
"Lho harus menikah dengannya." Nafas Amira naik turun menahan rasa kesalnya. "Gue udah peringatkan berulang kali sama lho. Jangan pernah lho mencoba main-main dengannya. Lho tau sendiri kan, di sentuh aja dia marahnya luar biasa. Lho malah sampai berani macam-macam sama dia."
"Please, Sayang. Bawa gue kabur dari sini. Kemana aja deh, yang penting gue bisa menghindari pernikahan ini."
"Jangan menambah masalah, Kak. Gue juga pusing banget dengan masalah ini." Amira mengalihkan pandangannya. "Gue bisa apa coba? Kita mau makan pakai apa kalau kita kabur? Sekarang aja masih pakai kartu kredit tanggungan orang tua."
"Nyokap dan Bokap lho juga kan orang kaya, Mira." Ardian menggenggam erat tangan Amira. "Please, gue cintanya cuma sama lho. Bagaimana gue mau hidup nanti, kalau gue terus-terusan di suruh jadi Ustadz nanti sama teman lho itu."
"Lho belum mengenal Ayra lebih dekat lagi, Kak. Andaikan lho tau dia itu orangnya bagaimana. Kakak pasti akan menyesal mengatakan ini."
"Ck.. please deh, jangan bahas cewek itu lagi. Eneg gue lama-lama." Ardian mengalihkan pandangannya. Namun, tangannya masih menggenggam erat tangan Amira.
"Gue tidak bisa menghindari percakapan ini. Karena bagaimanapun juga, masalah ini datang karena Kak Ardian yang telah berani macam-macam sama dia."
"Gue harus bagaimana sekarang, Sayang? Papi mencabut kartu debit dan kartu kredit yang gue pegang. Uang tunai cuma punya berapa lembar. Mana cukup untuk dibawa kabur."
"Masalah itu dihadapi, bukan dihindari. Kalau Kak Ardian menghindar, masalah itu tidak akan pernah terselesaikan."
"Tapi.. ini masalahnya ribet banget, Sayang. Masa gue cuma beri pelajaran buat dia. Eh, malah dia bersikap seenaknya minta dinikahi."
"Cara lho yang salah, Kak." Suara Amira sedikit bergetar. "Gue aja kecewa banget saat tau kalau Kak Ardian melakukan itu pada Ayra."
"Kok lho malah seperti nyalahin gue sih, Mir."
"Memang lho yang salah, Kak. Lho yang terlalu terobsesi untuk balas dendam sampai-sampai lho lupa batasan." Amira menarik nafas dalam, mencoba menguasai diri agar air matanya tidak tumpah.
"Maafin gue, Mir. Gue benar-benar tidak bisa menahan diri waktu itu." Ardian kembali menggenggam erat tangan Amira.
Amira menarik tangannya. "Ngaku juga kan, kalau Kak Ardian memang tertarik dan tidak bisa menahan diri saat melihat keindahan tubuh Ayra."
__ADS_1
Ardian terbelalak, "maksud lho apa ngomong gitu, Sayang?!" Kembali meraih tangan Amira dan menahannya, agar Amira tidak menariknya lagi.
"Sudahlah, Kak. Lusa gue mau berangkat ke Turki. Dan sekarang gue mau pulang. Selamat atas pernikahannya dan selamat berbahagia." Amira mendongak menahan air matanya. Tangannya menggenggam erat tangan Ardian. Bangkit tanpa melepaskan genggamannya. Berjalan mendekati tempat duduk Ardian yang bersebrangan dengan tempat duduknya.
Ardian mendongak menatap Amira yang sudah berdiri di depannya. "Lho jangan ngomong ngawur dong, Sayang. Lho nggak mungkin ninggalin gue, kan? Bilang kalau lho cuma bercanda."
"Gue serius, Kak. Gue nggak mungkin diam disini menyaksikan pernikahan orang yang sangat gue cintai. Orang yang telah mengisi kekosongan hati gue selama ini." Amira mengusap air matanya. "Gue nggak kuat melihat pernikahan kekasih gue dengan sahabat gue sendiri."
Ardian bangkit, langsung memeluk Amira tanpa aba-aba. "Gue cuma mencintai lho, Amira. Please, jangan tinggalin gue hanya karena masalah ini." Mempererat pelukannya, mencium aroma tubuh wanita itu dalam.
Amira berusaha menarik diri dari pelukan Ardian. Terasa berat karena dia juga sangat mencintai dan merindukan pelukan hangat pria itu. Namun, dia harus melakukannya.
"Kita bisa melewati semua ini." Menatap Ardian, berusaha tersenyum pada pria itu. "Kak Ardian harus menikah dengan Ayra. Dia wanita yang shalihah. Mudah-mudahan, dengan kehadiran dia dalam kehidupan Kakak. Kakak bisa membanggakan kedua orang tua Kakak." Tangan Amira terangkat perlahan dan menyentuh wajah Ardian.
