Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Ada hubungan


__ADS_3

Ardian kembali ke bilik tempat istrinya berbaring. Duduk di samping Berangkar Chayra seraya menarik tangan gadis itu lalu menggenggamnya erat. "Kamu harus dirawat inap, Sayang."


"Bukannya hanya mau diobservasi lalu pulang, Kak?"


"Nggak. Dokternya menyarankan kamu untuk di rawat inap."


"Kalau memang itu keputusan yang terbaik."


"Kamu sudah makan apa? Kata Dokter kamu salah makan, makanya kamu sakit perut."


"Salah makan?"


"Iya.."


Chayra termenung mencoba mengingat-ingat. "Aku makan... jeroan sama junk food tadi siang."


"Tuh kan, kamu harus hati-hati, Sayang."


"Memangnya nggak boleh ya makan junk food atau jeroan?"


"Bukannya nggak boleh, tapi kamu makannya berlebihan, Sayang."


"Aku lapar tadi siang habis sidang skripsi. Nasi di Kafe Kampus sudah habis dan baru dimasak lagi."


"Apa kamu nggak berat, lagi hamil gini harus ikuti sidang segala? Kan bisa ditunda sampai kamu lahiran nanti."


Chayra menghela nafas berat. "Malahan aku merasa akan semakin berat kalau menundanya nanti. Sekarang Adek bayinya masih di dalam perut. Aku tidak merasa kewalahan walaupun dibawa kemana-mana. Kalau nanti pas melahirkan, bayinya harus digendong, harus disusui lagi. Aku pasti kewalahan dan bisa jadi kuliahku melar dan nyambung satu tahun lagi."


"Maaf, aku tidak bisa menemani kamu pas sidang tadi."


"Nggak apa-apa, daripada kerjaan Kantornya yang molor. Bisa kena semprot Papi nanti Kakak."


"Nunggu hasil pemeriksaan dulu baru kamu pindah ruangan. Mudah-mudahan kamu cepat pulih. Besok aku diminta ikut rapat pagi lagi." Ardian membuang nafas kasar. "Papi itu banyak maunya semakin kesini. Dia yang jadi Direktur utama. Seharusnya pekerjaannya tidak dilimpahkan kepada aku yang anak kemarin sore."


"Jangan ngeluh. Semua butuh proses dan perjuangan."


Ardian mengangguk lemah seraya mencium tangan istrinya. "Aku ngantuk banget, Chay."


"Kakak pulang saja tidur di rumah. Ada Alesha yang nginap nanti."


Baru saja namanya selesai disebut, Alesha masuk ke dalam bilik bersama Zidane dan Bu Santi.


Ardian bangkit melihat kedatangan Alesha. "Kok lho bisa ada di sini?" Ardian menepis lengan Alesha.


"Jangan suka tepis-tepis wanita kayak gitu nanti jadi kebiasaan. Tau juga bukan mahram." Zidane menepis lengan Ardian.


"Huh, biasa aja kali. Tendang dia aja udah biasa kalau berani macam-macam sama bini gue. Siapa yang kasih tau lho kalau Chay sakit?" Ardian kembali menatap Alesha. Tidak perduli dengan komentar Zidane.


"Mm... Kak Zidane tadi. Gue lagi rebahan di kamar. Mau tidur sih rencananya. Tapi, melihat ada panggilan masuk, gue jadi urungkan dan meluncur kemari deh."


"Hah, Kak Zidane menghubungi lho? Kok kedengarannya aneh gitu. Biasanya dia itu paling anti menghubungi yang namanya wanita."


Alesha hanya tersenyum meringis sambil menggaruk-garuk kepalanya.


"Aneh kan, Chay? Kak Zidane itu nggak pernah kan, menghubungi wanita kecuali kamu, Ummi atau Ibu?"


Chayra hanya mengangkat bahu sambil tersenyum.

__ADS_1


"Kayaknya ada sesuatu di balik sesuatu di antara kalian berdua." Ardian menunjuk Alesha dan Zidane.


