Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Drama Ardian


__ADS_3

Ardian tidak henti-hentinya memeluk tubuh Chayra. Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, tetapi pria itu masih enggan untuk keluar kamar. Istrinya pun ikut tertahan di dalam kamar karena ulahnya. Karena mereka akan berangkat ke Bandara jam sebelas nanti, Ardian jadi bermalas-malasan.


"Mas, please deh.. Ibu sudah manggil aku dari tadi. Bian juga pamit ke sekolah dari depan kamar tadi. Kamu kenapa sih, kayak orang mau pergi merantau aja?"


"Sebentar saja, Sayang. Aku nggak akan bisa meluk kamu tiga hari ke depan."


"Astagfirullahal'adzim... tapi coba deh lihat ini sudah jam berapa. Perut aku juga lapar nih. Anak kamu meronta-ronta dari tadi." Chayra manyun dalam pelukan suaminya.


"Masa sih?" Ardian malah dengan santainya semakin mempererat pelukannya. Tangannya meraba-raba perut istrinya yang memang terasa sedang menegang karena tingkah anaknya di dalam. "Eh, ini kok ngejendul kayak gini perut kamu." Ardian bangkit sambil tersenyum karena merasakan pergerakan kuat dari anaknya. "Eh, dia gerak-gerak lagi. Kayaknya dia sedang main bola."


"Main bola main bola apanya.. yang ada dia kelaparan makanya gerak-gerak terus."


Ardian mengelus-elus pipi istrinya yang terlihat semakin berisi. "Unyuk-unyuk cantiknya Abang kok ngambek."


"Kamu sih, Mas pakai banyak drama segala, padahal keluar kotanya cuma tiga hari kayak orang mau pergi berbulan-bulan aja." Chayra melengos sambil bangkit karena sudah terbebas dari pelukan suaminya.


"Kamu beneran lapar banget, Sayang?"


"Ya Allah, Mas... masa lapar aja harus pakai drama berpura-pura segala. Sudah biasa juga kan, kita sarapan jam tujuh. Tuh, Mas Ardian bisa lihat, sebentar lagi jam setengah delapan." Hidung Chayra kembang kempis menahan kesal. Ardian semakin senang melihat ekspresi Chayra. "Mau aku ambilkan sarapan? Kayaknya hidung kamu tidak akan kempis lagi deh, kalau sekarang disuapin sarapan."


"Nggak..! Aku mau sarapan di luar sama Ibu."


"Ibu kan udah sarapan duluan tadi, Sayang. Kenapa nggak bilang mau bareng sarapan sama suami aja." Ardian mencondongkan badannya lebih mendekat. Semakin menikmati raut wajah istrinya yang terlihat semakin kesal padanya.


Chayra mengambil bantal lalu memebekap suaminya sekuat tenaga. "Ngeseliiiin... tau nggak. Di bilang juga aku lapar, pakai acara menggoda segala." Chayra menghentakkan kakinya sambil berjalan ke luar kamar.


Ardian menarik nafas dalam karena merasa kehabisan oksigen. Tapi, dia menikmati semua kelakuan istrinya padanya. Ardian beranjak bangun untuk membersihkan badannya. Setelah itu ia mendirikan empat rakaat shalat Dhuha, barulah ia beranjak keluar untuk sarapan.


Chayra melengos memalingkan wajahnya saat melihat kedatangan Ardian. "Sayang, aku mau sarapan."


Chayra bangkit mengambilkan nasi dan lauk untuk suaminya tanpa ekspresi. Kenapa moodnya benar-benar rusak mendengar candaan Ardian. Padahal suaminya hanya ingin menghabiskan banyak waktu bersamanya.


"Chay, jangan seperti ini, Sayang. Aku tidak akan enak meninggalkan kamu kalau kamu bersikap seperti ini." Ardian akhirnya meletakkan sendoknya, urung menyuapkan nasi ke mulutnya melihat sikap istrinya yang belum juga mau menatapnya.


