Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Mencoba melupakan masa lalu


__ADS_3

Ardian langsung memeluk tubuh Chayra saat gadis itu tiba di depannya. Walaupun tau Chayra belum bisa mencintai dirinya. Namun, dia harus tetap berusaha untuk bisa meyakinkan gadis itu.


"Maafkan aku telah menghancurkan mimpimu, Chay. Aku akan berusaha menjadi laki-laki terhebat dalam hidupmu ke depannya." Mengusap-usap punggung Chayra. Mencium pucuk kepala wanita itu beberapa kali.


Chayra hanya mempererat tangannya di pinggang Ardian. Menangis sesenggukan tanpa mau mengangkat wajahnya dari dada pria itu.


"Sudah, Nak. Kita masuk sekarang. Jangan terlalu dipikirkan. Nak Ghibran seperti itu karena dia masih menyimpan perasaannya." Santi menggiring putrinya untuk masuk kembali ke dalam rumah.


Ghibran masih duduk di dalam mobilnya. Dia hanya memindahkan posisi mobil itu keluar dari gerbang rumah. Belum siap berkendara karena perasaannya yang campur aduk. Takut tidak bisa mengendalikan laju kendaraannya seperti halnya dirinya yang tidak bisa mengendalikan perasaannya.


Ghibran beberapa kali mengusap air matanya. Rasa kesal, sedih, merasa diabaikan menyatu menjadi satu. Chayra mengaku masih mencintainya. Tapi kenapa gadis itu terus menolak keberadaannya. Apakah kehadiran Ardian membuat gadis itu selalu mengabaikannya.


"Aaarrgghh...!!" Ghibran mengacak-acak rambutnya. "Sampai kapan engkau akan menguji hamba ya Allah. Hamba rasanya ingin menyerah atas semua ini. Aku lemah ya Allah, aku lemah." Ghibran menyandarkan kepalanya pada kemudi mobilnya. Menangis sesenggukan tanpa sepengetahuan siapapun.


Di dalam rumah..


Chayra yang sudah masuk ke dalam kamarnya, duduk di sisi ranjang membelakangi Ardian. "Aku mau sendiri, Kak. Aku ingin menenangkan pikiranku." Mengusir Ardian secara halus. Pria itu tidak mau meninggalkannya sendiri walaupun dia berulang kali mengatakan ingin sendiri.


"Anggap aku tidak ada. Kamu terlihat tidak baik, Chay. Aku takut kamu melukai dirimu sendiri kalau aku meninggalkanmu."


"Aku tidak selemah itu, Kak. Cobaan yang lebih berat dari ini pun, mampu aku lewati. Aku tidak akan melakukan tindakan bodoh yang akan menyakiti diriku sendiri. Aku hanya ingin sendiri."


Ardian menghela nafas berat. "Maafkan aku, Chay. Ini semua terjadinya karena tindakan bodohku. Kamu akan bahagia dengan Pak Ghibran jika saja aku tidak merenggut semuanya waktu itu. Maafkan aku.."


"Jangan ungkit itu lagi, Kak. Aku tidak mau kenangan buruk itu membuatku goyah. Ini semua sudah menjadi kehendak Allah. Kita hanya bertugas menjalankan semuanya. Keluarlah, aku butuh waktu untuk sendiri."


Ardian melangkah mundur meninggalkan kamar. Menatap Chayra lama sebelum akhirnya menutup pintu kamar. Menemui mertuanya yang masih duduk di ruang keluarga bersama Bian.


"Lho, kok Kak Ardian keluar? Kenapa Kakak tidak menemani Kak Ayra?" Bian langsung melontarkan pertanyaan saat melihat Ardian datang dengan wajah lesu.


"Kakak kamu mau sendiri. Dia mengusir Kakak, Bi.."


"Hahaha... makanya jadi laki-laki itu jangan egois. Rasain tuh.."


"Bian, jangan berkata begitu, Nak. Tidak boleh ya.."


