
Ardian masuk kembali ke dalam kamarnya setelah Bian pergi. Beberapa kali mencium kepala putranya dengan penuh sayang. Semalam anak itu tidak ada di rumah membuatnya rindu berat.
"Bian udah pergi, Mas?" Chayra menyingkap selimut yang menutup kepalanya.
"Udah, Sayang. Ayo kamu buruan bangun, aku mau berangkat cepat soalnya. Kamu mandi duluan. Biar Adzra aku yang jaga selama kamu mandi."
"Kenapa coba bilang gitu sama Bian tadi." Chayra bangkit seraya menarik nafas panjang.
"Aku bilang apa?"
"Kamu pakai bilang aku nggak pakai baju segala. Dia memang adikku, Mas. Tapi tetap saja kita harus menjaga omongan."
"Hehehe ... aku tadi cuma berniat menjahilinya saja. Kamu tau sendiri kan, Bian itu orangnya paling alergi ngomongin hal yang berbau mesum."
"Tapi aku nggak suka dengernya, Mas."
"Iya, Sayang. Insya Allah, aku tidak akan mengulanginya lagi. Maaf ya ..."
"Iya ... mau gimana lagi. Tidak dimaafkan juga, itu sudah terjadi dan tidak bisa diperbaiki." Chayra beringsut turun, menarik selimut tebal sampai dia bisa menggapai kain panjang yang tersampir di sandaran sofa.
"Mandinya nggak pakai lama, Sayang. Dodit sudah meneleponku ini." Ardian memperlihatkan handphonenya pada Chayra. Hal itu membuat Chayra mendelik kesal. "Belum aja aku masuk, Mas. Siapa sih yang mau sarapan batin tadi. Kamu kan? Aku sudah wanti-wanti tadi. Sengaja menggulung diri pakai sajadah. Eh, malah sengaja mengeluarkan kultum biar akunya nggak bisa menolak. Sekarang kalau kamu telat, jangan salahkan aku. Aku mau berendam tiga puluh menit." Ardian langsung melotot mendengar ucapan istrinya. Sedangkan Chayra langsung berlalu setelah menyelesaikan kalimatnya. Ia hanya melirik sinis ke arah suaminya.
"Sayang ... jangan kayak gitu dong. Nanti Dodit malah ngeledek aku kalau aku sampai telat." Ardian mendekati pintu kamar mandi yang sudah tertutup rapat.
"I don't care about that." Chayra menjawab sambil cekikikan.
"Chayra Azzahra, sayangku cintaku hidup dan matiku ... apa kamu tega membiarkan suamimu ini menjadi bahan olokan orang nanti."
Hening...
Chayra terkesiap mendengar ungkapan panjang suaminya. Dia akhirnya tidak menimpali lagi. Menyesuaikan suhu air yang akan dipakainya untuk mandi.
Sebenarnya Chayra tidak berniat untuk berendam dulu. Tetapi dia hanya ingin menjahili suaminya agar tidak banyak tingkah. Bukannya Ardian terdiam, pria itu malah semakin berisik dan memintanya untuk lebih cepat.
Adzra yang digendong papanya ikut berteriak memanggil mamanya.
*******
"Lu ini molor sampai jam berapa, kenapa baru datang?" Dodit langsung melayangkan protes begitu wajah Ardian nampak di depan pintu.
"Aku beneran kesiangan, Dit. Coba saja Bian nggak datang menggedor pintu kamar tadi, kayaknya aku masih tidur sampai sekarang."
__ADS_1
"Terus pas aku nelpon tadi kamu lagi ngapain?"
"Lagi membangunkan Chay. Kami gantian mandi karena Adzra sangat aktif. Kami nggak berani lepas kontrol pada anak itu."
"Bukannya semalam lu yang bilang kalau anak lu nginap di rumah neneknya?"
"Iya, tapi tadi Bian mengantarnya karena dia ada kegiatan organisasi di sekolahnya. Ibu pergi ke Toko. Kalau dibawa, takutnya Ibu tidak bisa konsentrasi bekerja."
Dodit hanya manggut-manggut mendengar cerita Ardian. "Mm ... ngomong-ngomong, Bu Ayra tidak curiga kenapa lu memilih berdiskusi disini?"
"Nggak sama sekali. Dia hanya bertanya kenapa tidak kamu saja yang ke rumah. Aku bilang aja terlalu banyak berkas yang harus kamu bawa. Takutnya ada yang ketinggalan dan itu akan menjadi kesalahan kamu."
Dodit tersenyum sinis. "Ternyata walaupun kamu takut sama istri, kamu pintar juga membuat alasan."
"Aku nggak takut sama istri, Dit. Aku hanya tidak mau membuatnya kecewa, apalagi itu karena kesalahanku."
"Iya.. iya.. terserah Bos besar saja."
Perhatian mereka teralihkan saat tiba-tiba pintu Apartemen Dodit terbuka. Tampaklah Tina dengan tampang malu-malu masuk ke dalam. "Assalamu'alaikum, Kak Dodit, Kak Ardian."
"Eh, gila kamu Tin. Sejak kapan kamu tau password pintu Apartemennya Dodit? Atau kamu memang sudah biasa keluar masuk Apartemen ini. Jangan-jangan, kamu sering main serong ya, sama si Dodit." Ardian memandang Tina dan Dodit secara bergantian.
