Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Kalau ditunda bisa naik ke otak


__ADS_3

Hari itu, Ardian melupakan bekal makan siangnya. Bukan lupa, lebih tepatnya dia sengaja meninggalkannya agar Chayra mau mengantarkannya ke Kantor. Semakin kesini, sikap Anita semakin agresif padanya. Semakin sering mepet-mepet, yang membuatnya semakin tidak nyaman. Entah apa yang diinginkan wanita itu sehingga bersikap seperti itu. Padahal dia tau kalau Ardian adalah laki-laki beristri.


Sejak kejadian Ardian berhasil mengompori Anita dengan panggilan video dengan istrinya. Sikap wanita itu malahan semakin berani.


Pagi itu saat baru sampai Kantor, Ardian tiba-tiba mendapat kejutan sebuah bunga berpita di atas meja kerjanya. Ia mengerutkan alisnya sambil membolak-balikkan bunga mawar putih itu. "Apa-apaan ini..?! Huh, ada-ada saja." Ardian melempar bunga itu ke tempat sampah tanpa berniat mencari tau darimana bunga itu berasal. Merapikan meja kerjanya yang sedikit berantakan karena berkas yang ia letakkan sembarangan.


Ketukan di pintunya membuatnya terpaksa bangkit. Masuk..!" berucap dengan nada tegas.


Seorang Cleaning Servis masuk dengan menenteng alat pel. "Selamat pagi, Pak. Maaf saya terlambat membersihkan ruangannya."


"Kenapa tidak dari tadi, Pak. Saya tidak bisa mulai kerja dong kalau mau dipel sekarang."


"Tadi pintunya di kunci, Pak. Saya sudah mencari kuncinya kemana-mana tapi tidak saya temukan."


"Loh, terus pas saya datang tadi pintunya tidak terkunci, Pak."


"Kalau itu saya juga tidak tau, Pak."


Ardian termenung. Pantesan meja kerjanya masih berantakan pas dia datang tadi. Dia menghirup udara lama. Ternyata udara dalam ruangan juga tidak segar. Ia akhirnya menghela nafas berat. "Iya sudah, Pak. Tidak usah dipel. Di sapu saja biar saya bisa cepat mulai kerja."


"Apa tidak apa-apa, Pak."


Ardian tersenyum. "Tidak apa-apa, ruangannya juga tidak bau kok." Ardian keluar dari ruangannya, tetapi dia teringat sesuatu saat baru sampai di depan pintu. "Oh iya, Pak. Uang Bapak yang dipakai untuk membelikan saya makan siang satu minggu yang lalu sudah diganti kan sama Bu Anita?"


"Mmm..." Cleaning Servis itu tersenyum meringis. "B.. belum, Pak."


"Hah.. kok belum?" Ardian terbelalak. Padahal dia langsung menyuruh Anita untuk mengganti uangnya, sebagai bentuk pertanggung jawaban atas pelanggaran yang dia lakukan.


"Tidak apa-apa, Pak. Saya sudah ikhlas. Bapak juga kan sering memberi saya bonus sebelumnya kalau saya membelikan Bapak."


"Tapi tetap saja, itu kan hasil keringat kamu." Ardian menghela nafas berat. "Iya sudah, nanti siang saya ganti uangnya. Kamu ke ruangan saya nanti siang ya. Kalau Bu Anita mencegah kamu, bilang saja kalau saya yang meminta."


"Baik, Pak."


Ardian berlalu, duduk di sofa depan ruangannya. Saat melihat Anita berjalan mendekat, ia melengos kesal. Ada firasat kalau pasti wanita itu yang mengunci ruangannya sehingga tidak bisa dibersihkan.


"Selamat pagi, Pak."


"Pagi.." jawab Ardian singkat.


"Kenapa duduk di luar, Pak?"


"Ada orang yang kurang kerjaan mengunci pintu ruangan saya sehingga OB tidak bisa membersihkannya dari tadi."


"Oh," hanya itu jawaban Anita.

__ADS_1


"Ada apa?"


"Mm.. ada rapat dengan Pak GM jam sepuluh pagi, Pak."


"Oh, kenapa dimajukan?"


"Karena besok Pak Randi harus ke luar kota bersama Bapak dan juga Pak Dodit."


Ardian manggut-manggut. "Kamu persiapkan saja keperluannya sekarang."


"Baik, Pak." Anita berlalu. Ardian melirik wanita itu. Kalau saja wanita itu bisa selalu bersikap profesional seperti ini dalam setiap kesempatan. Pasti dia akan sangat senang dan tidak risih kalau berdampingan dengannya. Tapi, sikapnya selalu saja berubah kalau jam istirahat sudah tiba. Wanita yang tiba-tiba menjadi wanita sok perhatian. Bersikap seperti seorang kekasih yang akan melayani kekasihnya.


Saat makan siang tiba, Cleaning Servis laki-laki itu datang ke ruangan Ardian sesuai dengan perintah Ardian tadi pagi.


Anita yang berada di depan ruangan Ardian langsung mencegah pria itu untuk masuk. "Ada apa, belum waktunya pembersihan, kan?"


"Maaf, Bu. Pak Ardian yang meminta saya untuk ke ruangannya."


"Kapan?" Anita menatap cleaning Servis itu dengan sewot.


"Barusan dia menghubungi saya, Bu."


