
Ardian menurunkan barang istrinya dari mobil. Sebenarnya barang-barang itu bukan sepenuhnya milik Chayra, tetapi kebanyakan milik Adzra. Karena Chayra mempersiapkan kebutuhan putranya sampai tiga hari ke depan.
Adzan Isya berkumandang begitu mereka turun dari mobil. Chayra langsung menatap suaminya dengan tatapan sendu.
"Sudah adzan Isya, Mas. Apa kamu mau langsung berangkat ke tempat pertemuan itu?"
"Tidak, Sayang. Pertemuannya nanti jam sembilan malam. Aku akan menemani kalian sementara aku berangkat. Aku akan berangkat nanti jam setengah sembilan." Ardian mengusap-usap kepala istrinya. "Ayo kita masuk dulu. Jangan sedih dong.. kalau kamu kayak gini, nanti aku nggak enak saat pergi. Besok pagi aku akan datang lagi kemari menengok kalian." Ardian menarik tangan istrinya
"I.. iya, Mas. Aku cuma merasa gimana gitu kalau kamu mau keluar kota lama kayak gini. Padahal orang-orang yang merantau ke luar negeri saja ditinggal pasangan mereka sampai bertahun-tahun lamanya. Aku akan ditinggal tiga hari saja, perasaan sudah tak karuan seperti ini." Chayra tersenyum getir. Bingung dengan hatinya
Ardian tersenyum seraya menarik tubuh Chayra ke dalam pelukannya. Tangannya kembali mengelus-elus kepala istrinya. "Harus dibiasakan mulai sekarang. Kedepannya aku akan semakin sering meninggalkan kalian. Semakin sibuk itu hal yang pasti. Tapi, aku akan tetap berusaha untuk menjadi suami yang baik."
"Semoga Allah memberkahi setiap jalan yang kita tempuh, Mas."
"Aamiin, Sayang." Ardian tersenyum seraya melepaskan pelukannya. "Kita masuk ya.. nanti dikira malah ada apa-apa kita terlalu lama di luar."
Chayra mengangguk mengikuti langkah suaminya dari belakang. Adzra terbangun ketika Ardian mendorong pintu rumah mertuanya. "Loh, kenapa bangun, Sayang. Adzra bobo lagi ya.."
Adzra hanya menatap ibunya dengan tatapan layu. Sepertinya dia masih mengantuk. Benar saja, Saat Chayra membacakan shalawat, anak itu kembali memejamkan mata.
Chayra dan Ardian langsung ke ruang keluarga. "Assalamu'alaikum, Bu.."
"Wa'alaikumsalam.. kalian sudah sampai ternyata." Bu Santi langsung bangkit menyambut kedatangan anak menantunya. "Mm.. Ardian, Ibu mau bicara sebentar sama kamu. Kamu masih ada waktu kan?"
Ardian mengangguk. "Masih, Bu. Aku akan berangkat nanti setengah sembilan."
"Ikut Ibu sebentar kalau begitu." Bu Santi berlalu ke ruang kerjanya diikuti Ardian di belakangnya.
Bu Santi menatap Ardian begitu mereka duduk. "Kenapa kamu mengantar istrimu kemari, Nak? Apa kalian ada masalah dengan Bu Renata?"
Ardian terkesiap mendengar pertanyaan mertuanya. "K.. kenapa Ibu bertanya begitu? Kami baik-baik saja kok, Bu. Tapi, Chay ingin nginap disini karena kami memang sangat jarang kemari sekarang. Terlalu banyak pekerjaan yang menyita waktu."
"Tapi kamu akan keluar kota. Jika kamu membawa istri kamu kemari, otomatis Bu Renata akan sendirian di rumah kalian."
Ardian terdiam beberapa saat. Ia beberapa kali melirik ke arah Bu Santi. Kepalanya sedang berpikir keras untuk mencari alasan yang akan membuat mertuanya itu percaya.
"Kenapa diam, Nak?"
"Mm.. Mami jarang di rumah, Bu. Dia kebanyakan nginap di rumah teman-temannya. Sekarang aja dia sedang di rumah temannya. Bi Idah juga sedang pulang karena anaknya sakit."
__ADS_1
Bu Santi menautkan alisnya mendengar alasan yang diutarakan menantunya. "Alasannya masih kurang masuk menurut Ibu. Tidak mungkin Bu Renata akan menginap di rumah temannya sampai berhari-hari. Yang namanya nginap palingan hanya semalam, Nak. Ibu yakin ada masalah lain yang membuat kamu sampai membawa Ayra kemari." Bu Santi menatap Ardian dengan tajam karena masih tidak percaya dengan alasan menantunya. Sebenarnya dia bisa menanyakan hal ini secara baik-baik pada Chayra. Tetapi, dia ingin mendengar alasan yang akan diucapkan Ardian terlebih dahulu.
"Aku... aku.. yang tidak enak, Bu." Ardian membuang nafas kasar.
Bu Santi tersenyum menatap Ardian. Menantunya itu sangat cepat dipancing untuk bicara jujur. "Tidak enak kenapa, Nak? Apa istri kamu tidak akur dengan Ibu kamu?"
Ardian langsung menggeleng. "B.. bukan seperti itu, Bu. Tapi... Chay malahan terlalu baik pada Mami, sampai-sampai dia selalu menuruti keinginan Mami."
"Contohnya?"
