Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Tetap pada keputusan awal


__ADS_3

Ardian masih duduk di hadapan Papinya. Pak Sucipto terlihat masih kesal karena ucapan Ardian yang mengatakan kalau perbuatannya yang setara dengan perbuatan maling.


"Apa yang kamu inginkan sekarang?" Pertanyaan itu terlontar dari mulut Pak Sucipto setelah cukup lama mereka terdiam tenggelam dalam pikiran masing-masing.


"Menurut Papi?"


"Kamu jangan suka balik bertanya, Ardian."


"Kenapa?"


"Kamu jawab saja pertanyaan Papi. Apa yang kamu inginkan sekarang."


Ardian melirik Papinya. "Aku mau mengundurkan diri."


Pak Sucipto langsung melototkan matanya. "Apa?! Kamu jangan gila, Ardian. Perusahaan di bawah pimpinan kamu benar-benar berkembang pesat. Apa kamu akan menyia-nyiakan semuanya?"


"Mau perusahaan Papi berkembang pesat atau tidak, semuanya tidak ada pengaruhnya untukku. Yang menikmati semuanya hanya Papi dan Mami. Aku hanya menjalankan kewajiban aku, tetapi tidak bisa menikmati hasil dari kerja kerasku."


"Tapi setidaknya kamu bisa mengasah kemampuan kamu, Nak."


"Aku bisa melakukannya di tempat lain. Banyak orang yang membutuhkan tenaga ahli sepertiku. Aku mau pamit kalau Papi tidak mau menyampaikan apapun padaku." Ardian bangkit seraya menyalami Pak Sucipto. Tidak lupa mencium tangannya walaupun dia sedang kesal."


Pak Sucipto hanya diam menyikapi perlakuan putranya. Ingin mengatakan sesuatu tapi suaranya seperti tercekat di tenggorokan. Akhirnya dia hanya menatap kepergian putranya tanpa sepatah kata pun.


Sampai kantor, Ardian disambut oleh Dodit yang sudah menunggunya di sofa depan ruangannya.


"Tumben telat, Ar?" Dodit langsung bangkit untuk membukakan pintu ruangan untuk Ardian.


"Ada yang aku urus tadi. Ada apa, tumben menunggu di depan?"


"Tadinya aku mau masuk, tapi nggak enak karena pemilik ruangan sedang tidak ada di tempat."


"Kayak orang yang nggak biasa aja."


Dodit hanya tersenyum sambil membungkukkan sedikit badannya. Setelah beberapa menit terdiam, Dodit batu ingat dengan tujuannya menunggu Ardian tadi. "Oh iya, Pak. Ada berkas dari devisi keuangan yang harus di tandatangani. Silahkan Bapak baca sebelum menandatangani." Ucapannya, meraih map yang ia letakkan tadi di meja Ardian. Bahasanya berubah formal karena susah masuk ranah pekerjaan.


"Iya, terimakasih, Dit." Ardian meraih berkas yang disodorkan Dodit. Membacanya dengan teliti sebelum ia membubuhkan tanda tangan.


Menjelang makan siang, Ardian dikejutkan oleh ketukan di pintu ruangannya. "Masuk..!" ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya dari komputer.


Dodit muncul dengan senyum sumringah. "Pak, ada istri Bapak di depan."


Ardian langsung mengangkat wajahnya. "Kenapa tidak disuruh langsung masuk?" Ardian bangkit mendekati Dodit.


"Katanya tidak mau mengganggu kerja Bapak. Dia mau menunggu sampai Bapak selesai bekerja. Dia akan masuk kalau sudah jam istirahat."

__ADS_1


Ardian hanya berdecak sambil menggeleng-geleng pelan. Ia berjalan keluar ruangannya untuk menjemput Chayra.


Chayra langsung bangkit begitu melihat suaminya. "Eh, Mas.. maaf aku datang tanpa memberitahu Mas Ardian terlebih dahulu."


"Ayo kita masuk. Pasti ada sesuatu sehingga kamu datang tanpa memberi tahu suamimu terlebih dahulu."


Chayra menautkan alisnya. "Nggak ada apa-apa, Mas. Aku hanya merindukan suamiku saja."


"Benarkah?" Ardian menatap istrinya curiga.


"Sama istri sendiri kok tidak percaya sih, Mas."


Ardian hanya tersenyum. Ia menuntun istrinya untuk duduk di sofa.


"Aku membawakan makan siang untuk kamu, Mas."


"Mm... ada yang lain."


"Apa lagi? Aku memang sengaja datang mau mengantar makan siang untuk kamu, Mas. Kamu sering lalai kalau tidak diperhatikan."


"Sekali berbuat kesalahan pasti diingat terus."


Ardian menatap istrinya manja. Bibirnya mengendus-endus hijab istrinya.


Dodit yang melihat kejadian itu hanya bisa menelan ludahnya. Ia berusaha fokus ke pekerjaan yang sedang dia kerjakan. Tetapi tetap saja suara suami istri itu mengganggu konsentrasinya. Dia merasa seperti lalat pengganggu.


Ya Allah... apa-apaan sih mereka ini. Apa mereka tidak kasihan melihat jomblo merana seperti aku ini. Dodit membatin sambil melirik- lirik ke arah Chayra dan Ardian.


"Ini sudah jam istirahat kok, Sayang. Mana makan siangnya. Aku mau makan langsung sekarang." Ardian melirik ke arah kotak bekal di atas meja. Matanya terbelalak saat melihat makanan yang dibawa istrinya. "Makannya kenapa sebanyak ini, Sayang. Kita kan makannya cuma berdua."


