
Usai mendirikan shalat subuh, Chayra membuka jendela kamarnya lebar-lebar. Semilir angin pagi yang dingin jatuh menerpa wajah sayu gadis itu.
Sudah lama dia merindukan suasana ini. Dia memperhatikan layar handphonenya. Pesan terakhir dari calon suaminya masih terpampang di layar handphone itu.
Jangan lupa tahajud, Sayang. I Miss you..
Chayra mengembangkan senyumnya. Entah mengapa tiba-tiba saja dia kepikiran dengan Ghibran. Laki-laki itu benar-benar memberikan perhatian yang lebih padanya. Tidak pernah lupa mengingatkannya untuk ibadah tepat waktu. Satu Minggu lagi, Ghibran akan datang ke rumahnya untuk melamarnya.
Tidak menyangka secepat ini dia akan menjadi istri orang. Padahal, baru kemarin dia masih senang bermain ke Alun-alun.
"Eh,"
Mengingat Alun-alun, Chayra langsung teringat pada ketiga sahabatnya yang belum sempat ia kasih kabar kepulangannya sampai sekarang.
Chayra merenung sejenak. Masih berpikir, siapa yang akan dia hubungi terlebih dahulu.
"Alesha saja," ucapnya lirih. Mengirim pesan singkat terlebih dahulu. Takut kalau melakukan panggilan akan mengganggu.
Assalamualaikum, Lesha. Kamu dimana sekarang. Nggak sibuk kan? Aku kangen sama kalian.
"Mudah-mudahan Alesha langsung menjawabnya." Chayra meletakkan handphonenya di atas meja. Membuka mukenah dan menggantinya dengan jilbab segi empat. Berniat untuk ke kebun belakang rumahnya. Sangat rindu pada berbagai sayuran yang di tanam di kebun itu.
"Ya Allah, kok aku merasa sangat bahagia bisa ke kebun lagi."
Chayra berbalik, mengurungkan niatnya untuk melangkah keluar saat handphonenya berbunyi dengan nyaring.
"Fuuiih.. pasti Alesha." Melihat layar handphonenya. "Eh, kok Kak Ghibran." Chayra menautkan alisnya heran. Ada apa sehingga Ghibran menghubunginya sepagi ini. Menjawab panggilan dengan berdehem-dehem pelan.
"Assalamualaikum, Kak."
"Wa'alaikumsalam, Dek. Lagi apa?"
"Mm.. ini, Kak. Ayra mau ke kebun di belakang rumah."
"Lho, ini masih gelap. Masa kamu sudah mau ke kebun. Tunggu matahari terbit saja dulu."
"Mm.. dulu juga aku senang ke kebun habis shalat subuh, Kak. Kenapa Kak Ghibran menghubungi aku jam segini? Kakak tidak ke Majelis Ta'lim?"
"Aku di rumah, Sayang. Kita kan butuh persiapan untuk acara Minggu depan."
"Astagfirullahal'adzim, aku lupa, Kak."
"Lagi apa?"
"Aku kan sudah bilang tadi."
"Huh, kamu ini, Dek.."
"Apa, Kak?"
"Nanya balik kek."
Chayra tersenyum. "Memangnya pingin banget ya, ditanya sama aku Kakak lagi apa?"
"Iya dong, biar adil."
"Astagfirullahal'adzim.. Kak Ghibran ini." Chayra menarik nafas sejenak. "Baiklah, kalau memang itu keinginan Kak Ghibran. Ayra akan bertanya, Kak Ghibran lagi apa?"
Ghibran senyum-senyum sendiri. "Lagi menatap langit, mengagumi bintang-bintang ciptaan Allah yang berkelip indah. Tidak jauh indah dengan cahaya wanita shalihah yang selalu menyinari gelapnya hatiku."
"Mmm.. itu maksudnya apa?"
"Kamu tidak peka banget ya, Dek?"
"Sangat tidak peka?"
"Aku sedang memikirkan wanita yang selalu memenuhi hatiku. Nama wanita itu.. aku lupa kayaknya."
"Kalau Kakak tidak tau namanya, itu berarti Kakak bohong kalau Kakak sedang memikirkannya. Sudah ah, Kak. Aku mau bantu Ibu sama Ummi di dapur."
__ADS_1
"Lho, katanya mau ke kebun."
"Iya, ini makanya aku mau berangkat."
"Sambil ngobrol saja."
