Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Perdebatan


__ADS_3

"Lama amat pertemuannya. Capek tau nggak." Ardian bersungut-sungut saat Chayra masuk ke dalam mobil. "Belum lagi teman lho yang gendut sok kecantikan itu malah bilang gue kayak gitu."


Chayra menatap pria itu heran. Namun, tiba-tiba senyumnya mengembang.


Giliran Ardian yang menatap Chayra dengan heran. "Kenapa lho senyum-senyum kayak gitu? Seneng ya, dengar teman lho itu bilang gue jelek. Seneng kalau dia bilang, gue dan kekasih lho itu bagaikan bumi dan langit. Lho harus ingat satu hal. Kita menikah bukan karena keinginan gue. Lho sendiri yang mau menikah sama gue." Melongos seraya mengalihkan pandangannya.


Chayra hanya diam menahan senyum. Malas kalau harus menanggapi ucapan Ardian.


"Kenapa lho diam?"


"Menanggapi ucapan orang yang sedang marah hanya akan menambah masalah. Lebih baik diam, biar tidak menambah beban." Chayra mengutak-atik handphonenya.


"Lho kalau ngomong tatap lawan bicara." Ardian menatap lurus ke depan. Menghidupkan mobilnya dan menjalankannya dengan pelan.


Chayra melirik Ardian. "Anda menasehati saya supaya saya melihat lawan bicara saya. Sedangkan anda sendiri tidak bisa mengamalkan ucapan anda. Anda sedang bicara sama saya, tetapi anda tidak menatap saya." Masih sibuk dengan handphonenya.


"Males deh ngomong sama lho." Ardian memutar bola matanya kesal.


Mereka akhirnya diam dengan kesibukan masing-masing. Chayra dengan handphonenya dan Ardian fokus menyetir.


Setengah perjalan, Ardian teringat kalau dirinya belum minta maaf pada Chayra. Mulai berpikir, mau minta maaf atau tidak. Tapi, dia kembali mempertimbangkan, kalau tidak minta maaf maka dia harus berurusan dengan papinya.


"Mm.. gue mau minta maaf." Akhirnya kata itu keluar juga.


Chayra tidak menghiraukan ucapan Ardian. Dia malah sibuk melakukan panggilan suara dengan temannya. "Assalamualaikum.."


"Oh, astagfirullah, aku juga nggak kepikiran kesana tadi. 'Afwan.. besok deh kita bahas lagi... Iya... iya... assalamualaikum.."


Chayra tersenyum menatap layar handphonenya. Menggeleng-geleng pelan karena sesuatu yang harus dia jelaskan pada kedua temannya tadi jadi terlewatkan.


Ardian mengalihkan pandangannya kesal. Dia benar-benar meras diabaikan oleh wanita disampingnya.


Chayra terdiam sejenak. "Mm.. maaf, anda bilang apa tadi? Saya lupa karena ada telepon masuk."

__ADS_1


"Udah lewat. Awas saja kalau lho salah bilang sama Papi atau Mami nanti. Gue akan buat perhitungan sama lho." Mengeratkan giginya menahan kesal. Ingin rasanya ia membukakan pintu mobil itu dan mengusir Chayra, agar dia bisa melampiaskan kekesalannya. Namun, dia harus berpikir dua kali untuk melakukan itu.


"Mm.. saya turun disini saja. Kalau anda mau duluan, silahkan. Saya mau melaksanakan shalat Zuhur dulu. Mm.. apa anda juga mau shalat disini?"


Ardian melirik Chayra sekilas. "Gue nggak setaat itu untuk melaksanakan shalat."


"Allah tidak menyuruh kita shalat saat kita menjadi taat. Shalat itu hukumnya wajib. Harus dikerjakan baik terpaksa atau ikhlas. Kalau biasa dikerjakan, maka kita akan terbiasa."


"Lho pergi aja. Gue belum siap untuk hal itu."


Chayra akhirnya hanya bisa menarik nafas panjang. "Terserah anda kalau begitu. Yang oeny saya sudah mengajak dan memperingatkan anda."


"Terus lho pulang pakai apa nanti kalau gue tinggal?" Tanya Ardian dengan ekspresi datar. Jika tidak memikirkan akibat di belakangnya, Ardian akan langsung meninggalkan gadis itu.


"Kendaraan umum masih banyak. Saya biasa naik angkot atau taksi. Bahkan naik ojol juga bisa."


