
Ghibran duduk menangkupkan wajahnya di atas meja kerjanya. Dia memutuskan untuk langsung pergi setelah Chayra mengatakan keputusannya hari itu. Alih-alih mendapatkan seberkas cahaya, malah kegelapan yang semakin menyulitkannya untuk mendapatkan hati gadis itu. Chayra benar-benar nekat membahayakan masa depannya. Entah apa yang ada dipikiran gadis itu sehingga dia berani memutuskan perkara sebesar ini.
Saat ini, Ghibran sedang dalam mode diam dan tidak boleh diganggu. Ia sampai memasang papan peringatan di pintu ruang kerjanya. Karena Rudi, temannya yang super berisik selalu saja datang dan tidak bisa dibilang.
Ghibran terisak dalam diamnya. Untuk pertama kalinya ia berani mengenal wanita sampai sejauh ini. Dan untuk pertama kalinya pula ia disakiti sampai sesakit ini. Rasa sesak di dada karena perasaan sakit yang tidak terlampiaskan. Ia berulang kali meremas bajunya dan menepuk-nepuk dadanya.
Tok.. tok.. tok..
Ghibran terpaksa mengangkat wajahnya saat pintu ruang kerjanya di ketuk. Kalau maminya yang datang, papan peringatan di pintu tidak akan berfungsi.
"Ghi, bukain pintunya dong.."
Ghibran menghembuskan nafasnya dengan kasar. Kembali menangkupkan wajahnya setelah mendengar suara Rudi.
"Kamu jangan terus-terusan mengurung diri dong, Ghi. Izinkan aku masuk biar kamu ada teman. Kalau kamu bunuh diri, siapa yang akan mencegahmu, Ghi."
Hening..
Rudi berdecak kesal saat jari-jari tangannya sudah memerah karena kebanyakan mengetuk pintu. "Apa jangan-jangan kamu sudah bunuh diri lagi." Rudi bergidik ngeri membayangkan temannya itu mati tergeletak bersimbah darah. Lebih parahnya lagi, ia membayangkan berita itu masuk televisi.
'Seorang Dosen Universitas xxx bunuh diri karena frustasi ditinggal nikah oleh kekasihnya.'
"Tidak...!!" Rudi kembali mengetuk-ngetuk pintu.
"Ghi, Ghibran! Jangan bilang kalau kamu sudah mati karena frustasi. Ghi, Ghibran Abdullah.. buka pintunya." Rudi semakin keras mengetuk pintu. "Om, Tante.. Ghibran tidak mendengarkan panggilanku. Sepertinya, dia mencoba bunuh diri."
Bu Lela dan Pak Marzuki yang sedang duduk di ruang keluarga tersentak kaget mendengar teriakan Rudi. Mereka bergegas mendatangi Rudi.
"Ada apa, Rud?" Tanya Bu Lela.
Rudi menatap Bu Lela dan Pak Marzuki. "Ghibran tidak merespon semua ucapanku, Om, Tante." Kembali menggedor-gedor pintu. "Ghibran, kamu jangan macam-macam ya.. Kalau kamu tidak mau membuka pintunya. Aku akan dobrak pintu ini." Rudi mencoba fmengeluarkan kalimat ancaman.
Pak Marzuki dan istrinya saling pandang seraya menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Ghibran cuma butuh waktu untuk sendiri, Rud. Dia akan keluar kalau dia sudah lebih tenang nanti." Ucap Bu Lela, tersenyum hangat pada Rudi.
__ADS_1
"Kenapa Om dan Tante tidak ngomong baik-baik, agar Ayra mau menikah dengannya."
"Kamu jangan ngawur, Rudi. Dia sudah memilih pria lain. Apa iya, kami akan datang memohon dan mengganggu rencana orang?" Pak Marzuki menjitak dahi Rudi.
"Hehehe, aku salah ngomong ya, Om." Rudi cengengesan sambil mengusap-usap dahinya yang dijitak tadi. "Rasanya nyut-nyutan, Om." melirik ke arah Pak Marzuki yang ternyata masih menatapnya.
Pak Marzuki tersenyum melihat tingkah Rudi.
"Sudah.. biarkan Ghibran sendiri. Kalau kamu mau istirahat, istirahat saja di kamarnya Ghibran." Bu Lela menyentuh pelan pundak Rudi. "Kamu pasti capek, kan?"
"Iya.. terimakasih, Tante sudah mengizinkan saya melepas penat di kamarnya Ghibran."
"Hemm kamu ini, Rud. Biasanya juga kamu langsung nyelonong masuk tanpa disuruh. Mana pernah kamu mau beristirahat di kamar tamu."
"Hehehe.." Rudi menggaruk-garuk kepalanya.
Selepas kepergian Rudi, Pak Marzuki meninggalkan istrinya di depan ruang kerja Ghibran. "Silahkan kalau Mami mau ngomong dengan Ghibran. Papi mau istirahat sebentar."
"Iya, Pi." Bu Lela menarik nafas dalam sebelum akhirnya lebih mendekat ke pintu.