"Euh.. masih kesel akunya." Jawab Chayra seraya beristighfar dalam hatinya.

__ADS_1


Ardian menarik nafas dalam. "Aku mau pergi jauh, Sayang."


"Iya aku tau."


"Makanya kamu duduk, temani aku sarapan."


Chayra menghela nafas berat seraya duduk. Mencoba menetralkan pikirannya yang terasa kacau. Entah karena perasaannya yang merasa tidak rela jika harus ditinggalkan suaminya atau karena kekesalan karena perbuatan Ardian yang tidak mengizinkannya keluar kamar tadi.


Ardian menggeser tempat duduknya. "Oke, aku minta maaf kalau kamu marah gara-gara ulahku tadi di kamar. Aku harus pergi dengan melihat senyuman kamu. Aku nggak akan bisa fokus kerja kalau kamunya ngambek terus. Perasaan aku tidak tenang nantinya.


"A.. aku baik-baik saja kok, Mas." Chayra melirik suaminya dengan memberikan senyuman palsu.


Ardian kembali menghela nafas. "Yang ikhlas dong senyumnya. Mana ada orang ngasih senyuman tapi bibirnya manyun kayak gitu."


"Iya... ini aku senyum nih.."


Ardian ikut tersenyum melihat tingkah istrinya. "Nah gitu dong, baru kelihatan ikhlasnya. Kamu jadi terlihat makin cantik kalau kayak gini." Ardian kembali meraih sendok untuk melanjutkan sarapan yang tertunda karena acara ngambek istrinya.


*******


Chayra meraih handphonenya, suaminya belum menghubunginya sejak kemarin. Ardian hanya mengabari saat dia sudah sampai kamar hotel. Itu pun melalui pesan singkat karena sesampainya di kota tujuan Ardian langsung mengikuti rapat bersama atasannya.


Ingin rasanya Chayra menghubungi suaminya, tetapi dia takut mengganggu. Akhirnya dia hanya bisa pasrah menunggu Ardian menghubunginya nanti. Termenung sendiri di dalam kamar membuat Chayra tiba-tiba mengingat kenangan masa lalunya. Sejak kapan dia jatuh cinta pada suaminya ini. Seingatnya dulu dia sangat membenci Ardian. Entah kenapa sekarang sehari tidak bersamanya membuatnya rindu berat seperti ini.


Mengingat masa lalu membuatnya ingat kembali kepada Ghibran. "Eh, apa kabarnya orang itu?" Chayra tersenyum sendiri. Kata ibunya Ghibran langsung menikah begitu acara pernikahan Zidane selesai. Tapi, kenapa Zidane tidak pulang waktu itu. Bu Santi juga mengurungkan niatnya untuk ke Pesantren waktu itu karena mengkhawatirkan putrinya. Chayra akhirnya menarik nafas dalam. "Astagfirullah, ngapain juga aku memikirkan orang itu. Mudah-mudahan saja dia sudah bahagia dengan pasangan hidupnya." Chayra mengusap-usap wajahnya dengan kasar.


Chayra beranjak keluar. Semakin lama mengurung diri di dalam kamar membuat perasaanya semakin tak menentu. Baru saja keluar, ia tersenyum melihat kedua temannya sudah ada di sana. "Kapan datang?"


"Barusan, sekitar satu jam yang lalu." Jawab Tina.


"Kenapa nggak manggil aku di kamar?"


"Hmmm... lho lagi merenung tadi. Nggak enak kalau harus mengganggu. Makanya kami duduk saja disini sambil menonton TV." Timpal Alesha. "Lho baru dua hari ditinggal suami kayak galau banget deh. Gue aja ditinggal tiga empat hari udah biasa. Padahal baru beberapa bulan menikah."


"Aku kan nggak terbiasa aja, Lesha. Dia juga nggak ada kabar dari kemarin. Kirim pesan pas nyampai hotel setelah itu hilang nggak pernah ada kabar."

