Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Biarkan aku menyimpan rasa ini dalam diam


__ADS_3

Ghibran mengangkat wajahnya. Matanya menatap nanar ke arah pasangan yang masih tertawa di ayunan. Dulu, dia yang sering bertemu dan bersenda gurau dengan Chayra di tempat itu. Kini, posisinya sudah di ambil alih oleh pria lain.


Tiba-tiba Ardian berlari masuk ke dalam rumah. Ghibran mengerjap-ngerjap tidak percaya. Seolah-olah Ardian memberikan waktu untuknya mendekat dan bicara empat mata pada Chayra.


Ghibran berlari kecil mendekati Chayra. Menyenggol tubuh Bian yang terbentang menghalangi jalannya.


"Eh, Kak Ghibran mau kemana?" Bian ikut berlari kecil menyusul Ghibran.


Ghibran tersenyum setelah berdiri beberapa meter di belakang ayunan yang diduduki Chayra. Melangkah perlahan mendekati gadis itu. Mulai menggerakkan ayunan perlahan.


Bian berdiri mematung menyaksikan semua itu. Dia masih terlalu muda untuk belajar memahami tentang patah hati yang sedang di alami dua manusia itu. "Apakah jatuh cinta harus serumit ini? Di saat yang lainnya bahagia. Di sisi lain, ada yang terluka melihat kebahagiaan itu. Huh, aku takut mengalami jatuh cinta kalau begini ceritanya." Bergumam pada dirinya sendiri.


Chayra tersenyum saat merasakan ayunan kembali bergerak. "Lho, Kak Ardian cepet sekali selesainya. Katanya tadi sakit perut. Apa Kakak lupa do'a masuk kamar mandi lagi? Apa Kakak kembali untuk menanyakan itu?" Chayra mendongakkan kepalanya. Bibirnya terkatub rapat melihat siapa yang sedang berdiri memegang tali ayunan.


"Maaf, aku melakukan ini tanpa izin darimu." Ghibran menelan ludahnya. Perasaan terasa was-was. Takut kalau Chayra tiba-tiba meninggalkannya tanpa memberikannya kesempatan untuk bicara.


Chayra hanya bisa terdiam. Mau bicara, tetapi lidahnya terasa benar-benar berat.


"Aku belum bisa mengikhlaskan dirimu untuk laki-laki itu, Zahra. Berat, sangat berat. Aku bahkan tidak bisa tidur karena bayanganmu seperti menari-nari di pelupuk mataku." Tangan Ghibran mencengkram erat tali ayunan.


"Kak Ghibran harus bisa ikhlas. Jika Kakak tidak bisa melakukan itu, maka selamanya Kakak akan merasa sakit saat melihatku tertawa bersama laki-laki lain."


"Aku sudah mencobanya. Bukan hanya sekali, tetapi berulang kali, Zahra. Tapi, Allah belum juga menghapus namamu dari hati ini. Aku sampai bingung. Seistimewa apa sebenarnya wanita yang bernama Chayra Azzahra ini, sehingga saat aku berusaha melepasnya dengan ikhlas untuk orang lain. Aku sangat sulit melakukan itu. Aku bahkan hampir menyerah dan ingin menculik kamu seperti yang dilakuan pria itu. Mungkin dengan begitu aku bisa memilikimu."


"Astagfirullah.." Chayra memejamkan mata seraya menelan ludahnya. "Aku bukan wanita istimewa untuk laki-laki seistimewa dan secerdas Kak Ghibran. Aku hanya wanita hina yang menjadi korban pemerkosaan. Aku meninggalkan Kak Ghibran bukan karena aku tidak me.. me.. mencintai Kak Ghibran l.. lagi. Aku.. aku.. hanya merasa tidak pantas untuk Kak Ghibran."


"Aku ikhlas dengan hal itu, Zahra. Aku sudah berulang kali mengatakan kepadamu. Aku ikhlaskan hal itu. Itu musibah namanya. Kita tidak menginginkan itu. Tapi Allah yang sudah menentukan jalan takdir itu untuk kita."

__ADS_1


"Lalu kenapa Kak Ghibran bilang tidak ikhlas karena aku menikah dengan laki-laki lain. Bukankah itu berarti kita tidak berjodoh. Dan jodoh itu sudah ditentukan oleh Allah juga."


Ghibran membuang nafas kasar seraya mengalihkan pandangannya. "Aku mencintaimu, Zahra. Perasaan ini belum bisa berpindah pada orang lain. Walaupun aku terus berusaha dan berdoa untuk hal itu."


"Kak Ghibran mengikuti langkahku. Itulah mengapa Kakak tidak bisa melakukan itu. Aku ini hanya wanita hina, Kak. Tidak pantas bagi seorang yang memiliki pengetahuan yang tinggi seperti Kakak memperjuangkan wanita sepertiku."


"Cinta tidak memandang siapa kamu. Aku hanya ingin diterima kamu kembali. Aku hanya ingin kita memperjuangkan cinta kita kembali tanpa harus melihat masa lalu."


Chayra tersenyum kecut. "Kak Ghibran mengatakan itu. Lalu bagaimana dengan keluarga Kak Ghibran? Apakah mereka juga akan berkata demikian jika aku menikah dengan Kakak. Aku bahkan sudah membayangkan cibiran yang akan aku dapatkan jika menikah dengan Kakak."


"Itu tidak akan terjadi, Zahra."


"Kak Ghibran jangan gila. Kakak salah mengajak wanita yang sudah bersuami untuk menjalin hubungan. Jangan karena kata cinta, Kak Ghibran lupa siapa diri Kakak."


