Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Saling terbuka


__ADS_3

"Kok kamu terlihat malu-malu sekarang?" Ardian menangkup pipi istrinya setelah mereka selesai melaksanakan ibadah suami istri. " Dada kamu juga berdebar-debar sampai sekarang." Meraba d*** Chayra yang terasa masih berdetak kencang.


"Aku juga nggak tau. Jangan ditatap terus, aku malu." Chayra menenggelamkan wajahnya ke dada Ardian.


Ardian semakin mempererat pelukannya. Menarik nafas dalam menikmati kehangatan tubuh istrinya. "Aku merasa sangat bahagia memelukmu seperti ini."


Chayra hanya diam dalam pelukan suaminya. Hanya bibirnya yang mengulas senyum tipis.


"Beruntung banget ya aku ini."


"Kenapa?" Chayra sedikit mendongakkan kepalanya. Kembali menunduk saat Ardian tersenyum menatapnya.


"Aku beruntung karena mendapatkan istri sehebat kamu." Ardian tersenyum. "Aku tidak menyangka akan mendapatkan kehidupan sebaik ini setelah melakukan kebejatan sebelumnya. Allah memang selalu baik kepada hambanya."


"Kakak pernah membaca surat Ar Rahman?"


"Surat Ar Rahman? Surat ke berapa?"


"Surat ke lima puluh lima."


Ardian menggaruk-garuk kepalanya. "Kayaknya belum deh. Aku baru sampai juz ke lima belas. Ada surat Al Kahfi di sana."


"Di surat Ar Rahman itu, ada firman Allah yang terus diulang-ulang yang artinya ini. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?" Chayra mengusap-usap wajah suaminya saat menjelaskan itu.


Ardian termenung. "Adakah ayat Al-Qur'an yang berbunyi seperti itu?"


"Ngapain aku jelaskan kalau itu tidak ada?" Chayra mencubit perut suaminya.


"Aww, Sayang.. apa yang kamu lakukan? Sakit tau..."


"Makanya jadi orang jangan ngeyel kalau dikasih tau. Dibilangin juga.."


"Hehehe..." Ardian hanya nyengir.


"Sudah ah, kita tidur, Kak. Besok harus bangun pagi kan?"


"Iya, iya. Ini baru saja jam sembilan."


"Tapi kan kita bangunnya jam tiga nanti."


"Iya makanya.. aku mau membersihkan badanku sebentar. Mau shalat, minta petunjuk pada Allah. Semoga kedepannya diberikan kemudahan menjalankan rumah tangga ini."


"Ikut.." Chayra menahan tangan suaminya yang sudah bersiap beranjak dari tempat tidur.


"Lho, memangnya kamu berani mandi malam-malam?" Kembali merebahkan tubuhnya di samping Chayra. Kembali melingkarkan tangannya di pinggang Chayra.


"Kenapa emangnya?"


"Iya.. nggak ada sih. Aku kira kamu alergi dingin."


"Sana, Kakak mandi duluan."


"Mandi bareng aja."


"Nggak mau, nanti malah panjang ceritanya."


"Janji, tidak akan seperti itu."


Mereka akhirnya sepakat untuk mandi bersama setelah melewati banyak drama.

__ADS_1


Dua orang pria yang berdiri di depan pintu kamar itu saling pandang. Zidane dan Pak Ismail sudah berdiri sekitar setengah jam yang lalu di depan pintu itu. Awalnya mereka hanya mau lewat disana. Namun, mendengar tawa dua orang penghuni kamar itu, mereka mengurungkan niat. Zidane menarik tangan Abahnya untuk melanjutkan langkahnya. Namun, Pak Ismail malah menepis tangan putranya. Tangan Zidane yang ditarik Abahnya agar tidak berlalu begitu saja.


"Apakah Ayra benar-benar bahagia dengan pria itu, Nak?" Pak Ismail bertanya setelah mereka duduk di sofa panjang depan kamar Zidane. Mereka segera pindah posisi setelah tidak terdengar percakapan dari penghuni kamar. Takutnya, penghuni kamar tiba-tiba keluar dan menyadari keberadaan mereka di depan kamar.


"Insya Allah, Abah. Dia tidak mungkin bisa tertawa seperti tadi kalau dia tidak bahagia."


"Bisa jadi dia hanya bersandiwara karena sedang di rumah ini."


