
"Hhmmm... hmm... assalamualaikum.." Ardian melangkah lebih mendekat.
"Eh, wa'alaikumsalam.." Santi langsung menoleh. Sedangkan Chayra bangkit dari ayunan seraya berbalik.
"Kapan datang? Baru saja nelpon katanya masih di rumah." Chayra mendekati suaminya. Meraih tangan Ardian lalu menciumnya.
"Aku sudah disini saat menelpon kamu tadi." Jawab Ardian santai.
"Benarkah?" menatap suaminya tajam. Mencoba mencari kebohongan dari tatapan pria itu.
Ardian sengaja menghindar. Mendekati mertuanya seraya bersalaman. Tidak lupa mencium tangan Santi sebagai bukti kalau dirinya adalah menantu berbakti.
"Beneran nih, mau nginap di rumah Ibu?" Santi sengaja menggoda Ardian. Karena sebelumnya pria itu tidak pernah mau menginap. Kalau dia datang berkunjung, hanya sebatas mengantar Chayra sampai di depan gerbang. Setelah itu dia akan langsung pergi.
Ardian cengengesan. "Hehehe, iya, Bu. Beneran kok, sekarang Ardian mau menginap bersama Chay.."
"Chay...?"
"Eh, maksud aku, Ayra, Bu."
"Oh, ada nama panggilan spesial segala nih."
Chayra hanya tersenyum di samping suaminya. Sedangkan Ardian menggaruk-garuk kepalanya salah tingkah.
"Iya sudah, Ibu tinggal kalau begitu. Kalian berdua ngobrol saja dulu. Atau mungkin suami kamu mau istirahat, Nak. Ajak dia ke dalam."
"Ng.. nggak, Bu. Ardian mau disini saja. Udara disini sejuk."
Santi tersenyum sambil menggeleng-geleng pelan. Berlalu dari hadapan menantu dan anaknya.
"Ini lah kebun yang aku maksud tadi, Kak." sambil berjalan pelan mendekati ayunan tempatnya duduknya tadi.
"Ini bukan kebun, tapi ini taman namanya. Mana ada kebun ditumbuhi banyak bunga seperti ini."
"Tapi kami lebih senang menyebutnya kebun." Chayra kembali duduk di ayunan. "Walaupun banyak bunga disini, tapi sayur-sayuran yang lebih mendominasi."
"Terserah kamu lah kalau begitu. Kalau menurut aku mah, ini taman namanya." Ardian menggerakkan ayunan untuk istrinya. Matanya menatap sekeliling tempat itu yang terlihat sangat asri dan tertata apik.
"Tumben Kakak mau menginap. Ada apakah gerangan yang membuat seorang Ardian Baskara mau menginap di rumah sederhana istrinya?"
"Aku nggak mau pisah sama kamu."
"Cuma satu malam saja, Kak."
"Aku tidak bisa tapi. Tadi aja cuma satu jam di rumah tanpa kamu, kok rasanya beda banget."
"Lebay..."
"Beneran Chay..."
"Dulu sama Amira pisah beberapa hari juga nggak gini-gini amat, kan?"
"Ngapain bahas dia sih? Ya bedalah.. dia kan cuma pacar waktu itu. Kamu sekarang istri aku. Status pacar dan istri itu beda."
"Ngapain marah, Maaassss? Biasa aja kali.."
Ardian mencubit gemas pipi istrinya. "Makanya jangan bahas dia. Nanti aku bisa ngegas lagi."
"Kenapa marah kalau bahas dia? Dia mah udah bahagia dengan orang lain." Sedikit memanyunkan bibirnya.
"Kamu yang menyebut namanya tadi, Chay." Ardian tersenyum melihat ekspresi istrinya. "Kayaknya enak duduk di ayunan kayak kamu itu."
__ADS_1
"Sebelah masih kosong. Jangan berpikir untuk mengambil tempat duduk istrimu."
"Iya.. iya.."
Mereka akhirnya ngobrol santai sampai waktu shalat ashar tiba.
"Kita masuk, Kak, sudah adzan."
Ardian mengangguk. "Masjidnya jauh atau dekat dari sini?"
"Dekat, Kak. Tapi... lumayan jauh juga. Kakak akan melewati pohon...." Chayra menghentikan ucapannya. Lidahnya terasa kaku untuk menyebut pohon besar tempat Ardian menculiknya dulu.
"Pohon apa maksud kamu?"
"Nggak usah ke Masjid, Kak. Kita shalat di rumah saja."
"Kenapa?"
"Aku... aku nggak mau mengingat kenangan pahit itu. Terlalu menguras emosi untuk mengingatnya."
Ardian terdiam karena paham maksud istrinya. "Maafkan aku.."
"Nggak usah dibahas. Ayo, kita shalat di Musholla rumah saja. Kita bisa shalat jama'ah di sana nanti."
"Bian mana?"
"Ada di dalam."
"Biar dia yang jadi imam."
"Kakak yang lebih tua."
"Tapi dia yang lebih pantas. Bacaannya pasti sangat baik. Sedangkan aku, bacaan Al-Qur'an-ku masih sangat pas-pasan. Untung saja tidak dibawah standard."
********
Malam itu, Santi meminta Ardian untuk menemuinya di ruangan pribadi miliknya. Ruangan itu dulunya menjadi ruang kerja milik suaminya. Namun, kini dia yang mengambil alih tempat itu.
"Ibu mungkin akan membicarakan hal-hal pribadi. Ibu tidak memintaku untuk ikut. Jadi, Kak Ardian pergilah sendiri. Aku akan menunggu Kakak di dalam kamar."