"Heheh," Bian cengengesan mendengar peringatan ibunya.


"Kita keluar yuk, Bi. Cari angin segar biar perasaan ikut segar."


"Di belakang rumah tadi juga udaranya sangat segar, Kak. Cuman ya.. itu perasaan Kak Ardian yang lagi panas. Jadi, udaranya terasa panas."


Ardian menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar ledekan Bian. "Kalau kamu sudah merasakan jatuh cinta. Kamu pasti akan merasakan yang namanya sakit hati. Entah itu sakit hati karena apa. Bisa saja karena kekasihmu nanti diajak bicara oleh orang lain, hati kamu tiba-tiba memanas."

__ADS_1


"Aku tidak mau jatuh cinta seperti kalian. Kalau aku tertarik sama seseorang, aku akan menyimpannya dalam diam. Tidaka ada yang boleh tau kalau aku mencintainya."


Ardian ingin tertawa mendengarnya, tetapi dia menahannya. "Terserah kamu saja, Bi. Nanti kamu juga akan merasakannya. Ayo kita keluar sekarang."


"Ini sudah mau Maghrib, Kak. Nanti saja habis shalat. Aku nggak mau ketemu waktu shalat di jalan."


"Benar-benar anak yang taat beragama." Ardian menepuk-nepuk kepala Bian.


"Sudah dibudidayakan sejak dini, Bang. Abang yang baru membudidayakan, pasti rasanya masih berbeda."


"Sok tau kamu." Ardian mengacak-acak rambut Bian.


Mereka akhirnya berbincang sampai adzan Maghrib berkumandang. Chayra ikut shalat berjamaah. Matanya terlihat sembab. Namun, semuanya bungkam. Tidak ada yang mau bertanya karena mereka semua sudah tau suasana hati gadis itu.


"Mm.. Chay, aku mau keluar sebentar sama Bian. Nggak apa-apa kan?"


Chayra melirik suaminya. "Aku.. aku ikut, Kak."


Ardian terkejut mendengar jawaban Chayra. "Kamu mau ikut, apa kamu yakin?"


"Aku ikut, biar tidak terus-menerus terjebak dengan situasi ini. Berdiam diri di rumah membuatku semakin merasa terpuruk."


Ardian menatap Santi untuk meminta persetujuan mertuanya itu. Melihat anggukan kepala mertuanya disertai dengan senyuman lembut. Ardian akhirnya mengiyakan permintaan Chayra.


"Kita makan dulu, Chay. Kamu belum makan dari siang. Kamu kan punya riwayat penyakit maag. Jangan sampai penyakit itu kambuh gara-gara masalah sepele tadi."


"Aku nggak lapar, Kak. Nanti juga aku akan makan tanpa diminta. Aku hanya ingin melihat suasana baru. Siapa tau, dengan begitu suasana hatiku juga menjadi baru."


"Mau disuapin kali itu Kak. Kak Ayra mah suka gitu orangnya. Dulu Ibu juga sering melakukan itu kalau dia nggak mau makan." Sahut Bian.


"Kamu mau disuapin seperti kata Bian?"


"Nggak.. aku tidak mau makan."


Bian cekikikan melihat usaha Ardian yang belum juga membuahkan hasilnya. "Masih kurang perjuangannya itu. Cinta itu mmbutuhkan perjuangan sampai titik darah penghabisan." Bian berbisik namun mengepalkan tangannya kuat sampai Chayra menoleh.


"Kalian sedang menggosipkan aku?" Chayra mendelik kesal melirik dua pria yang sedang berbisik di sampingnya.


"Eh, siapa yang sedang bergosip? Kayak nggak ada kerjaan yang lebih berfaedah saja. Aku sedang menghibur Kak Ardian agar dia tidak frustasi di asinin terus sama Kakak."


Chayra melirik suaminya. Apakah dia sekejam itu sampai suaminya frustrasi karena sikapnya. "Maafkan aku, Kak." Ucapnya lirih.


