
Ardian benar-benar hilang kabar sampai malam menjelang. Nomor handphonenya bahkan tidak bisa dihubungi lagi. Hal itu membuat Chayra semakin tidak tenang. Ia beberapa kali mencoba menghubungi nomor telepon mertuanya, tetapi hasilnya sama. Bu Renata juga tidak menjawab panggilannya. Ia hanya mondar-mandir di ruang tamu menunggu kabar dari siapapun yang akan memberinya kabar.
Tepat pukul sembilan malam, Chayra akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya. Entah kenapa putranya juga sangat rewel. Adzra tak sedetik pun mau turun dari gendongan Chayra. Anak itu nemplok seperti anak koala pada mamanya.
Chayra memilih mengajak putranya untuk tidur sambil menyusui Adzra. Awalnya anak itu menolak, tetapi lama-kelamaan dia akhirnya mau.
Baru akan masuk ke alam mimpi, Chayra dikejutkan oleh suara Bi Idah yang mengetuk-ngetuk pintu kamarnya dengan keras. "Non... Non Ayra, ada tamu, Non. Asisten Tuan Ardian yang tadi pagi datang kesini datang lagi."
Chayra langsung membuka matanya lebar-lebar begitu mendengar kata Asisten. Ia berusaha melepaskan p*****nya dari mulut Adzra. "Iya, Bi.. aku segera keluar."
Begitu sampai di ruang tamu, Chayra segera duduk di sofa yang bersebrangan dengan Dodit.
"Maaf saya mengganggu istirahat Ibu. Tadi pagi Pak Ardian berpesan pada saya untuk menjemput Ibu saat saya pulang dari Kantor."
"Terus suami saya dimana, Pak Dodit?"
"Pak Ardian ada di Rumah Sakit, Bu. Maaf karena saya yang membawa handphone Pak Ardian pagi tadi. Jadi, beberapa panggilan dari Ibu tidak bisa saya jawab karena jadwal yang benar-benar padat. Handphone Pak Ardian tersimpan di dalam tas kerjanya. Tas itu saya yang membawanya ke Kantor karena beberapa berkas ada di tas Pak Ardian."
"Saya mengerti, Pak. Maaf kalau panggilan saya mengganggu Bapak."
"Eh, b.. bukan begitu maksud saya, Bu. Saya memberitahu Ibu agar Ibu tidak salah paham pada Pak Ardian. Dan sekarang saya diminta Bapak untuk membawa Ibu ke Rumah Sakit."
"Bagaimana keadaan Papi?"
"Ibu akan tau nanti. Ibu silahkan bersiap sekarang, saya tunggu Ibu di mobil."
"Tapi anak saya bagiamana? Apa dia boleh masuk nanti kalau dibawa."
"Ibu bawa saja. Kasihan Adek kalau ditinggal."
Chayra mengangguk seraya bergegas naik kembali ke kamarnya.
Sebelum meninggalkan rumah, tidak lupa ia berpesan pada Bi Idah untuk mengunci pintu.
*********
Chayra duduk di samping suaminya dengan posisi memangku putranya yang masih terlelap. Satu jam yang lalu Dodit membawanya bertolak ke rumah mertuanya. Karena saat sampai Rumah Sakit, mereka diberitahu kalau Pak Sucipto sudah meninggal dunia dan jenazahnya sudah dibawa pulang.
__ADS_1
Chayra hanya bisa mengangguk mendengar setiap instruksi yang diberikan Dodit. Dia tidak bisa menebak perasaan yang sedang dia rasakan saat ini. Kurang lebih dua puluh tahun yang lalu, dia pernah merasakan kehilangan sosok seorang ayah. Walaupun waktu itu dia masih kecil dan belum mengerti arti kehilangan. Kali ini dia kembali merasakannya. Ternyata ditinggalkan orang yang kita sayangi sangat menyayat hati. Mungkin begini perasaan Ibunya dulu saat sang ayah pergi meninggalkan mereka untuk selamanya.
Chayra menatap sekeliling yang dipadati manusia. Dia melihat Kakek, Nenek, Ibu, adik dan Zidane di antara banyaknya orang. Tapi, kakinya terlalu lemah walaupun hanya untuk sekedar bangkit menyapa mereka.
Dia menunduk dalam dengan menahan isak tangisnya. Suaminya pun terlihat sangat rapuh kali ini. Belum sempat mengucap maaf pada Papinya, kini papinya sudah dipanggil Yang Maha Menghidupkan.
Sekian lama duduk bersama istrinya, Ardian baru melirik Chayra. "Chay.." hanya kata itu yang terucap dari mulutnya. Bibirnya terasa kaku. Tangannya bergerak menggenggam tangan istrinya.
Chayra tersenyum lemah. Tangan suaminya terasa dingin.
"Kita harus saling menguatkan, Chay." Kalimat itu terlontar begitu saja dari mulut Ardian. Tangannya semakin erat menggenggam tangan istrinya.
"Iya, Mas. Kita harus saling menguatkan."
Ardian tersenyum lemah menatap istrinya. Matanya sembab karena terlalu banyak menangis.
********
Ardian berdiri menghadap keluar di kamarnya. Ia tersenyum kecut mengingat kalau kamar itu adalah saksi bisu kejahatannya di masa lampau. Bahkan istrinya enggan untuk menginjakkan kaki di kamar itu. Sudah tujuh hari papinya berpulang. Selama itu juga dia menginap di rumah orang tuanya.
