Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Pijitan menenangkan


__ADS_3

Ardian berulang kali menarik nafas panjang. Pikirannya terasa benar-benar kacau. Bibirnya beberapa kali terdengar mengumpat.


Chayra yang baru masuk kamar heran melihat suaminya memijit-mijit tengkuknya di pinggir ranjang.


"Maaf mengganggu, apa ada masalah?" Chayra sudah mengangkat tangannya untuk menepuk pundak Ardian. Namun, niatnya itu ia urungkan. Menarik kembali tangannya.


"Kepala gue pusing." Jawab Ardian. Giliran dahinya yang dia pijit.


"Apa karena saya mengajak anda keluar tadi?" ?Tanya Chayra dengan nada bersalah.


"B.. bukan seperti itu. Gue memang seperti ini kalau tidak minum atau tidak bersama perem..." Ardian menghentikan ucapannya. Melirik Chayra yang mundur beberapa langkah setelah mendengar ucapannya. "M.. maafin gue. Memang itu yang gue rasakan." Ardian menarik nafas dalam. "Itulah mengapa gue sangat sulit terputus dengan kebiasaan gue itu."


Chayra tersenyum samar. Harus bisa memahami kondisi ini jika dia mau bersahabat dengan Ardian. "Itu berarti anda pecandu berat, gitu?"


"Iya... bisa dibilang gitu. Gue belajar minum sejak gue kelas satu SMA. Waktu itu, gue marah sama Papi dan Mami, gara-gara mereka tidak bisa hadir waktu pembagian raport semester ganjil."


"Mm.. terus.."


"Siapa yang nggak kecewa coba. Gue juara umum waktu itu. Gue bahkan sampai tidak bisa menahan haru. Naik ke atas panggung dengan penuh kebanggaan. Menunggu Papi dan Mami ikut naik ke atas panggung. Beberapa kali dipanggil oleh pembawa acara." Ardian menggeleng-geleng pelan. "Mereka tidak hadir waktu itu. Lho tau apa yang terjadi?"


Chayra langsung menggeleng. "Anda lanjutkan ceritanya."


"Saat gue pulang dengan menahan amarah. Mami dan Papi sedang tertawa di ruang keluarga. Gue tertegun melihat hal itu. Gue mendekat dan menepuk paha mereka berdua." Ardian menatap lurus ke depan. "Ada apa?" Tanya Mami tanpa rasa bersalah. Gue bilang, kenapa Papi dan Mami tidak hadir di acara pembagian raport Ardian? Waktu itu Mami dengan entengnya menjawab. Mami dan Papi ketiduran. Besok dah, kalau pembagian raport lagi. Mami dan Papi akan hadir." Ardian tersenyum hambar.


Chayra beristighfar. "Jadi, itu yang memicu anda sampai nekat merusak masa depan anda sendiri?"


"Iya. Karena sejak itu gue berpikir untuk apa gue harus giat belajar. Untuk apa capek-capek belajar kalau ujung-ujungnya tidak dihargai."


"Tapi itu demi kebaikan anda, kan?"


"Gue belum bisa berpikir sampai sejauh itu waktu itu." Ardian kembali memijit-mijit kepalanya yang semakin kuat berdenyut.


Chayra tertegun melihat hal itu. Tiba-tiba bangkit dan mendekati pria itu. "Mm.. apa tidak apa-apa kalau saya memijat kepala anda sebentar?"


Ardian melirik Chayra. "Seharusnya gue yang bertanya seperti itu sama lho. Gue takut lho kayak kemarin lagi kalau bersentuhan kulit dengan gue."


Chayra berpikir. "Apa salahnya mencoba. Saya akan menjauh kalau itu terjadi."


"Silahkan, kalau lho tidak keberatan."


Chayra perlahan mulai menyentuh kepala suaminya. Tangannya mulai mengeluarkan keringat dingin. Namun, sekuat tenaga dia mempertahankan posisinya.


"Pijitan lho enak juga. Perasaan gue kok berasa lebih rileks." Ardian tersenyum sambil memejamkan mata. Semakin menikmati pijitan yang menenangkan dari istrinya itu.


"Terimakasih.." ucap Chayra. Ada untungnya dia masih ingat teknik pijat yang dia pelajari dari ibunya.

__ADS_1


Mata Ardian terlihat merem melek menikmati pijitan itu. "Gue ngantuk.."


Chayra langsung menarik tangannya. Namun, Ardian menahan tangan wanita itu dan menciumnya. "Gue masih butuh pijitan. Please, jangan pergi dulu."


Chayra ingin marah. Mulutnya terbuka hendak mengatakan sesuatu. Namun, lidahnya terasa kaku walaupun sekedar untuk mengatakan satu patah kata. Dia hanya bisa menelan ludahnya beberapa kali melihat tangannya dicium berulang kali oleh Ardian.


"Please, bantu gue kalau lho benar-benar ingin melihat gue untuk berubah. Gue butuh lho, agar gue bisa kembali ke jalan yang benar." Ardian mendongak menatap Chayra. Sangat terkejut saat melihat pipi Chayra yang sudah dibanjiri air mata.


"Eh, lho kenapa?"


"T.. tidak apa-apa.." Tubuh Chayra mulai bergetar. Berusaha menguasai pikirannya. Namun, bayangan kejadian buruk itu terus saja menghantui pikirannya.


"Maaf kalau gue berlebihan. Tapi, gue benar-benar membutuhkan lho. Kalau lho pergi sekarang. Gue nggak bisa menahan diri untuk tidak pergi ke tempat terlarang itu."


