Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Hadiah dari Kakek


__ADS_3

Semua tersenyum lega setelah mendengar kata maaf dari Amira. Setelah acara haru biru itu selesai, satu persatu orang pamit mengundurkan diri. Pak Akmal pun mengajak Chayra dan Ardian untuk meninggalkan rumah itu. Tidak lupa Pak Akmal berpesan pada pengurus rumah untuk membersihkan sisa-sisa persidangan hari itu.


"Kalian ikut Kakek, tidak usah pulang pakai mobil Ibu kamu." Perintah yang tidak boleh dibantah oleh Chayra.


Chayra menatap suaminya sebelum menjawab perintah sang Kakek. Melihat anggukan kepala Ardian, Chayra akhirnya melangkah masuk ke dalam mobil. Duduk berdampingan bersama suaminya di dalam mobil Pak Akmal.


"Kita periksa kondisi rumah kalian sebentar, apakah besok sudah bisa di tempati atau belum."


Ardian dan Chayra saling pandang, antara percaya dan tidak mendengar ucapan Kakek mereka.


"Kan ini baru beberapa hari, Kek. Kata Kakek kemarin rumah itu membutuhkan waktu kurang lebih satu bulan untuk direnovasi."


"Kakek sudah membayar mahal orang-orang yang bekerja di sana. Rumah itu dikerjakan dua puluh empat jam tanpa jeda. Masa sudah satu Minggu belum jadi juga?"


Ardian mengeratkan genggaman tangannya pada tangan istrinya agar tidak menimpali ucapan Pak Akmal.


Kalau Amira meminta alamat rumah kamu, jangan sekali-kali kamu memberinya." Ucap Pak Akmal lagi.


"Tapi kenapa, Kek?"


"Kita tidak tau, apa dia tulus minta maaf atau hanya sebuah formalitas saja. Intinya jangan berikan alamat rumah kalian ataupun nomor handphone kalian. Anak buah Kakek masih terus mengikutinya. Mudah-mudahan saja Nak Husein berhasil membawanya pergi dari tempat ini. Kakek benar-benar pusing dibuatnya."


Ardian dan Chayra hanya bisa saling pandang mendengar titah sang Kakek. Tapi, ucapan Pak Akmal ada benarnya juga. Kata maaf dari Amira tadi belum terbukti kebenarannya.


"Ardian, jabatan apa yang diberikan Papi kamu di Perusahaan?"


Ardian tersentak mendengar pertanyaan Pak Akmal. Ada apa gerangan kenapa pertanyaan tiba-tiba dipindah ke masalah pekerjaan. "Saya menjadi Asisten pribadi Pak Randi, Pak. General Manager di Perusahaan."


Pak Akmal tersenyum sinis. "Pantesan Papi kamu tidak mau bercerita dan memintaku untuk menanyakannya sendiri pada kamu." Terdengar helaan nafas panjang dari Pak Akmal. "Iya.. tapi lumayanlah. Mengingat kamu tidak ada pengalaman kerja sama sekali. Beruntung Randi mau menerima kamu sebagai Asistennya."


"Saya menjadi Asisten sekalian mau belajar pada Pak Randi, Kek."


"Kalau kamu diizinkan berhenti, kamu ajukan saja. Kamu bekerja pada Kakek di perusahaan yang di pegang Zidane. Kakek akan jadikan kamu Manager keuangan di sana."


Untuk yang kesekian kalinya Chayra dan Ardian saling tatap karena bingung. Mereka saling menggeleng pelan karena tidak mengerti dengan maksud tujuan ucapan Pak Akmal.


"Kakek sedang membutuhkan orang yang handal di bidang akuntan. Kamu lulusan Akuntan Bisnis, kan. Kakek yakin kamu pasti bisa menjalankan tugas ini dengan baik. Kamu bisa izin dulu pada Papi kamu. Bilang kalau kamu mau mencari pengalaman kerja."


"Mm.. nanti Ardian pertimbangkan, Kek. Ardian akan menghubungi Kakek kalau Ardian sudah bisa memutuskan."


"Bagus, Kakek senang mendengar jawaban kamu. Berani mengambil keputusan sendiri itu lebih baik." Pak Akmal menarik nafas panjang. "Andaikan Almarhum Bapak kamu dulu mau menerima harta warisan dari Kakek, Kamu sudah pasti bekerja di Kantormu sendiri sekarang, Nak." Pikiran Pak Akmal menerawang jauh mengingat Almarhum putranya yang sangat keras kepala.

__ADS_1


"Memangnya kenapa Bapak menolak harta warisan dari Kakek?" Chayra akhirnya penasaran mendengar penuturan Pak Akmal.


"Dia selalu bilang ingin hidup di atas kakinya sendiri. Rumah yang Kakek dan Nenek kalian tempati sekarang pun, seharusnya rumah itu menjadi milik Almarhum Ari. Tapi... iya... seperti yang Kakek bilang tadi." Pak Asal mengusap wajahnya kasar.


"Terus Toko besar di depan Rumah Sakit itu bukan harta warisan dari Kakek?" Ardian memajukan sedikit badannya untuk melihat lebih dekat.


"Bukan.. Toko itu adalah hasil keringat putraku. Dia benar-benar membuktikan ucapannya. Dulu, dia bekerja hampir delapan belas jam dalam sehari demi memenuhi impiannya. Dia sudah terlalu lelah mendengar cemoohan Nenek kalian."


Chayra hanya tersenyum meringis. Dia masih mengingat dengan baik bagaimana sang Nenek sangat tidak suka pada Ibunya. Bahkan dia masih mengingat saat dirinya melempar sang Nenek dengan pensil.


