Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Tausiah untuk orang yang kurang kerjaan


__ADS_3

Setelah mencium kepala istrinya dan mendapatkan tatapan tajam dari Chayra, Ardian masih belum puas melihat kekesalan wanita itu. Saat akan memasuki lift, Ardian tiba-tiba menarik tubuh Chayra ke tepi. Menyingkap cadarnya, spontan ia langsung mencium dalam wanita itu.


"Mmmpp....." Chayra berontak minta dilepaskan.


Tatapan dari orang-orang yang lewat mulai tidak bisa dikondisikan. Ciuman itu terlepas ketika Ardian sudah kehabisan nafas.


Chayra langsung memukul-mukul bagian tubuh suaminya yang bisa ia gapai. "Kamu.. kamu apa-apaan sih, Mas. Menyebalkan, tau nggak. Mau ditaruh dimana mukaku, Mas. Kamu kelewatan." Chayra ingin pergi, tetapi ia urungkan ketika melihat seseorang yang berdiri di belakang suaminya.


"Huh, dasar... akting kalian berlebihan."


"Gue nggak akting. Gue hanya ingin lho tau, kalau wanita bercadar ini adalah milik gue. Oh, gue salah ucap, maaf. Kami saling memiliki dan saling menginginkan. I hope you can think about that, Mr Ghibran Abdullah." Ardian mengetuk-ngetuk pelipisnya pelan. Ayo, Sayang. We can go now.." Ardian menarik pelan tubuh Chayra. Wanita itu langsung paham maksud suaminya


"Eh, iya Mas. Kami pamit, Kak. Assalamu'alaikum.." Chayra tidak menatap Ghibran sama sekali. Ia langsung mengikuti suaminya. Ardian bahkan sengaja melingkarkan tangannya di pinggang Chayra. Berharap Ghibran melihat hal itu.


Chayra kembali memukul-mukul tubuh suaminya saat mereka sudah duduk di salah satu food court yang berada di pusat perbelanjaan itu. "Kamu berlebihan, Mas. Aku kesel sama kamu ... aku juga malu banget. Nggak kebayang deh tadi berapa pasang mata yang melihat kita. Ya Allah ... astagfirullahal'adzim ..." Chayra menutup wajahnya dengan telapak tangannya.


Ardian menarik tangan istrinya. "Kenapa harus malu, aku suami kamu, Sayang. Aku kekasih halal kamu loh. Orang yang belum halal saja nggak malu berbuat maksiat dimana-mana."


"Aku bukan mereka, Mas Ardian. Aku juga tidak mau dibanding-bandingkan dengan siapapun. Aku haus, Mas."


Ardian tertawa kecil. "Pemanasan kecil kayak tadi ternyata mampu membuat kamu keringat dingin."


"Aku tidak keringat dingin karena itu, Mas. Aku keringat dingin karena kamu melakukan itu di tempat umum." Chayra melengos seraya bangkit.


"Mau kemana?" Ardian langsung menahan tangan istrinya.


"Aku kab sudah bilang, aku haus."


"Kamu duduk disini, biar aku yang pesankan untukmu. Nggak sekalian mau makanan juga?"


Chayra menggeleng. "Aku sudah kenyang tadi di rumah. Aku cuma butuh minuman untuk menyegarkan badanku."


"Hahaha ... segitu aja udah sampai kayak gini. Bagaimana kalau aku sampai menindih tubuhmu tadi. Mungkin kamu akan pingsan di tempat."


"Mas...." Chayra mengeratkan giginya menahan kesal. Ardian bersuara keras. Mungkin dia lupa kalau mereka masih di berada di tempat umum.


Bukannya menutup mulutnya, Ardian malah semakin keras tertawa. "Aku mau ke toilet sebentar. Kamu pesan saja apapun yang ingin kamu makan."

__ADS_1


Chayra mendengus melihat kepergian Ardian. Dia hanya menggeleng-geleng pelan. Buru-buru ia melafadzkan istighfar. Takutnya dia tidak bisa menahan diri dan marah pada suaminya itu.


Chayra menelungkupkan wajahnya di atas meja sambil menunggu suaminya kembali. Food Court terlihat sedang ramai pengunjung. Chayra sepertinya tidak sadar kalau pelayan sudah berdiri menunggunya untuk memesan sesuatu.


Sekitar sepuluh menit Ardian di toilet. Dia kembali dengan Dodit. Entah disengaja atau mereka memang sudah janjian untuk bertemu di tempat ini.


"Loh, Mbak ... istri saya belum memesan sesuatu?"


Waiters itu langsung menggeleng. Chayra mengangkat wajahnya begitu mendengar suara Ardian. "Kamu sudah kembali, Mas?" Ucapnya dengan tampang datar, tanpa rasa bersalah sedikitpun.


"Kamu kenapa belum pesan sesuatu, Sayang? Katanya haus tadi."


"Kamu bilang, kamu yang mau memesankan minuman untukku. Kok sekarang menyalahkan aku karena belum memesan apa-apa."


"Eh," Ardian akhirnya menggaruk-garuk kepalanya salah tingkah. "Mm ... Mbak, kalau begitu aku mau pesan jus orange dua sama jus strawberry dua."


Chayra menautkan alisnya mendengar pesanan suaminya. Tapi, untuk berkomentar ia merasa enggan.


