Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Chayra masuk Rumah Sakit


__ADS_3

Suasana hening terjadi setelah Ghibran mendaratkan satu tinjunya pada Ardian. Pria itu masih mencengkram erat kerah baju pria itu.


"Lepaskan gue..!" Ardian mencoba menarik dirinya dari cengkeraman Ghibran.


"Aku tidak akan melepaskan kamu sebelum kamu mengembalikan Zahra seperti dulu."


"Ya mana gue bisa. Dia aja yang lebay kayak gitu. Orang aja nggak seperti itu saat gue mainin."


"Tutup mulut kamu!" Ghibran semakin menarik kerah baju Ardian. Kembali mendaratkan satu tinjunya di pipi kiri Ardian.


"Hentikan..!" Bu Renata menarik tubuh Ghibran agar melepaskan putranya.


Ardian menyentuh ujung bibirnya yang berdarah saat Ghibran berhasil ditarik maminya.


"Lepaskan..!" Ghibran mengibas-ngibas tangannya yang ditarik Bu Renata.


"Jangan menyakiti putraku melebihi batasan. Aku bisa saja melaporkan kamu ke polisi."


"Silahkan, Nyonya. Apa anda lupa, kalau putra anda memiliki kasus yang jauh lebih buruk dari apa yang aku lakukan ini. Ini tidak seberapa jika dibandingkan dengan apa yang telah dia lakukan pada Zahra."


Bu Renata akhirnya terdiam. Dia hanya memutar bola matanya untuk melampiaskan rasa kesalnya.


Perhatian mereka teralihkan saat melihat Pak Ismail membopong tubuh Chayra. Keluarga yang lain mengekor di belakang.


"Kalian mau membawanya kemana?" Pak Akmal langsung mendekat dan melihat wajah Chayra yang sudah pucat pasi.


"Kami mau membawanya ke Rumah Sakit, Abi. Dokter yang menanganinya sedang berada di luar kota." Jawab Bu Ainun karena suaminya bergegas sehingga tidak sempat menjawab pertanyaan mertuanya.


Pak Akmal berbalik menatap tamunya. "Kita lanjutkan nanti. Saya harus membawa cucu saya ke Rumah Sakit." Bergegas keluar rumah mengikuti mobil yang dibawa Pak Ismail.


Suara tangis yang bersahutan membuat Pak Akmal kesal. Baru saja mereka sampai di Rumah Sakit. Namun, keributan karena tangisan mengganggu ketenangan Rumah Sakit. "Kalian kenapa menangis? Ayra akan baik-baik saja. Jangan mengganggu ketenangan orang lain karena suara berisik kalian."


Alesha, Amira dan Tina langsung mengusap air matanya. Mereka duduk di lobi karena tidak diizinkan masuk ke ruang IGD.


Sekitar satu jam berlalu saat Bu Santi dan Bu Ainun keluar dari dalam ruangan. Sedangkan Pak Ismail mondar-mandir kesana-kemari urus ini urus itu. Pak Ismail mendekati Pak Akmal yang sedang duduk bersama tiga sahabat Chayra.


"Mm.. Abi, Santi tidak mau mengambil ruang rawat VIP. Dia mau mengambil ruang rawat kelas satu saja katanya."


Pak Akmal berbalik saat mendengar suara menantunya. "Tidak!" jawabnya tegas. "Untuk apa dia cari uang kalau untuk perawatan putrinya saja dia masih perhitungan."


"B.. bukan begitu, Abi. Tapi, maksudnya agar Chayra melihat banyak orang dan dia tidak merasa sendiri."


"Tetap itu akan membuatnya tidak nyaman. Namanya orang sakit pasti dia akan membutuhkan kenyamanan dan ketenangan. Ini kalau ada yang sakit di sebelahnya, bagaimana dia akan fokus pada proses penyembuhannya."


Pak Ismail terdiam. Enggan kalau harus berdebat dengan mertuanya itu.

__ADS_1


"Sana kamu, bilang sama Santi kalau aku yang sudah memilihkan ruang rawat untuk cucuku."


"Iya, Abah." Pak Ismail akhirnya berlalu tanpa komentar. Dia hapal betul sifat mertuanya itu. Tegas dan tidak suka dibantah kemauannya.


Akhirnya Bu Santi mengalah setelah Pak Ismail dan Bu Ainun meyakinkan kalau semuanya akan baik-baik saja. Mereka berdua juga akan ikut menginap di Rumah Sakit demi Chayra.


"Kalau Mbak Ainun juga ikut menginap, siapa yang akan mengurus Amrina dan Mayra, Mbak?"


"Nanti Zidane yang akan mengurus adik-adiknya."


"Zidane kan laki-laki, Mbak."


"Tidak apa-apa, dia sudah terbiasa mengurus mereka. Mayra juga sudah besar, sudah bisa mandi dan makan sendiri." Jawab Bu Ainun semakin meyakinkan. "Kenapa kamu hanya mengkhawatirkan anak-anak Mbak, Dek. Kalau dipikir, anak kamu juga siapa yang akan urus."


Bu Santi tersenyum hambar. "Bian sudah besar, Mbak. Sudah bisa mengurus dirinya. Masak mie instan saja sudah bisa. Goreng tempe juga bisa."


"Tuh kan, Bian kan seumuran dengan Mayra. Dia aja yang cowok sudah bisa mengurus dirinya, apalagi Mayra yang cewek."


"Terimakasih, Mbak atas perhatiannya untuk kami."


