
Ardian mencium bagian jas yang ditunjuk istrinya. Lama dia terdiam mencoba memikirkan aroma parfum yang menempel di jas itu. Setelah tersadar, matanya membulat sempurna. "Ini bukan aroma parfum wanita, Chay. Ini... ini aroma parfumnya Dodit.
Giliran mata Chayra yang membulat. Ia berjalan mendekat, meraih jas suaminya lalu menciumnya. "Yang benar saja, Mas. Itu bau parfumnya kalem gitu kayak bau wanita."
"Ya Allah, ini beneran parfum Dodit, Chay. Tadi siang dia sempat hampir jatuh, lalu aku menahan tubuhnya. Jadilah bau parfumnya tertinggal di jas aku."
Chayra menatap suaminya tajam untuk mencari kebohongan di mata itu. Tetapi, Ardian malah menarik tubuh istrinya sampai jatuh di atas pangkuannya. "Kamu kira aku berbohong, hmmm...? Kalau kamu masih tidak percaya, besok aku akan menyuruh Dodit membawa parfumnya biar kamu bisa menciumnya."
"Nggak perlu, aku sudah percaya kok sama kamu." Chayra memeluk kepala suaminya. "Maafkan aku, Mas."
"Aku mengerti kenapa kamu bersikap seperti ini, Sayang."
Chayra melepaskan kepala suaminya lalu menangkup pipi Ardian. "Kenapa memangnya?"
Ardian tersenyum kecil. "Karena... karena kamu mencintaiku.." mencubit pelan hidung istrinya disambung dengan satu ciuman yang mendarat di bibir Chayra.
"Mm... jangan dilanjutkan, Mas." Chayra segera turun dari pangkuan suaminya. "Nanti malah berkelanjutan. Kamu belum shalat Isya, kan?"
"Aku akan pergi besok, Sayang." Ardian tidak menghiraukan ucapan istrinya, menahan tangan Chayra yang sudah siap berlalu.
"Berapa hari?" Chayra menatap suaminya.
"Aku nggak tau. Aku hanya di utus untuk ke kota A bersama Dodit. Besok adalah penentu dari usahaku dengan Dodit selama seminggu ini."
"Aku mau ikut, Mas."
"Eh, kamu belum mempersiapkan keperluan kamu selama disana kalau kamu ikut."
"Aku butuh refreshing, Mas. Pikiranku benar-benar suntuk akhir-akhir ini. Bawaannya pingin marah aja."
Ardian menatap istrinya dengan tatapan prihatin. "Mmm... bagaimana ya.."
Chayra sengaja duduk di samping suaminya. Dia sengaja menuntut suaminya untuk membawanya karena mau mengetes kejujuran Ardian masalah cuti yang sudah di ajukan suaminya itu.
"Aku mau meminta Dodit mengecek jadwal keberangkatan besok."
"Tidak usah sama kamu juga nggak apa-apa, Mas. Aku kan bisa nyusul belakangan."
"Nggak.. nggak.. kamu akan bersama Adzra juga. Aku nggak mau kamu kewalahan nantinya."
"Iya udah kalau nggak bisa kita tidur saja sekarang. Ngapain diperpanjang segala. Aku bisa pergi ke rumah Ibu untuk mengganti suasana." Chayra naik ke tempat tidur. Menarik selimut untuk menutup sebagian tubuhnya.
"Kamu marah, Sayang?" Ardian ikut naik ke tempat tidur.
__ADS_1
"Aku nggak marah, Mas. Masa gara-gara begituan aja aku harus marah."
"Maaf ya.. lain kali aku akan mengajak kamu."
"Mm..." Chayra menutup kepalanya dengan selimut. "Kamu mandi dulu, Mas."
"Iya, Sayang. Mau peluk kamu dulu sebentar."
"Nggak mau. Kamu mandi dulu sana. Badan bau keringat gini."
"Hehehe..." Ardian cengengesan seraya bangkit lalu beranjak ke kamar mandi.
Chayra menyingkap selimutnya setelah suaminya berlalu.
Chayra POV...
Aku menarik nafas panjang setelah Mas Ardian berlalu. Hmm, dasar tetap aja tidak mau jujur masalah cuti. Aku curiga Mas Ardian punya rencana lain sehingga tidak mengizinkan aku ikut ke kota A. Masalah tiket kan gampang di urus. Apalagi dia bilang akan mengambil penerbangan sore. Papi bilang kalau Mas Ardian sudah mengajukan cuti sejak dua hari yang lalu. Aku melirik ke kamar mandi. Apa yang sedang kamu rencanakan, Mas.
Aku bangkit untuk mengambilkan baju ganti untuknya. Aku masih pingin senyum-senyum sendiri melihat ekspresinya saat aku menuduhnya bau parfum wanita tadi. Bau parfum itu memang cukup lembut. Heran kenapa Pak Dodit suka parfum kalem gitu.
Setelah mengambilkan baju ganti, aku duduk di sisi tempat tidur menunggunya untuk keluar. Cukup lama tetapi dia belum juga keluar. "Mas... kenapa mandinya lama sekali? Ini tengah malam jangan terlalu lama berendam."
"Aku sakit perut, Chay. Kamu istirahat saja duluan."
