Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Inilah rasanya


__ADS_3

Alesha menahan senyum melihat sahabat sekaligus adik iparnya itu meringis menahan sakit. "Sakit banget ya, Ayra?"


"Memangnya kamu kira aku akting dari tadi?" Chayra melengos, meraih obat yang dibawakan Alesha.


"Lho mau minum obat tanpa resep dari Dokter, Ayra? Nekat banget sih, lho. Kalau Mas Zidane tau, pasti gue juga yang kena imbasnya."


"Sssttt... aku nggak kuat, Sha. Makanya kamu jangan bilang sama Kak Zidane. Kalau aku nggak minum obat, kayaknya aku akan panas dingin nanti malam. Kalau aku sampai sakit, aku nggak akan bisa hadir. Ini p******* aku juga udah kenceng banget."


Alesha membuang nafas dengan kasar. "Lho wajib hadir, Ayra. Mana ada ibu yang tidak hadir di perayaan ulang tahun anaknya sendiri. Apalagi anggota keluarga dari Pesantren sudah sampai. Mereka bahkan mencari keberadaan kita."


"Masa sih?!"


"Iya, mereka bahkan meminta gue untuk segera kesana. Tapi, gue bilang mau menjemput lho dulu tadi."


"Aku akan ke sana, tapi aku mau tidur sebentar saja, Sha. Obatnya harus dibawa tidur biar bekerja dengan baik."


"Hmm.. itu sih alasan lho saja." Alesha bangkit sambil merenggangkan ototnya. "Lho ada makanan nggak? Gue lapar ni, nggak sempat makan dulu tadi."


"Ada di kulkas. Roti dan coklat ada di kulkas semua. Cuman, kalau kamu mau biskuit, ada di toples yang tersimpan di meja makan."


"Ok.. gue mau berburu makanan di rumah lho. Kita mau lihat, apakah istri seorang General Manager mempunyai stok makanan bergizi atau tidak."


"Cepetan... pergi sana, Sha. Jangan ngomong yang aneh-aneh, nanti rizki kamu diembat orang."


"Hahaha... bilang aja kalau kamu risih diganggu karena p******* kamu nyut-nyutan. Weeekkk..." Alesha berlalu setelah puas melihat tampang kesal Chayra. Ibu satu anak itu terlihat sangat bahagia bisa mengganggu Chayra.


Handphone Chayra berdering tepat setelah Alesha menutup pintu kamarnya. Nama Ardian terpampang di layar handphonenya.


"Ada apa, Sayang? Aku baru selesai rapat. Maaf handphonenya di silent agar tidak mengganggu rapat."


"Mm.. nggak apa-apa, Mas. Tadinya aku mau minta tolong sama kamu. Ini sakit banget, Mas, karena ASI-nya tidak di sedot. Aku kewalahan melakukan apapun."


"Kamu jangan khawatir. Aku sudah googling. Itu tidak akan bertahan lama. Paling lama satu mingguan kok."

__ADS_1


Chayra terdiam mendengar penuturan suaminya. Kenapa dia tidak berpikir untuk melakukan seperti yang dilakukan suaminya.


"Kompres saja pakai air hangat, agar rasa nyerinya itu berkurang."


Chayra tersentak. Rasa bersalah mulai merayap menghantuinya. Kenapa dia harus nekat minum obat sebelum mencari tau cara lain yang lebih alami. "Mm... maaf, Mas. A.. aku..." mulutnya terasa kaku untuk mengatakan apan yang sudah dia lakukan.


"Kenapa..." Ardian memperbaiki posisi duduknya karena mendengar suara tergagap Chayra.


"Aku.. aku baru saja minum obat pereda nyeri. Maaf, Mas.. aku nggak kuat soalnya nyerinya membuat aku risih." Chayra menautkan jari tangannya. Sudah beberapa kali ia mendapatkan teguran karena sering ceroboh dengan kesehatannya sendiri.


Ardian tidak langsung menjawab. Hal itu membuat Chayra menggigit bibir bawahnya. Biasanya suaminya itu tidak setuju dengan apa yang dia lakukan jika tidak langsung menjawab. "M.. Mas... maaf.."


Terdengar helaan nafas berat dari Ardian. "Kamu itu terlalu ceroboh, Chay. Aku sudah bilang beberapa kali, jangan suka minum obat sembarangan tanpa resep dari Dokter. Bagiamana kalau kamu ada alergi. Kan bahaya, Sayang."


"M.. maaf, Mas.. itu makanya tadi aku menghubungi kamu. Tapi, kamu tidak kunjung menjawab."


"Terus, siapa yang membelikan obat itu untuk kamu?"


"Alesha.."


"Ada dibawah."


"Aku mau bicara sama dia." Ucapan Ardian terdengar tegas membuat Chayra sedikit takut.


"J.. jangan salahkan dia, Mas. Aku yang minta tolong sama dia." Suara Chayra sedikit bergetar. Air matanya seperti akan jatuh mendengar nada suara suaminya yang naik satu oktaf.


"Aku tidak akan menyalahkan dia, Chay. Aku hanya mau menanyakan sesuatu."


Chayra akhirnya bangkit. Tidak ada niat untuk membantah karena tidak mau masalah ini malah jadi panjang. Ia beringsut turun dari ranjang untuk mencari Alesha di bawah.


