
Senyum Ardian mengembang saat melihat dua wanita yang sedang duduk menunggu di ruang tunggu untuk tamu.
"Kenapa tidak menghubungiku terlebih dahulu, Sayang?"
"Tidak mau mengganggu kamu kerja, Mas. Kami juga tidak terlalu capek nunggu kok." Chayra bangkit seraya menyalami suaminya lalu menyerahkan putranya pada Ardian.
Ardian mencium gemas pipi gembul Adzra. Capek mencium putranya, Ardian beralih menatap Tina yang duduk di samping Chayra. "Akhirnya bisa ikut juga kamu, Tin. Nggak pergi kerja emangnya?"
"Udah kelar, Kak. Ini sudah jam berapa coba, nanyain aku pergi kerja segala."
"Siapa tau ada lembur." Ardian menarik nafas panjang. "Pekerjaan kamu memang enak. Berangkat pagi, siangnya pulang. Nggak kayak kami disini. Berangkat pagi, pulangnya sore, bahkan kebanyakan malam."
"Tapi duitnya yang beda, Kak. Hasil yang diperoleh pasti sesuai dengan keringat yang dikeluarkan."
"Nanti kita lanjutkan ngobrol di atas. Nggak enak disini, karyawan yang lain seperti tidak nyaman untuk lewat karena kita ada disini." Ardian meraih tas bekal yang dibawa istrinya.
"Biar aku yang bawa, Mas. Kamu kan gendong Adzra."
Ardian hanya tersenyum seraya mengangguk. Mempersilahkan dua wanita itu untuk berjalan di depannya.
Sampai di atas...
"Kalian masuk duluan, aku ada perlu sama Dodit sebentar." Ardian mempersilahkan dua wanita yang dijemputnya untuk masuk duluan ke ruangannya. Sedangkan dia mendekati pintu ruangan Dodit yang tertutup. Perlahan ia mengetuk pintu. "Dit, ayo ikut ke ruanganku." Ardian sedikit berteriak di depan ruangan itu. "Buruan, nanti keberuntunganmu kabur."
"Iya... kamu masuk saja duluan. Aku sedang mempersiapkan berkas untuk bahan rapat nanti malam."
Ardian mencoba memutar kenop pintu, tetapi pintu terkunci dari dalam. Ia menarik nafas panjang. Asistennya ini memang sering sekali mengunci pintu. Kalau sudah fokus kerja, dia tidak akan memperhatikan apapun yang terjadi di sekitarnya. "Dit, nanti kamu siapkan lagi. Kamu istirahat saja dulu."
"Tapi, nanti waktunya mepet, Ar. Kamu suka nggak sabaran nanti. Yang ada kamu pasti menyalahkan aku kalau semuanya belum siap." Dodit masih menjawab ucapan Ardian walaupun orangnya tidak kelihatan sama sekali.
"Ada yang mau bertemu kamu sebentar, Dit. Calon orang spesial kayaknya." Ardian menahan senyum mengatakan itu.
Hening, Dodit tidak menjawab lagi. Ardian tersenyum sendiri. Ia masih menunggu jawaban walaupun sepertinya tidak akan mendapatkannya.
Sampai lima menit menunggu tetapi belum ada jawaban, Ardian akhirnya mengetuk pintu lagi. "Dit, kamu masih hidup nggak?"
"Loh, kamu masih disana, Ar? Aku kira kamu sudah masuk ke dalam ruangan kamu."
__ADS_1
"Kamu tidak menimpali ucapanku tadi, makanya aku masih menunggu."
"Iya, aku kesana sekarang. Masuk saja duluan. Sebentar lagi semuanya akan kelar."
"Ok.. aku tunggu ya.."
"Wokay.."
Ardian berlalu setelah mendengar jawaban Dodit.
Dodit POV..
Aku menongolkan kepalaku di pintu setelah mendengar langkah Ardian menjauh. Sebenarnya aku sudah berdiri di depan pintu sejak tadi. Tapi, saat tanganku akan memegang handle pintu, saat itu juga Ardian mengatakan kalau yang ingin bertemu itu adalah calon orang spesial.
Deg...!
Jantungku langsung berpacu lebih cepat. Tanganku yang sudah terangkat, langsung aku turunkan perlahan. Aku kembali duduk di depan meja kerjaku. Apa-apaan ini.. kenapa Ardian tidak memberitahuku terlebih dahulu kalau wanita yang akan dia kenalkan ke aku akan datang? Setidaknya aku mempersiapkan diri sebelum bertemu dengannya.
Hah... aku menghembuskan nafas panjang. Ya Allah.. aku hanya mau berkenalan, tapi kok rasanya sangat tegang. Kenangan pahit di masa lalu...
Huh, kejadian itu padahal sudah sangat lama terjadi. Tapi, kenapa memory di otak ini tidak bisa menghapusnya.
