Sujudku Pada Takdir Cinta

Sujudku Pada Takdir Cinta
Menuju kebenaran part 3


__ADS_3

Beberapa hari setelah pertemuannya dengan kedua mertuanya, Chayra menjadi lebih sibuk. Pak Sucipto dan Bu Renata jadi sering berkunjung ke rumahnya. Apalagi minggu depan adalah jadwal periksa ke Dokter Kandungan. Hampir setiap hari mereka berkunjung membuat Chayra semakin bahagia menanti kelahiran buah cintanya dengan Ardian.


Sementara itu, Ardian semakin sibuk. Bahkan beberapa hari ke depan dia harus ikut ke luar kota untuk menemani Pak Randi. Dia mulai merasa tidak tenang karena sudah pasti dia tidak bisa menemani istrinya ke Dokter Kandungan.


Malam itu, Ardian bisa pulang lebih cepat karena Dodit yang menemani Pak Randi menjamu tamu dari luar negeri.


"Kenapa kalau urusan menjamu tamu kamu tidak pernah mau ikut, Yan?" Dodit akhirnya bertanya karena merasa heran dengan sikap Ardian.


"Nggak mau aja."


"Apa istri kamu...." Belum selesai Dodit bicara Ardian langsung memotong.


"Istriku tidak pernah mau ikut campur dalam urusan pekerjaan. Mau aku pulang jam berapapun dia tidak pernah protes. Tapi, Aku yang tidak enak kalau harus meninggalkannya lama. Aku berangkat meninggalkan rumah dari jam delapan pagi. Masa harus pulang malam terus. Lagian, aku suka khawatir kalau ikut menjamu tamu luar negeri. Aku takut terjerumus lagi." Ardian memalingkan wajahnya saat mengatakan itu.


"Maksud kamu terjerumus?" Dodit mengerutkan keningnya.


Ardian tersenyum kecut. "Aku punya masa lalu yang kelam, Dit. Kamu tidak mengenal aku sejak dulu. Itulah mengapa kamu mengira aku orang yang sangat baik sekarang."


"Aku kok jadi bingung maksud kamu."


Ardian kembali tersenyum kecut. "Kamu nggak usah tau lah. Nggak penting juga dibahas. Aku mau wudhu dulu, mau shalat Isya sebelum pulang." Menghindar untuk menceritakan masa lalu mungkin itu lebih baik pikir Ardian.


"Iya, aku juga mau shalat dulu. Takutnya nanti malah pulang kemalaman." Mereka akhirnya terpisah untuk mengambil air wudhu di kamar mandi ruangan masing-masing. Sebenarnya Dodit penasaran dengan masa lalu Ardian. Tapi, kalau bertanya terlalu jauh juga nggak enak. Muka Ardian sudah terlihat tidak nyaman saat membahas itu tadi.


Malam itu, Ardian bernafas lega setelah bisa pulang cepat. Akhirnya, Pak Randi mengizinkannya untuk tidak hadir dalam acara menjamu tamu malam itu. Pak Randi mengerti kenapa Ardian itu selalu menolak setelah mendengar cerita dari Pak Sucipto beberapa hari yang lalu.


"Sudah, Dit. Jangan terlalu dipaksa. Tidak apa kalau Ardian tidak ikut lagi." Pak Randi menepuk pundak Dodit yang terlihat tidak setuju mendengar keputusan Pak Randi membiarkan Ardian pulang duluan.


"Tapi Ardian selalu seperti ini, Pak setiap kita mengajaknya menjamu tamu. Entah, apa alasannya kenapa dia selalu saja menolak."


"Ada hal yang membuatnya tidak bisa, Dit. Aku sudah membicarakan hal itu dengan orang tuannya. Kalau kita terlalu memaksa, takutnya dia tidak nyaman nantinya." Pak Randi melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti karena mendengar keluhan Dodit.


Dodit akhirnya mengangguk lemah. Mengikuti langkah Pak Randi dari belakang.


Sampai rumah, Ardian tidak mendapati istrinya menunggunya di ruang tamu seperti biasa. Dia malah disambut oleh Kate yang sedang mengutak-atik laptop.


