Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Permintaan Ibu


__ADS_3

"Kamu coba jangan makan sate malam ini. Sepertinya kata-kata Kak Zidane kemarin ada benarnya. Kamu mual setiap pagi karena terlalu banyak makan sate."


"Tapi, aku nggak mau makan sate lagi malam ini."


"Terus, kamu mau keluar mau apa? Ini sudah jam setengah sembilan, Sayang." Ardian mencoba membujuk istrinya sambil melirik jam dinding.


"Nggak tau.. aku cuma mau keluar saja."


"Setiap malam kamu selalu keluar, apa nggak bahaya untuk kehamilan kamu kedepannya?"


"Besok jadwal periksa. Kakak bisa menanyakan itu pada Dokter Kandungannya besok." Melirik suaminya yang juga meliriknya.


Ardian terdiam, mencoba mengingat-ingat jadwalnya besok. "Mm.. mudah-mudahan aku bisa pulang cepat." Jawabnya pendek.


"Jadwalnya sore habis shalat Ashar. Apa Kakak bisa ikut nanti. Kebanyakan orang ditemani suaminya saat periksa. Aku sudah dua kali periksa tanpa ditemani suami."


Ardian menatap istrinya. "Insya Allah, aku akan usahakan."


"Kata Dokternya, jenis kelaminnya juga sudah bisa kelihatan besok. Apa Kakak tidak ingin mengetahui jenis kelaminnya?" Chayra menunduk saat mengatakan itu.


"Aku.. aku akan usahakan, Sayang." Menarik tangan istrinya dan menggenggamnya erat. "Kamu jangan marah ya.."


"Mau marah juga nggak akan bisa, kan?" Chayra membuang nafas kasar. "Kakak harus profesional dalam bekerja. Jangan hanya karena besok jadwal periksa kandunganku, harus ada jadwal pekerjaan yang ditunda. Aku akan pergi bersama Ibu kalau Kak Ardian nggak sempat."


Ardian menarik nafas dalam, memperhatikan raut wajah istrinya yang terlihat kecewa. "Maafkan aku yang tidak bisa menjadi suami siaga untuk kamu." Menarik tubuh istrinya sampai jatuh ke dalam pelukannya. "Aku akan meminta Dodit untuk mengatur jadwalku besok."


"Terimakasih untuk usahanya."


"Mm.." Ardian mencium pucuk kepala istrinya. "Jadi mau keluar?" Mencoba mengalihkan pembicaraan.


Chayra mendongak menatap Ardian. "Tapi aku bingung mau kemana."


"Mau kemana saja boleh. Aku turuti keinginan kamu malam ini."


Chayra menyebikkan bibirnya. "Mau menyogok aku karena tidak bisa menemani aku besok?"


"B.. bukan begitu, Sayang." Ardian sedikit gelagapan karena ucapan Chayra tepat sasaran.


Ketukan di pintu kamar membuat percakapan mereka terhenti.


"Assalamualaikum warahmatullahi wa barokaatuh para penghuni kamar." Suara Bian yang selalu saja mengganggu kebersamaan mereka.


"Kakak yang buka. Malas aku berurusan sama tu anak. Suka ngomong banyak sekarang dia itu." Chayra langsung merebahkan tubuhnya, menarik selimut sampai menutupi kepalanya.


Ardian hanya bisa menggeleng-geleng pelan seraya bangkit.


"Kakanda Ardian Baskara diminta menghadap oleh Ibunda Ratu." Ucap Bian saat melihat Ardian muncul dari balik pintu. "Kakanda Chayra Azzahra juga diminta ikut serta menghadap. Ini perintah langsung dari Ibunda Ratu. Assalamualaikum warahmatullahi wa barokaatuh..." Bian langsung berlalu.


Ardian ingin bertanya, tetapi ia urungkan. "Chay, kita diminta menghadap oleh Ibunda Ratu." Ardian menggoyang pelan tubuh istrinya yang masih tertutup selimut.


"Ngapain ikut-ikutan somplak kayak Bian sih?!" Menyibak selimut dengan kasar seraya bangkit. "Ibu mau ngomong apa?"