Chayra memilih untuk menempati kamar tamu. Walaupun tidak tinggal di rumah itu lagi. Ternyata dia masih trauma kalau harus masuk apalagi tidur di kamar Ardian.
Mas, kamu keluar sebentar ada yang mau aku omongin.
Ardian tersenyum membaca pesan itu. Istrinya benar-benar tidak mau masuk ke kamar itu. Tidak mau membuat istrinya terlalu lama menunggu, ia langsung keluar dan mencari tau keberadaan istrinya.
"Ada apa?" Ardian duduk di sisi ranjang karena Chayra sedang menyusui Adzra.
"Lama banget sih, Mas. Padahal cuma menuruni anak tangga saja."
"Aku mencari kamu terlebih dahulu, Sayang. Aku kira kamu di ruang keluarga, ternyata tidak ada siapa-siapa di sana."
"Barusan aku duduk disana bersama Mami. Tapi Mami ngantuk tadi. Jadi beliau pamit duluan."
Ardian manggut-manggut. "Kamu mau ngomongin apa? Kenapa kamu tidak mencariku di kamar?"
"Aku sudah bilang kalau aku tidak mau menginjakkan kaki lagi di sana. Aku takut membuka luka lama."
__ADS_1
"Rasa takut itu harus dilawan bukan dihindari."
"Apa kamu mau aku membencimu seperti dulu?"
"Loh, kok pembicaraannya kesitu?"
"Mm... kamu sendiri yang memancingku untuk mengatakan itu, Mas."
"B.. bukan begitu maksudku, Sayang." Ardian menggaruk-garuk kepalanya bingung. "Nggak usah dibahas lagi kalau begitu. Tadi kamu bilang mau membicarakan sesuatu."
"Iya, Mas. Aku mau minta izin untuk pulang besok pagi. Aku tidak bisa tidur dengan nyenyak disini. Aku juga sudah izin sama Mami."
"Mami bilang apa?" Ardian terlihat mempertimbangkan kemauan istrinya.
"Mami bilang terserah kamu saja. Iya... walaupun raut wajahnya terlihat berubah saat aku bilang ingin pulang. Tapi, Mami bilang begitu sama aku."
"Besok kita pulang sama-sama kalau begitu."
"Kamu nggak usah ikut pulang, Mas. Kasihan Mami kalau kamu juga pulang, dia akan sendirian di rumah ini."
"Mami sudah biasa sendirian, Sayang."
"Tapi rasanya pasti berbeda, Mas. Dulu papi pergi untuk sementara, sedangkan sekarang Papi sudah pergi untuk selamanya. Prioritaskan orang tua biar hidup kita berkah, Mas."
Ardian terdiam. Sebenarnya dia juga merasa tidak nyaman di rumah orang tuanya. Bagaimanapun juga, rumah itu menyimpan banyak kenangan buruk.
Ardian POV ...
Aku berbalik saat Chay memintaku untuk memprioritaskan orang tua. Selama ini aku tidak pernah merasa di lebihkan oleh orang kedua orang tuaku. Mungkin itulah yang membuatku tidak terlalu perduli pada mereka. Aku memang sayang pada Mami dan Papi. Aku juga merasa sangat kehilangan Papi saat kepergian Papi satu minggu yang lalu. Tetapi, kalau aku harus tinggal bersama Mami lagi di rumah ini, aku akan mempertimbangkannya terlebih dahulu.
Mami pun terlihat tidak terlalu perduli dengan kehadiranku dan istriku di rumah ini. Mungkin memang karena itu karakter Mami yang tidak terlalu perduli dengan sekitarnya. Mungkin hal ini yang membuat Chay tidak nyaman. Jangankan dia yang hanya seorang menantu, aku saja yang anaknya Mami merasa terabaikan. Ketidaknyamanan Chay di rumah ini sudah terlihat sejak hari kedua. Setelah semua orang meninggalkan rumah ini dan hanya kami yang masih tinggal. Aku hanya kecewa, karena selama kami menginap di rumah ini, Mami tidak pernah berusaha untuk dekat dengan Adzra.
Dia bersikap acuh tak acuh pada cucunya itu. Chay bilang, Mami seperti itu karena perasaannya yang kehilangan Papi belum stabil. Tapi, aku melihatnya biasa-biasa aja. Mami memang kurang menyukai Chay. Itulah jawaban yang tepat.
"Mas... kenapa melamun?" Chay menguyel-uyel pipiku gemas. Kayak aku yang tembem aja, padahal badanku standard. Nggak enak banget kalau diuyel-uyel kayak gini. Eh, ternyata Adzra sudah bobok. Pantesan dia bisa leluasa bergerak. "Ng.. nggak ada apa-apa, Sayang."
"Tapi kamu terlihat seperti ada apa-apa." Huh, mulai lagi deh ni orang. Kebiasaan menimpali ucapanku. Dia tidak akan pernah puas sebelum mendapatkan jawaban yang tepat. Akhirnya aku menarik nafas panjang. "Aku sedang memikirkan apakah aku akan mengizinkan kamu pulang atau tidak." Chay langsung melengos mendengar jawabanku. Hahaha.. ekspresinya itu membuatku tertawa lepas.
__ADS_1
*******""