Alesha terkejut saat melihat Chayra datang menghampirinya. "Eh, kenapa lho turun, Ayra? Bukannya tadi lho bilang mau tidur sebentar?"


"Ini, Mas Ardian mau ngomong sama kamu." Chayra meletakkan handphone di atas meja.

__ADS_1


Alesha menelan paksa brownis di mulutnya. Untuk apa suami temannya itu mau bicara kalau dia tidak merasa berbuat salah.


Chayra mendekatkan mulutnya ke telinga Alesha. "Jangan bilang apa-apa sama Mas Ardian, Sha. Bilang saja kalau aku yang minta dibelikan obat pereda nyeri. Aku hanya mengantarkan itu, lalu turun untuk mencari makanan. Kamu jangan bilang apa-apa." Chayra menjauhkan kepalanya setelah berbisik.


Alesha menautkan alisnya sambil menatap Chayra dengan tatapan bingung. Ia mengambil handphone yang diletakkan Chayra tadi. Ia berjalan menjauhi Chayra saat terdengar perintah dari sebrang.


Sekitar sepuluh menit berlalu, Alesha kembali berjalan mendekat. "Kita berangkat sekarang ya, Ayra. Kalau lho mau istirahat, nanti aja deh lho tidur sepuasnya di rumah Ibu. Anak gue nangis kata Tina. Atau lho bisa tidur di mobil. Kan yang nyetir gue, lho bisa duduk di belakang atau tiduran juga nggak apa-apa."


Chayra hanya mengangguk. Sebenarnya dia penasaran dengan apa yang dibicarakan Alesha dengan suaminya. Tapi, untuk bertanya sepertinya waktunya tidak tepat. Ia akhirnya naik kembali ke kamarnya untuk berganti pakaian dan mengambil tasnya. Sementara Chayra mempersiapkan diri, Alesha kembali menghubungi Tina untuk memintanya menenangkan anaknya sebelum dia sampai rumah Bu Santi.


********


"Kamu tidur saja. Tidak usah ikut keluar walaupun yang lain masih kumpul. Adzra juga pasti rewel kalau melihat kamu." Ardian menyelimuti tubuh istrinya. Saat melihat tampang istrinya, timbul rasa kasihan karena memarahinya siang tadi. Tapi, jika tidak dimarahi, Chayra akan nekat mengulang kesalahan itu.


Habis pesta perayaan ulang tahun anaknya, Chayra pamit undur diri karena fisiknya tidak bisa diajak kompromi. Badannya lemas dan suhu tubuhnya juga naik.


Ardian duduk di sisi tempat tidur. Ia hanya menatap istrinya dengan tatapan prihatin. Istrinya yang biasa menyambutnya dengan senyuman kebahagiaan kini sedang terbaring lemah. Chayra menggeliat seraya mengubah posisi tidurnya. "Tapi Ibu capek dari tadi urus Adzra, Mas."


Ardian masih menatap Chayra. "Sekarang Adzra sedang bersama Bian, Chay. Aku memberinya permen untuk mengalihkan perhatiannya."


"Aku rindu sama Adzra, Mas. Dari tadi tidak dikasih izin untuk dekat-dekat sama dia. Padahal, aku cuma mau menciumnya, mau mengucapakan barakallahu fii umrik saja. Tapi, aku malah diusir."


"Besok kamu bisa bertemu dia." Ardian meraba dahi istrinya. "Kamu demam, Sayang. Kita ke Dokter aja ya.."


Chayra langsung menggeleng. "Ini kan efek karena ASI-nya tidak disedot, Mas. Kan kamu sendiri yang bilang, kalau ini akan bertahan paling lama seminggu. Katanya udah googling, kok sekarang malah khawatir."


"Aku nggak tega aja melihat kamu seperti ini. Maaf karena aku marah sama kamu tadi siang." Ardian menggenggam tangan istrinya.


Chayra tersenyum lemah. "Nggak apa-apa, Mas. Aku memang harus digituin. Kalau dibiarkan aku akan semakin ceroboh."


"Ayo makanya aku antar ke Dokter, biar kamu dikasih obat yang benar."


"Aku nggak apa-apa kok, Mas. Aku mau tidur saja. Insya Allah, saat bangun nanti pasti sudah baikan." Chayra meringkuk di bawah selimut seraya memejamkan matanya. Hal itu membuat Ardian semakin kasihan. Dia tau bukan hanya istrinya saja yang mengalami hal seperti ini. Semua wanita yang berstatus sebagai Ibu, yang memberikan ASI akan mengalami hal seperti ini.

__ADS_1


Saat pulang kerja tadi, dia sempat memberikan tatapan kesal pada Chayra karena kesalahannya tadi siang. Tapi, saat Chayra mencium tangannya, tidak sengaja tangannya menyenggol d*d* Chayra. Hal itu membuat Chayra langsung menjerit karena sakit. Ardian menggaruk-garuk kepalanya bingung. Ia malahan kembali menyentuh d*d* Chayra. Merasakan ada yang tidak biasa, Ardian melototkan matanya kaget. Pantas saja istrinya mengeluh sakit. Ternyata p*******nya terasa seperti batu saat dia menyentuhnya.


**********


__ADS_2