"Pak Ardian sedang istirahat,"


Tepat saat itu, Ardian keluar dari ruangannya. "Ternyata kamu sudah disini. Aku niatnya mau menyuruh Bu Anita memanggil kamu."


"Saya mau mengganti uang yang dia pakai untuk membelikan saya makan siang satu minggu yang lalu. Saya sudah meminta kamu untuk menggantinya, tetapi ternyata kamu tidak menggantinya."


"Eh, itu.. mm... saya lupa, Pak."


"Alasan saja kamu. Lain kali makanya jangan sok peduli kalau kamu takut kehilangan uang untuk harga satu porsi makan siang." Ardian tersenyum sinis seraya masuk kembali ke dalam ruangannya.


*********


Pagi itu, Ardian akan bersiap ke luar kota. Perlengkapannya sudah disiapkan sang istri sejak semalam.


"Asisten kamu tidak ikut kan, Mas?" Chayra bertanya sambil memeriksa kembali koper suaminya. Takutnya ada barang yang ketinggalan.


"Tidak, Sayang. Yang ikut cuma Asisten Pak GM. Aku cuma sekretaris Direksi, Sayang. Tidak membutuhkan Asisten nanti di sana."


"Siapa tau aja dia ikut tapi kamunya yang tidak jujur."


"Mmm... sejak kapan aku bisa berbohong sama kamu."


"Siapa tau aja mau belajar."

__ADS_1


"Kayak aku nggak ada kerjaan aja." Ardian berlalu dari hadapan istrinya saat melihat putranya bangun dan duduk menatap kedua orang tuanya. "Hay, Boy.."


Adzra tersenyum merentangkan tangannya.


"Biasakan ucap salam saat menyapanya, Mas." Teguran dari sang istri membuat Ardian cengengesan. "Otak Adzra masih polos dan cepat menangkap karena dia masih kecil. Biar terbiasa mendengar ucapan salam."


"Maaf, Sayang." Ardian meraih tubuh putranya. "Adzra nggak apa-apa kan, kalau ditinggal Papa keluar kota."


"Nggak apa-apa, Pa, asalkan temannya laki-laki semua. Kalau temannya ada yang perempuan, nanti tidak diizinin pulang sama Mama." Chayra yang menjawab dengan menirukan gaya anak kecil bicara.


Ardian langsung berbalik seraya menelan ludahnya. "Aku kan sudah bilang kalau aku cuma pergi bertiga, Sayang."


"Bercanda, Mas."


Ardian berjalan mendekati istrinya. Menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya. "Kamu semakin kesini semakin menggemaskan deh. Bawaannya pasti malas berangkat kalau udah mepet-mepet sama kamu kayak gini."


"Mmm... nggak boleh kayak gitu. Harus semangat cari uang demi masa depan. Katanya mau sukses dengan hasil keringat sendiri. Masa untuk keluar kota saja malas berangkat."


"Bukan begitu, Chay. Aku malas pergi karena malas berpisah dengan kalian. Kalau perginya dengan kalian, jangankan dua hari kayak gini. Satu tahun pun, aku sanggup."


"Sudah ah, siap-siap dulu sana. Nanti kalau Bosnya nelpon kamunya sudah siap."


"Berangkatnya nanti jam sepuluh, Sayang. Apa nggak ada jatah untuk cadangan untuk dua hari ke depan?"


"Jatah apaan, Mas?" Chayra menahan senyum pura-pura tidak mengerti dengan ucapan suaminya.


"Tunggu sebentar, aku mau menitip Adzra di Bi Idah."


"Eh, ngapain di titip, Mas. Bi Idah masih sibuk beres-beres."


"Beres-beresnya bisa di tunda. Yang ini tidak bisa ditunda karena bisa naik ke otak. Kalau sudah naik, maka akan mengganggu konsentrasi kerja nantinya. Dan itu akan berakibat buruk pada hasil pekerjaanku." Ardian keluar dari kamar membawa putranya. Chayra hanya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Suaminya ini kalau sudah berkeinginan maka tidak bisa di tolak.


Sekitar satu jam acara penurunan cairan dilakukan. Akhirnya tersenyum puas melihat istrinya terkapar lemah di sampingnya. "Terimakasih untuk bekalnya, Sayang."


Chayra mengangguk. "Nanti kalau kamu pingin disana kamu harus bisa menahannya, Mas. Dijaga jangan sampai naik ke otak ya.."


"Hehehe..." Ardian cengengesan. "Yang tadi itu aku cuma bercanda, Sayang. Aku hanya ingin saat melihat kamu saja. Aku tidak tertarik dengan wanita lain walaupun wanitanya seksi. Kalau aku melihat wanita seksi, aku cukup mengingat kamu saat memakai lingerie di depanku."


"Mmm... dasar.. otaknya mesum terus. Kalau di luar, pikiran yang seperti ini harus dijaga." Chayra memeluk kepala suaminya.


"Aku kan sudah bilang, aku seperti ini hanya di hadapan kamu. Aku selalu menjaga image kalau di luar."


"Mmm... sudah ah, Mas. Bangun mandi sana. Ini sudah jam delapan. Kamu kan belum sarapan juga."


"Iya... dua menit lagi. Peluk kamu menghangatkan tubuh."

__ADS_1


"Hhmmm namanya juga tubuh bertemu tubuh. Sudah ah, kelamaan.." Chayra menarik diri agar suaminya juga ikut bangun.


***********


__ADS_2