Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Percobaan pertama


__ADS_3

"Tidurlah, matamu terlihat sangat mengantuk." Ardian kembali mengusap wajah istrinya. "Aku.. aku ingin mencium dahimu."


"Lakukan saja, Kak. Kamu berhak atas itu."


Ardian tersenyum sebelum akhirnya mendaratkan satu ciuman di dahi Chayra. Beranjak kembali ke sofa. Duduk sambil memperhatikan istrinya yang belum juga memejamkan matanya kembali.


"Kenapa melamun, tidurlah."


Chayra melirik suaminya lalu kembali menatap langit-langit kamarnya. "Aku ingin menanyakan sesuatu sama Kakak."


"Tanyakanlah..." Ardian meraih album yang dibawanya tadi. Membuka lembaran pertama dengan hati-hati. Karena di bagian itu ada sedikit robekan dan disambung menggunakan lem.


"Apa yang Ibu bahas bersama Kak Ardian tadi? Kenapa Kakak perginya lama sekali."


"Sesuatu..."


"Makanya sesuatu itu apa. Sesuatu itu yang membuatku jadi penasaran."


Ardian melirik istrinya, kembali fokus pada foto dalam album. Dia harus bisa mengendalikan pandangan dan perasaannya. Kalau tidak, bisa-bisa dia memangsa gadis di depannya. "Besok aku ceritakan."


"Tapi aku penasaran, Kak. Aku tidak akan bisa tidur kalau Kakak tidak cerita. Aku itu orangnya tidak bisa penasaran."


Ardian membuang nafas kasar. Bangkit seraya mendekati istrinya. "Pakai jilbabmu dulu biar aku bisa fokus bercerita."


"Astagfirullahal'adzim, jadi dari tadi aku tidak pakai jilbab?"


"Lho, jadi kamu tidak menyadari hal itu?"


Chayra menggeleng pelan. Matanya mencari letak jilbab yang entah dimana dia meletakkannya sebelum tidur tadi.


"Kamu tidak menemukannya?" Ardian kembali berjalan mendekat.


Chayra menggeleng pelan. "Nggak apa-apa lah, Kak. Toh, Kak Ardian sudah halal untuk melihat semuanya. "Kakak mau tidur dimana?"


"Di samping kamu."


Chayra tersentak. "Mm.. "


"Kenapa? Nggak siap tidur seranjang dengan aku? Merasa tidak selevel tidur dengan aku?"


"Lho, kenapa Kakak ngomong gitu?"


"Kamu sudah terlalu lama menguji kesabaran yang aku miliki, Chay. Sudah waktunya aku menagih hak yang harus kamu penuhi."


Chayra menelan ludahnya. "Aku..."


"Kalau kamu tidak siap terus, lalu kapan kamu akan siap? Sampai kapan kamu akan mengatakan kalau kamu belum siap?"

__ADS_1


"Aku.. nggak tau, Kak."


"Kita harus mencobanya. Aku butuh itu dari kamu. Kalau kamu terus-terusan menahan aku untuk melakukannya. Aku tidak tau apa yang akan terjadi ke depannya nanti."


Chayra menatap Ardian. Dia sedikit bingung dengan sikap pria itu yang tiba-tiba saja terdengar memaksanya. Padahal sebelum ini dia selalu mengatakan akan bersabar sampai dirinya itu siap.


"Aku mohon, izinkan aku mencobanya kali ini."


"Kenapa Kakak tiba-tiba memaksaku untuk memberikan hak Kakak itu. Padahal sebelumnya Kakak mengatakan akan bersabar menunggu."


"Aku sudah terlalu lama bersabar. Sekarang sudah waktunya kita harus melawan trauma itu."


Chayra terdiam beberapa saat. Sepertinya, dia sedang mempertimbangkan ucapan suaminya.


Chayra POV..


Aku bingung melihat sikap Kak Ardian. Kok tiba-tiba bicaranya sangat irit. Bicara seperlunya dan hanya melirik-lirik ke arahku. Seperti orang yang takut menatapku begitu aku menyimpulkan.


Entah nasehat apa yang disampaikan Ibu padanya. Tiba-tiba dia menuntut aku untuk memenuhi haknya. Terkesan memaksa juga. Aku masih takut, kalau bayang-bayang kebejatan dia waktu itu kembali menghantuiku.


Ya Allah, apa yang dikatakan Ibu sehingga dia benar-benar menginginkan itu. Dia juga datang dengan membawa album foto lama milik Ibu ke dalam kamar. Aku saja tidak pernah diizinkan membawa album itu. Kok, bisa-bisanya dia bisa membawanya. Huh,,


Aku juga tidak tau rencana Ibu dengan anggota keluarga yang lain pada pernikahanku ini. Mereka sepertinya tidak perduli lagi dengan trauma yang pada diriku. Mereka bahkan selalu mendukung Kak Ardian untuk memperjuangkan pernikahan ini. Walaupun mereka sudah tau alasanku meminta Kak Ardian menikahiku waktu itu.


Apakah ini semua ada hubungannya dengan hubungan kerja antara kakek Akmal dengan Sucipto mertuaku.


 _________


Ardian beringsut semakin mendekati istrinya. Tangannya menelisik wajah Chayra. Semakin hari rasa cintanya semakin bertambah untuk wanita itu.


Chayra hanya mengerjap-ngerjapkan matanya. Dia harus tetap mencobanya. Iya... walaupun dia belum merelakan tubuhnya akan dimiliki Ardian seutuhnya.