"Astagfirullahal'adzim, aku nggak fokus nanti, Kak."
Ghibran diam, bingung mau bilang apa lagi.
"Aku matikan ya, Kak.."
"Eh, eh, jangan dulu. Masih ingin mendengar suara kamu dulu, Dek. Nggak kasihan apa sama aku? Udah nggak bisa lihat kamu, nggak bisa dekat-dekat kamu, masih tega mau melarang aku mendengar suara kamu?"
Chayra menghela nafas berat. Kalau dia pikir-pikir semakin kesini, Ghibran semakin manja padanya. "Tidak ada yang melarang kamu, Kak. Tapi, seharusnya sebagai calon imam yang baik, Kak Ghibran harus tau mana waktu yang bisa digunakan untuk ngobrol santai, dan mana waktu yang harus digunakan untuk beraktivitas."
"Mm.. marah ya.. sama sikap kekanak-kanakan aku. Aku mah gitu orangnya, Sayang. Kalau udah merasa memiliki itu, kayak nggak mau jauh-jauh. Pinginnya dekat-dekat terus. Pingin selalu mengetahui kabar kamu. Nggak mau hilang kontak walaupun satu menit."
"Huh, tapi yang jadi masalahnya sekarang kita ini belum halal, Ghibran Abdullah."
"Hehehe.." Ghibran menggaruk-garuk kepalanya. "Bercanda, Sayang. Maafkan aku. Sebenarnya, ini adalah hari terakhir aku boleh menghubungi kamu. Mami bilang, sebelum lamaran kita harus puasa saling menghubungi. Jadi, satu Minggu ke depan aku tidak boleh menghubungi kamu."
Chayra tersentak mendengar penuturan Ghibran. "Kok, peraturannya terdengar aneh, Kak?"
"Kamu aja terkejut kan, mendengarnya?"
"Itu peraturan darimana asalnya?"
"Dari Daerah asal Mami. Kalau Papi kan orang sini, dekat Pesantren."
"Ada-ada saja ya budaya ini." Chayra tersenyum sendiri.
"Itulah mengapa aku tidak mau mengakhiri panggilan ini."
Handphone Chayra bergetar. Panggilan masuk dari Alesha. "Kak Ghibran tunggu sebentar, aku mau bicara dengan teman aku." Langsung menyambungkan panggilan.
"Hmmm.." Ghibran diam menunggu Chayra selesai bicara dengan Alesha.
"Wa'alaikumsalam, Ayra. Tumben lho kirim pesan sepagi ini. Apa lho tidak sibuk?"
"Tidak, aku lagi malas belajar dan malas beraktivitas apapun."
"Bingung deh gue, denger ucapan lho."
"Aku sedang di rumah, Lesha. Aku merindukan kalian."
"Tunggu, tunggu. Lho kapan pulang. Kok, tiba-tiba sudah di rumah? Lho bohong kan?"
"Astagfirullahal'adzim, kamu nggak percaya kalau aku di rumah?"
"Nggak percaya sama sekali. Lho mah sukanya ngeprenk gue. Mana ada lho udah pulang tanpa ngasih tau gue terlebih dahulu."
"Ya Allah, Lesha.. masih nggak percaya juga. Video call ya, biar kamu percaya." Chayra hampir saja mematikan sambungan telepon. "Ups," Chayra lupa kalau dia juga sedang melakukan panggilan dengan Ghibran.
"Ayo, kalau kamu benar-benar ada di rumah." Alesha langsung menyahut saat tidak ada suara Chayra.
"Tunggu sebentar, Lesha. Aku menyambungkan panggilannya dengan seseorang."
"Lho menyambungnya dengan siapa? Kok lho main sambung-sambung aja sih?"
Chayra tidak menghiraukan ucapan Alesha. Dia malah bicara dengan Ghibran. "Mm.. Kak Ghibran, aku matikan sebentar ya. Aku yang akan menghubungi Kakak nanti."
"Terserah kamu, Dek."
"Tunggu, tunggu, tunggu. Ini cowok siapa, Ayra? Gue butuh penjelasan." Alesha langsung menyahut.
"Nanti aku jelaskan. Kamu kan butuh bukti dulu kalau aku memang benar-benar di rumah."
"Nggak, nggak. Sekarang aku butuh penjelasan, siapa cowok yang sedang ngobrol bersama kita."