"Assalamualaikum.."


"Eh, w.. wa'alaikumsalam.." Kate mendongak saat mendengar suara Ardian. Dia masih saja terdengar gugup saat akan menjawab salam. Ternyata lidahnya masih kaku untuk mengucap ataupun menjawab salam.


"Sudah lama?" Ardian duduk di samping pria itu. Meletakkan tas kerjanya lalu menarik nafas panjang.

__ADS_1


"Iya... lumayan, gue datang jam tujuh malam tadi. Lho kelihatan loyo gitu. Capek banget ya."


"Capek.. tapi setidaknya gue bisa mencari uang sendiri tanpa harus membebankan orang tua gue lagi."


"Kenapa pulang jam segini. Bukannya perusahaan itu milik orang tua lho."


"Iya, tapi kan perusahaan itu sahamnya dimiliki oleh beberapa orang. Bukan hanya milik Papi sendirian. Lagian, gue memang mau benar-benar kerja. Kalau atasan gue memberi tugas yang harus diselesaikan hari ini, gue harus mengerjakannya sampai tuntas. Bukan karena Papi gue punya saham di Perusahaan itu lalu gue mau bekerja semaunya. Bisa-bisa didepak gue."


"Hehehe.. gue lupa kalau lho sudah tobat." Kate menarik nafas panjang.


Ardian melirik sofa panjang di depannya. Ternyata ada Bian yang sudah tidur dengan mangap disana. "Loh, kenapa adik ipar gue tidur di sini?"


"Disuruh Bu Santi menemani gue tadi. Tapi, dia kayaknya ngantuk banget. Besok katanya mau mengikuti ulangan harian. Jadi dia memilih untuk tidur cepat. Ternyata adik ipar lho ini lucu, Ar. Gue kira dia itu nggak bisa bercanda."


"Hahahaha..." Ardian langsung tertawa. Mengingat kejadian saat makan malam dulu, dimana Bian menyemprot Kate dengan ucapan pedasnya. "Lho pasti mengingat kenangan pahit lho pas pertama kali makan malam di sini?"


Kate hanya tersenyum lemah. "Andaikan gue nggak lapar malam itu, ingin rasanya gue langsung kabur karena merasa tidak layak makan bersama keluarga harmonis kalian."


"Jangan dikenang lagi ah. Kenangan buruk sebaiknya dihempaskan agar tidak mengganggu kita untuk mengejar masa depan."


Kate hanya mengangguk. Beberapa saat mereka terdiam tenggelam dengan pikiran masing-masing.


"Lho bawa berita baru?" Tanya Ardian setelah lama mereka terdiam.


"Tunggu sebentar kalau begitu gue mau mandi sebentar. Tubuh gue lengket seharian mengikuti rapat yang benar-benar menguras emosi jiwa." Ardian langsung bangkit tanpa menunggu persetujuan temannya.


"Eh, lho mandinya suka lama. Kenapa nggak mendengarkan gue dulu sebentar."


"Gue nggak suka mandi lama kok sekarang. Istri gue sering ngomel kalau gue terlalu lama di kamar mandi."


Kate akhirnya hanya bisa mendengus. "Demi uang sepuluh juta, Kate." Ucapnya lirih menguatkan dirinya sendiri.


Chayra terkejut saat melihat suaminya masuk ke dalam kamar. "Kak Ardian kapan pulang?"


Ardian tersenyum seraya mengecup dahi istrinya. "Barusan, Sayang."


"Sudah bicara dengan teman Kakak yang di ruang tamu?"


Ardian tersenyum seraya mengusap kepala istrinya. "Namanya Kate, Sayang. Kenapa kayak yang enggan menyebut namanya sih? Sifatnya tidak seburuk tampilannya kok."


"Bukannya aku enggan, tapi lebih tepatnya aku sering lupa. Padahal namanya lucu kayak nama sepatu. Gkgkgk..." Chayra cekikikan mendengar ucapannya sendiri.

__ADS_1


"Kamu ini ada-ada saja. Aku mau mandi sebentar, kasihan Kate nunggu aku lama."


