
Chayra benar-benar mengurung diri di dalam kamar. Saat sampai rumah tadi, dia hanya menjumpai Satpam yang menjaga rumahnya. Sekedar menyapanya lalu masuk ke dalam rumah. Suasana rumah yang sepi membuat perasaannya semakin bimbang.
Bian menunggu di kamar tamu yang biasa dipakainya kalau datang ke rumah kakaknya. Tadinya dia berniat mau langsung pulang. Tetapi melihat kondisi kakaknya yang rapuh membuatnya mengurungkan niatnya untuk langsung pulang.
Bian POV...
Aku keluar dari kamar untuk melihat keadaan Kak Ayra. Tapi, pintu kamarnya masih terkunci. Aku merasa sangat kesepian di rumah ini. Aku ingin mengambil Adzra biar aku ada teman. Tapi.. aku takut mengganggu Kak Ayra.
Walaupun sebentar lagi aku akan tamat Sekolah Menengah Atas, tidak membuatku paham dengan perasaan wanita. Yang aku tau, Kakakku hanya terluka karena mantan kekasihnya menyinggung suaminya. Aku masih belum paham masalah perasaan cinta. Karena sampai saat ini aku belum pernah berpacaran. Iya.. walaupun banyak teman-teman wanita di kelasku yang mengaku mengagumiku, tidak membuatku penasaran pada mereka. Aku hanya merasa belum pantas untuk dekat dengan wanita. Bagaimanapun juga saat ini aku masih membebani Ibu.
Aku menempelkan telingaku di pintu kamar Kak Ayra. Tidak ada suara apapun yang aku dengar. Mudah-mudahan Kak Ayra tidur dan melupakan kejadian tadi siang. Hmm... aku juga lumayan sakit hati mendengar ucapan Kak Ghibran yang mengatakan Kak Ardian itu orang yang tidak bertanggung jawab. Tau apa dia dengan kehidupan Kak Ardian. Kalau saja dia tau kalau Kak Ardian sudah menjual habis harta peninggalan papinya untuk membayar hutang maminya, dia akan sangat malu mengatakan Kak Ardian orang yang tidak bertanggung jawab.
Aku berbalik untuk kembali ke dalam kamar. Sebentar lagi akan masuk waktu Maghrib. Lebih baik aku menunggu waktu shalat di dalam kamar. Kenapa perasaanku tidak tenang seperti ini. Aku saja merasa resah seperti ini gara-gara kejadian tadi. Bagaimana dengan Kak Ayra. Kak Ardian juga kenapa belum pulang sampai jam segini. Perasaan kemarin Kak Ayra bilang Kak Ardian akan sampai rumah sore hari. Tapi, sebentar lagi akan petang dan Kak Ardian belum ada tanda-tanda akan pulang. Aku mengurungkan niatku untuk masuk ke dalam kamar. Aku harus pastikan kalau Kak Ayra baik-baik saja.
Aku kembali ke depan kamar Kak Ayra. Perlahan aku mengetuk pintu kamarnya. "Kak.." ucapku perlahan. Mudah-mudahan Kak Ayra merespon.
Hanya beberapa detik menunggu, pintu terbuka dari dalam menampakkan orang dibalik pintu dengan mata sembab. "Ada apa, Dek, kamu mau pulang?" Nada suara Kak Ayra terdengar sedih.
"Mm.. t.. tidak, Kak. Aku hanya mengkhawatirkan Kakak. Kakak tidak keluar sejak masuk tadi. Kakak masih menangis?"
"Tidak, Dek. Kakak sudah baik-baik saja sekarang. Ini sisa-sisa yang tadi." Kak Ayra mengusap-usap matanya.
"Kamu mau pulang, Dek?" Kembali pertanyaan itu keluar.
"Aku akan pulang kalau Kak Ardian sudah pulang. Aku mau mempersiapkan diri untuk shalat dulu, Kak. Kakak jangan nangis lagi ya.."
"Iya, Dek.."
Aku berlalu kembali ke kamar. Hmm... perasaan wanita benar-benar sensitif. Kak Ayra suka bercanda, tapi apa ucapan Kak Ghibran tadi siang benar-benar menyinggungnya. Anggap kejadian ini sebagai pelajaran. Aku tidak boleh sensitif seperti Kak Ghibran. Aku harus belajar menjadi laki-laki pengertian pada pasangan. Iya.. walaupun bayangan seperti itu masih sangat jauh.. tapi setidaknya aku harus mempersiapkan diri.
Author POV....
Sampai menjelang waktu Isya, Ardian belum ada tanda-tanda akan pulang. Chayra dan Bian duduk bersama di ruang keluarga memperhatikan Adzra yang ngoceh terus, entah apa yang dia katakan.
"Kak, Kayaknya Kak Ardian nggak jadi pulang hari ini."
"Dia masih di jalan, Dek. Kakak sudah menghubunginya tadi."
"Aku mau keluar membeli makanan, Kak. Perut udah bunyi dari tadi. Kakak tidak ada persediaan makanan sama sekali."
__ADS_1
"Kakak nitip juga dong, Dek. Kamu pakai uang kamu dulu, nanti Kakak ganti. Kakak malas ke atas."
Sebenarnya Bian ingin menolak, tetapi mengingat kondisi batin kakaknya yang belum stabil membuatnya mengurungkan niatnya. "Kak Ayra mau makan apa?"
