Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Kedatangan Mami


__ADS_3

Ardian mengusap-usap wajahnya kasar. Ucapan Dokter itu terngiang-ngiang di telinganya. Tekanan darah istrinya sangat rendah. Tujuh puluh per seratus. Harus bersiap dengan kemungkinan terburuk jika tekanan darahnya turun lagi.


"Ya Allah, hamba harus bagaimana sekarang?" Ardian menghela nafas berat. Menatap istrinya yang belum juga sadarkan diri. Tangannya mengelus-elus kepala istrinya. Rasa bersalah memenuhi pikirannya. Apalagi istrinya harus menjalani rawat inap agar bisa dipantau kondisinya. Matanya menatap nanar ke arah tangan Chayra yang sudah dipasang jarum infus. Ia harus merelakan perasaannya demi Chayra sekarang. Mengenyampingkan perasaannya yang tersakiti demi kesembuhan istrinya.


"Maafkan aku, Chay. Aku terlalu egois tidak memikirkan kesehatanmu. Aku tidak memikirkan anak kita yang sedang kamu kandung." Mencium tangan istrinya perlahan. Tidak perduli lagi dengan perasaannya. Melihat Chayra yang terbaring lemah seperti itu membuat hatinya ngilu.


Ardian tertidur di samping Chayra dengan posisi kepalanya di atas ranjang. Tidak sadar berapa lama dia tertidur. Mengerjap-ngerjap menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya. Menatap sekitar ruangan yang sepi. Sudah pukul sepuluh malam. Namun, belum ada tanda-tanda Santi ataupun Zidane akan datang mengunjungi mereka. Apalagi handphone tidak dibawanya.


"Ya Allah, aku belum shalat Isya." Ardian bangkit. Namun, ia urungkan saat melihat istrinya. Dia akan meninggalkan Chayra sendirian kalau dia keluar untuk shalat.


Ardian kembali duduk, meraih tangan istrinya dan menggenggamnya erat. Perlahan mengangkat tangan itu dan menciumnya lama.


"Assalamualaikum.."


Ardian terkejut dan langsung menoleh ke arah pintu. "Wa'alaikumsalam.. I... Ibu.." Ardian tertegun saat melihat orang yang datang bersama Santi.


"Maaf Ibu baru datang, Nak."


Ardian menyalami mertuanya dengan hormat dan kembali duduk.


"Lho, kenapa kamu tidak menyalami Mami kamu juga, Nak?"


Ardian melirik ke arah Renata lalu kembali menunduk. Wanita paruh baya itu terlihat menangis. Namun, untuk mendekat pada anaknya, dia masih bisa menahan diri.


"Sopan sama orang tua, Nak."


Ardian menghembuskan nafasnya dengan kasar. Bangkit dengan terpaksa. Mencium tangan Renata sekilas lalu kembali duduk di tempatnya semula.


"Maaf Ibu datang terlambat. Bu Sulis mengabari Ibu saat Ibu pulang dari Toko tadi jam delapan. Saat sedang bersiap, Mami kamu datang ke rumah. Jadi, Ibu baru bisa datang sekarang. Ayra kenapa sampai masuk Rumah Sakit lagi?"


"Tekanan darahnya rendah, Bu. Dia pingsan di rumah tadi sore. Jadi, aku meminta bantuan pada Bu Sulis untuk membantuku membawanya ke Rumah Sakit. Mobil kan di bawa Ibu. Saat aku mencari Kak Zidane, dia juga sudah pergi. Aku tidak ada pilihan lain selain minta bantuan pada Bu Sulis."


Santi menatap putrinya dengan prihatin. Mencium dahinya lembut. "Kamu kenapa sering sakit sekarang, Nak." Air matanya menganak sungai. Mengingat betapa besar perjuangannya membesarkan putrinya.


Renata hanya berdiri menatap putra dan menantunya seraya bergantian.


"Tadi Dokternya bilang, tekanan darahnya tujuh puluh per seratus, Bu. aku disuruh bersiap untuk kemungkinan terburuk jika tekanan darahnya turun lagi." Ardian memejamkan matanya mengatakan itu.


"M.. maksud kamu apa berkata begitu?"


"Chay kurang istirahat dan sepertinya dia terlalu banyak pikiran, Bu. Mungkin, masalah kemarin menjadi pemicunya. Apalagi, kami sempat berdebat sebelum dia tidak sadarkan diri tadi."


"Ya Allah, mudah-mudahan kamu cepat pulih, Nak." Mengusap-usap kepala putrinya.


"Aku disuruh sering-sering memberinya air gula atau teh hangat."

__ADS_1


"Kamu sudah membuatnya?"


Ardian menggeleng. "Aku nggak bawa uang, Bu. Aku kemari nggak bawa apa-apa. Masker aja Bu Sulis yang belikan tadi."


"Itu berarti kamu juga belum makan?"


Ardian kembali menggeleng. "Aku juga belum shalat Isya, Bu. Pas Maghrib tadi, Bu Sulis yang jaga Chay. Sebenarnya aku sungkan untuk minta tolong terus. Tapi, aku tidak ada pilihan lain."


"Tunggu sebentar," Santi menerima panggilan masuk dari Bian. "Adik kamu mau kemari, Nak. Mau dibawakan apa?" Menatap ke arah Ardian.


"Baju ganti sama sarung aja, Bu. Oh iya, handphone sama dompet aku juga sekalian dibawakan."


Santi mengangguk, kembali bicara pada Bian. Mematikan sambungan telepon setelah selesai menyampaikan pesanan Ardian.


"Kamu keluar saja dulu sama Mami kamu. Beliau mau ngomong sebentar. Biar Ayra Ibu yang jaga disini."