Chayra mengangguk. "Aku ikut keluar nanti kalau bersama Kakak."


Ardian hanya menjawab dengan anggukan kepala seraya berlalu ke kamar mandi.


Chayra duduk di samping suaminya setelah mereka kembali ke ruang tamu. Sengaja memilih duduk di sofa yang berbeda dengan Kate agar dia bisa duduk dengan nyaman.


Kate menunjukkan sebuah rekaman pada Ardian dan Chayra. Tapi, ia kembali menutup rekaman itu mengingat masih ada Bian di ruangan itu. "Eh, Ar, bangunin dulu lah adik ipar lho itu. Kasihan dia tidur di sofa dari tadi. Lagian, masalah ini masalah orang dewasa. Takutnya dia malah mendengarnya nanti. Apalagi ini menyangkut diri lho."


"Biar aku yang bangunkan Bian." Chayra yang bangkit dan mendekati adiknya. Hanya beberapa kali menggoyangkan tubuh Bian, anak itu langsung bangun. "Tidur di kamar gih, Dek. Abang kamu udah pulang ini."


Bian menggeliat lalu bangun tanpa banyak protes. Langsung berjalan ke kamarnya tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


Kate tersenyum bingung melihat situasi itu. "Nurut banget kayaknya adik lho itu sama Kakaknya."


"Kalau masalah nurut dia itu nomor satu. Nggak pernah ada kata membantah kalau yang menyuruhnya Ibu, Chay atau gue." Ardian menunjuk dirinya dengan sombong. "Sudah, jangan membahas yang lain. Buruan tunjukkan bukti yang lho bawa. Kalau membahas yang lain malah molor waktunya nanti. Gue juga butuh istirahat."


"Iya... nggak sabaran banget sih lho. Ini juga lagi cari." Kate kembali membuka laptopnya.


Sekitar dua puluh menit mereka menonton rekaman video yang ditunjukkan Kate. Sampai video itu selesai, Chayra terhenyak tidak percaya. "Ini, anda dapat darimana p..percakapan ini?" Air mata sudah mulai menggenang.


"Kenapa harus nangis, Sayang." Ardian mengusap air mata yang mulai mengalir di pipi istrinya. "Kate selalu mencari bukti yang akurat dari orang yang tepat. Dia tidak suka main-main kalau sedang menangani masalah serius seperti ini. Ceritakan padanya, Kate darimana lho mendapatkan video itu."


"Gue mendapatkan video itu dari si Audy. Mana gue berani nunjukin ke lho kalau ini berasal dari sumber yang tidak dipercaya."


"Kenapa bisa dia merekam perbuatannya sendiri?" Chayra masih bingung dengan penjelasan Kate.


"Audy itu selalu melakukan persiapan sebelum perang. Sekiranya akan hancur, dia tidak akan mau hancur sendirian. Seperti yang dia lakukan pada Ardian dulu. Kamu percaya dengan nominal yang disebutkan Amira tadi?" Kate malah gagal fokus mendengar janji upah yang akan diberikan Amira pada Audy kalau rencana mereka berhasil.


"Dia hanya memanfaatkan kekayaan suaminya." Jawab Ardian ketus. "Gue memang nggak habis pikir kalau dia sampai senekat itu untuk menghancurkan rumah tangga gue."


"Eh, Ar. Seharusnya lho berani bayar gue dengan nominal yang lebih banyak. Jika tidak bisa sebanyak yang disebutkan Amira setidaknya setengah atau seperempat dari itu."


Plak..!


"Eh, buset lho. Sakit tau nggak." Kate mengusap-usap kepalanya yang di pukul Ardian.


"Lho tau kan, temen lho ini nggak sekaya dulu lagi sekarang. Tapi, gue hanya selalu mensyukuri rizki ini. Gue akan memberikan yang lebih kalau gue udah banyak duit nanti. Kalau untuk sekarang, gue masih merenovasi rumah gue. Gue tidak mungkin terus-terusan tinggal di rumah mertua gue."


"Hehehe.. Kate hanya cengengesan. sambil mengusap-usap kepalanya.

__ADS_1


*******


__ADS_2