Ardian mencium lama dahi Chayra. Kembali menelisik wajah wanita itu dengan jari telunjuknya. "Aku mencintaimu.." menunduk lalu kembali menatap Chayra. "Aku tau kalau kamu belum bisa untuk itu. Tapi, setidaknya kamu sudah tau kalau aku mencintaimu. Mungkin, mencintai pria seperti aku berat adanya bagimu. Tapi, aku berharap kamu bisa merasakan seperti yang aku rasakan saat ini. Aku bahagia saat bersama dengan kamu. Satu jam tidak bersamamu serasa seperti berhari-hari."


Chayra menahan tangan Ardian yang sudah turun ke lehernya. "Kalau Kak Ardian benar-benar ingin mencobanya, kita shalat dulu."


Ardian tersenyum seraya mengangguk. "Ayo, aku yang ambil air wudhu duluan."


"Iya, Kak. Aku akan menyiapkan tempat shalat."


Ardian langsung berlalu dan masuk ke kamar mandi.


Chayra membuang nafas kasar selepas Ardian menghilang dibalik pintu kamar mandi. Jantungnya serasa mau copot saat pria itu menelisik wajahnya tadi. Menelan ludahnya beberapa kali. "Apakah Ibu memanggilnya karena hal ini tadi?" ucapnya lirih.


Kembali membuang nafas kasar. "Aku harus bisa menjadi istri yang berbakti. Seburuk-buruknya dia, dia adalah suamiku. Dan sebaik-baiknya Kak Ghibran di mataku, dia adalah orang lain. Astagfirullahal'adzim, apa yang kamu pikirkan, Ayra." Chayra menggeleng-geleng pelan merutuki kebodohannya. Beranjak dari tempat tidurnya untuk mempersiapkan tempat shalat untuknya dan suaminya.


"Kak Ardian sudah tau niatnya?" Chayra bertanya saat pria itu sudah siap berdiri di depannya untuk menjadi imam shalat.

__ADS_1


"Sudah, Chay. Kitab kamu kan banyak di rumah. Bab-bab yang membahas tentang pernikahan juga banyak, kan? Jadi aku sudah hafal."


Chayra terdiam. Agak malu karena dia tadinya meragukan kemampuan suaminya.


Chayra dibuat semakin terkejut saat mendengar lantunan ayat suci Al-Quran yang dibacakan suaminya. Benar-benar terdengar berbeda dengan bacaan saat terakhir kali pria itu menjadi imam shalatnya. Ayat-ayat yang dipakainya pun lebih panjang.


Chayra menitikkan air mata. Merasa berdosa karena selama ini dia menganggap Ardian tidak akan bisa berubah secepat ini.


Usai membaca do'a panjang. Ardian tiduran di atas pangkuan Chayra. "Perasaanku terasa lebih tenang sekarang, Chay. Semoga Allah benar-benar menerima taubat hambanya yang hina ini."


Chayra tersenyum seraya mengaminkan do'a suaminya.


Perlahan-lahan, Ardian menarik kepala Chayra. Merasa agak kesulitan karena posisi mereka yang seperti itu, ia bangkit. "Aku akan benar-benar mencobanya sekarang." Ucapnya tanpa ragu.


Chayra mengangguk pasrah. "Lakukanlah, Kak. Aku tidak bisa mencegah Kakak karena itu sudah menjadi hak Kakak."


Ardian kembali tersenyum seraya memeluk istrinya. Bibirnya terlihat komat-kamit membaca do'a. Mengakhirinya dengan kecupan lama di pucuk kepala wanita itu.


Sudah setengah percobaan. Chayra masih baik-baik saja. Pikiran-pikiran buruk itu mulai menghampirinya. Namun, sekuat tenaga ia tepis agar tidak menggangu malam pertamanya. Dia benar-benar ingin menjadi istri sejati malam ini.


Saat usaha terakhir akan dilakukan, keringan dingin tiba-tiba mengucur dari pelipisnya. Tubuh Chayra berubah tegang. Namun, Ardian tidak berhenti. Dia benar-benar ingin memiliki wanita itu seutuhnya. "Bertahanlah, sebentar lagi aku selesai."


Chayra hanya bisa mengangguk pasrah.


_______


Pagi itu, Ardian membangunkan istrinya untuk tahajjud. Untuk pertama kalinya sepanjang sejarah pernikahan mereka, pria itu membangunkan istrinya untuk shalat.


"Chay.. ayo bangun. Kamu mau tahajjud kan?" Ardian menggoyang pelan tubuh Chayra.


Chayra mengerjap-ngerjap. "Ini jam berapa memangnya?"


"Jam tiga, Chay.. Aku saja sudah shalat."


Chayra membuka matanya lebar. "Kakak sudah shalat? Aku sedang tidak salah dengar, kan?"


"Memangnya kenapa kalau aku shalat duluan?"


"Kedengarannya aneh saja."


"Aku kan mau tobat, Chay.. Siapa tau kalau aku beneran tobat. Allah lebih cepat membuka hatimu untuk seorang Ardian Baskara."


Chayra tersenyum mendengar ucapan suaminya. Iya, saat ini dia tidak bersikap kaku lagi pada pria itu. Tapi bukan berarti hatinya sudah bisa menerima Ardian. Dia sedang mencoba. Namun, percobaannya itu belum membuahkan hasil. Perasaannya masih terasa datar untuk pria itu. Belum ada yang terasa manis-manis saat mereka bersama. Walaupun ucapan Ardian seringkali membuat wajahnya merona merah. Namun, itu semua terjadi karena dia memang malu mendengar pujian pria itu. Bukan karena dia ada rasa.


Namun, kejadian semalam membuatnya memberinya banyak pelajaran. Tentang dirinya yang sudah menjadi milik Ardian seutuhnya. Tidak ada lagi kesempatannya untuk mengizinkan pria lain masuk dalam kehidupannya.


*********

__ADS_1


__ADS_2