
Dodit menarik tangan Ardian yang sudah mendorong pintu IGD. "Ngapain ke IGD, Ar. Istri kamu kan mau melahirkan, dia pasti berada di ruang bersalin."
"T.. tapi biasanya kan kalau Pasien di bawa ke IGD dulu, Dit."
"Iya, tapi ini masalahnya beda, Ardian. Istrimu sudah dibawa sejak tadi. Kalaupun dibawa ke IGD, dia pasti sudah dipindah." Dodit menarik tangan Ardian menuju loby.
"Iya.. iya.. kita tanya resepsionis kalau begitu."
"Ngapain...?"
"Untuk menanyakan letak ruang bersalin."
"Nggak perlu. Itu kan sudah ditunjukkan oleh denah Rumah Sakit." Menunjuk denah yang terpampang besar di tengah loby. "Makanya aku bilang juga jangan panik." Dodit kembali menarik tangan Ardian mengikuti petunjuk di denah.
Sekitar lima menit, Dodit akhirnya menemukan ruangan yang dimaksud. "Nah, ini kan ruangannya. Itu kan ada Bu Renata di depan pintu."
"Alhamdulillah..." Ardian menarik nafas lega seraya mengusap wajahnya dengan kasar. Berjalan dengan langkah gontai mendekati maminya. "Mami..."
Bu Renata langsung menoleh. Pas waktu itu Bu Santi keluar dari ruangan.
"Kamu sudah sampai?"
"I.. iya, Bu. Maaf tadi aku tidak melihat handphone."
"Iya nggak apa-apa. Sekarang kamu masuk ke dalam. Istri kamu sedang dipasangin infus. Sudah pembukaan lima, sebentar lagi prosesnya. Dokternya masih istirahat agar bisa menjalankan tugas dengan baik nanti kalau sudah waktunya untuk keluar. Ibu mau mengambil perlengkapan di dalam mobil. Kasihan Pak Satpam lelah nunggu dari tadi."
"I... iya, Bu."
"Kamu masuk, Sayang. Maaf, Mami tidak berani ke dalam. Mami takut melihat prosesnya. Mami akan tunggu di sini sampai cucu Mami keluar nanti. Hmmm, andaikan Ayra mau memakai teknik operasi Caesar, Mami tidak akan setegang ini sekarang."
"Minta do'anya, Mi."
"Iya, Sayang. Do'a Mami selalu menyertaimu."
Ardian mencium tangan Maminya lalu beralih mencium kedua kakinya. "Bismillahirrahmanirrahim... Ardian masuk, Mi."
Bu Renata mengangguk melepas tangan putranya.
Ardian menelan ludahnya melihat istrinya. Langkahnya melambat begitu melihat istrinya meringkuk miring ke kiri. "C... Chay... maaf, aku terlambat datang."
__ADS_1
"Silahkan, Pak di kasih semangat istrinya." Ucap seorang Bidan yang berjalan mendekat membawa sebuah alat. "Maaf, Mbak ya.. pakainya saya singkap lagi, mau periksa pembukaan. Soalnya mulasnya sudah semakin teratur. Mudah-mudahan prosesnya cepat."
"I.. iya..." Jawab Chayra dengan nafas yang tidak beraturan. Sakitnya benar-benar semakin menjadi-jadi. Tangannya langsung mencengkram erat tangan suaminya yang baru mendekat ke dekat kepalanya. "M.. Mas.. maafkan aku kalau ada salah. Ini... rasanya... sakiiiit... sekali..." Chayra mengejan karena tidak tahan.
"Jangan mengejan dulu, Mbak karena belum waktunya. Tunggu instruksi dari kami nanti. Kasihan nanti tenaganya habis sebelum waktunya." Ucap Bu Bidan sambil memasang sarung tangan.
Ardian terbelalak melihat Bidan yang memasukkan tangannya ke jalan lahir. Ingin protes tapi suaranya seperti tercekat di tenggorokan. Akhirnya dia hanya memperhatikan apa yang dilakukan Bidan itu tanpa bisa protes sama sekali.