"Aku tidak yakin dengan ucapan Abah. Sepertinya, mereka juga sudah melaksanakan ibadah tadi. Apakah seseorang yang tidak bahagia bisa menyerahkan diri begitu saja? Zidane berkata begini karena kita sudah mendengar semuanya dengan jelas tadi."


"Entahlah.." Pak Ismail memijit pelipisnya. "Apa yang membuat Ayra secepat ini bisa menerima pria itu. Mengingat betapa jahatnya kelakuan pria itu sebelum ini."


"Kenapa Abah berkata begitu? Kenapa Abah tidak bertanya pada diri sendiri. Kenapa Ardian mau berubah dan belajar agama dengan sangat baik. Mengingat kehidupan yang dia jalani sebelum ini. Apakah itu merupakan suatu pertanda, kalau dia benar-benar mencintai Ayra dengan tulus? Kita tidak tau kehidupan yang akan kita jalani selanjutnya. Bisa jadi dia yang sangat awam dengan urusan agama saat ini, suatu saat nanti bisa menjadi panutan untuk kita."


"Bingung Abah, Nak."


"Ayra bersikap baik padanya, mungkin karena Ardian terlihat benar-benar tulus. Ardian sudah benar-benar berubah, Abah. Kenapa Abah tidak melihat perubahan itu. Caranya bicara juga berbeda sekarang. Kata Ummi, dia juga rela menjalankan operasi untuk menghapus tato di tubuhnya."


Pak Ismail tersentak mendengar cerita putranya. Menatap Zidane dengan tatapan yang sulit di artikan.


Suara pintu kamar yang terbuka membuat kedua pria itu langsung diam. Mereka mengintip ke arah kamar Chayra yang menampakkan Ardian dan Chayra yang keluar kamar.


"Loh, mau kemana mereka?" Pak Ismail sudah bangkit, siap untuk menghampiri Chayra.


"Jangan, Abah! Abah mau, mereka tau kalau kita menguping pembicaraan mereka tadi."


"Iya enggaklah.."


"Terus Abah mau kemana sekarang."


"Mau bertanya mereka mau kemana."


Pak Ismail kembali duduk perlahan. Benar kata putranya. Mereka itu pasangan halal. Tidak akan ada dosa untuk mereka kemana pun mereka akan pergi. "Mm.. kita ikuti mereka kalau begitu." Menarik tangan Zidane agar ikut bangkit.


"Eh, untuk apa?"


"Abah belum yakin dengan semua yang kamu ucapakan dan yang kita dengar tadi. Abah butuh bukti yang lebih banyak lagi."


"Ya Allah, Abah.. Sampai kapan Abah akan seperti ini?"


"Ayo, jangan banyak membantah." Menarik tangan Zidane lebih kuat.


Zidane akhirnya menyerah. Mengikuti keinginan Abahnya untuk membuntuti Chayra dan Ardian.


"Mereka tidak pakai mobil. Kayaknya mereka hanya mau jalan-jalan di sekitar sini, Abah. Kita kembali saja."


"Kamu ini nggak usah banyak bicara, Nak. Tinggal ikutin keinginan Abah saja."


Zidane membuang nafas kasar. "Abah ini yang banyak maunya. Sudah tua juga, kenapa masih saja kepo dengan urusan anak-anak."


"Diam kamu." Pak Ismail menepis tangan putranya.


"Nanti kalau ada Santri yang lewat terus bertanya. Abah mau ngomong apa?"


"Jangan dijawab. Suruh mereka kembali ke Asrama."


Zidane hanya bisa menghela nafas berat. Abah kenapa seperti ini ya.. kayak anak muda yang lagi cemburu aja.. batinnya. Menggeleng-gelengkan kepalanya bingung.


Mereka berdua memilih duduk di bangku panjang samping tempat duduk Chayra dan Ardian. Posisi Ardian dan Chayra yang membelakangi mereka membuat mereka berdua merasa aman.

__ADS_1


"Kak..." Ucap Chayra pelan.


Pak Ismail langsung memasang telinga.


"Aku kenapa deg-degan sekarang kalau disentuh atau bicara dengan Kakak?" Gadis itu menyandarkan kepalanya di pundak Ardian.


"Kalau aku bukan hanya deg-degan, Chay. Tapi aku seperti terkena sengatan listrik saat bertatapan dengan kamu."


Chayra menepuk pelan punggung Ardian. "Lebay.. masa sih seperti itu?"


