Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Orang aneh


__ADS_3

Sudah dua hari ini Ardian menyiapkan perlengkapannya sendiri. Dia benar-benar terlihat kewalahan. Belum lagi Adzra yang masih rewel. Chayra masih belum pulih, membuatnya tidak tega jika harus meminta istrinya itu mempersiapkan keperluannya.


Saat Ardian sedang mengancing kemejanya, Adzra tiba-tiba menarik-narik celananya. "Papa... maem... huaaaaa...." Ardian menarik nafas panjang seraya duduk di hadapan Adzra. "Papa mau pakai baju dulu ya, Sayang." Ardian mengedarkan pandangannya mencari keberadaan istrinya. Tidak nampak ada Chayra di dalam kamar. Ia kembali menarik nafas panjang untuk menstabilkan emosi yang terasa mau naik. Ia memeluk tubuh kecil Adzra yang sudah mulai sulit untuk ditenangkan. Entah kenapa anak itu sangat rewel setelah berhenti minum ASI.


"Adzra tumben bangun sepagi ini, Sayang.. ada apa?"


"Mama... Mama.. "


"Iya.. kita cari Mama dibawah ya.." Ardian akhirnya mengalah untuk membawa Adzra turun. Daripada anak itu terus menangis sebelum mendapatkan apa yang dia inginkan. Mengalah itu adalah solusi yang paling akurat saat ini.


Ardian mendapati istrinya sedang mempersiapkan sarapan di meja makan. "Chay, Adzra cari kamu, Sayang.." Ardian menyodorkan tubuh putranya pada istrinya. Chayra menoleh dan segera mengambil alih putranya. "Kamu belum siap, Mas? Ini sudah jam tujuh lewat loh.."


"Aku kewalahan, Sayang. Kamu tau kan, aku selalu dibantu kamu selama ini."


"Aku sudah menawarkan bantuan dari tadi, Mas."


"Kamu belum pulih betul. Itu aja masih keras kayak batu." Ardian melirik ke arah dada istrinya dengan ekor matanya.


Chayra langsung memutar bola matanya. Suaminya ini benar-benar tidak bisa menahan diri kalau mereka sudah berdua. "Tapi ini sudah tidak sakit lagi, Mas. Memang sih masih keras, tapi aku nggak merasakan yang kayak kemarin. Aku juga nggak demam lagi kan."


"Tapi semalam kamu menepis tangan aku saat aku memeluk kamu dari belakang."


Chayra menatap suaminya bingung. "Kapan? perasaan aku tidak merasa dipeluk, Mas. Aku juga nggak tau kapan kamu kembali ke kamar. Saat aku tidur, kamu kan masih di ruang kerja."


"Nah, itu makanya kamu nggak merasakan kehadiran aku semalam." Ardian mengusap-usap kepala istrinya gemas. "Bantu aku bersiap sebentar, Sayang. Bi..!" Ardian berteriak memanggil Bi Idah. "Bibi lanjutkan siapkan sarapannya. Chay mau bantu aku bersiap sebentar." Ardian langsung memberikan perintah ketika Bi Idah menghampirinya dengan tergopoh.


"Baik, Tuan." Bi Idah mengangguk patuh. "Tuan Adzra kemarikan saja dulu, Non. Biar Bibi yang jaga. Kan Non Ayra mau bantu Tuan Ardian."

__ADS_1


"Coba Bibi pegang. Kalau Adzra nggak nangis, aku akan tinggalkan dia bersama Bibi." Saat diserahkan pada Bi Idah, Adzra tidak memberontak sama sekali. Anak itu malah langsung memeluk leher Bi Idah walaupun Bi Idah baru selesai membersihkan halaman dan berkeringat.


Ardian langsung menarik tangan istrinya agar urusannya segera selesai.


********


Ardian mengusap wajahnya dengan kasar. Hari ini benar-benar terasa berat. Beberapa pekerjaan bawahannya tidak mencapai target. Padahal saat rapat, mereka mengaku sudah paham dengan maksud dan keinginan Ardian.


Ardian meletakkan berkasnya dengan kasar. Ingin marah, tetapi dia tidak suka melampiaskan kemarahannya pada orang lain. Tiba-tiba saja ucapan istrinya yang memperingatinya untuk menahan amarah terngiang-ngiang di pikirannya.


Saat pikirannya masih kacau seperti itu, tiba-tiba pintu ruangannya diketuk. Biasanya hanya Dodit yang akan masuk saat jam makan siang seperti ini. Benar saja, saat pintu terbuka, tampaklah Dodit berjalan masuk diikuti dengan seorang pria bermata sipit di belakangnya.