"Ngomong disini saja. Aku tidak mau meninggalkan istriku dalam keadaannya yang seperti ini."


"Tidak boleh seperti itu, Nak. Mami kamu mau ngomong empat mata karena yang akan dia sampaikan itu adalah masalah pribadi."


"Aku nggak mau."


"Ardian...." Santi menggeleng-geleng pelan mendengar ucapan menantunya.


Ardian menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Dia sudah membuang ku, Bu. Apa aku masih wajib berbakti padanya?"


Ardian berdecak kesal seraya bangkit. "Aku tunggu Mami di Musholla. Aku mau shalat Isya dulu."


Renata tersenyum haru ke arah Santi. Berjalan keluar mengikuti langkah Ardian yang sudah menghilang dari pandangan.


*********


Renata menggenggam tangan Ardian erat. Berulang kali memeluk putranya itu dengan air mata berlinang.


Ardian hanya menunduk. Tidak merespon balik perlakuan Maminya.


"Pulang, Nak. Papi kamu sakit-sakitan sejak kepergian kamu."


"Aku nggak mau, Mi. Hidup di rumah mertuaku lebih nyaman seribu kali walaupun rumahnya sederhana. Aku juga sudah melamar pekerjaan. Insya Allah beberapa hari kedepan aku sudah masuk kerja. Jadi, aku akan berdiri di atas kakiku. Tanpa mengharapkan harta warisan dari kalian."


"Setidaknya datanglah ke rumah. Tengok Papi kamu, Nak."


"Aku nggak mau. Papi tidak menganggap aku anaknya lagi. Walaupun tidak pernah ada dalam sejarah, mantan anak atau mantan orang tua."


"Mami hanya ingin kamu pulang, Ardian."

__ADS_1


"Untuk apa? Aku tidak mau terjadi pengusiran untuk kedua kalinya kalau aku pulang. Kalau memang Papi menginginkan aku lagi, pasti dia ikut datang kemari."


"Papimu sedang sakit, Nak. Dia berada di ruang ICU di Rumah Sakit ini juga."


Deg..!


Ardian langsung mengangkat wajahnya. "Papi... Papi berada di ruang ICU?"


Renata mengangguk lemah. "Papimu terkena serangan jantung. Semua berawal dari kedatangan wanita yang bernama Audy itu."


Ardian menautkan alisnya mendengar cerita Maminya. "Untuk apa wanita itu datang ke rumah?"


"Dia mencari kamu, Nak. Dia juga mengancam Papi kamu. Dia akan menyebarkan beberapa video lain tentang kamu jika Papimu tidak memberinya apapun yang dia sebutkan."


"Lalu..?"


"Kate teman kamu menceritakan semua tentang kamu. Hubungan kamu dengan gadis itu, terakhir kamu mengunjungi tempat perkumpulan mereka dan kapan video yang tersebar itu diambil." Renata mengusap air matanya di akhir kalimatnya.


"Lalu kenapa Papi sampai terkena serangan jantung?"


"Mami juga nggak tau penyebab pastinya. Intinya, Papi kamu lebih banyak diam setelah mengetahui kebenarannya. Dia sering menyendiri di Ruang kerjanya. Mami menemukannya tergeletak di bawah meja kerjanya. Untungnya Mami cepat datang. Kalau Mami terlambat sebentar saja. Mungkin Papi kamu tidak bisa tertolong lagi."


"Aku akan menengok Papi nanti. Tapi, untuk saat ini aku belum bisa. Aku harus memastikan kalau orang yang mendukungku selama ini keadaannya baik-baik saja."


"Mami mohon, Nak. Sebentar saja."


Ardian mendengus. "Maksa banget sih?!"


"Ini demi kebaikan kalian."


"Kebaikan apa?"


"Kenapa kalau mertuamu yang bicara kamu selalu sopan dan lemah lembut. Sedangkan kalau Mami, kamu seperti orang yang nggak suka melihat kedatangan Mami."


"Itu karena mereka selalu menghargai aku. Mereka tidak pernah menyalahkan aku atas masa laluku. Mereka menerimaku dengan segala kekuranganku. Tidak pernah ada yang menghakimiku sebesar apapun masalah yang aku buat. Semua diselesaikan dengan baik-baik, Mi. Tidak seperti Papi dan Mami yang selalu main kasar. Semua disalahkan pada yang bersalah tanpa ada niat untuk mengkoreksi kesalahan sendiri."


Renata terdiam. Bicara dengan Ardian kali ini benar-benar terasa berbeda. Putranya itu seperti orang yang tidak dia kenal. Ardian memang menolak, tetapi dia masih bersikap sopan. Berbeda seratus delapan puluh derajat dengan Ardian yang dulu.


"Chay juga sedang hamil, Mi. Jadi, aku takut dia mencariku jika aku terlalu lama pergi nanti. Aku akan usahakan untuk datang menengok Papi. Tapi entah kapan itu, jangan memaksaku datang sekarang."


"Terimakasih, Nak."


"Aku harus pergi, Mi. Jaga diri Mami baik-baik."


"Aku mengkhawatirkan kamu, Nak."

__ADS_1


"Jangan mengkhawatirkan aku. Aku bahagia walaupun tanpa harta Mami dan Papi. Allah sudah menghadirkan orang-orang baik di sekitarku yang selalu mendukungku." Ardian bangkit tanpa menunggu ucapan Maminya. "Assalamualaikum, Mi." Meraih tangan Renata dan menciumnya lembut. Berlalu tanpa menoleh lagi ke belakang. Hatinya sakit, tetapi dia harus bisa menahannya. Ingin rasanya segera berlari dan mencari tau keadaan Papinya. Namun, dia menahan perasaan itu. Ardian masih memikirkan ucapan Zidane padanya kemarin.


*********


__ADS_2