Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Pertemuan (Part 2)


__ADS_3

"Kenapa Ustadz memanggil Ayra dengan nama Zahra."


"Nama itu lebih indah di ucapkan dan lebih mudah disebut mulut saya."


Chayra hanya diam tanpa merespon jawaban Ghibran.


"Zahra.."


"Mmm.."


"Kamu duduk atau berdiri?"


"Aku duduk bersandar di pintu, Ustadz."


"Jangan panggil aku Ustadz, Zahra!"


"Tapi, aku tidak nyaman."


"Laki-laki seperti aku tidak pantas dipanggil Ustadz. Seorang Ustadz itu selalu bisa menjaga mata dan hati mereka dari dosa. Sedangkan aku hanyalah leleki hina yang selalu memikirkan seorang wanita yang ingin segera aku halalkan. Agar aku tidak berdosa ketika aku memikirkannya."


Chayra hanya terdiam. Tidak tau mau merespon dengan kalimat apa kalimat panjang Ghibran.


"Zahra, kenapa kamu diam?"


"Aku nggak tau mau bilang apa."


"Apa kamu tidak mau bertanya, siapa wanita yang aku maksud?"


"Aku nggak ada hak untuk menanyakan hal itu. Karena itu adalah urusan pribadi Ustadz."


"Bagaimana kalau wanita itu adalah kamu?"


"Aku tidak sepercaya diri itu untuk mengatakan wanita yang Ustadz maksud adalah aku."


"Jangan panggil aku Ustadz, Zahra."


"Aku tidak sepercaya diri itu untuk mengatakan wanita yang Kak Ghibran maksud adalah aku."


Ghibran mengembangkan senyumnya. "Aku senang sekali mendengar jawabanmu."


"Mmm.."


"Zahra.."


"Mmm.."


"Tapi wanita yang ingin aku halalkan itu adalah kamu."


Hening


Ghibran masih setia menunggu jawaban dari Chayra.


Bukannya mendapat jawaban Chayra. Mereka malah dikejutkan dengan suara Tania yang seperti bom meledak.


"Aa.. aa.. Benar dugaanku, Ustadz Ghibran akan mengajak Ayra ta'aruf. Tega sekali Ustadz melakukan ini pada kami."


Saras membekap mulut Tania. "Kamu kenapa ngegas sih, Nia?! Kita di sini cuma nemenin Ayra. Jangan macam-macam, deh!"


Tania mengangguk sambil berusaha menarik tangan Saras yang nempel dengan kuat di mulutnya. "Tapi, aku tidak kuat mendengar ucapan Ustadz Ghibran untuk Ayra."


Ghibran menunduk, mencoba mencerna maksud Tania. "Zahra, apa yang terjadi dengan Tania?"


"Dia fans beratnya kak Ghibran."


"Benarkah?" Ghibran terkejut mendengar hal itu.


"Jangan bertanya lagi. Aku sudah memberikan jawabannya untuk Kakak."


Ghibran tergelak. Hatinya semakin berbunga-bunga mendengar Ayra memanggilnya Kakak.


"Kak.."


"Iya, Zahra.."


"Sebenarnya apa tujuan kakak mengajakku bertemu."


"Seperti yang dikatakan Tania tadi."

__ADS_1


"Apa?"


Ghibran menarik nafas dalam. "Chayra Azzahra, dengarkan aku."


"Iya, Kak."


"Saya Ghibran Abdullah ingin mengajak kamu ta'aruf. Agar kita lebih mengenal satu sama lain. Dan semoga Allah mengizinkan kita untuk saling melengkapi kedepannya."


Saras dan Tania saling berbisik. "Bahasanya kok resmi banget, kayak orang mau lamaran aja."


Tania hanya menganggukkan kepala tanda menyetujui ucapan Saras.


Tak kunjung mendapatkan jawaban, perasaan Ghibran jadi tidak karuan. Takut mendapat penolakan dari Chayra. Dia memberanikan diri untuk bertanya." Zahra, apa kamu masih di sana?"