"Belikan aku makanan yang terlihat enak."
Bian mendengus. "Yang namanya makanan pasti enak lah, Kak. Kakak sebutkan namanya biar aku tidak pusing nanti."
"Pasta saja kalau begitu. Belikan Kakak dua porsi. Kasih ke Satpam saat kamu masuk nanti."
"Wokay..." Bian mengacungkan jempolnya. "Ternyata Kakak rajin berbagi, pantesan rizkinya lancar terus."
Chayra hanya tersenyum kecil tanpa menimpali ucapan adiknya.
_____________
Bian sangat terkejut saat kembali dari membeli makanan. Ia mendapati Kakaknya sedang menangis dalam pelukan Ardian. Sepertinya Ardian baru sampai dan Chayra langsung menumpahkan perasaan sesak yang dirasakannya sejak tadi siang.
Bian meletakkan kantong plastik yang dibawanya di atas meja. Hal itu membuat Ardian mendongak menatapnya. "Kamu sudah kembali, Dek?"
"Iya, Kak. Kakak mau makan juga?"
"Nanti kita makan sama-sama. Aku mau menenangkan Chay dulu."
Ardian hanya mengangguk menanggapi. Ia kembali mengusap-usap punggung istrinya yang masih terisak dalam pelukannya.
"Aku mau istirahat, Mas."
"Tapi kamu belum makan malam, Sayang."
"Aku nggak lapar. Aku akan makan kalau aku lapar nanti."
"Aku antar ke kamar kalau begitu?"
Chayra mengangguk seraya bangkit. Merasa puas menangis dalam pelukan suaminya membuat perasaannya lebih plong. Dada Ardian selalu terasa nyaman saat dia bersandar di sana.
"Bi, kamu nginap malam ini, Kakak mau ngomong."
Bian mengangguk patuh. "Adzra mau ditinggal disini, Bang?"
__ADS_1
"Iya, malam ini Adzra tidur sama kamu saja."
"Aku sih nggak masalah. Tapi bagaimana kalau dia mau mimik nanti?"
"Gampang.. kamu tinggal membukakan kancing baju kamu lalu perlihatkan dada kamu."
Bian melotot sambil mengernyitkan bibirnya. Ia bergidik ngeri membayangkan ucapan Ardian. "Aku laki-laki, Kak. Tega kamu ngomong kayak gitu, Bang."
Ardian tertawa puas. Bian paling anti diajak membicarakan hal-hal berbau mesum. Dia biasanya akan langsung mengganti topik pembicaraan atau pergi untuk menghindar.
"Abang bercanda, Bi. Abang mau bicara serius sama kamu. Tapi nanti dulu.."
Bian mengangguk paham. Ia mendudukkan tubuhnya di atas sofa untuk menunggu Ardian kembali.
"Kakak kamu tidak tidur siang tadi, Bi?" Bian terlonjak kaget karena tidak menyangka Ardian akan langsung turun kembali.
"Kayaknya nggak pernah, Bang. Soalnya kami berangkat dari rumah habis shalat Zuhur. Terus kami mampir di Kafe Dahlia karena Kak Ayra nggak sempat makan siang di rumah."
"Ceritakan apa yang terjadi sehingga Kakak kamu tiba-tiba seperti ini. Aku yakin ada sesuatu sehingga dia menangis seperti ini."
Bian menarik nafas panjang. "Semua baik-baik saja saat kami keluar dari rumah. Kak Ayra bahkan tidak sabar untuk sampai rumah karena berencana mempersiapkan makan malam spesial bersama Abang malam ini. Tapi... semuanya berawal ketika kami keluar dari Kafe Dahlia.
Bian akhirnya menceritakan semua kejadian dengan sangat apik. Hampir tidak ada yang terlewatkan sampai kakaknya mengurung diri.
Ardian mengusap wajahnya dengan kasar setelah Bian selesai bercerita. Bibirnya beberapa kali menyunggingkan senyuman getir.
Ardian POV...
Aku seakan-akan tidak percaya mendengar cerita Bian. Ghibran.. Ghibran.. dan Ghibran.. kenapa pria itu selalu saja membuat masalah. Kenapa dia selalu menganggap ku hina. Aku tau aku tidak akan pernah bisa selevel dengan dia. Aku akan selalu berada di bawah dia. Tapi, aku tidak bisa menerima jika dia membuat istriku menangis seperti ini.
Heh, aku sudah menghayal saja tadi. Sampai rumah, aku akan bersenda gurau bersama istri dan anakku. Tiga hari tidak bertemu mereka membuatku rindu berat. Tapi.. aku kaget bukan main tadi. Saat aku mengucap salam, Chay langsung menghambur memelukku. Belum lagi isak tangisnya membuatku semakin bingung. Aku tidak bisa memaksanya menceritakan semuanya saat kondisinya sedang rapuh seperti ini. Untungnya ada Bian.
Anak ini memang sangat menyayangi Kakaknya. Mungkin karena didikan yang baik dari Ibu sejak mereka kecil, sehingga mereka saling menyayangi sampai sekarang. Aku salut dengan kesiagaannya jika itu menyangkut masalah sang kakak.
"Bang,"
Aku menatapnya saat dia memanggilku. "Iya, ada apa, Dek?"
"Aku ingin melaporkan kejadian ini pada Kakek."
__ADS_1
Aku terkejut mendengar ucapan Bian.
***********