__ADS_1
"Makanya nanti aku jelaskan. Kak Ghibran sibuk sekarang. Dia harus ke Kampus. Kalau kamu penasaran, kamu datang ke rumah sekarang."
"Lho beneran di rumah, kan?"
"Iya, Alesha Sayang. Masa sih aku bohong."
"Oke, kalau begitu. Gue akan ke rumah lho sekarang."
"Ajak Tina dan Amira juga. Aku juga belum menghubungi mereka."
"Wokay.. lho tunggu kedatangan kami. Siapkan cemilan yang banyak sebagai teman ngobrol."
"Mmm..."
"Assalamualaikum, Ustadzah."
"Nggak cocok mah akunya jadi Ustadzah. Wa'alaikumsalam.."
Tut..Tut.. Tut..
Alesha langsung mematikan sambungan telepon.
"Sudah selesai ngobrolnya, Dek?"
"Eh, iya. Maaf kalau temannya Ayra membuat Kak Ghibran tidak nyaman."
"Tidak apa-apa, Dek." Ghibran menurunkan volume suaranya. Terdengar seperti orang yang sedang kecewa.
Chayra terdiam. Ada rasa bersalah karena menyambung panggilan itu. "K.. Kak Ghibran marah ya, sama Ayra?"
"Nggak, kenapa aku harus marah?"
"Tapi, suara Kak Ghibran kayak orang yang kecewa gitu sama aku."
"Nggak, Sayang. Tidak baik juga kan, kalau kamu mengabaikan panggilan teman kamu. Aku baik-baik saja kok. Tidak usah dipikirkan. Aku.. aku hanya..."
"Hanya apa, Kak?"
"Hah, aku hanya takut kalau kamu terlalu sibuk dengan teman-teman kamu dan lupa dengan aku."
"Astagfirullahal'adzim, Ayra tidak seperti gitu orangnya, Kak."
Chayra meletakkan handphonenya saat melihat ibunya datang.
Bu Santi tersenyum melihat ekspresi panik putrinya. "Bicara sama siapa, Nak, sepagi ini?" Duduk di samping Chayra. Mengambil handphone yang tadi diletakkan putrinya itu.
Chayra tersenyum meringis. "Jangan dilihat dong, Bu. Ayra kan jadi malu." Berusaha mengambil handphone dari tangan ibunya.
"Kenapa harus malu sama Ibu sendiri, Nak?" Menatap layar handphone Chayra. "Lho, ini kan, Nak Ghibran yang nelpon. Seharusnya Ayra cerita sama Ibu. Ibu juga kan mau mengenal calon menantu Ibu." Bu Santi mendekatkan handphone ke telinganya. "Assalamualaikum, Nak." Sapanya lembut.
"Eh, Wa'alaikumsalam, Bu." Ghibran terdengar sedikit gugup. Namun, buru-buru ia tutupi rasa gugupnya itu. "Masya Allah, ternyata calon mertuaku terdengar sangat lemah lembut."
"Aamiin, Nak. Ghibran apa kabar?"
"Alhamdulillah, sehat, Bu."
"Ibu masih penasaran nih. Mau dong dengar cerita versi Ghibran. Bagaimana ceritanya kenal sama putri Ibu. Terus ingin melakukan lamaran dalam waktu dekat. Mbak Ainun sih, sudah cerita sama Ibu. Tapi, Ibu masih ingin mendengar ceritanya dari Ghibran juga."
Ghibran menelan ludahnya mendengar permintaan mertuanya. "Ghibran.. Ghibran mencintai Zahra, Bu."
Chayra hanya bisa menunduk mendengar percakapan ibu dan calon suaminya.
"Kenapa bisa cinta? Apa yang membuat Ghibran sampai jatuh cinta pada seorang Chayra Azzahra?" Bu Santi kembali melontarkan pertanyaan.
"Chayra Azzahra itu.. orangnya sangat berbeda dari kebanyakan wanita yang Ghibran kenal, Bu. Dia itu selalu menjaga sikap ketika sedang berhadapan dengan lawan jenis. Dan.. yang membuat Ghibran semakin kagum padanya, Zahra sangat gemar beristighfar." Ghibran tersenyum mengakhiri kalimatnya.
"Apa lagi yang membuat kamu jatuh cinta, Nak?"
"Tidak tau juga, Bu. Intinya, Ghibran ingin segera menghalalkannya. Ghibran takut, kalau ditunda-tunda, Zahra berpindah ke lain hati."
__ADS_1
* * *