Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Petuah dari mertua 2


__ADS_3

Deg...!


Ardian langsung mengangkat wajahnya. Benar-benar terkejut mendengar pertanyaan mertuanya.


"Kenapa terkejut, Nak? Sekarang, Ibu juga ibu kamu. Tidak ada salahnya kan, Ibu menanyakan hal itu. Kenapa kamu bertahan seperti ini terus? Chayra Azzahra putri Ibu sudah menjadi hak kamu. Kamu memiliki hak atas hidup dan kehidupannya. Ibu sudah tidak ada kewajiban untuk memberikan nafkah atau apapun itu padanya."


"M.. maafkan Ardian, Bu. Aku.. aku hanya merasa belum pantas untuknya. Dia... dia terlalu sempurna untuk laki-laki bejat seperti aku."


"Jangan bilang begitu, Nak. Kamu sedang berusaha memantaskan diri, kan. Kalian sudah sangat lama menikah. Jangan sampai keindahan wanita di luaran sana membuatmu mengabaikan istrimu."


Ardian hanya menunduk mendengar petuah mertuanya.


"Maafkan Ayra juga, Nak. Awalanya dia tidak ada niat serius menjalani hubungan pernikahan ini. Dia hanya berniat dan akan berusaha merubah kamu. Alhamdulillah, tujuannya sudah tercapai sekarang. Ibu tidak tau mau bilang apa. Waktu itu, Amira benar-benar terluka dan hampir saja membenci Ayra. Tapi, saat Ayra mengatakan akan mengembalikan kamu padanya, Amira tiba-tiba saja tersenyum dan memeluk Ayra."


"Tapi Ardian yang tidak mau kembali padanya, Bu. Ardian mendapatkan karma sekarang. Ardian mencintai putri Ibu. Sungguh, Bu. Mungkin, itulah mengapa kita dilarang terlalu membenci seseorang. Karena ujungnya bisa jadi seperti yang aku rasakan sekarang.


Ardian melirik Santi lalu kembali menunduk. "Ardian bahkan tidak bisa jauh darinya sekarang, Bu. Ardian benar-benar hampa tanpa ada dirinya di samping Ardian. Mungkin... karena kesabaran yang dia tunjukkan selama ini saat menghadapi kebejatan ku."


Santi tersenyum. "Ibu harap kalian bisa saling menjaga dan salin membimbing sampai kalian tua nanti. Semoga kalian berjodoh sampai maut memisahkan kalian."


"Aamiin, Bu. Insya Allah, doa seorang ibu itu selalu terkabul."


Santi kembali tersenyum. "Tergantung kalian, bisa saling membimbing dan saling percaya seperti yang Ibu ucapkan tadi." Kembali membolak-balik album usang di depannya.


Ardian tersenyum sambil memperhatikan wajah mertuanya. Setelah lama memperhatikan wajah Santi. Ternyata ucapan istrinya benar adanya. Mertuanya memiliki wajah yang lembut. Tutur kata wanita itu juga sangat lemah lembut. Pantas saja istrinya memiliki sifat yang hampir sama dengan mertuanya.


"Ada apa, Nak? Kenapa melihat Ibu seperti itu?"


"Eh, ng.. nggak, Bu." Ardian langsung menunduk salah tingkah. Kepergok orang yang sedang dia perhatikan benar-benar membuatnya malu.


Santi menahan senyum melihat tingkah menantunya. "Mm.. apa Ibu boleh meminta sesuatu padamu?"


"Mm.. b.. boleh, Bu. Silahkan saja. Kalau Ardian bisa bantu, Ardian akan lakukan."


"Ibu mau mengunjungi makam Almarhum Bapaknya Ayra, Nak. Insya Allah, minggu depan Ibu akan pergi dengan adikmu. Tapi.. Ibu juga ingin kamu dan Ayra ikut serta. Kebetulan kalian kan, libur semester nanti."


"M.. memangnya makam Bapak dimana, Bu? Chay tidak pernah menceritakan tentang Bapak sama aku sebelum ini."

__ADS_1


"Makamnya jauh, Nak. Kalau pakai kendaraan darat, bisa memakan waktu satu harian baru sampai. Kurang lebih lima belas jam perjalanan."


"Kenapa tidak pakai pesawat saja biar cepat kalau begitu."


"Nah, inilah yang menjadi masalahnya, Nak. Bian dan istri kamu memiliki trauma dengan transportasi udara itu." Santi menghela nafas berat. "Iya.. mungkin istrimu bisa mengendalikan diri sekarang karena dia pernah mencoba naik pesawat. Sedangkan Bian, dia benar-benar tidak berani sampai sekarang."


"Apa yang membuat mereka sampai trauma?"


"Kamu bisa tanyakan itu pada istrimu nanti. Ibu harap kamu lakukan pendekatan dengannya. Perlahan-lahan saja, Nak."


"Iya, Bu. Ardian akan mencobanya."


"Oh, iya, Ibu juga mau berpesan sama kamu."