"Iya, aku beneran nggak bohong. Kamu ingat, pas kita akad nikah?"


"Mm..."


"Kamu ingat, saat kamu tersenyum lembut ke arahku sebelum mencium tanganku waktu itu?"


"Mm..."


"Saat itulah aku merasakan sengatan listrik saat di senyumin kamu. Aku merasa aneh sih.. tapi aku benaran tidak bisa mengendalikan diri."


"Lalu kenapa Kakak masih gengsi dan membenci aku waktu itu."


"Iya... bagaimana ya.. aku kan masih bergantung pada kehidupan lamaku waktu itu. Tapi, lama-kelamaan dimanjain kamu, aku jadi tidak bisa tanpa kamu. Iya.. walaupun kamu tidak mengizinkan aku menyentuh kamu sejak awal. Tapi, jujur.. sejak awal pernikahan, aku sudah merasakan adanya getaran cinta. Aku resah saat kamu pergi ke Kampus tanpa pamit waktu itu. Aku khawatir kamu pergi. Apalagi kamu tidak menyiapkan baju ganti aku. Kok, aku merasa di abaikan. Pingin nangis rasanya. Tapi, Mami datang dan menasehati aku. Memberitahuku kalau kamu cuma pergi ke Kampus bukan pergi meninggalkan aku."


"Mmm..." Chayra hanya menanggapi dengan deheman kecil. Bibirnya menahan senyum karena merasa terhibur dengan curhatan suaminya.


"Kamu tau nggak?"


"Apa?"


"Waktu itu aku sadar, kalau kehadiranmu sangat berarti untukku. Aku sadar, kalau aku butuh wanita seperti kamu. Wanita yang bisa membimbingku ke jalan yang lebih baik. Aku pernah berpikir, kalau semua yang aku cari ada pada Amira. Namun, saat melihat kesempurnaan seorang wanita yang sedang bersandar di sampingku ini. Aku merasa, Amira hanya angin lewat. Tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan istriku yang luar biasa ini" Mencubit pelan pipi Chayra.


"Tapi... niatku salah waktu itu, Kak."


"Maksud kamu?" Ardian menautkan alisnya mendengar ucapan Chayra.


"Aku minta Kak Ardian menikahiku hanya untuk memperbaiki Kak Ardian. Itu janjiku pada Amira. Tapi, Allah berkehendak lain dan menumbuhkan perasaan diantara kita. Aku bahkan tidak pernah menghubungi Amira sekarang. Aku merasa telah mengkhianati janjiku."


Ardian menahan kepala Chayra yang bersandar di pundaknya. Berbalik menghadap wanita itu, langsung memeluknya erat. "Itu berarti kamu sudah bisa menerimaku sekarang?"


"Aku..."


"Aku tidak menangkap ucapanmu yang lain. Aku hanya menangkap ucapan kamu yang mengatakan, kalau Allah berkehendak lain dan menumbuhkan perasaan diantara kita."


"Terus ucapanku yang lain Kakak tidak memasukkannya ke dalam hati?"


"Untuk apa? Amira sudah punya jalan hidup sendiri. Jadi kamu tidak perlu memikirkan dia. Yang penting bagiku adalah pengakuan darimu."


Chayra menarik tubuhnya perlahan. Menatap suaminya seraya menarik tali niqab yang menutupi wajahnya. "Aku... aku nyaman bersamamu. Aku tidak tau, apakah ini yang namanya cinta. Tapi, semakin kesini, aku merasa tenang saat bersama Kak Ardian." Cahaya lampu yang menerangi pinggiran kolam itu ikut menerangi senyum Chayra yang diperuntukkan untuk suaminya.


Ardian tersenyum seraya mendekatkan wajahnya. Penyatuan b**** mereka membuat Pak Ismail mendengus dan menarik tangan Zidane untuk menjauhi pasangan itu.


"Keterlaluan mereka. Berani-beraninya berciuman di tempat terbuka seperti itu." Pak Ismail menggerutu sambil terus berjalan.


"Salah Abah sendiri yang mengikuti mereka. Toh, mereka merasa sedang berdua. Mana sadar mereka kalau ada orang yang sedang membuntuti mereka."


"Diam, Zidane!" Pak Ismail melototkan matanya kesal.


Zidane hanya cekikikan setelah mereka masuk ke dalam rumah. Ingin tertawa namun takut Pak Ismail akan melototinya lagi.

__ADS_1


*********


__ADS_2