Chayra bangkit dari ayunan. Berbalik menatap Ghibran seraya menangkupkan tangannya di depan dada. "Ayra mohon, berhentilah sampai disini. Aku tidak mau melihat Kak Ghibran semakin terluka kedepannya. Izinkan aku bahagia bersama laki-laki pilihanku. Biarkan rasa diantara kita terkikis oleh waktu. Aku pun mencintai Kak Ghibran, tapi aku sedang berusaha mencintai laki-laki yang sudah di gariskan Allah untuk ku."


Ardian yang sudah berdiri sejak tadi ditahan Bian untuk tidak mendekat. Santi yang juga hadir di tempat itu mengelus-elus pundak menantunya. Hal itu mampu membuat Ardian bertahan walaupun nafasnya terlihat turun naik menahan kesal.


Chayra tersenyum mendengar ucapan Ghibran. Perkataan itu dulunya akan membuatnya sakit dan ingin mengamuk. Namun, saat ini kata-kata itu seperti nyanyian yang lewat di telinganya. "Jangan merendahkan dia, Kak. Dia mungkin buruk di mata Kakak. Tapi, kalau Kakak mengetahui kerasnya kehidupan yang dia hadapi sebelum ini. Kakak akan berdecak kagum melihat perjuangannya saat ini. Dia sedang berusaha menjadi lebih baik. Walaupun dia sudah dewasa, dia tidak malu untuk belajar agama seperti anak TK."


Ghibran melongos mendengar ucapan Chayra. Pujian Chayra untuk Ardian di depannya benar-benar membuatnya seperti dihina gadis itu.


"Aku memang belum bisa mencintainya, Kak. Mungkin itu terjadi karena masih terselip nama Kak Ghibran di hati ini. Tapi, lama-kelamaan aku pasti bisa mencintainya. Dia memperlakukan dengan sangat istimewa. Aku selalu berusaha menikmati setiap waktu bersamanya. Semakin kesini, dia semakin membuatku nyaman. Itulah mengapa, aku bilang perlahan-lahan aku akan bisa mencintainya.


Nafas Ardian melambat mendengar jawaban istrinya. Senyum samar muncul di bibirnya. Hal itu membuat Santi ikut tersenyum. Sedangkan Bian hanya menggaruk-garuk kepalanya bingung.


"Bu, Bian jadi takut jatuh cinta kalau seperti ini."

__ADS_1


Santi terkejut mendengar ucapan putranya. "Kenapa berkata begitu?"


Bian tersenyum hambar. "Aku takut berada di posisi Kak Ghibran. Bagaimana kalau wanita yang aku cintai tiba-tiba menikah dengan laki-laki lain. Bisa-bisa aku akan bunuh diri karena frustasi."


Ardian melirik Bian sambil tersenyum. Tangannya mengacak-acak rambut Bian karena ucapan Bian seperti menggelitik perutnya. "Ambil posisi seperti posisi Kak Ardian. Kamu tidak akan frustasi karena cinta."


"Tapi, aku tidak mau menjadi laki-laki seperti Kak Ardian. Aku tidak mau awam dalam urusan agama."


Ardian tertawa mendengar ucapan Bian. "Hahaha.. ini kan, Kakak sedang belajar menjadi laki-laki baik. Jangan lupa tutup mulutmu nanti, kalau tiba-tiba Kakak menjadi seorang Ustadz.


Suara tawa Ardian membuat Chayra dan Ghibran menoleh serentak ke arah pria itu. Mereka pun terkejut saat mengetahui kalau Ardian tidak hanya sendiri di sana. Ada Bu Santi dan Bian juga.


"Aku permisi, Kak. Suamiku mungkin sudah lama duduk disana menunggu aku menyelesaikan urusanku dengan Kak Ghibran." Chayra langsung balik badan.


"Tunggu..!" Ghibran mencoba menghentikan langkah Chayra.


Chayra menghentikan langkahnya. "Urusan kita sudah selesai sampai disini. Jangan harapkan aku lagi. Carilah wanita lain yang lebih pantas untuk Kak Ghibran." Berucap dengan membelakangi Ghibran.


"Aku tidak bisa memaksa kamu untuk kembali padaku. Tapi, jangan paksa aku untuk berhenti mencintaimu. Biarkan aku menyimpan rasa ini dalam diam. Cukup aku yang merasakannya. Kamu berbahagialah dengan laki-laki pilihanmu. Aku akan menunggu sampai Allah yang menghapus namamu dari pikiranku."


Chayra memejamkan matanya. Air mata yang dia tahan sedari tadi akhirnya keluar juga. Tidak bisa dia pungkiri, kalau perasaannya untuk pria itu pun, masih sangat dalam. Namun, jika dia tidak menghindarinya. Maka selamanya dia akan terjebak dalam perasaanya. Memikirkan laki-laki yang tidak halal untuknya.


"Aku pergi, Zahra. Assalamualaikum..." Ghibran pergi tanpa ada niat untuk berbalik lagi. Dia langsung masuk ke dalam mobilnya. Meninggalkan barang-barangnya di ruang tamu rumah Santi.


Chayra hanya melirik sekilas. Menarik nafas dalam untuk menguatkan hatinya. Menghapus sisa air matanya. Dia tidak mau Ardian melihat masih ada sisa air matanya. Tidak mau kalau pria itu berpikir, dirinya menangis untuk laki-laki lain.


********

__ADS_1


__ADS_2