Bu Ainun tersenyum seraya memeluk Bu Santi. "Ini sudah menjadi kewajiban kami, Dek. Kalau kami tidak ikut turun tangan, lalu siapa?"


********


Gadis yang selama ini selalu menjaga jarak dengannya karena menjaga kehormatan dirinya. Gadis yang selama ini selalu menjaga auratnya dengan sangat rapat. Gadis yang selalu menjaga etika dimana pun dia berada.


Kini gadis itu terkulai lemah tak berdaya. Kehormatan yang selama ini dia jaga pun, sudah di renggut oleh laki-laki tak beretika. Aurat yang selalu dia tutup rapat sudah dibuka paksa oleh pria tak berperasaan itu.


Ghibran mengusap wajahnya kasar. Wanita yang dia kagumi itu merasa tidak pantas hidup bersamanya. Namun, melihat sikap Chayra yang seperti itu membuat Cinta Ghibran semakin dalam pada wanita itu.


"Ghi, jangan melamun terus. Ayo kita pulang."


"Aku nggak mau balik kalau tidak dengan Zahra."


Ghibran dan Zidane datang membesuk Chayra. Namun, saat Zidane mengajak Ghibran pulang, pria itu langsung menolak. Ia enggan kalau harus meninggalkan Chayra. Dia ingin melihat wanita itu membuka mata dan menyadari kalau dia ada di sampingnya.


"Kamu mau nginap di sini?"


Ghibran mengangguk tanpa menatap Zidane. Tatapannya masih lurus pada gadis yang masih tidur pulas di depannya.


"Ayra butuh istirahat. Kalau kamu ada, itu malah bisa mengganggu istirahatnya. Lagian teman-temannya yang akan nginap nanti malam. Apa iya, kamu mau tidur di kelilingi wanita nanti?"


"Tidak!" Ghibran langsung menjawab tegas. Ia bergidik ngeri. Membayangkannya saja membuat perutnya mual. Apalagi kalau sampai benar itu yang terjadi.


"Makanya ayo kita pulang."

__ADS_1


"Nanti dulu, Zi. Aku ingin menunggu Zahra bangun dulu."


"Tapi kapan? Sebentar lagi mau Maghrib. Bagaimana kalau adzan berkumandang saat kita masih di jalan. Kan, kita tidak dapat pahala awal waktunya."


"Kenapa membingungkan hal itu? Kalau adzan berkumandang, kita tinggal turun dari kendaraan dan shalat berjamaah di Masjid terdekat. Gampang kan? Gitu aja kok repot." Kembali menatap pada Chayra.


Zidane akhirnya hanya bisa menarik nafas berat. Temannya ini benar-benar membuatnya kesal. Akhir-akhir ini, Ghibran benar-benar menguji kesabarannya karena tingkahnya yang hanya mau menang sendiri.


"Iya sudah kalau kamu mau tinggal. Aku mau pulang. Aku mau shalat di rumah, nggak mau di jalan kayak kamu."


Ghibran melirik Zidane kesal. "Zidane, kamu kenapa sih, ngeyel banget jadi orang?"


"Kamu yang ngeyel dari kemarin, Ghi. Kamu lama-lama kayak perempuan, banyak maunya tapi tidak mau mendengarkan orang lain."


Ghibran melongo mendengar ucapan Zidane. "Aku, kayak perempuan?" menunjuk dadanya.


"Iya, kamu banyak maunya, tapi kamu tidak mau mendengarkan kemauan orang lain."


Bangkit sambil menggaruk-garuk kepalanya seperti orang bodoh. "Aku nggak tau apa yang terjadi pada diriku. Aku benar-benar merasa hampa dan bimbang melihat keadaan Zahra yang seperti ini. Ingin rasanya aku membunuh saja pria itu agar rasa sakit Zahra terbalaskan. Tapi..."


"Istighfar, Ghi. Kamu saja yang orang lain, yang hanya sekadar mencintai adikku merasakan hal seperti itu. Apakah kamu pernah memikirkan perasaan kami sebagai keluarga? Seperti yang kamu katakan, jika tidak ada hukum, aku pun ingin membunuh laki-laki bangsat yang tak berperasaan itu."


"Kapan Kakek akan menyelesaikan masalah ini?"


"Kakek menyerahkannya pada Ayra. Apapun yang diinginkan Chayra, itu yang akan dilakukan pada pria itu."


Ghibran diam beberapa saat. "Mm.. bagaimana kalau Zahra menginginkan hukuman mati?"


Zidane mengangkat bahu. "Iya... mungkin saja dia akan dibunuh."


"Tapi kan, ini negara hukum."


"Tidak usah dibunuh secara nyata. Mungkin saja dia dibunuh secara perlahan dengan cara di racun. Atau mungkin dia disuruh meracuni dirinya sendiri.'


"Pakai racun apa?"


"Racun tikus."


"Apa racun tikus mempan di tubuh manusia."


"Gila kamu, yang namanya racun tetap saja membunuh. Minum baygon aja yang racun nyamuk, mati. Nyamuk itu makhluk kecil. Apalagi racun tikus yang makhluknya lebih besar. Otak kamu bisa bekerja tidak? Kamu seorang Dosen lho.."


"Hehehehe..." Ghibran tersenyum meringis, bingung dengan kebodohannya. Otaknya tidak bisa bekerja maksimal saat ini karena masalah yang menumpuk di kepalanya.


*******

__ADS_1


__ADS_2