"Nggak tau, Sayang. Kamu sendiri kan dengar tadi, Bian bilang apa. Kita hanya diminta menghadap tanpa menjelaskan alasannya."


"Iya sudah, ayo. Nanti Ibu capek lagi nunggu kita."


"Iya.." Ardian meraih kopiahnya dan langsung memakainya.


"Lho, ngapain pakai kopiah segala?"

__ADS_1


"Siapa tau Ibu mau memintaku untuk ceramah. Atau mungkin membaca Al-Qur'an. Aku kan susah pandai sekarang."


Chayra langsung mendelik. "Ibu itu tidak suka ngetes kemampuan orang seperti Abah. Ibu itu orangnya apa adanya dan tidak suka memandang status orang lain."


"I know about that. But.."


"Apa..?"


"Prepare my self."


"Huh, sudahlah, ayo..."


Chayra dan Ardian duduk di sofa yang bersebrangan dengan Santi.


"Kata Bian, Ibu memanggil kami." Tanya Chayra mencoba memecah kesunyian karena Santi masih saja sibuk mengamati buku besar di depannya.


"Iya, Nak. Tapi tunggu sebentar, Ibu mau menyelesaikan ini dulu." Menunjuk buku di depannya.


Chayra dan Ardian akhirnya hanya menyetujui ucapan ibunya.


Sekitar lima belas menit mereka menunggu sampai akhirnya Santi menutup buku itu. "Maaf membuat kalian menunggu."


Chayra dan Ardian hanya tersenyum. "Ngapain pakai minta maaf segala, Bu?" Ardian menggaruk-garuk kepalanya karena tidak enak mendengar kata maaf dari ibunya.


"Kata maaf itu harus selalu dibiasakan agar orang lain merasa di hargai, Nak." Santi memperbaiki posisi duduknya.


"Tuh dengar, Kak. Harus dibiasakan agar orang lain merasa dihargai." Bian yang baru datang langsung ikut nimbrung tanpa aba-aba.


Santi hanya menggeleng-geleng menyikapi tingkah putranya. "Oh iya, Nak. Ibu mau bicarakan hasil Toko bulan ini. Sudah waktunya kita bagi hasil. Biasanya kan Ibu langsung transfer ke rekening kamu, Ayra. Tapi, kali ini, Ibu rasa harus menjelaskan semuanya karena kamu sudah berkeluarga."


Chayra dan Ardian manggut-manggut mendengar penjelasan Ibunya. Santi menjelaskan secara terperinci. Mulai dari jumlah karyawan yang harus dia gaji setiap bulan, sampai penghasilan Toko. Mana yang menjadi hak Chayra dan juga Bian.


"Insya Allah, Ayra paham, Bu."


"Alhamdulillah kalau kamu paham, Nak. Jadi, karena adik kamu itu laki-laki, bagiannya berbeda dengan kamu."


Bian menaik turunkan alisnya sambil mengangkat kerah bajunya. "Gue anak laki-laki, Kak Ayra. Walaupun aku lebih kecil, tapi bagianku sudah pasti lebih banyak."


"Mm... sombong ni bocah. Tau kan, kalau anak laki-laki itu punya tanggung jawab yang besar?"


"Sudah jangan berdebat dulu. Ibu masih ada satu permintaan untuk kalian berdua."


Chayra dan Ardian saling pandang. "Apa, Bu?"


"Khususnya untuk kamu, Ayra."


Chayra menatap ibunya. "Ayra, Bu?" menunjuk dirinya sendiri.


"Iya. Coba mulai sekarang ubah panggilan kamu untuk suami kamu, Nak"


"Maksud Ibu?"


"Beberapa bulan lagi kamu akan menjadi seorang Ibu. Alangkah baiknya kalau kamu memanggil suami kamu dengan sebutan khusus untuknya."


Chayra termenung. "Tapi, aku sudah nyaman memanggilnya dengan Kak Ardian."


"Tapi panggilan Kakak itu terlalu umum, Nak. Zidane saja kamu panggil Kakak. Terus semua yang lebih dewasa dari kamu, kamu panggil Kakak. Jadinya, itu terdengar tidak istimewa pada suami kamu. Apalagi besok kalian akan punya anak."