Ardian yang sedang meneguk air mineral langsung tersedak. "Uhuk.. uhuk... uhuk.." menarik tisu untuk mengelap mulutnya. "Hah..! jangan ngawur kalau ngomong. Apa kata dunia menantu Sucipto Bagaskara naik angkot. Makanya kalau bergaul itu dengan orang berkelas, biar lho nggak norak saat jadi menantu orang kaya seperti sekarang."


"Saya bersyukur dengan kehidupan saya. Saya bersyukur hidup di tengah keluarga yang mengenal baik agamanya. Dan saya lebih bersyukur lagi, kakek saya Akmal Firda adalah atasan Papi anda pada masanya. Tapi, alhamdulilah banget, kakek saya selalu mengajarkan kesederhanaan pada anak cucunya. Jadi, walaupun kakek saya orang kaya, beliau bergaul dengan siapapun tanpa memandang siapa, anak siapa dan dari keturunan mana."


"Saya permisi, assalamualaikum.." Chayra turun tanpa menunggu persetujuan Ardian. Hatinya tergelitik mendengar ucapan Ardian tadi. Apa naik angkot menjadi aib bagi orang kaya?


"Huh.." Chayra menghembuskan nafasnya dengan kasar. Beristighfar beberapa kali untuk menenangkan pikirannya.


Usai mendirikan shalat, Chayra keluar dari Masjid. Celingukan di pinggir jalan untuk mencari taksi. Namun, tatapan matanya terhenti pada sebuah mobil putih yang terparkir tak jauh dari tempatnya berdiri. "Kenapa orang itu masih disini. Padahal aku sudah memintanya untuk pulang." Bergumam sendiri sambil berjalan mendekati mobil.


Chayra mengetuk-ngetuk kaca mobil. Menempelkan wajahnya untuk melihat apakah sang pengendara ada di dalam atau tidak.


"Masuk! kita pulang sekarang." Kata itu menyambut Chayra ketika Ardian menurunkan kaca mobil.


"Saya sudah meminta anda untuk pulang. Kenapa anda menu..."


"Diam..!"

__ADS_1


Chayra tidak jadi menyelesaikan kalimatnya saat Ardian membentaknya dan memintanya untuk diam.


"Terimakasih.." ucapnya lirih. Mengalihkan pandangannya keluar jendela.


*********


Pagi itu, Renata kembali memaksa putranya untuk mengantar Chayra. Namun, kedua belah pihak menolak. Ardian beralasan untuk pergi ke Kampusnya karena ada Reunian. Sedangkan Chayra beralasan akan pergi lama dan kasihan pada Ardian kalau harus gagal ikut reunian hanya karena harus mengantarnya seperti kemarin.


"Apa kamu tidak apa-apa Nak, kalau pergi sendiri?" Renata susah berapa kali mengulang pertanyaan itu.


"Insya Allah, Ayra baik-baik saja, Mi. Mm.. sebenarnya Ayra juga mau minta izin sama Mami."


"Izin untuk apa?"


"Ayra ingin ke rumah Ibu dan menginap disana, satu malam saja."


Renata sedikit terkejut mendengar permintaan menantunya. "Kenapa mau kesana?"


"Ayra cuma rindu sama Ibu."


"Apa kamu bertengkar lagi dengan Ardian?"


"Jangan tanyakan hal itu, Mi. Kami bahkan selalu bertengkar. Bukan setiap hari lagi, tetapi setiap waktu. Jika kami duduk bersama, pasti ada saja hal yang akan membuat kami berdebat."


Renata menatap menantunya iba. "Apakah kamu akan mengadukan kelakuan putra Mami pada ibumu?"


Chayra tersenyum lembut. "Ayra tidak akan melakukan itu, Mi. Seorang istri itu menjadi pakaian untuk suaminya dan sebaliknya. Jika Ayra mengadukan perbuatan Kak Ardian pada Ibu. Sama saja Ayra menelanjangi suami Ayra di depan Ibu." Mendekati mertuanya seraya menepuk pundaknya dengan pelan. "Mami percaya sama Ayra. Insya Allah itu semua tidak akan terjadi."


"Lalu.. kamu akan bilang apa kalau ibumu menanyakan keadaan kamu?"


Chayra kembali tersenyum. "Kenapa Mami mengkhawatirkan hal itu. Saya akan bilang, keadaan saya baik-baik saja. Ardian Baskara sudah berubah menjadi pria yang lebih baik. Berbohong demi kebaikan itu boleh kan, Mi?"


"Terimakasih, Sayang. Kamu benar-benar menantu idaman. Mami bangga punya menantu sebaik kamu." Renata memeluk Chayra hangat.

__ADS_1


*******


__ADS_2