Ardian dan Dodit asyik berdiskusi. Chayra akhirnya hanya bisa menjadi pendengar dua orang laki-laki yang sudah masuk ke dunia pekerjaan itu.


"Mas, kalau kamu masih asyik berdiskusi, aku mau pamit pulang duluan."


"Sebentar lagi ini juga sudah mau selesai kok."


"Dari tadi kamu bilang sebentar lagi terus. Katanya mau me time denganku. Kok sampai sini malah membahas pekerjaan sih?!" Chayra mendelik sambil mengalihkan pandangannya.


"Aku kan pulang cepat, Sayang. Kalau kita tidak keluar tadi, aku pasti sedang sibuk di ruang kerja sekarang."


"Aku sih nggak masalah kalau kamu sibuk di ruang kerja. Aku hanya merasa keberatan karena pas kita berangkat tadi, kamu bilang mau me time sama aku."


Dodit akhirnya hanya bisa menatap pasangan suami istri itu.


"Aku pulang duluan saja, Mas. Tau begini aku diem aja di rumah tadi biar bisa tidur kalau sudah ngantuk." Chayra bangkit, dengan sigap Ardian menahan tangan istrinya. "Dit, besok kita bahas lagi. Kamu persiapkan saja semuanya. Aku mau meredam amarah Tuan Putriku dulu."


"Jangan ngomong macam-macam deh, Mas. Pendengaranku masih sangat normal untuk mendengar apa yang kamu ucapkan."


"I.. iya, Sayang. Kita pulang sekarang." Ardian akhirnya bergegas mengikuti langkahnya yang seperti berlari saking cepatnya.

__ADS_1


"Sini aku pakaikan helmnya."


Chayra menepis tangan suaminya. "Aku bisa melakukannya sendiri, Mas."


Mereka tidak sadar kalau ada sepasang mata yang sedang memperhatikan tingkah dan omongan mereka. "Heh, tadi sok romantis. Sudah dibilang juga jangan kebanyakan akting. Tuh, lihat artis di tv. Karena kebahagiaan mereka kebanyakan setingan, akhirnya masyarakatnya gempar saat isu perceraian mereka terkuak."


"Jangan banyak bacot deh lho!" Ardian geram mendengar ucapan Ghibran. " Ternyata lho ngikutin kami dari tadi. Mau lho apa sih sebenarnya? Kayak kurang kerjaan aja."


"Sudah, Mas. Biasanya orang yang banyak omong itu, mereka yang tidak bahagia. Kalau dia bahagia, pasti dia tidak ada waktu untuk nyinyirin kehidupan orang lain karena sibuk dengan kebahagiaannya." Chayra berkata sambil mengusap-usap pipi suaminya. "Berdebat dengan pasangan adalah cara kami menunjukkan kalau kami saling membutuhkan dalam hidup. Kami saling menyayangi, Kak. Itulah mengapa aku marah ketika suamiku ini lebih mementingkan pekerjaan daripada istrinya.


"Terimakasih, Sayang." Ardian balik mengusap wajah istrinya.


"Oh iya, Kak Ghibran Abdullah. Saya hanya minta sama Kak Ghibran, berhenti mengganggu kehidupan rumah tanggaku dengan Mas Ardian. Kamu tidak perlu sibuk mencari tau tentang kehidupan yang aku jalani bersamanya. Aku sudah bahagia, Kak. Dia memang tidak sempurna, tapi kekurangan itulah yang membuat kami saling mengerti satu sama lain. Jangan tanyakan lagi masalah masa lalu. Aku tau suamiku ini mempunyai masa lalu yang sangat buruk. Tapi, dari masa lalu itu kini dia bisa belajar untuk lebih dewasa dalam bertindak. Maaf kalau saya berkata lancang pada Kak Ghibran. Aku hanya capek, suamiku juga merasa terganggu karena kehadiran kamu yang seperti jaelangkung."


Ghibran hanya bisa menelan ludahnya mendengar tausiah Chayra. Tidak menyangka kalau wanita itu sama sekali tidak memberikan kesempatan untuknya. Dia bahkan merasa harga dirinya ditelan bumi karena ucapan Chayra.


Ardian pun tertegun mendengar ucapan istrinya. Chayra jarang bicara. Tetapi sekalinya bicara, semua yang diucapkannya langsung ngena ke dalam ulu hati.


"Ayo Mas kita pulang." Chayra menarik tangan suaminya agar acara pengajian itu segera selesai.


Lama hening, Chayra akhirnya memulai pembicaraan setelah mereka hampir sampai rumah. "Mas, aku ingin hamil lagi."


Ciiiiiitttt....!


Motor Ardian berhenti mendadak. Ia langsung membuka helmnya lalu menatap istrinya dengan bingung. "Aku nggak salah dengar kan tadi?"


Chayra menggeleng. "Aku mau hamil lagi. Aku ingin punya anak lebih dari satu."


"Mm ... aku sih fine fine saja, Sayang. Intinya kamu harus tetap bahagia."


"Aku haus lagi nih, Mas. Gara-gara memberi tausiah pada orang yang kurang kerjaan itu, aku butuh minuman."


"Tunggu sebentar aku belikan."


Ardian mendekati warung di pinggir jalan tempat dia menghentikan kendaraannya.


*********

__ADS_1


__ADS_2