Mengingat masa lalu membuat mereka tidak sadar kalau sudah sampai di tempat tujuan. "Eh, bernostalgia kok membuat Kakek tidak sadar kalau sudah sampai di rumah kalian." Pak Akmal menyusut air mata yang meleleh di ujung matanya. "Ayo, turun.."


"Waaaah... Masya Allah, Kek. Rumahnya kenapa segede ini jadinya." Chayra menutup mulutnya melihat rumah barunya. Ardian hanya mengerjap-ngerjap. Sebenarnya dia juga kagum, tetapi kekagumannya masih bisa dia sembunyikan dengan ekspresi datarnya.


"Kakek berlebihan deh, padahal yang kemarin juga udah nyaman kok ditempati." Chayra menghambur memeluk Kakeknya.


"Kakek tidak mau melihat cucu Kakek menderita. Kamu harus bahagia, Sayang. Itulah mengapa Kakek sangat murka ketika ada orang yang menyakitimu." Pak Akmal mengusap-usap punggung Chayra. "Mudah-mudahan rumah ini nyaman sebagai tempat kalian berteduh." Menatap kagum pada rumah tiga lantai yang berdiri megah di depannya. Benar-benar puas dengan kinerja anak buahnya.


"Maaf, Tuan Besar. Saya tidak menyadari kedatangan Tuan." Seorang bertubuh kekar mendekati Pak Akmal dengan tergopoh-gopoh. Chayra mengernyit melihat orang itu. Orang itu adalah orang yang dia tanya pas rumahnya mulai di renovasi.


"Aku baru saja sampai. Santai saja, Ojan. Bagiamana, apa semuanya sudah selesai?"


Oh, ternyata namanya Pak Ojan to.. Ototnya menyeramkan.. mana berani aku dijaga sama dia. Yang ada malah terasa diintimidasi terus.. Batin Ardian sambil menatap pada Ojan.


"Tapi tembok pagarnya belum dicat semua ini, Ojan. Bagaimana cucu saya bisa segera menempatinya kalau kerjaan kalian belum kelar gini." Pak Akmal menatap tembok pagar yang masih belum tersentuh cat.


"Sedang dilakukan, Tuan. Tetapi, mereka mulai dari belakang rumah dulu."


"Berapa orang tukang catnya?"


"Tujuh orang, Tuan."


"Kalau mereka bisa selesai malam ini, saya akan memberikan mereka bonus karena bisa kerja tepat waktu. Seharusnya rumahnya sudah kelar sore ini. Tapi, ternyata kalian kekurangan waktu. Sudah berapa hari?"


"Sudah enam hari, Tuan."


"Oh, berarti waktunya masih satu hari."


"Iya, Tuan."


"Bagus, besok pagi kami akan datang lagi. Tapi ingat, besok pagi kami datang kesini untuk menempati rumah ini. Bukan lagi menengok pekerjaan kalian."

__ADS_1


"Baik, Tuan."


"Kalian masih mau disini?"


Ardian dan Chayra menoleh serentak. "Kami mau ikut pulang, Kek. Kami tidak akan bisa istirahat kalau kami diam disini."


"Ayo kita pulang kalau begitu."


*********


"Mas, bangun.. mau ke Masjid nggak?" Chayra menggoyang-goyangkan tubuh suaminya yang meringkuk di atas sajadah. Ini adalah hati ketiga mereka menempati rumah baru mereka. Chayra masih menyesuaikan diri dengan suasana baru. Tidak bisa tidur dengan pulas karena masih asing.


"Tadi tidurnya jam berapa sih, kenapa harus tidur di atas sajadah?" Chayra melihat suaminya sibuk di depan komputer semalam. Entah sampai jam berapa pria itu sibuk dengan pekerjaan.


Ardian menggeliat pelan. Ujung jarinya menyentuh lantai yang dingin. "Dingin banget, Sayang."


"Ini namanya ujian subuh. Bangun, jangan malas-malasan.." Chayra menarik sarung suaminya dan nampak lah Ardian yang hanya memakai celana boxer.


"Astagfirullah, malah kayak gini lagi." Chayra melengos mencubit betis suaminya seraya melempar sarung ke wajah Ardian.


"Sakit, Chay. Kamu kok sering banget nyiksa aku sekarang. Salah dikit pasti marahnya kemana-mana." Ardian menggosok-gosok kakinya.


"Bangun makanya.." Chayra masih menampakkan wajah kesal.


"Iya.. ini juga aku bangun, Sayang."


"Nggak usah ke Masjid lah, Mas. Kamu shalat di rumah aja."


"Lah, tadi kamu nyuruh aku ke Masjid, kok sekarang malah berubah pikiran?"


"Cepetan shalat, Mas.." Chayra meremas baju tidur yang dikenakannya.


"Kamu kenapa, Sayang.." Wajah cemas mulai terlihat.


"Makanya shalat subuh dulu nanti aku cerita." Chayra masih bersikeras.


"Aku nggak mungkin bisa shalat dengan tenang kalau kamu terlihat tegang kayak gini."


Chayra menarik nafas dalam lalu menghembuskannya dengan kasar. "Aku baik-baik saja. Kamu shalat sekarang gih.. Aku tunggu di sini." Chayra berjalan pelan mendekati sofa dan mendudukkan tubuhnya perlahan.


Ardian mengusap wajahnya dengan kasar. Berjalan cepat ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu.

__ADS_1


*********


__ADS_2