"Mmm..." hanya itu jawaban Mas Ardian. Hmmm, mataku sulit terpejam karena aku kebanyakan tidur siang. Akhirnya aku memilih untuk menunggu saja sampai Mas Ardian keluar. Aku memilih untuk melihat-lihat isi handphonenya. Dia juga nggak pernah marah kok selama ini.
Bibirku menyungging senyum saat melihat fotoku di layar handphone itu. Saat aku buka, handphone sudah berada di menu pesan. Tidak ada yang mencurigakan. Isinya hanya chat dengan Pak Randi, Pak Dodit dan juga aku.
Author POV..
Ardian terkejut saat melihat istrinya sedang memegang handphonenya. "Loh, kamu belum tidur, Chay?"
"Eh," handphone di tangan Chayra terlepas begitu saja karena terkejut. "A.. aku belum ngantuk, Mas. Tadi siang kebanyakan tidur siang makanya matanya sekarang sulit terpejam." Chayra mengambil kembali handphone yang sudah jatuh ke lantai. "Maaf, handphonenya jatuh."
"Mmm.... kamu tidur, Sayang. Nggak baik begadang. Ini sudah jam dua belas."
"Iya, Mas."
Ardian mendekati istrinya setelah berganti pakaian. Mengendus-endus di leher istrinya membuat Chayra menggeliat karena geli. "Apa malam ini kita benar-benar akan libur, Sayang." Hembusan nafasnya menderu di leher istrinya.
"Mas.... geli ah, jangan bicara di dekat leher aku."
"Sengaja aku, biar kamu bersemangat." Tangan Ardian sudah bergerilya ke dalam baju istrinya.
__ADS_1
"Mas... ah.." Chayra akhirnya berbalik karena tidak kuat dengan tingkah suaminya. "Jangan ngomong kayak gini, aku geli."
"Aku kan sudah bilang aku sengaja biar kamu bangkit."
Chayra mendengus. "Dibilang juga kita libur malam ini."
"Kamu tega meliburkan aku, Sayang. Besok aku harus pergi dan entah berapa hari aku disana. Mas iya, kamu tidak akan memberi aku bekal biar tidak jajan sembarangan nanti di sana."
"Jaga mulut kamu, Mas. Masih ada niat untuk jajan sembarangan padahal setiap hari aku selalu memberikan bekal yang cukup?!" Chayra melotot menatap suaminya.
"Bercanda, Sayang. Astagfirullah... tampang kamu menyeramkan kayak gini kalau marah. Aku nggak akan seberani itu." Ardian menarik tubuh istrinya. Keadaan harus segera dikendalikan agar aman terkendali. "Chay..."
"Mmm..."
"Boleh ya..."
"Kamu beneran nggak bisa libur, Mas?" Chayra meronta dalam pelukan suaminya lalu mendongak menatap mata Ardian.
Ardian menggeleng lemah. "Aku selalu ingin melahap kamu jika kita sudah dalam posisi seperti ini."
Akhirnya Chayra tidak bisa menolak dan membiarkan apapun yang diinginkan sang suami.
**********
Sudah tiga hari Ardian di luar kota. Hanya sesekali dia menghubungi istrinya karena jadwal yang benar-benar padat. Pagi itu, Chayra memutuskan untuk ke rumah ibunya. Sekalian dia juga ingin ke rumah Zidane untuk menengok keponakannya
"Neng Ayra beneran mau ke rumah Ibu?" Bi Idah berulang kali bertanya karena tidak rela melihat kepergian Chayra. Kalau Chayra ke rumah ibunya, otomatis dia akan sendirian di rumah sebesar itu.
"Aku kangen sama Ibu, Bi. Lagian nanti sore juga aku akan pulang kok. Aku nggak tau Mas Ardian pulangnya kapan. Jadi nggak berani kalau nginep disana. Takutnya Mas Ardian tiba-tiba pulang."
"Bagaimana kalau Tuan tiba-tiba pulang pagi ini, tepi Neng Ayra malah tidak ada di rumah?"
Chayra terdiam menatap Bi Idah. Terkahir suaminya menghubungi kemarin sore, itupun hanya dengan mengirimkan pesan singkat. Akhirnya dia menghela nafas berat. "Iya... kalau dia pulang, aku akan pulang dari rumah Ibu. Bibi tinggal menghubungi aku kalau sudah ada suara mobilnya."
"Maksudnya, Neng?"
"Kalau ada suara mobil Mas Ardian di depan, Bibi telepon saja aku. Aku akan langsung meluncur pulang begitu Bibi menelepon ku."
"Oh, gitu ya Neng."
"Iya... Bi. Sekarang aku mau berangkat. Bibi jaga rumah baik-baik. Insya Allah nanti aku bawakan oleh-oleh pas balik ke sini."
Bi Idah hanya bisa mengangguk. Harapannya untuk menggagalkan rencana Chayra akhirnya bubar jalan. Dia harus sendirian di rumah besar itu sampai sore nanti. Bi Idah hanya tersenyum melepas kepergian majikannya. Entah kenapa, sebentar saja rumah itu tanpa Chayra rasanya sangat berbeda.
__ADS_1
**********