Ardian menatap Bu Santi sesaat lalu kembali menunduk. "Mami.. Mami sering minta uang pada Chay, Bu. Aku nggak enak jadinya sama Chay."
"Menurut Ibu itu hal yang wajar, Nak. Seandainya Ibu kamu punya uang, dia tidak mungkin minta uang sama kalian."
"Tapi..."
"Sudah, Nak. Lain kali kamu jangan kayak gini lagi. Ibu tidak suka kalian seperti ini pada orang tua. Sekarang kamu shalat dulu sana. Jangan sampai kalian tidak mendapatkan keberkahan karena perhitungan sama orang tua."
"Astagfirullahal'adzim..."
"Sebelum kamu berangkat keluar kota besok, jangan lupa minta maaf pada Mami kamu."
Ardian berlalu keluar untuk menemui istrinya.
Chayra yang sedang menyusui putranya terkejut saat pintu kamar tiba-tiba terbuka. "Lama sekali, Mas.. membicarakan apa dengan Ibu?"
Ardian menghela nafas berat seraya duduk di samping istrinya. "Masalah ini, Sayang. Ibu menanyakan sebab kenapa aku membawa kamu kemari."
"Terus kamu bilang apa, Mas?"
"Awalnya aku membuat alasan, aku bilang kamu nginap disini karena kamu memang jarang kemari. Kamu juga kan sendirian di rumah. Tapi, Ibu malah menanyakan keberadaan Mami."
"Kamu membawa aku kemari memang karena aku jarang kemari kan, Mas? Aku juga sudah izin sama Mami tadi sore saat kamu belum pulang dari Kantor."
"Maafkan aku, Sayang."
"Maaf untuk apa, Mas?"
"Aku membawa kamu kemari karena aku ingin menjauhkan kamu dengan Mami selama aku tidak ada di rumah. Aku tidak mau kamu diperas terus sama Mami."
__ADS_1
"Astagfirullahal'adzim.." Chayra mengusap wajahnya dengan kasar. "Kok kamu bisa berpikir seperti itu, Mas. Aku memberi Mami uang karena itu memang sudah menjadi kewajiban kamu menafkahi orang tua. Saat Papi masih hidup dulu, apa pernah Mami minta uang sama kamu? Tidak pernah kan, Mas. Lagian uang yang aku berikan itu adalah uang yang diberikan kamu ke aku." Chayra memejamkan matanya.
"Maafkan aku, Sayang."
"Apa kamu tidak tau, Mas. Rizki yang kamu peroleh akan lebih berkah jika kamu benar-benar ikhlas menafkahi orang tua kamu."
"Iya.. iya.. Sayang. Ibu juga mengatakan itu padaku tadi. Maafkan aku. Besok aku akaninta maaf pada Mami."
"Memang itu yang harus kamu lakukan, Mas."
"Iya..." Ardian menunduk dihadapan istrinya yang masih memberikan ASI untuk Adzra.
Ardian POV...
Aku benar-benar merasa terpojok karena semua orang menyalahkanku. Ini baru bertemu dengan Ibu dan Chay. Bagaimana kalau si cerewet Bian juga hadir. Ya Allah.. aku ngaku kalau aku salah. Tapi, Aku hanya tidak mau Chay terus-terusan menjadi korban keserakahan Mami. Aku kan memberikan uang juga sama Mami pas aku gajian. Aku bukanlah anak yang tidak tau di untung sehingga mengabaikan orang tua. Aku juga sudah memberikan tempat tinggal yang layak untuk Mami, membayar semua hutang-hutangnya dan selalu memenuhi kebutuhannya.
Tapi, aku hanya tidak suka Mami terlalu sering minta uang pada istriku. Memang, uang yang aku berikan ke Mami tidak sebanyak yang aku berikan pada Chay. Tapi, Mami kan tidak memikirkan beban rumah tangga seperti Chay. Uang itu hanya dipakainya untuk bersenang-senang saja.
Hmmm.... untuk saat ini aku tidak mau berdebat. Wanita kalau sedang marah lebih baik tidak usah ikut meradang. Aku lebih baik diam dan minta maaf berulang kali.
Aku melirik ke arah Chay, ternyata dia masih menunduk. Aku harus cepat-cepat minta maaf lagi. Istriku ini memang sangat sensitif dengan masalah seperti ini. Kalau masalah ini tidak aku selesaikan sekarang, bisa-bisa aku berangkat ke luar kota tanpa bertegur sapa dengannya.
"Chay..." aku mencoba memanggilnya. Mudah-mudahan dia mau menimpali. Hmm... lama aku menunggu, hanya helaan nafas berat yang aku dengar berulang kali.
"Sayang.. maafkan aku. Aku janji aku akan langsung minta maaf sama Mami besok pagi."
"Terserah kamu, Mas."
"Tapi kamu jangan seperti ini, Sayang. Aku akan berangkat sebentar lagi. Kalau kamu masih kayak gini, aku tidak akan bisa konsentrasi nanti."
Chay kembali menghela nafas berat. Tapi, beruntungnya aku dia menatapku kali ini. "Kalau tau seperti ini, nyesel aku mau diajak kemari, Mas."
"Mami juga kan pergi tadi, Sayang. Dia katanya mau nginap selama kamu disini."
"Mami pergi karena dia tidak ada teman di rumah, Mas. Coba kamu tidak membawaku kemari, Mami pasti diam di rumah."
Hadeh... aku mengacak-acak rambutku. Api amarah belum berhasil dipadamkan.
**********
__ADS_1