Ardian langsung mencium tangan itu. "Please, lho jangan pergi.."
"Lho benar-benar akan meninggalkan gue, Mira?"
"Maafin gue, Kak. Gue harus melakukan ini. Gue pamit, assalamualaikum..." Amira menarik tangannya dan bergegas meninggalkan Ardian.
"Mira, please.. Mira, Mira..!"
Amira tidak menghiraukan teriakan Ardian. Dia bergegas lari menghampiri mobilnya dan meninggalkan tempat itu tanpa menoleh lagi ke belakang.
Ardian hanya bisa menatap kepergian gadis itu dari kejauhan. "Arrrggghh.." Ardian mengacak-acak rambutnya frustasi. "Gue benci keadaan ini..!" menendang-nendang kerikil kecil di trotoar jalan yang sedang diperbaiki.
Setelah capek mondar-mandir, Ardian duduk di pinggir trotoar sambil menatap kendaraan yang lalu lalang. "Persetan dengan hubungan kerja Papi. Gue butuh ketenangan dan kebahagiaan." Merogoh saku celananya. Mengambil handphonenya dan membolak-balik benda gepeng itu.
"Ini kalau gue jual dapat berapa ya.." Ardian tersenyum sinis, meratapi nasibnya yang seperti ini.
__ADS_1
Kembali berjalan untuk mencari konter terdekat. Dia berniat akan melelang benda gepeng berlogo apel digigit itu. "Mudah-mudahan lho tembus dua puluh juta. Selamat tinggal.. lho baru beberapa minggu bersama gue. Tapi, gue butuh sesuatu yang bisa membuat gue bisa melupakan masalah ini. Ardian mencium benda itu sebagai perpisahan. Berjalan memasuki konter yang terlihat masih ramai pengunjung.
Tidak lama bernegosiasi, akhirnya Ardian berhasil melepaskannya dengan harga lebih dari yang dia bayangkan. Membeli satu buah smartphone yang jauh lebih murah dari miliknya sebelumnya. "Ok, terimakasih.." ucapnya setelah transaksi selesai.
Setelah berhasil mengutak-atik handphone barunya. Ardian langsung memesan mobil online untuk mengantarnya ke tempat tujuan selanjutnya.
Bau menyengat aroma berbagai macam aroma farpum wanita langsung menyambut kedatangannya. Beberapa wanita dengan dress super mini datang menghampirinya dan menawarkan jasa.
"Gue nggak minat sama kalian. Gue cuma mau minum kemari. Minggir..." Ardian langsung masuk tanpa mengindahkan godaan wanita-wanita itu.
-------
Ardian pulang hampir lewat tengah malam. Dia melampiaskan semua yang membuatnya tidak nyaman di tempat yang dia datangi tadi. Sempat tidak sadarkan diri karena kebanyak minum. Namun, saat dia sadar, dia bisa pulang dengan selamat dengan menggunakan ojek online.
Ia tertegun dan tidak bisa berkata-kata saat membuka pintu rumah. Mendapati papinya sedang duduk menunggu kepulangannya. "P.. Papi..?" Ardian tergagap. Matanya masih memerah efek dari mabuk tadi. Rambutnya acak-acakan seperti gembel.
Pak Sucipto menggeleng-geleng pelan melihat putranya seperti itu. Bangkit dan langsung melayangkan satu tamparan di pipi kiri Ardian. "Oh, jadi ini pekerjaan kamu selama ini. Selalu pulang malam dengan mabuk-mabukan. Pulang dengan bau seperti ini." Sebentar lagi kamu akan menikah. Seharusnya kamu memantaskan diri dengan calon istri kamu. Apa kamu tidak malu, calon istri kamu sangat shalihah. Kamu kapan berubah? Apa kamu akan begini-begini saja?"
"Malu, Nak. Malu sama usia kamu. Kapan kamu akan bersikap dewasa, Ardian. Papi capek kalau kamu terus-terusan seperti ini."
Plak!
Satu tamparan kembali mendarat di pipi kanan Ardian.
"Papi benar-benar kecewa sama kamu. Papi capek-capek ngurus bisnis sana sini. Ternyata anak yang diperjuangkan malah bertingkah seperti berandalan yang tidak punya masa depan. Kamu sendiri yang bilang kalau kamu punya cita-cita yang harus kamu perjuangkan. Lalu mana cita-cita yang akan kaku perjuangkan itu?! Apakah cita-cita itu bisa tercapai dengan kamu seperti ini?" Pak Sucipto mengambil sebuah buku tebal. Melempar Ardian dengan buku itu.
Ardian hanya menunduk sambil mengeratkan giginya. Dia benar-benar tidak berdaya jika sudah berurusan dengan papinya.
*******
__ADS_1