"Sudah pembukaan sembilan. Alhamdulillah prosesnya cepat." Ucapnya dengan wajah sumringah. "Telpon Bu Dokter sebentar lagi pembukaannya lengkap." Perintah Bidan itu pada rekannya. Empat orang Bidan di ruangan itu mulai sibuk mempersiapkan segala sesuatu.
Ardian terlihat semakin tegang saat melihat kedatangan Dokter beriringan dengan mertuanya. Bu Dokter langsung mendekat pada ranjang Chayra dan mulai melakukan tindakan.
Setelah satu jam berlalu dengan penuh ketegangan, Ardian keluar dari ruang tindakan dengan wajah pucat pasi. "Mami, Papi..." lututnya terasa lemas begitu sampai di hadapan kedua orang tuanya.
"Kamu kenapa, Nak? Istri dan anak kamu baik-baik saja kan?" Bu Renata menunduk, menepuk-nepuk pipi putranya yang terlihat seperti mayat hidup.
"Aku.. aku.. kasihan melihat Chay, Mi. Ternyata sesulit itu melahirkan. Aku rasanya ingin pingsan melihat perjuangan istriku. Maafkan Ardian yang durhaka pada Mami dan Papi selama ini." Ardian memeluk kaki maminya dengan air mata berlinang.
"Sudah, Sayang.. itu memang sudah menjadi kodrat wanita. Yang penting istri dan anak kamu selamat dan baik-baik saja."
Ardian mengangguk lemah. Rasanya hanya untuk sekedar bangkit mengangkat tubuhnya ke atas sofa tidak mampu ia lakukan.
Ardian menatap mertuanya dengan lemah. Matanya sendu menatap wanita yang menjadi ibu dari istrinya itu.
Bu Santi mengernyit melihat tatapan menantunya. "Kamu kenapa menatap Ibu seperti itu, Nak?"
Ardian berusaha untuk bangkit walaupun terasa sangat sulit. Berjalan mendekati mertuanya lalu memeluknya dengan erat. "Maafkan Ardian yang belum bisa menjadi suami yang baik untuk Chay, Bu."
"Maksud kamu apa sih, Nak. Sudah ah, Ibu selalu melihat kamu baik kok sama putri Ibu selama ini." Jawab Bu Santi sambil menepuk-nepuk punggung menantunya. "Ayo masuk dulu, anak kamu sedang menunggu kamu."
Ardian akhirnya melepaskan pelukannya. Mengikuti langkah mertuanya masuk kembali ke dalam ruangan. Sepertinya darahnya sudah mengalir lagi sehingga wajahnya tidak sepucat sebelumnya.
Ardian mengambil bayinya yang di sodorkan seorang Bidan yang membersihkannya tadi. "Silahkan diadzanin, Pak."
"Terimakasih, Mbak." Ardian sedikit gerogi menggendong bayi itu. Bibirnya mengulas senyum saat bayi itu menggeliat dalam gendongannya. Bibirnya sedikit bergetar saat mulai melafadzkan adzan di telinga kanan putranya.
*******
Pagi itu...
__ADS_1
Ruang perawatan Chayra benar-benar ramai. Apalagi Tina ikut hadir untuk menengok keponakan barunya. Alesha dan Zidane pun baru bisa datang karena mereka berada di Pesantren saat Bu Santi menghubunginya sore kemarin.
Ardian tidak henti-hentinya menatap box bayinya. Sedangkan sebelah tangannya menggenggam erat tangan istrinya. Tidak perduli dengan tatapan aneh dari orang-orang di ruangan itu. Dia hanya ingin orang-orang itu tau kalau dirinya sangat bahagia saat ini.
"Kenapa dia tidur terus sih, Sayang. Aku kan ingin melihat mata mungilnya." Ardian mulai berniat jahil ingin mengganggu tidur bayinya.
