
"Kenapa setegang ini, sih?!" Chayra berkata lirih seraya bangkit dari depan meja belajarnya.
Sebuah notifikasi pesan masuk mengalihkan perhatiannya. Meraih ponsel yang tergeletak dari tadi. Dia menautkan alis saat melihat pesan baru dari nomor yang tidak di kenal.
Assalamualaikum...
Aku sudah menunggumu di tempat perjanjian
Ghibran Abdullah
Deg!
Jantung Chayra semakin berdebar membaca pesan itu." Ya Allah, kenapa aku setegang ini sih?!" Chayra rasanya mau nangis saja menghadapi situasi ini. Menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Mendongak menatap langit-langit kamarnya. Dia berusaha tenang agar irama jantungnya tidak semakin kencang. Ia bangkit lalu berjalan mondar mandir di dalam kamar. Tindakan apa yang harus dia lakukan sekarang agar bisa tenang.
"Assalamualaikum, Kakak Ayra."
Suara imut Amrina dari balik pintu. Gadis kecil itu tidak mengetuk pintu, tetapi berulang kali mengucap salam.
Chayra tersenyum lalu segera membuka pintu.
"Wa'alaikumsalam, Adik Kakak yang imut. Tumben Adek ke kamar Kakak. Ada apa, Sayang?" Sedikit menunduk, mensejajarkan tubuhnya dengan Amrina sambil mengelus-elus kepala bocah itu.
"Kakak Ayra di tunggu dari tadi sama Kakak yang dua di depan itu." Amrina menunjuk ke arah teras rumah.
" Siapa, Dek?"
Gadis kecil itu menggeleng. "Mereka sering sama Kakak Ayra. Tapi, Rina tidak tau siapa namanya."
Chayra berdiri mencoba mencari tau siapa dua gadis yang dimaksud Amrina. Dia menyebikkan bibir ketika melihat Saras dan Tania duduk berhadapan di sebuah bangku di teras rumah Pak Ismail. Bukannya menghampiri dua temannya, Chayra malah menghampiri Amrina yang masih berdiri di depan pintu kamarnya.
"Sejak kapan mereka di sana, Dek?"
"Dari tadi, Kak. Pulang dari shalat berjama'ah di Masjid, mereka langsung duduk di sana."
"Terimakasih, Adek."
Amrina mengangguk. "Kenapa Kakak tidak mengajak mereka masuk?"
Chayra mengulas senyum. "Kakak mau pergi dengan mereka."
"Kakak mau kemana?"
"Rahasia, ini urusan orang dewasa. Adek Rina nggak boleh kepo."
"Kepo itu apa, Kakak?"
Chayra menepuk jidat. Lupa kalau ngomong dengan anak kecil tidak boleh menggunakan istilah yang belum mereka pahami artinya. Dia berpikir sejenak. Jangan sampai Amrina kayak Bian yang sangat sulit dikendalikan keingin tahuannya.
"Maaf ya, Adek. Kakak salah ngomong. Adek Rina ke Ummi ya. Kakak mau berangkat."
"Rina boleh ikut nggak, Kak?" Amrina menarik-narik tangan Chayra agar diizinkan ikut. Dia mendongak menatap Chayra dengan tatapan memohon.
Ini mah sebelas dua belas dengan Bian. Batin Chayra.
"Eh, tadi adik Rina dipanggil sama Ummi, apa Adek dengar?"
__ADS_1
"Mana?" Amrina celingukan. "Nggak ada, Kakak."
"Tadi, Kakak dengar sendiri kok. Coba deh Adek cari Ummi di kamar."
Amrina mengangguk dan menuruti kata Chayra, mencari Umminya di dalam kamar.
Chyara mengelus dada. Lolos batinya. Dia segera berlari keluar rumah menemui Saras dan Tania yang sudah menunggunya dari tadi.
Saras dan Tania langsung menatap Chayra dengan sinis saat Chayra sudah berdiri di depan pintu.
Tania langsung berdiri dan mendekati Chayra. "Kamu kemana aja? Kamu yang akan ketemuan, kok kami yang capek nunggu?" Cecer Tania. Menatap Chayra dengan tajam.
"Maaf, tadi Amrina mau ikut. Jadi, aku harus mengelabuinya dulu." Jawab Chayra sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
"Yang benar saja, Ayra. Dari tadi bocah itu main sama kami disini sambil nunggu kamu." Saras yang masih duduk di bangku ikut mengeluarkan suara karena kesal terlalu lama menunggu.
"Terserah kalian deh, mau percaya atau tidak. Ayo kita berangkat."
"Tunggu!" Tania menghentikan langkah Chayra dan Saras yang baru berjalan beberapa langkah.
"Ada apa?" Tanya keduanya serentak.
"Apa Ustadz Ghibran sudah menghubungimu? Jangan sampai kita yang datang duluan."
"Sudah, ayo.."
Tania menyebikkan bibirnya. "Tadi aku dan Saras capek menunggu. Sekarang kok malah kamu yang terburu-buru."
Chayra hanya nyengir kuda sambil terus melangkah bergandengan dengan Saras. Tania mengekor di belakang.
Di Majelis Ta'lim..
Pandangan mereka berhenti pada sosok pria yang berdiri bersandar di tiang pintu sebuah kelas kosong di samping Majelis Ta'lim. Laki-laki itu memakai baju koko putih dan bersarung merah maroon tanpa peci yang melekat di kepalanya. Jaraknya masih sekitar sepuluh meter dari ketiga gadis yang berdiri di dekat tiang Majelis Ta'lim.