Ardian menajamkan pendengarannya. Tersenyum lembut pada Santi.


"Apa kamu benar-benar mencintai putri Ibu, Nak?"


Ardian sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu. Apakah mertuanya itu masih meragukan ucapannya. "Apakah ucapanku tadi masih meragukan untuk Ibu?"


"Bukan begitu, Nak. Ibu hanya mau bertanya, biar Ibu bisa yakin dengan kamu," seraya tersenyum.


"Bukankah istrimu sudah mengetahui semua masa lalu kamu?"


"Entahlah, Bu. Tapi, aku takut lama kelamaan dia akan meninggalkanku kalau terus menerus mendengar keburukan itu."


"Apa respon orang-orang terdekat kamu saat mendengar berita itu?"


"Kakek dan Nenek murka. Tapi, Papi dan Mami melindungi aku. Bagaimanapun juga, aku salah jalur karena tidak ada yang membimbingku waktu itu."


Santi tersenyum mendengar cerita menantunya. "Iya, sudah. Ibu harap kamu bisa ikut ke makam Bapak kamu. Istirahatlah sekarang, Nak."


"Mm.. Ibu, Ardian mau bertanya. Dari tadi aku penasaran, tapi mulut ini sangat berat untuk bertanya."


Santi menautkan alisnya. "Mau menanyakan apa?"


"Ardian penasaran dengan album foto yang dari tadi Ibu lihat."

__ADS_1


"Astagfirullah, ini cuma album foto kenangan masa muda Ibu dengan almarhum Bapak kalian. Apa kamu mau melihatnya?"


"Memangnya boleh?"


"Tentu saja, ini."


"Terimakasih, Bu. Aku boleh membawanya ke kamar."


Santi mengangguk. "Nanti suruh istrimu menyimpannya lagi disini."


"Baik, Bu. Ardian pamit, assalamualaikum.."


"Wa'alaikumsalam.."


Ardian keluar ruangan sambil membolak-balik album ditangannya.


"Kamar Chay yang mana tadi ya.." Ardian lupa letak kamar istrinya karena terlalu banyak kamar yang berjejer yang dia lewati tadi. Matanya menelisik setiap pintu kamar. "Rumah ini terlihat sederhana, tapi kenapa banyak sekali kamarnya. Ruang tamu dan ruang keluarga juga sangat luas. Satu lantai tapi bagaikan rumah tiga lantai." Ardian terus bergumam sendiri. Tidak sadar kalau dua sudah keluar dari pintu utama dan sekarang berada di teras rumah.


"Lo, kok aku ada di luar." Ardian berbalik dan masuk lagi. Dari sini dia malah tidak bingung dengan letak kamar istrinya.


"Assalamualaikum.." Ardian membuka pintu kamar perlahan. Bibirnya menyunggingkan senyum saat melihat Chayra sudah tertidur pulas di bawah selimut.


Pria itu berjalan mendekat. Ia menelan ludah saat melihat istrinya tidur tanpa jilbab. "Masya Allah, benar-benar seperti bidadari." Ardian memejamkan matanya. Menahan gejolak yang semakin menjadi-jadi.


Chayra menggeliat, membuat Ardian segera menjauhkan tubuhnya. Takut kalau Chayra menyadari keberadaannya dan membuat wanita itu terkejut.


Chayra tiba-tiba bangkit sambil mengucek-ngucek matanya. Matanya menatap jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam. "Kak Ardian ngapain aja di ruangan Ibu. Kenapa sampai jam segini belum juga kembali." Bergumam sendiri, merebahkan kembali tubuhnya sambil memanyunkan bibirnya.


Ardian yang duduk di sofa tersenyum sambil menggigit ujung jarinya melihat tingkah istrinya. Perasaannya semakin berbunga-bunga dan perasaan entah, apalagi namanya. Dia tidak bisa mengartikan perasaan yang sedang dia rasakan saat ini. Intinya dia bahagia melihat pemandangan di depannya. Dia juga bahagia menjadi bagian dari keluarga yang selalu dipenuhi dengan kedamaian dan kasih sayang ini.


Chayra kembali bangkit. Matanya tidak sengaja menatap sesosok pria yang sedang duduk di sofa. "Eh," kembali mengucek-ngucek matanya. Memicingkan matanya untuk lebih meyakinkan, apakah dia benar-benar melihat suaminya disana atau itu hanya bayang-bayang Ardian saja.


Ardian kembali tersenyum, bangkit seraya berjalan mendekati Chayra. "Ini beneran aku, Chay.. Kamu tidak salah lihat kok." Mengusap-usap wajah istrinya lembut. "Kamu cantik dari yang paling cantik." Kata-kata itu lolos begitu saja dari mulutnya.


Hal itu tentu saja membuat wajah Chayra langsung merona merah. "Jangan dipuji terus, nanti aku melambung ke langit."


Senyum Ardian tidak bisa pudar. Dia benar-benar menikmati rupa cantik istrinya yang sedang tidak memakai jilbab di depannya.

__ADS_1


*******


__ADS_2