"Sssttt ... nggak baik ngomong gitu, Dek. Sini, duduk sama kami."
Mulut Tina komat-kamit entah ngomong apa. Tetapi ia berjalan mendekat. Memilih duduk di sofa singel di hadapan dua pria itu.
"Tina tumben masuk ke Apartemen ini, Ar. Barusan aku mengirimkan password, agar dia tidak capek-capek untuk menghubungiku hanya untuk menanyakan password. Bagaimanapun juga, insya Allah, dia akan menjadi bagian dari hidupku." Dodit berkata sambil tersenyum ke arah Tina."
"Hmm..." Ardian menyimak dengan serius. "Terus pesta pertunangannya kapan? Aku kan sudah menjelaskan sebelumnya sama kamu, Dit."
"Nggak usah saling lirik kayak gitu, Kak. Kak Dodit sudah ceritakan semuanya." Tina mendengus kesal.
"Oh, kamu sudah tau, Tin. Aku kira Dodit masih merahasiakannya."
"Kak Dodit tidak ada main rahasia-rahasiaan sama aku sekarang. Kita sudah berjanji akan saling terbuka dalam keadaan apapun."
"Awal yang baik. Semoga Allah meluruskan jalan kalian menuju hari H."
"Aamiin... terimakasih do'anya Pak Ardian yang terhormat."
"Sama-sama, Bu."
__ADS_1
Dodit mendengus. "Kalian ini kenapa sih? Kayak orang yang kurang kerjaan aja. Sudah, sekarang kita mulai berdiakusi. Ini rencana kamu, Ar. Kamu harus bisa menentukan tempatnya hari ini. Kalau kamu menunda, aku jamin kamu tidak akan bisa menyelesaikan rencana itu. Satu minggu ke depan jadwal kita benar-benar padat. Diantaranya, hari Rabu sampai Jum'at kita ada kunjungan ke Tiongkok. Mereka menolak untuk datang lagi gara-gara kemarin kita membatalkan pertemuan secara sepihak. Jadi, sekarang kita yang harus mengalah mengunjungi mereka. Mau mundur tapi kita sudah setengah jalan." Dodit menjelaskan agenda mereka yang padat satu minggu ke depan.
Akhirnya mereka mulai mendiskusikan rencana Ardian. Entah rencana apa yang mereka bahas.
Menjelang siang...
Handphone Ardian berbunyi nyaring. Ia langsung menjawab panggilan yang berasal dari Ibu mertuanya itu. Sekitar lima menit bicara, Ardian akhirnya kembali ke hadapan Dodit dan Tina.
"Dit, aku mau pulang sekarang. Kita susah deal kan, dengan kesepakatan tadi?"
Dodit mengangguk mantap. "Ya udah, apa ada masalah di rumah?"
"Tidak ada. Cuman, Ibu Mertua katanya ingin bertemu aku. Maklum menantu kesayangan karena satu-satunya." Ardian melirik Tina yang masih sibuk menatap ceceran kertas di atas meja. "Kamu mau ikut pulang nggak, Tin."
Tina mendongak. "Aku cuma mau ikut keluar saja. Aku nggak mau nebeng karena aku bawa mobil sendiri."
"Nggak masalah. Aku sengaja bertanya, takutnya kamu ada niat untuk diam di Apartemen Dodit. Kalian belum halal, belum boleh berduaan."
"Huh, kayak orang yang nggak pernah jahat aja. Tuh, deretan korban lho meminta pertanggung jawaban dari lho." Tina mendengus seraya bangkit.
Ardian dan Dodit tidak bisa berkata-kata. Tina mendekati Dodit, meraih tangan pria itu lalu menciumnya. "Aku pamit, Kak. Nanti sore Kak Dodit call me kalau jadi keluar."
"It's ok, Honey. Take care on the way." Dodit mengusap-usap kepala Tina yang tertutup hijab.
Tina mengangguk seraya tersenyum manis. "Assalamu'alaikum.."
Selepas kepergian Tina, Ardian menghempaskan tubuhnya kembali di atas sofa. Dodit menautkan alisnya melihat tingkah Ardian. "Kenapa lu duduk lagi? Nggak jadi pulang lu.." Dodit ikut duduk. "Katanya ditunggu mertua.."
Ardian mengusap wajahnya dengan kasar seraya menarik nafas panjang. "Menjadi mantan berandal seperti aku ini ternyata tidak boleh menasehati orang, Dit."
Dodit menatap Ardian heran. "Maksudnya?"
"Seperti yang calon istri lho katakan tadi. Saat kita mencoba memperingati seseorang, maka mereka akan memberikan sekak mati pada kita. Jadinya kita tidak bisa membantah ucapan mereka."
"Oh, astaga.." Dodit menutup wajahnya setelah paham maksud ucapan Ardian. "Lu tersinggung karena ucapan Tian tadi?"
"Tidak sih sebenarnya. Aku hanya nggak bisa berkata-kata saat dia berkata begitu tadi."
Dodit menepuk-nepuk pundak Ardian untuk menguatkan.
**********
__ADS_1