Ghibran tersenyum pada tiga gadis itu. Tatapannya fokus pada gadis yang berdiri di tengah. Senyumannya semakin merekah saat gadis itu membalas senyumnya.
"Astagfirullahal'adzim," Chayra langsung menunduk saat menyadari sudah terlalu lama berkontak mata dengan Ghibran.
"Astagfirullahal'adzim," Ghibran ikut menunduk, dadanya berdebar tak karuan. Apa yang akan terjadi nanti saat Chayra sudah berdiri di depannya.
Tania berjalan mendekati Ghibran. Menunduk di hadapan Ghibran lalu menyampaikan pesan dari Chayra. "Maaf Ustadz, Ayra bilang tidak siap kalau harus bertatap muka langsung dengan Ustadz."
Ghibran kembali menatap Chayra dengan mengulas senyum, lalu menatap Tania yang berdiri di depannya. Ia memberikan jawaban atas permintaan gadis itu. "Baiklah, sepertinya aku juga tidak siap kalau harus berkontak mata terlalu sering dengannya. Bisa-bisa jantungku meledak nanti."
"Hah?" Tania tercengang, tidak percaya mendengar jawaban Ghibran. Dia membelalakkan mata dan memberanikan diri menatap mata bulat Ghibran.
"Ada apa, Tania. Apa ada yang salah dengan ucapanku?" Tanya Ghibran, heran melihat Tania.
"Subhanallah, Ustadz benar-benar tampan." Tania langsung berbalik karena malu dengan ucapannya sendiri. Dia menutup muka dengan telapak tangan dan berlari kecil menuju dua temannya yang duduk di pinggiran Majelis Ta'lim. Saras dan Chayra masih menunggu informasi yang akan dia bawa.
"Tunggu!" Ghibran menghentikan langkah Tania.
Tania menghentikan langkahnya. Dia berfikir sejenak. Mau berbalik masih malu, tapi kalau dia tidak menghiraukan Ghibran tentu tidak sopan. Bagaimanapun juga Ghibran adalah guru pembimbingnya.
Dengan malu-malu, akhirnya dia berbalik juga.
__ADS_1
"A.. ada apa lagi, Ustadz?" Tidak berani mengangkat wajahnya.
"Katakan pada Zahra, aku akan duduk di balik pintu ini. Atau mungkin sebaliknya Dia yang di dalam dan aku yang di luar."
"Baik, Ustadz." Tania langsung berbalik lagi. "Wah, ternyata Ustadz Ghibran sudah punya panggilan khusus untuk Ayra." Lirihnya pelan tanpa ada orang yang mendengarkan ucapannya.
Setelah Tania menyampaikan pesan Ghibran pada Chayra. Mereka bertiga mendekati kelas itu. Ghibran langsung masuk ke dalam kelas dan menutup pintu.
"Ustadz, tukar posisi biar kami yang di dalam." Saras mengetuk-ngetuk pintu yang di gunakan Ghibran untuk bersandar.
Ghibran bangkit lagi lalu membuka sedikit pintu. "Kenapa?"
Chayra langsung mengalihkan pandangannya saat melihat kepala Ghibran muncul di pintu. "Kami tidak nyaman di luar."
Jawaban Chayra membuat Ghibran tersenyum simpul. Dia membuka lebar pintu kelas dan membiarkan tiga gadis itu masuk dan dia langsung keluar dan menutup pintu itu kembali.
Mereka duduk saling bersandar, hanya pintu yang jadi pembatas punggung mereka. Sedangkan Saras dan Tania mencari posisi aman, duduk di bangku kosong di kelas itu.
Saras dan Tania sudah asyik ngobrol. Sedangkan dua orang yang saling bersandar di pintu itu masih larut dalam pikiran masing-masing. Mereka sedang mencoba
mengatur irama detak jantung mereka yang berpacu semakin kencang.
"Assalamualaikum, Zahra.." Ghibran mencoba mengucap salam walaupun suaranya agak bergetar.
Chayra mengusap-usap dadanya. "Wa'alaikumsalam, Ustadz.."Ucapnya lirih hampir tak terdengar.
"Kenapa suaramu kecil sekali,Zahra?"
"A..aku malu, Ustadz. Aku.. aku juga sangat tegang."
"Malu sama siapa? Kalau masalah tegang, aku juga merasakannya."
"Malu sama Ustadz lah. Malu sama siapa coba?"
Ghibran mengulas senyum. "Kok malu sama aku? Padahal kan, di kelas kita biasa-biasa aja."
"Nggak tau, malu aja."
"Hah," Ghibran tersenyum, bingung mau bilang apa lagi. "Mmm, Zahra.."
"Mmm.."
"Kamu tau aku kan?"
"Maksud, Ustadz?"
"Jangan panggil aku Ustadz, Zahra!"
"Terus aku mau panggil Ustadz apa?"
"Panggil aku Kakak, atau Kak Ghibran. Itu lebih enak di dengar."
"Tapi, Ustadz kan guru pembimbing Ayra di kelas."
"Kita tidak sedang di kelas, Zahra. Itu panggilan khusus hanya diperbolehkan untuk seorang Zahranya Ghibran."
__ADS_1
Saras dan Tania yang pura-pura sibuk ngobrol tapi nguping pembicaraan dua orang itu melongos. Sebenarnya mereka juga ingin di gombalin pria. Tapi sayangnya nasib belum berpihak pada mereka.
* * *