya untuk melihat Chayra.
"Apa gue boleh bertanya?" Tanyanya perlahan. Takut kalau Chayra akan menolak.
Chayra melirik Ardian. "Silahkan.." tersenyum kecil.
"Mm... kenapa... lho memakai penutup itu sekarang?" Ardian menunjuk cadar yang dipakai Chayra.
Chayra diam beberapa saat, semakin menundukkan kepalanya. "Apa jawaban saya berarti untuk anda?"
"Gue kan cuma bertanya. Iya.. kalau lho tidak keberatan menjawabnya, silahkan di jawab. Tapi, kalau sekiranya itu bersifat pribadi, gue tidak akan menuntut."
"Saya hanya takut, kalau kehormatanku sebagai wanita yang sudah bersuami dinikmati oleh orang lain. Karena saya ingin diperlakukan seperti manusia, bukan seperti binatang.
Deg!
__ADS_1
*******