__ADS_1


"Memang begitu kalau suami ada kunjungan kerja ke luar kota, Ayra. Mas Zidane juga kayak gitu. Tapi percaya deh, kalau udah nggak sibuk mereka akan langsung nelpon, malahan pakai Video call langsung. Percaya sama aku. Aku aja beberapa kali ketiduran karena terlalu lama video call. Pernah juga Mas Zidane sampai ngambek gara-gara aku ketiduran, ngorok lagi."


"Ya Allah, Lesha... nggak kebayang deh wajah Kakak aku, pas lagi kangen-kangenan malah ditinggal tidur." Chayra meras terhibur dengan cerita Alesha.


"Eh, gue juga pas bangun-bangun terkejut banget. Pas gue telpon dia paginya wajahnya asem banget. Langsung deh gue merasa bersalah. Nanti malam makanya kalau laki lho nelpon jangan tiduran caranya, nanti kamu ketiduran kayak gue."


Chayra hanya menanggapi dengan senyuman.


"Kita keluar yuk.. bosen di rumah terus.. Lho harus banyak jalan-jalan, Ayra biar lho nggak keliatan bulat katak gitu. Pipi lho udah kayak bakpao tau nggak.."


"Namanya juga lagi hamil. Tapi alhamdulilah aku seneng kok walaupun aku bertambah gemuk kayak gini. Mas Ardian juga nggak protes. Katanya malah seneng lihat aku lebih berisi. Jadi terbukti kalau aku nggak menderita nikah sama dia."


"Tapi kita mau kemana ya.. Kok otak gue tiba-tiba Bunyu kayak gini. Efek ditinggal suami udah tiga malam." Alesha memukul-mukul kepalanya.


"Loh, emangnya Kak Zidane ke luar kota juga?"


"Nggak.. dia pulang ke Pesantren."


"Terus kamu kenapa nggak ikut?"


"Bagaimana mau ikut, di ajak juga nggak.." Alesha melengos.


"What...?!" Tina tertawa terbahak-bahak.. "Lho kayaknya nggak bisa diandalkan disana makanya tidak diajak."


Alesha menyebikkan bibirnya. "Mana ada kayak gitu. Kemarin pas dia kembali dari luar kota, tidur semalam di rumah. Eh, paginya terima telepon disuruh pulang ke Pesantren. Katanya mau mengadakan persiapan untuk acara Haul Akbar. Aku akan dijemput belakangan. Insya Allah, lusa dia udah di rumah lagi. Untung aja kemarin sudah di charge full. Nggak tau deh kalau laki gue itu nggak di charge dulu. Esmosinya akan meluap kemana-mana."


"Omongan lho ampun deh, Lesha." Tina langsung menutup wajahnya. "Tau juga gue belum ada pengalaman dalam hal begituan."


"Nggak perduli.. siapa suruh belum laku sampai sekarang."


Giliran Tina yang melengos. "Gue juga pinginnya nikah sekarang. Tapi Allah belum mempertemukan dengan orang yang cocok aja." Tina tersenyum membayangkan tipe orang yang menjadi incarannya saat ini. "Udah ah, kok malah ngebahas beginian. Kita kan kemari mau mengajak Ayra jalan-jalan, biar Bumil ini tidak kesepian."


"Ayo.. kita pergi shoping aja." Alesha bangkit sambil meraih tasnya di atas meja. "Lho cepetan ganti kostum."


"Iya, Ayra. Kita tunggu lho di sini. Kita nggak berani sering-sering masuk kamar lho sekarang. Soalnya sering ada pakaian yang tidak biasa dilihat mata aku.." Tina mengusap-usap matanya sok suci. Mendorong pelan tubuh Chayra agar segera ganti pakaian.

__ADS_1


Sebenarnya mereka berdua diminta Ardian untuk menemani istrinya karena jadwalnya disana benar-benar sibuk. Tidak ada waktu sama sekali walaupun hanya sekedar untuk mengirim pesan.


__ADS_2