"Lah, emangnya kenapa kalau ada sesuatu? Iya.. kalau kami saling suka itu karena kami manusia normal." Timpal Zidane ketus.


"Ahahaha... langsung ngaku ni orang. Baguslah, jadinya aku nggak jauh-jauh mencari calon kakak ipar. Kalau bisa disegerakan, biar Chay ada teman nanti pas melahirkan."


Zidane lebih mendekat pada Ardian. "Tunggu tanggal mainnya," berbisik di dekat telinga Ardian.


"Waaah... hebat." Ucap Ardian. Ingin melanjutkan kata-katanya, tapi tidak jadi ketika melihat Seorang perawat muda masuk.


"Permisi.. Pasien mau dipindahkan ke ruang rawat inap."


"Oh, silahkan, Nak. Kalian keluar dulu, nanti kalau Ayra sudah dipindahkan kalian bisa masuk lagi." Ucap Santi memberi perintah.


Alesha dan Zidane mengangguk patuh. Mereka beriringan keluar dari ruangan.


Sambil menunggu di minta untuk masuk oleh Santi, Zidane dan Alesha duduk di kursi panjang ruang tunggu di Lobi Rumah Sakit itu. Lama mereka terdiam dalam pikiran masing-masing. Keduanya merasa segan untuk memulai pembicaraan. Akhirnya, Zidane mengirim pesan singkat pada Alesha.


Kenapa cuma diam sekarang?


Alesha melirik Zidane melihat pesan itu. "Kenapa kayak gini coba?" Menunjukkan layar handphonenya pada Zidane.


"Kamu diam terus dari tadi. Aku jadinya bingung mau ngapain."


"Seharusnya Kak Zidane yang membuka pembicaraan terlebih dahulu. Masa iya, aku yang memulai?"


Zidane mengusap-usap tengkuknya. "Aku orangnya suka gini kalau di depan wanita asing. Suka kaku dan pasti ujung-ujungnya salah tingkah."


"Oh, aku jadinya orang asing nih, bagi Kak Zidane."


"Mm... bagaimana ya..."


"Eh, j... jangan pergi. Kamu mau pergi kemana coba?"


"Mau pulang lah. Ngapain duduk disini bersama orang asing."


"Astagfirullah, b.. bukan begitu maksud aku. Tapi.. aku hanya sedang mencoba untuk membiasakan diri dengan kamu. Kalau bisa, aku ingin secepatnya anu... dengan kamu." Zidane kembali mengusap-usap tengkuknya.


"Hah, maksudnya anu dengan kamu apa?"


"Eh, kamu nggak ngerti ya, maksud aku?"


"Nggak ngerti banget. Kak Zidane itu ngomongnya nggak jelas. Apa coba itu maksudnya anu.. anu.." Alesha cekikikan melihat ekspresi Zidane.


"Ya Allah, kenapa malah ketawa kayak gitu? Aku serius ini, Lesha."


"Aku nggak ketawa. Aku cuma cekikikan. Habisnya ekspresi Kak Zidane lucu. Kayak kucing yang ketahuan mencuri ikan."


"Eh, malah bilang kayak gitu lagi." Zidane mengangkat tangannya gemas. Ingin rasanya dia mencubit pipi chubby Alesha andaikan saja dia tidak lupa statusnya. Untung saja mereka duduk berjarak satu kursi.


"Hahahaha..." Alesha menutup mulutnya tidak bisa menahan tawanya.


"Serius, Lesha." Zidane menunduk seraya menarik nafas dalam. "Aku benar-benar serius ingin mengkhitbah kamu." Akhirnya kata-kata itu bisa keluar dari mulut Zidane.


Alesha terdiam. Tawanya langsung sirna. Dia ikut menunduk seperti Zidane. Tidak tau mau merespon dengan apa ucapan Zidane tadi. Dia pikir, selama ini Zidane hanya ingin bermain-main dengannya. Tidak percaya kalau secepat ini pria itu mengatakan ingin segera menghalalkan dirinya.


"Kenapa kamu diam?" Zidane melirik Alesha.