Chayra duduk seraya melafadzkan istighfar beberapa kali. Beberapa kali pula dia menarik nafas panjang. Lama menunduk dengan posisi itu.


Ardian hanya bisa menatapnya karena tidak bisa melakukan apa-apa. Kepalanya semakin pusing. Merebahkan tubuhnya di kasur dan menutup kepalanya dengan bantal. Ia hanya bisa berharap bisa cepat tidur dan sakit itu akan hilang dengan sendirinya.


Hampir setengah jam berlalu, barulah Chayra bisa menguasai diri. Ia bangkit, berdiri di depan ranjang tempat Ardian. "Apakah.. apakah anda sudah tidur?" Tanya Chayra dengan suara lirih hampir tidak terdengar.


"Aku tidak bisa tidur. Kepalaku benar-benar sakit." Jawab Ardian dari balik bantal.


"Apakah anda mau di pijit lagi?"


"Apakah kamu sudah baik-baik saja? Jangan memaksakan diri kalau itu hanya membuatmu sakit. Istirahatlah kalau kamu mengantuk. Jangan pikirkan keadaanku. Ini adalah resiko yang aku tanggung karena perbuatan yang aku perbuat."


Giliran Ardian yang terkejut. Chayra tidak memakai anda lagi saat bicara dengannya. Mengangkat bantal yang menutupi wajahnya. Bangkit seraya menatap Chayra. "L.. eh, kamu bilang apa saat tidak mah berjanji?"


"Maksudnya?"


"Maksud gue gini.. contoh. Mm.. kamu datang ya, besok ke rumah aku. Terus kamu jawab dengan apa?"


Chayra bingung. "Iya.. aku akan usahakan." Jawabnya mencoba menebak.


"Bukan begitu.. mm.. pokoknya ada kata Allah di akhirnya."


Chayra kembali berpikir. "Ada kata Allah di akhirnya..."


"Iya.. kan agar kita tidak berjanji gitu. Jadi, kita harus memakai kata itu agar tidak berdosa."


Chayra akhirnya tertawa kecil setelah paham maksud Ardian. "Oh, maksudnya kata insya Allah?"


"Betul sekali. Aku mau bilang gini.. Mm.. insya Allah aku baik-baik saja. Hehehe.." Ardian cengengesan.


Chayra tersenyum. Ngobrol santai seperti ini membuat perasaannya cepat normal. "Aku akan memijit kepalamu lagi."

__ADS_1


"Apa kamu yakin akan baik-baik saja?"


"Intinya jangan bersikap berlebihan seperti tadi. Insya Allah aku tidak akan kenapa-kenapa."


"Hehehe.." Ardian kembali cengengesan.


Chayra mendekat dan perlahan kembali memijit kepala Ardian.


"Apa kamu tidak merasa risih saat bersentuhan denganku?" Tanya Ardian.


"Awalanya begitu. Tapi bagaimanapun juga, aku harus membiasakan diri karena kamu adalah suamiku."


"Kamu tidak kaku lagi ngomong denganku." Ardian akhirnya mengeluarkan kalimat yang ingin dia keluarkan sejak tadi.


"Kamu juga tidak terlalu santai saat ngomong denganku."


Mereka akhirnya tersenyum mendapati kenyataan itu.


"Aku ingin benar-benar bersahabat mulai sekarang."


"Boleh.. tapi dengan satu syarat."


"Kok harus pakai syarat?"


"Iya dong. Aku nggak mau di permainkan ataupun dimanfaatkan lagi sama kamu."


"Ok.. ok.. sebutkan syaratnya."


"Kamu harus janji, kalau kamu benar-benar berniat mau berubah. Bukan bualan belaka seperti sebelumnya."


"Heh.." Ardian terdiam. Mau bilang insya Allah, tetapi dia lupa lagi. "Mmm... bilang apa tadi kalau tidak berani berjanji?" Ardian mendongak menatap Chayra. Mereka beradu pandang beberapa saat. Tersenyum lalu saling membuang pandangan. Dada Ardian berpacu lebih cepat. Segera menarik nafas panjang untuk menetralkan kembali pikirannya.


"Bilang insya Allah. Kenapa sih, lupa-lupa terus. Padahal nggak sulit kok menyebut itu."


"Namanya juga lagi belajar. Insya Allah, aku benar-benar ingin berubah sekarang." Menatap Chayra sekilas. Langsung mengalihkan pandangannya. Takut kalau kejadian tadi terulang lagi. "Ayo pijit lagi. Mudah-mudahan pusingnya cepat hilang."


Chayra kembali menyentuh kepala suaminya. "Mm.. sambil rebahan saja. Biar kalau ngantuk, kamu bisa langsung tidur."


Ardian menurut, merebahkan tubuhnya perlahan. Menarik tangan Chayra untuk kembali menyentuh kepalanya.


Chayra menarik tangannya karena terkejut. "Jangan terlalu dipaksakan. Aku takut kalau kejadian tadi terulang kembali."


"Eh, sorry.. aku lupa." Akhirnya, Ardian membiarkan Chayra melakukan apapun yang bisa dia lakukan.


Baru beberapa menit Chayra memijit. Terdengar dengkuran Ardian. Ternyata suaminya itu benar-benar membutuhkan pijitan. Beruntungnya hanya pijitan saja dan bukan pijatan plus-plus.

__ADS_1


*******


__ADS_2