"Iya, Kak. Aku masih disini." Sesingkat itu jawaban yang di terima Ghibran dari Chayra.


"Aku menunggu jawabanmu."


"A..aku.. aku belum cukup umur, Kak." Chayra menjawab sedikit tergagap.


"Aku tidak akan langsung mengajakmu nikah, Zahra. Aku hanya ingin mengajakmu ta'aruf, agar kita lebih saling mengenal satu sama lain. Aku juga butuh jawabanmu yang pasti agar perasaan ini bisa tenang."


"Kak Ghibran belum mengenal aku."


"Itulah mengapa aku ingin mengenalmu."


"Bagaimana kalau aku menolak?"


"Aku akan sangat kecewa mendengarkan itu."


"Beri aku waktu untuk menentukan pilihan."


"Berapa hari?"


"Tergantung kapan Allah memberikan petunjuk."


"Kamu mau shalat Istikharah dulu."


"Itu kan anjuran agama ketika kita kesulitan menentukan dua pilihan."


"Subhanallah, kamu memang luar biasa. Tapi, apakah sesulit itu kamu memberikan jawaban untukku?"


"Astagfirullahal'adzim, maafkan aku, Zahra."


"Maaf untuk apa, Kak?"


"Maafkan aku yang gegabah. Dan.. Zahra.."


"Iya, Kak."


"Bolehkah aku berharap untuk mendapatkan jawaban iya dari kamu?"


"Jangan terlalu berharap, Kak. Tidak baik terlalu berharap pada manusia. Takdir Allah sudah pasti."


Ghibran kembali melafalkan istighfar. Dia merasa kalah jauh dalam kedewasaan berpikir dari seorang Chayra Azzahra yang anak kemarin sore.


"Kak Ghibran!"


Ghibran tersentak kaget mendengar namanya di sebut oleh Chayra.


"Bisakah aku kembali ke Asrama sekarang?"


Mendengar pertanyaan Chayra, Ghibran bangkit dan membukakan pintu itu untuk Chayra.


Chayra yang juga sudah berdiri terkejut melihat pintu yang tiba-tiba terbuka lebar.


Mereka saling menatap mencoba mencerna perasaan yang berkecamuk dalam dada masing-masing. Mereka tersenyum sambil menahan debaran yang semakin menjadi-jadi.


Chayra menunduk tapi tidak bisa di bohongi. Senyumannya menyimpan rasa kagum pada sosok pria berparas tampan yang masih tersenyum dan menatapnya dengan tatapan tidak kalah kagum.


"Astagfirullahal'adzim.." Keduanya mengucap istighfar serentak lalu sama-sama menunduk. Menyadari dosa mereka yang terlalu lama saling tatap.


"Ayo, silahkan kalian duluan." Ghibran mempersilahkan tiga gadis itu meninggalkannya.


Tania paling dulu keluar dan memimpin barisan.


Namun, baru beberapa langkah...

__ADS_1


"Tunggu!" Ketiganya menoleh kembali mendengar suara Ghibran menghentikan langkah mereka.


"Zahra.."


"Iya, Kak." Chayra mengangkat wajahnya dan menatap Ghibran sekilas.


"Ana... ana uhibbuka fillah.."


Chayra tertegun. Wajahnya terasa memanas munkin karena bersemu merah. Senyumannya merekah mendengar pengakuan Ghibran. Hatinya berbunga-bunga. Dia segera menunduk agar Ghibran tidak leluasa melihat pipinya yang merona merah.


"Waahh, Ustadz Ghibaran benar-benar keren. Aku juga mau dong, di romantisin kayak gitu." Tania meraba pipinya yang ikut bersemu merah mendengar ucapan Ghibran tadi.


Saras yang gemas melihat tingkah laku Tania yang berlebihan, mendekat dan langsung menyentil kening Tania dengan keras.


"Aaww, Saras, kamu apa-apaan sih?!" Protes Tania yang langsung mengusap dahinya yang agak merah karena perbuatan Saras


"Kamu ngomongnya ngelantur. Kamu sadar nggak sih, sedang ngomong dengan siapa?!"