"Eh, Mas... tangannya please deh, dikondisikan.."
Ardyan tersenyum lebar melihat tatapan istrinya, menarik kembali tangannya yang sudah terulur ingin mengganggu bayi mungilnya.
Tina yang tidak tahan karena gemas melihat kelakuan Ardian akhirnya mendekati box bayi. "Ya Allah, Ayra... bayinya kenapa imut gini sih... Udah kelihatan tampannya dari sekarang. Aduh.. hidungnya mancung gini lagi padahal baru lahir. Pas kayak hidungnya Ayra." Menyentuh hidung mungil itu. Tangan Tina sudah gatal ingin mencubit pipinya, tetapi ia urungkan ketika mendengar deheman keras dari kedua orang tua si bayi. "Eheheh... Sorry.. soalnya bayinya imut banget.." Tina akhirnya menguyel-uyel pipinya sendiri.
"Berat lahirnya berapa, Ayra?" Tanya Alesha, dia ikut memperhatikan bayi mungil yang tetap anteng tidur walaupun disekitarnya sangat ramai.
"3,8 kilogram dan panjangnya 51 centimeter."
"Wah, pantesan pipinya gembul gini. Itu sih berat lahirnya di atas rata-rata."
Perbincangan itu terus berlanjut sampai menjelang siang. Tina akhirnya berpamitan karena siang ini dia akan bekerja. Walaupun sangat berat untuk meninggalkan si kecil, tetapi dia harus melakukannya karena kewajibannya.
Bu Santi ikut meninggalkan cucunya ke Toko karena ada masalah. Dia berjanji akan segera kembali begitu masalahnya selesai.
Zidane dan Alesha pun ikut pamit karena ada urusan yang harus diselesaikan. Mereka berjanji untuk datang menengok Chayra lagi nanti malam. Mereka rencananya akan datang bersama Pak Ismail dan Bu Ainun yang akan datang menjenguk cucu baru mereka. Mereka akan berangkat siang ini menggunakan pesawat terbang untuk menghemat waktu dan tenaga.
Pak Akmal pun antusias begitu mendapat kabar cicitnya sudah lahir. Tetapi, beliau sedang berada di tanah suci untuk melaksanakan ibadah umroh bersama istrinya.
Selepas kepergian semua orang, tinggallah Ardian, Chayra dan si bayi mungil. Sunyi senyap karena mereka hanya diam. Ardian hanya menatap istri dan anaknya secara bergantian. Senyum tidak pernah pudar dari wajah tampannya.
"Mas, aku ngantuk." Ucap Chayra memecah kesunyian diantara mereka.
"Kamu tidurnya nanti, Sayang. Aku mau ngomong sama siapa kalau kamu tidur." Baru saja Ardian menyelesaikan kalimatnya, terdengar rengekan dari dalam box. "Tuh, anak kita bangun, Sayang. Mulutnya seperti mengecap-ngecap. Sepertinya dia lapar."
Chayra menarik nafas panjang seraya bangkit dengan perlahan. "Sini, Mas Ardian bantu angkat taruh di atas pangkuanku." Chayra meletakkan bantal di atas pangkuannya untuk memudahkannya memberi ASI pada putranya.
"Aku berani nggak ya.."
Chayra melotot mendengar ucapan suaminya. "Harus, Mas. You must be a great father. Kita nanti berdua di rumah. Nggak mungkin kan kita merepotkan Ibu untuk menginap mengurus aku. Jangan tanyakan lagi Mami, beliau pasti tidak terbiasa. Kalau Mas Ardian tidak bisa menjadi seorang ayah yang luar biasa, terus mau jadi ayah apaan?"
Ardian melengos tetapi sesaat kemudian ia tersenyum. Ucapan istrinya ia berikan acungan jempol. "Yes, Honey. I must be a great father." Mencium dahi istrinya lalu mencoba mengangkat bayinya yang sudah menggeliat-geliat di dalam boxnya.
__ADS_1
*******