Ardian menarik nafas panjang. "Bian cuma bercanda, Chay.. Aku baik-baik saja kok. Aku harus berjuang lebih keras lagi untuk mendapatkan hatimu."

__ADS_1


Chayra tersenyum samar. Matanya menatap ke lain arah. Bukan ke arah suaminya. "Aku pun akan melakukan hal yang sama, Kak. Aku ingin melepaskan masa lalu yang terus menghantuiku. Aku juga ingin hidup bahagia bersama Kakak."


Ardian tersenyum, meriah tangan istrinya dan menciumnya perlahan. "Kita akan berjuang bersama-sama. Semoga Allah memudahkan jalannya untuk kita."


Bian mendelik melihat kelakuan pasangan di depannya. "Ini tempat umum, Mas, Mbak. Kalau mau romantisan nanti di rumah ya, di dalam kamar. Malu dong dilihat orang. Apalagi di depan kalian ada anak bawah umur yang belum pantas melihat adegan romantis kalian."


Ardian dan Chayra saling tatap, tertawa kecil melihat ekspresi Bian. "Sudah resiko mengikuti langkah orang yang sudah halal, Dek. Ngapain ikut kami duduk disini coba? Coba kamu diam di dalam mobil. Pasti mata kamu masih bersih dari pemandangan seperti tadi."


"Untuk apa aku ikut keluar kalau hanya untuk menjaga mobil. Kan yang punya rencana mau keluar tadi aku dan Kak Ardian. Kak Ayra ikut-ikutan di belakang. Ngapain nyuruh aku jaga mobil sekarang?"


"Sudah, jangan ribut kita makan dulu. Perut aku sudah sangat lapar ini." Ardian akhirnya mencoba menengahi. Menurut legenda cerita yang dia dengar dari mertuanya. Kalau Chayra dan Bian sudah berdebat, akan sangat sulit berhenti kalau tidak ada yang menengahi."


"Oke, oke, kita makan biar perasaan jadi netral." Bian menarik satu mangkok bakso ke depannya. "Lho, Kak Ayra tidak memesan bakso?"


Chayra menggeleng. "Aku takut maag-ku kambuh kalau makan bakso dalam keadaan perut kosong." Mengambil satu buah lontong dan memotongnya kecil-kecil.


"Ambil menu yang lain aja, Chay. Masa iya, kamu makan cuma pakai lontong aja?" Ardian menyodorkan buku menu ke hadapan istrinya.


Chayra menggeleng. "Aku benar-benar tidak berselera makan. Ini saja aku makan lontong agar perutku tidak kosong."


"Aku suapin ya.. baksonya rasanya enak kok."


"Nggak mau."


"Satu suap saja. Aku nggak mau kamu sakit, Chay."


"Ini kan aku sedang makan."


"Tapi itu cuma karbohidrat. Tubuh kamu juga butuh zat pembangun dan zat pengatur."


"Tapi bakso juga mengandung banyak micin. Konsumsi micin terlalu banyak juga tidak baik untuk kesehatan." Chayra tidak mau kalah.


"Sekali-kali boleh lah, Kak. Yang dilarang itu setiap hari kali." Bian yang menjawab.


Chayra hanya memutar bola matanya. Satu wanita debat melawan dua pria. "Kalian curang, beraninya cuma main keroyok."


"Lho, inikan demi kebaikan kamu, Chay."


"Aku tidak mau makan bakso. Kalau aku mau, kalian tidak perlu lelah memaksa. Bahkan bisa jadi jatah kalian aku yang ambil dan menghabiskannya."


Ardian dan Bian saling pandang. Saling mengangkat bahu.


Ardian beralih menatap istrinya. Memperhatikan gadis itu dalam diam. 'Kamu benar-benar sulit digoyahkan, Chay. Apakah hal ini juga berlaku untuk perasaan kamu pada Pak Ghibran. Mudah-mudahan ucapan kamu tadi untuk melepas masa lalu itu benar adanya.'

__ADS_1


*******


__ADS_2