Saat sampai di depan ruangan Ardian, dadaku berpacu semakin cepat. Aku menelan ludahku beberapa kali. Belum saja membuka pintu, kenapa aku malah semakin tegang. Lama aku berdiri untuk menenangkan diri. Detak jantungku perlahan-lahan terasa normal kembali. Aku akhirnya membuka pintu dengan perlahan.
"Assalamu'alaikum..." bibirku spontan mengucap salam. Padahal biasanya saat aku sampai di depan pintu, aku hanya mengetuk dua kali, membuka pintu dan langsung nyelonong masuk. Mana pernah bibir ini mengucap salam. Hahaha.. aku tertawa dalam hati. Kok bisa mulut ini kompromi dengan keadaan.
Wanita yang duduk bersama Bu Ayra menoleh ke arahku saat aku mengucap salam. Hmm.. cantik.. hanya kata itu yang terbersit di hatiku saat melihatnya. Aku tersenyum seraya menundukkan badanku padanya. Berjalan mendekat untuk mencari tau keberadaan Pak Bos.
"Mm... Bu Ayra, Pak Ardiannya ada?"
"Ada, Pak Dodit. Orangnya lagi di kamar mandi. Pak Dodit duduk saja dulu disini bersama kami."
Hmm.. aku hanya bisa tersenyum salah tingkah. Tapi.. kaki ini berjalan mendekat ke arah mereka. Dengan malu-malu aku duduk di hadapan dua wanita itu.
Aku beberapa kali berusaha mencuri pandang ke arah wanita yang sedang ngobrol asyik dengan Bu Ayra. Hm... aku akui wanita ini lumayan cantik. Setelah aku pikir-pikir, ternyata teman Bu Ayra yang menjadi kakak iparnya sekarang itu juga cantik. Apa mereka dulu punya geng wanita cantik, sehingga semuanya cantik.
Ah, untuk apa aku memikirkan hal itu. Seperti kata Ardian, yang seharusnya aku perhatikan adalah, wanita ini setidaknya paham dengan ajaran agama.
__ADS_1
Khmm... khmm.. aku sengaja berdehem, agar dua wanita di depanku menyadari kalau ada aku di hadapan mereka. Tapi.. hmm... sepertinya Bu Ayra sengaja mengajak temannya itu ngobrol. Apa dia memancingku agar mau bicara duluan. Ah, mau berkenalan dengan wanita saja, kok terasa ribet seperti ini ya... Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. Benar-benar bingung harus mulai dari mana.
Si Ardian juga kemana lagi. Nggak tau apa, aku sudah gerogi duduk berhadapan seperti ini. Cewek ini juga terlihat tidak perduli lagi dengan kehadiranku.
Ardian...
What will I do know..?
Ingin rasanya aku kembali saja ke ruanganku. Cukup lama menutup diri dari wanita membuat kepercayaan diri untuk memulai lagi sulit aku dapatkan. Masih saja ada rasa tidak percaya pada diri sendiri, kalau aku pasti bisa memulai sesuatu yang baru dengan orang baru juga.
Author POV...
Ardian keluar dari kamar mandi setelah cukup lama Dodit menjadi 'hanya' seorang pendengar tanpa dilibatkan sedikitpun dalam percakapan.
"Eh, udah selesai menyiapkan berkasnya, Dit?" Ardian langsung menghempaskan tubuhnya di samping Dodit.
"Sudah sepuluh menit aku duduk disini. Aku hanya menjadi pendengar setia percakapan dua wanita ini." Dodit menunjuk Chayra dan Tina bergantian. Yang ditunjuk hanya saling pandang karena tidak paham.
"Jadi kalian belum berkenalan sama sekali?"
Dodit menggeleng lemah, sedangkan Tina mengernyit heran. "Kan sudah tau nama masing-masing. Namanya Dodit, kan?" Tina melontarkan pertanyaan tanpa rasa bersalah.
Chayra dan Ardian saling pandang lalu menepuk jidat masing-masing.
"Pantesan jodoh kamu nggak turun-turun dari dulu, Tin. Bicaranya lempeng kayak gitu, nggak ada seru-serunya diajak berkenalan dengan kamu."
"Terus aku harus bagaimana dong?"
"Kalem dikit, Sayang. Mulut kamu terlalu blak-blakan, nggak ada manis-manisnya."
Dodit tertawa kecil melihat ekspresi Tina yang terlihat kebingungan. Tapi sebenarnya dia suka dengan sifat wanita seperti Tina. Ngomong apa adanya tanpa harus membuat drama yang banyak bara-berenya.
"Kita ta'aruf, bagaimana?" Kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulut Dodit. Jangankan Tina, Ardian dan Chayra pun sangat terkejut dengan ucapan Dodit itu.
"Mm... kita akan saling mengenal saat proses ta'aruf nanti. Aku suka dengan sikap blak-blakan kamu."
Tina yang tidak bisa menutup mulutnya karena sangat terkejut, perlahan bisa menutup mulutnya. "K... kita akan ta'aruf, Kak?"
__ADS_1
"Iya.." Ardian yang menjawab.
******