__ADS_1


"Aku.. aku hanya terkejut, Kak. Aku tidak menyangka kalau itu yang akan dikatakan Kak Zidane." Melirik Zidane lalu kembali menunduk.


"Aku itu orangnya tidak suka terlalu banyak berbasa-basi. Aku itu lebih senang to the poin. Terlalu banyak bicara malah bisa menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan nantinya."


Alesha mengangkat wajahnya. Memberanikan diri menatap Zidane. "Kak Zidane belum mengenal aku lebih jauh."


"Siapa bilang begitu. Aku sudah mengenalmu sejak dulu karena kamu sahabat adikku. Aku selalu memperhatikan gerak-gerik dan kelakuan kamu. Aku juga memperhatikan dua teman Ayra yang lain. Tapi, diantara kalian bertiga, hanya kamu yang terlihat menarik untuk diperjuangkan."


Alesha menelan ludahnya. "Tapi, kita tidak saling mencintai, Kak."


"Insya Allah, cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Jika kita sudah tertarik pada seseorang, itu tidak menutup kemungkinan kita juga akan mencintainya."


Alesha menarik nafas dalam. "Kalau begitu, Kakak bicarakan ini dengan kedua orang tuaku."


"Orang tuamu tidak sibuk kan besok?"


"Hah..?" Alesha kembali dibuat terkejut mendengar pertanyaan Zidane.


"M... maksud Kak Zidane, Kakak mau menemui orang tuaku besok?"


"Iya, kenapa emangnya?"


"Apa.. tidak terlalu cepat?"


Zidane melengos. "Aku sudah bilang, kalau aku orangnya tidak suka bertele-tele."


"Hehehe... aku.. aku akan coba tanyakan nanti sama Papi."


"Kamu ke Rumah Sakit sama siapa tadi?"


"Mm... diantar supir. Papi nggak ngizinin aku keluar malam sendirian."


"Itu bagus dong. Itu baru namanya orang tua bertanggung jawab. Saku mengutamakan keselamatan dan kesucian anaknya."


"Eh, kok ngomong gitu?"


"Loh, memangnya salah kalau aku ngomong gitu?"


"Iya... nggak sih. Tapi kan.. terdengar tidak.."


"Tidak usah diperpanjang. Aku hanya basa-basi. Intinya, kamu harus memastikan kalau orang tuamu ada di rumah besok. Tunggu aku jam empat sore. Aku akan datang untuk memintamu pada kedua orang tuamu." Zidane bangkit setelah menyelesaikan kalimatnya.


Alesha tertegun, beberapa kali menarik nafas panjang untuk menenangkan detak jantungnya yang berpacu sangat cepat. "Kak Zidane ngomong serius kan tadi? Gue nggak lagi mimpi kan?" Menepuk-nepuk pipinya untuk mengetes kesadarannya. "Ya Allah, mau bilang apa coba sama Papi." Membuang nafas dengan kasar. "Besok aku pikirkan. Sekarang ke ruang rawat Ayra dulu. Harus cari suasana baru, agar otakku tidak fokus pada ucapan Kak Zidane tadi." Meraih tas bahu yang tergelatak di sampingnya.


Alesha kembali menelan ludahnya saat mendapati Zidane sudah berada di dalam ruang rawat Chayra. Padahal saat Zidane pergi tadi, dia ke arah yang berlawan dengan ruangan ini. Tapi, entah kenapa dia bisa ada disini sekarang.


"Kamu mau pulang atau nginap, Lesha?" Tanya Santi.


"Mm.. kayaknya nginap, Bu. Soalnya aku diantar supir tadi pas kemari."


"Kalau kamu mau nginap. Itu berarti Ardian dan Zidane yang pulang."


"Nggak, aku mau disini menemani istriku." Ardian langsung menolak dengan tegas.


"Kamu pulang saja, Alesha. Biar aku yang antar kamu pulang. Aku bukan orang jahat kok." Timpal Zidane santai.


Ucapan Zidane membuat perasaan Alesha semakin tak karuan.

__ADS_1


*********


__ADS_2