Ghibran hanya tersenyum melihat kelakuan mereka.


"Ayo kita balik." Chayra menarik tangan kedua temannya. Mereka meninggalkan Ghibran yang masih berdiri mematung menatap punggung Chayra yang semakin menjauh darinya.


* * *


Usai melaksanakan shalat Dhuha, Chayra berjalan bergandengan tangan dengan Saras. Sedangkan Tania tidak hadir di Majelis Ta'lim. Kata Saras, Tania panas dingin setelah kembali dari Majelis Ta'lim kemarin. Dia masih tidak percaya kalau Ghibran benar-benar mngajak Chayra ta'aruf.


Chayra juga tidak percaya kalau Tania sakit gara-gara itu.


Baru akan duduk di bangku panjang tempat biasa mereka nongkrong. Chayra melihat Pak Ismail melambaikan tangan ke arahnya di depan rumah. Chayra mengurungkan niatnya untuk duduk.


"Ada apa, Ayra?" Tanya Saras.


"Kayaknya Abah manggil aku."


Saras ikut menoleh ke arah Pak Ismail yang masih berdiri di depan rumahnya. "Iya, Ayra. Kalau begitu aku ke Asrama ya. Mungkin Abah mau ngomong sesuatu sama kamu." Saras langsung jalan cepat meninggalkan Chayra yang juga sudah berjalan mendekati Pak Ismail.


"Assalamualaikum, Abah.." Chayra meraih tangan Pak Ismail dan menciumnya.


"Wa'alaikumsalam, Nak." Sambil tersenyum dan mengusap kepala Chayra.


"Ada apa, Abah. Tumben pagi-pagi udah panggil Ayra."


Pak Ismail kembali tersenyum lalu mengajak Chayra untuk duduk di bangku teras rumah itu. "Ada yang ingin Abah tanyakan sama kamu."


"Tentang apa itu, Abah?"


"Tentang Ghibran."


Chayra agak terkejut. Namun, dia berusaha tetap tenang dan kembali menatap Pak Ismail." Ada apa dengan Kak Ghibran, Abah?"


"Tadi malam Abah bertemu dengannya. Dan dia menceritakan hasil pertemuannya kemarin denganmu."


Chayra menunduk malu. mukanya bersemu merah. Tapi dia berusaha menghindari tatapan Pak Ismail.


"Kenapa kamu tidak langsung memberikannya jawaban, Nak?"


"Kan, Abah yang mengajarkan Ayra untuk melakukan shalat istikharah dulu sebelum menentukan pilihan." Chayra tetap tidak berani menatap Pak Ismail karena rona merah di wajahnya belum hilang.


"Apa kamu masih meragukan keseriusannya, Nak?"


"Bukan begitu, Abah. Tapi, Ayra hanya takut kalau salah dalam mengambil keputusan."


"Dirimu yang seperti ini yang membuat Abah sangat bangga padamu, Nak."


"Maksud, Abah?"


"Kamu wanita yang teguh pendiriannya, Nak. Tidak goyah walaupun di suguhi berbagai macam ucapan yang menggoyahkan."


Bu Ainun tiba-tiba muncul di pintu. Mukanya agak kusut menatap suaminya. "Sarapan dulu, Abah. Anak baru pulang, kok langsung diajak ngobrol. Ini sudah jam sembilan, sudah lewat waktu sarapan."


"Iya Ummi, Sayang. Jangan marah dong, ini masih pagi."


"Abah jangan macam-macam kalau tidak mau dapat hukuman."


"Ayo, Abah cepetan. Nanti Ummi naik pitam." Ucap Chayra berbisik di dekat telinga Pak Ismail. Tidak berani bicara dengan suara kencang takut kena amukan Bu Ainun. Pak Ismail mengangguk sambil cekikikan.


"Kalian saling berbisik bilang apa?!" Bu Ainun menatap Pak Ismail dan Chayra dengan tatapan sinis.

__ADS_1


"Rahasia.." Ucap keduanya serentak lalu berlari ke dalam. Meninggalkan Bu Ainun yang masih kesal.


* * *


__ADS_2