"Aku kok ragu, Chay."
"Kenapa ragu?"
"Sebenarnya bukan ragu, tapi aku takut."
"Takut?"
"Aku takut, Ibu akan memarahiku karena sering jahat padamu."
Chayra menahan senyum mendengar alasan suaminya. "Ibuki tidak sejahat itu, Kak. Dia tidak suka marah orangnya. Ibu itu orangnya sangat penyabar. Yakinlah, semua akan baik-baik saja."
Ardian mengangguk ragu. "Aku pergi sebentar ya. Kamu jangan kemana-mana."
"Memangnya aku bisa kemana, Kak? Ini kan, aku sudah di dalam kamar."
Ardian tersenyum meringis seraya berlalu.
Ardian sedikit gugup saat sudah berdiri di depan pintu ruangan tempat mertuanya berada saat ini. Berbagai jenis pertanyaan mampir di kepalanya. Apakah Santi akan menghakimi kebejatannya di masa lalu. Apakah mertuanya itu akan bertanya berapa wanita yang sudah dia tiduri selama ini. Ardian menggeleng-geleng pelan untuk mengusir pikiran buruk itu. Kembali dia mengingatkan dirinya sendirim Tidak mungkin mertuanya memanggilnya kalau tidak ada hal penting yang akan disampaikannya.
Akhirnya, dia menarik nafas dalam. Melafadzkan basmalah sebelum akhirnya berani mengetuk pintu itu.
__ADS_1
Tok tok tok..
Ardian mengetuk pintu dengan tangan bergetar. "Assalamualaikum, Bu.."
"Masuk, Nak."
Ardian membuka pintu perlahan. Matanya langsung tertuju pada Santi yang sedang duduk di atas sofa panjang. Tangannya memegang sebuah album foto yang terlihat sudah usang.
"Duduk sini, Nak. Ibu mau ngomong sesuatu sama kamu."
"Eh, iya, Bu." Ardian kembali menarik nafas dalam. Keringat dingin sudah mengucur di pelipisnya.
Santi menatap menantunya dengan heran. "Kamu tidak enak badan?" Tanyanya karena melihat keringat dingin di dahi Ardian.
"Eh, ng... nggak, Bu. Aku.. aku cuma gugup."
"Kenapa gugup, Nak?"
"Aku gugup karena dipanggil Ibu. Hehehe..." Ardian tersenyum meringis.
"Memangnya Ibu mau ngapain kamu sehingga sampai keluar keringat dingin seperti itu."
Ardian hanya tersenyum menanggapinya.
"Ibu cuma mau menasehati kamu, Nak. Kata Ayra, kamu sekarang terlihat lebih baik. Kamu juga rajin shalat. Apa benar begitu, Nak?"
"Alhamdulillah, Bu."
"Apa kamu masih sering mendatangi tempat terlarang itu?"
"Alhamdulillah, aku juga sudah berhenti, Bu. Terakhir aku pergi bersama Chay.. eh, Ayra untuk menyelesaikan masalahku di tempat itu."
"Kamu membawa Ayra ke tempat itu?!" Santi terkejut mendengar penuturan Ardian.
"Eh, maaf, Bu. Tapi, Ardian melakukan itu, agar Ardian tidak terjebak di tempat itu. Di sana terlalu banyak godaan yang menggiurkan." Ardian menunduk saat mengatakan itu.
"Dengarkan Ibu, Nak."
Ardian melirik mertuanya, menganggukkan kepalanya lalu kembali menunduk.
"Semua yang kamu lihat dan kamu rasakan dari wanita itu. Semuanya sudah ada pada istri kamu. Itulah mengapa Allah menyediakan yang halal, agar laki-laki memanfaatkan yang halal itu tanpa harus tertarik dengan yang haram. Di luaran sana, kamu melihat wanita berpakaian dengan berbagai gaya. Sedangkan istrimu berpakaian dengan sangat tertutup. Itu berarti apa Nak? Istrimu menjaga kehormatannya untukmu. Hanya kamu yang bisa melihatnya. Hanya kamu yang bisa menikmatinya. Jangan sia-siakan yang sudah ada hanya untuk yang tidak pasti."
"Maafkan Ardian, Bu."
"Tidak perlu minta maaf, Nak. Semua kita mempunyai kesalahan dimasa lalu. Kesalahan yang sudah lewat kita jadikan pelajaran di masa sekarang dan masa yang akan datang."
"Terimakasih sudah mau menerima aku dengan segala kekuranganku, Bu."
"Kalian sudah berjodoh, Nak. Mau Ibu suka atau tidak suka. Mau Ibu terima atau tidak terima, Ibu tidak bisa berbuat apa-apa untuk menentang ketetapan Allah. Allah mempertemukan kamu dengan Ayra, karena Allah ingin kamu berubah. Allah sayang sama kamu, Nak. Itulah mengapa Allah memberimu hidayah sebelum terlambat."
Ardian hanya bisa menunduk. Semua ucapan mertuanya benar-benar menyentuh sampai qolbunya.
"Ibu mau bertanya sama kamu."
Ardian kembali melirik mertuanya. "T.. tentang a... apa, Bu?"
Santi menarik nafas panjang. Sebenarnya dia berat untuk ikut campur terlalu jauh dalam kehidupan pribadi anak menantunya. Namun, dia harus melakukan ini untuk membuat mereka sadar kewajiban mereka masing-masing.
"Sudahkah kamu menyentuh istrimu? Sudahkah kamu menjalankan kewajiban kamu sebagai suami?"
Ardian langsung mengangkat wajahnya.
__ADS_1
Deg...!
******