"Terus, Ayra harus memanggilnya dengan sebutan apa dong, Bu?"

__ADS_1


"Coba kalian berdua diskusikan dulu."


"Biar Bian bantu, Kak."


"Nggak usah. Usulan kamu nanti malah out of the box."


"Panggil Bangcin aja." Bian menjawab asal tidak perduli dengan protes kakaknya.


"Tuh, kan udah out of the box. Baru aja dibilangan."


"Eh, denger dulu dong, artinya Bangcin itu apa."


"Apa emangnya?"


"Bangcin itu artinya Abang Cinta."


Ardian menatap Bian sambil menahan senyum. "Artinya sih bagus banget, Dek. Tapi, kok singkatannya itu terdengar lucu. Bagaimana kalau orang malah salah dengar nanti. Bilangnya Bangcin yang kedengaran malah Banci."


Tawa Bian langsung meledak. "Hahaha.. iya ya, Kak. Kok aku nggak kepikiran kesitu tadi."


Chayra berdecak, menggeleng-geleng pelan. "Kalau kasih saran itu yang masuk akal makanya."


"Kenapa nggak pakai kata 'Mas' aja, seperti Ibu memanggil Almarhum Bapak."


"Tidak...!" Chayra langsung menolak.


"Lho, kenapa? Itu malah terdengar lebih sopan, Nak?" Ucap Santi.


Chayra menunduk. "Aku... aku tidak mau ditinggal mati seperti Ibu. Aku tidak mau menjadi orang tua tunggal."


"Astagfirullahal'adzim.." Santi, Ardian dan Bian berucap serentak. Raut wajah Bian langsung berubah serius. Tidak menyangka kalau kalimat itu yang akan menjadi jawaban kakaknya.


"Kenapa Kak Ayra berkata begitu? Tidak semua orang yang memanggil suaminya seperti Ibu lalu ditinggal mati."


Chayra hanya menggeleng tanpa mau mengangkat wajahnya.


Ardian menggenggam tangan istrinya erat. "Kamu kok, berpikir sampai sejauh itu, Sayang."


"Aku juga nggak tau, Kak. Tapi, pas mendengar kata itu, suara Ibu berteriak pas Bapak meninggal akan terngiang-ngiang di telingaku."


Ardian menarik tubuh istrinya. Memeluknya untuk mencoba memberikan ketenangan.


Bian hanya mengerjap-ngerjap. Menelan ludahnya mendengar ucapan kakaknya. Dia masih terlalu kecil dulu sehingga tidak bisa merasakan apa yang di rasakan ibu dan kakaknya.


Santi menyusut air mata yang keluar tanpa dia sadari. "Sudah, Nak. Kenangan itu jangan diingat lagi. Ibu ikutan sedih kalau mengingat itu. Terserah kamu mau memanggil suamimu dengan kata apa. Tapi, Ibu hanya berharap kamu mau merubahnya. Pakai kata lain saja yang membuatmu nyaman." Santi bangkit, kembali menyusut air matanya. "Ibu mau istirahat dulu. Kalian ngobrol saja kalau belum ngantuk."


"Eh, i.. iya, Bu." Bian yang menjawab.


"Kamu temani Ibu di kamar, Dek. Kakak tau, Ibu bukan mau istirahat. Dia hanya tidak mau, kita melihat kesedihannya."


Bian mengangguk. Patuh pada perintah kakaknya tanpa membantah.


Selepas kepergian Bian, Chayra menarik diri dari pelukan suaminya. "Aku mau ke kamar Ibu sebentar, Kak. Boleh..?"


"Pergilah, Sayang. Aku tau Ibu sedang membutuhkan kalian. Aku tunggu kamu disini." Mengusap-usap kepala istrinya.


Selepas kepergian Chayra, Ardian menarik nafas dalam. Ikatan batin di keluarga ini benar-benar kuat. Sehingga musibah yang mereka alami puluhan tahun yang lalu masih membekas dalam hati mereka.


**********

__ADS_1


__ADS_2