Ardian terkesiap, spontan ia langsung bangkit begitu melihat siapa yang datang.


"Maaf, Pak Ardian. Saya sudah meminta tamu ini untuk menunggu di luar sebelum saya mendapatkan perintah dari Pak Ardian untuk menyuruhnya masuk." Dodit menunduk hormat. Ternyata akting sebelumnya membuatnya masih bisa menjaga image bosnya sampai hari ini.


"Tinggalkan kami berdua, Dit. Saya mau bicara empat mata dengan Pak Ghibran." Ucap Ardian. Hal itu membuat Dodit mengangguk patuh. Berjalan mundur lalu menutup pintu dengan pelan.


Ghibran menatap Ardian dengan tajam seraya tersenyum sinis. "Aku hanya mau memastikan ucapan Zidane, kalau kamu itu adalah seorang General Manager."


Adian langsung menautkan alisnya bingung.


Ardian POV...


Aku menatap Pak Ghibran dengan bingung. Entah apa yang diinginkan orang ini. Disaat pekerjaanku sedang banyak seperti ini, dia malah datang.


Hmm... sikapnya itu selalu saja meremehkan aku. Menganggapku lebih rendah darinya itu hal yang pasti. Mendengar jawabannya tadi membuatku memperbaiki posisi dudukku. Aku berusaha tersenyum. Iya.. walaupun di dalam hati siapa yang tau.

__ADS_1


"Maksud Pak Ghibran apa?" Aku sengaja bertanya untuk berbasa-basi. Heh, dia malah kembali tersenyum sinis ke arahku.


"Aku hanya ingin membuktikan ucapan Zidane tempo hari yang membangga-banggakan kamu. Aku kira dia hanya melindungi kamu agar tidak memalukan. Tapi, ternyata kamu benar-benar seorang GM."


Huh, aku langsung mendengus mendengarnya. Orang ini benar-benar kelewatan. Apakah tampangku tidak serius waktu itu atau aku memang terlalu muda untuk mendapatkan jabatan setinggi ini? Hmm.... sepertinya aku harus membuat perhitungan dengannya.


Aku berpura-pura memperbaiki posisi dudukku. Padahal aku sedang memikirkan cara untuk membuat orang ini malu. Aku menulis pesan singkat dan mengirimnya pada Dodit. Mudah-mudahan dia paham dengan kode yang aku berikan pada pesan singkat itu. Aku kembali menatap Pak Ghibran. "Alhamdulillah, Pak. Allah memberikan kepercayaan ini pada saya. Semua ini hanyalah untuk kesenangan hidup di dunia semata.


Aku melirik Pak Ghibran lagi. Tepat saat itu, pintu diketuk dari luar. "Masuk..!" ucapku memerintah, padahal aku sudah tau siapa yang menjadi tamuku itu. Aku tersenyum saat melihat Dodit masuk. "Ada apa, Dit?" aku sengaja bertanya agar Pak Ghibran yang terhormat tidak curiga padaku.


"Investor dari Tiongkok ingin mengadakan pertemuan dengan Bapak. Mereka sedang dalam perjalanan menuju kemari. Dan ini, saya mau menyampaikan amanah dari Bu Ayra untuk Bapak." Dodit menyerahkan kotak bekal panjang.


Aku tersenyum sambil menerima kotak bekal yang diserahkan Dodit. "Kita makan bersama, Dit. Chay pasti menyiapkan porsi dobel. Mm.. mari Pak Ghibran juga ingin ikut bergabung."


"Tidak terimakasih. Aku tidak tertarik dengan makanan yang sudah disiapkan sebelum jam makan tiba. Aku biasanya memakan makanan yang masih hangat. Sepertinya aku harus pamit. Kamu terlalu sibuk sehingga tidak ada waktu untuk menerima tamu tak diundang seperti aku ini. Aku pamit, assalamu'alaikum.." Pak Ghibran pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban dariku.


Huh, dasar orang aneh..


Masa iya, bela-belain datang ke Kantorku hanya untuk mencari tau kebenaran jabatan yang aku pegang saat ini.


Author POV...


Ardian cekikikan setelah kepergian Ghibran. Dia benar-benar heran dengan orang itu. Tiba-tiba datang dengan segudang kesombongannya.


"Beli dimana makanan ini, Dit?" Ardian membuka kotak bekal yang diserahkan Dodit tadi


"Beli di Kafe lah, Ar. Mana bisa aku berlari ke rumah kamu hanya untuk minta makan siang pada Bu Ayra. Bisa-bisa aku ikutan menjadi orang aneh seperti orang tadi.

__ADS_1


Ardian dan Dodit tertawa serentak


*******


__ADS_2