Tidak lama Bu Lela menunggu, pintu terbuka perlahan. Menampakkan wajah Ghibran yang sembap karena kebanyakan menangis.
"Astagfirullahal'adzim, kamu kenapa kusut kayak gini, Nak." Bu Lela menangkup wajah putranya. Memberikan satu ciuman di dahi Ghibran.
Ghibran hanya tersenyum hambar menanggapi ucapan Maminya. "Masuk, Mi." Celingukan menatap keluar kamar.
"Jangan dicari udah Mami usir." Bu Lela langsung mengerti dan menarik bahu anaknya agar masuk. Menutup pintu dengan pelan dan menguncinya dari dalam. Tersenyum hangat pada putranya seraya duduk di sofa. "Sini, Nak.." menepuk pahanya agar Ghibran tidur di atas pangkuannya.
"Sampai kapan kamu akan seperti ini terus, Nak? Mami bosan melihat kamu mengurung diri terus. Apa kamu tidak capek, menangisi wanita yang sudah memilih hidup bahagia dengan orang lain?"
"Sudah ah, Mami jangan bahas hal itu." Ghibran memeluk pinggang maminya dengan manja.
Bu Lela tersenyum sambil membelai rambut putranya. "Mami tidak ingin membahas hal ini. Akan tetapi, sikap kamu yang sudah kelewatan dalam menyikapi masalah ini. Kamu seperti remaja belasan tahun yang putus cinta. Di usia kamu yang sekarang, seharusnya kamu sudah bisa bijak menghadapi masalah seperti ini."
Ghibran hanya menggeliat tanpa mengucapkan sepatah katapun.
__ADS_1
"Wanita masih banyak, Nak. Yang lebih baik dari dia juga, insya Allah, Allah masih menyisakannya untuk kamu. Jangan hanya terpaku pada satu wanita. Apalagi dia sudah jelas-jelas menolak kamu dengan memilih pria lain."
"Sulit sekali rasanya, Mami."
"Bagaimana tidak sulit, kamu tidak pernah mencobanya. Mengurung diri di ruangan ini tidak akan bisa membuatmu melupakan wanita itu. Justru hal ini akan semakin memancing kamu untuk mengingat kenangan bersamanya."
Ghibran bangkit dan menatap Maminya. "Apakah Mami kecewa karena aku seperti ini?"
"Mau bilang tidak, tapi Mami merasa kecewa. Jadi, iya.. Mami kecewa karena kamu tidak bisa bersikap bijaksana dalam menyikapi masalah. Usia kamu sudah sangat matang, tapi kamu seperti remaja belasan tahun."
"Aku mencintainya, Mi."
"Mami tau kamu mencintainya. Tapi apakah cinta kamu pantas diperjuangkan, sedangkan wanita yang kamu perjuangkan saja tidak mau diperjuangkan."
"Dia melakukan itu karena dia merasa tidak pantas denganku. Dia.. dia.. aaargghhh.." Ghibran mengacak-acak rambutnya frustasi.
"Istighfar, Nak. Dalam hal ini kita boleh mengingat tentang keburukannya, agar kita cepat melupakannya."
Ghibran menunduk, berusaha mengingat hal buruk yang pernah dilakukan Chayra padanya. Menggeleng-geleng pelan karena memori otaknya tidak berhasil mengingat apapun itu tentang keburukan gadis itu.
"Tidak ada yang buruk, Mi."
"Masa sih? Terus waktu dia bilang dia tidak pantas untuk kamu, apakah dia menyampaikannya dengan cara yang sopan?"
Ghibran mengangguk. "Kami bahkan sampai bicara berdua dua kali. Yang pertama di ayunan di belakang rumah, dan yang kedua di bawah pohon kelengkeng di halaman depan rumahnya. Itupun dia menangis tersedu-sedu saat menyuruhku untuk mencari wanita lain. Dia bilang, aku terlalu baik kalau harus beristrikan wanita korban pemerkosaan seperti dirinya." Ghibran memejamkan matanya menahan gejolak di dadanya.
"Ya Allah, aku mencintai hamba-Mu yang bernama Chayra Azzahra. Hamba ingin dia menjadi milik hamba ya Allah.." Ghibran bergumam lirih sambil mengusap-usap wajahnya.
Bu Lela hanya diam menatap putranya. Untuk pertama kalinya dia melihat putranya itu terpuruk karena cinta.
Lama mereka terdiam dalam situasi itu. Sampai akhirnya Bu Lela bangkit seraya menepuk pelan pundak Ghibran. "Mami ke kamar dulu, Nak. Perbanyak shalat dan berdoa, agar Allah meringankan beban pikiranmu dan memudahkan jalan keluar untuk masalah ini."
"Iya, Mi. Terimakasih sudah mau menguatkan putramu yang bodoh ini." Ghibran mengusap-usap wajahnya sepeti orang yang frustasi. "Do'akan aku juga, agar kuat menghadapi cobaan ini.
Bu Lela menganggu, tersenyum seraya mengacak-acak rambut Ghibran.
__ADS_1
********