"Terlanjur masak banyak tadi, Mas. Sekalian aja bawa lebih banyak. Siapa tau Pak Dodit juga mau ikut bergabung."


Dodit yang mendengar namanya disebut langsung tersenyum sumringah. "Dengan senang hati, Bu Ayra."


"Hmm.. kalau masalah makanan gratis, kamu pasti langsung nyambung. Nggak pakai acara loading dulu." Ucap Ardian ketus.


Dodit tersenyum. "Saya kan belum ada pasangan, Pak. Tidak tau rasanya saat ada yang mengantarkan makan siang seperti ini. Tidak apa-apa kan, kalau saya ikut bergabung bersama Bapak?"


"Alasan saja.."


"Udah, Mas. Kan seru kalau makan rame-rame. Ayo Pak Dodit gabung sini. Mas, di sini ada piring nggak?"


"Ada," Ardian menatap Dodit. Dari tatapan mata Ardian, Dodit sudah paham maksudnya. Ia segera mengambil piring di mani kitchen di ruangan itu.


Makan siang itu berjalan dengan khidmat walaupun hanya dengan menu sederhana yang dibawa Chayra. Setelah selesai makan dan membereskan sisa-sisanya, Chayra minta izin pada suaminya untuk shalat di Musholla yang ada di lantai dua.

__ADS_1


"Kamu kembali lagi kesini nanti, Sayang."


"Aku kayaknya mau langsung pulang, Mas. Adzra tadi aku titip di Bi Idah. Ibu juga katanya mau ke rumah."


"Itu kan, kalau Ibu ke rumah, Adzra pasti lupa sama kita. Dia kan suka nempel di neneknya."


"Tapi kalau stok susunya sudah habis, dia tetap akan mencari mamanya."


Ardian terdiam beberapa saat. "Iya sudah terserah kamu. Tapi nanti kamu naik sebentar untuk pamit. Apa perlu aku antar ke bawah."


Chayra menyebikkan bibirnya. "Aku bukan anak kecil lagi, Mas. Masa mau turun ke bawah pakai acara ditemani segala. Kantor kamu kan tidak ada nenek lampirnya sekarang. Kalau nenek lampirnya masih hidup di sini, aku akan sangat senang ketika mendengar kamu mau mengantarku ke bawah. Aku pamit, Mas. Assalamualaikum..."


"Wa'alaikumsalam.."


**********


Pak Sucipto duduk di depan putranya. Malam itu ia sengaja mendatangi rumah Ardian. Ardian enggan memulai pembicaraan karena takutnya dia tidak bisa mengontrol emosinya. Sudah dua hari ini Pak Sucipto mengancamnya dengan berbagai ancaman. Tetapi Ardian tetap mengatakan akan mengundurkan diri jika gajinya terus menerus diambil alih papinya.


"Apa kamu tetap pada pendirianmu, Ardian?"


"Iya.." jawab Ardian mantap. "Aku sudah mengatakannya berulang kali pada Papi. Aku tidak akan terpengaruh dengan ancaman Papi. Lagian aku juga masih bingung dengan Papi, apa sih masalahnya sehingga Papi sampai tega melakukan ini pada putra Papi sendiri."


"Kamu hanya perlu mengikuti ucapan Papi saja."


"Aku akan patuh seandainya Papi juga menghargai usahaku selama ini."


"Kalau kamu keluar dari Perusahaan Papi, maka tidak akan ada lagi Perusahaan yang akan menerima kamu."


"Silahkan... lakuakan apapun yang ingin Papi lakukan. Setidaknya aku masih memiliki istri dan keluarga istriku yang akan membantuku bangkit kembali. Beberapa kali terpuruk, tetapi mereka tidak pernah meninggalkanku. Tidak seperti seseorang. Ketika aku jatuh, dia malah semakin jauh meninggalkanku. Bahkan dia sampai membuangku tanpa ada rasa kasihan. Dan disaat aku tumbuh menjadi orang yang berguna, dia dengan tidak ada rasa malu memanfaatkan kecerdasan yang aku miliki."


Pak Sucipto hanya melengos. Ucapan putranya seperti menamparnya. Kesalahan yang di buat Ardian di masa lalu yang membuatnya sampai mengusir anak semata wayangnya itu kembali terngiang dalam ingatannya.


"Maafkan aku, Papi. Aku bukan anak berbakti yang selalu tunduk dan menuruti semua keinginan Papi. Izinkan aku menentukan jalan hidupku sendiri, agar aku tidak terus-menerus bergantung pada orang tua."


"Papi tidak ingin kamu keluar dari Perusahaan."


"Aku sudah mengajukan syaratnya. Papi tinggal menandatangani perjanjian tertulis yang sudah aku buat itu. Tetapi jika syarat-syarat itu Papi tolak juga, aku terpaksa akan keluar. Aku tetap pada keputusan awal."


"Tapi.."


"Tidak ada kata tapi lagi, Papi.."


Pak Sucipto langsung bangkit dan meninggalkan rumah Ardian tanpa sepatah katapun untuk menjawab putranya.


Ardian tersenyum kecut. Sebenarnya dia tidak ada niat untuk berbuat demikian. Dia bukannya mempermasalahkan gajinya yang selalu diambil Papinya. Tetapi dia hanya tidak suka dengan sikap sewenang-wenang Pak Sucipto.

__ADS_1


*********


__ADS_2