
Sepeninggalan Ardian, Husein masih tertegun. Bingung apa yang harus dia lakukan. Saat Ardian menghubunginya tadi siang memberitahukan keberadaan istrinya, Husein langsung sigap menunggu informasi selanjutnya dari Ardian. Amira sudah menghilang sejak beberapa hari terakhir. Wanita itu hanya kembali satu Minggu ke Turki dan mengajak suaminya pulang kembali karena ada urusan yang ingin dia selesaikan. Dan ternyata, urusan yang dimaksud istrinya adalah meneror kembali sahabatnya demi seorang Ardian Baskara.
Husein sudah mengerahkan anak buahnya untuk mencari keberadaan Amira. Tetapi, anak buah Pak Akmal lebih cepat dan siaga sehingga keberadaan Amira tidak terendus oleh anak buah Husein.
"Apa anda ada urusan dengan orang yang di dalam, Pak?" Satpam yang berjaga bertanya dengan sopan pada Husein.
"Oh, saya suami wanita yang di sekap di dalam, Pak. Tadi siang Pak Ardian menghubungi saya dan mengatakan kalau istri saya berada di rumah ini."
Satpam itu manggut-manggut. "Tapi, kami tidak bisa memperkenankan anda masuk saat ini, Pak. Ini semua atas dasar perintah dari Tuan Besar kami."
"Saya mengerti, Pak. Maaf mengganggu Bapak menjalankan tugas. Saya permisi.." Husein melangkahkan kakinya dengan ragu. Berbalik sekali lagi menatap bangunan dua lantai itu. "Aku akan datang besok untuk menjemputmu." Husein berkata pada dirinya sendiri. Melangkah masuk ke dalam mobilnya diikuti dengan tiga mobil pengawal setelah dia keluar dari gerbang rumah itu. Ingin rasanya dia menerobos masuk untuk mengetahui keberadaan istrinya, tetapi dia harus menahan semua itu demi kebaikan semua. Husein tau kesalahan istrinya sudah terlalu banyak dan mungkin sulit dimaafkan oleh pihak keluarga Chayra.
Sementara itu...
Ardian berjalan keluar dari mobil untuk membuka gerbang rumah mertuanya. Tetapi, dia terkejut saat mendapati seorang Satpam yang sudah berdiri membukakan gerbang dengan hormat.
"Selamat malam, Tuan.." Sapa Pak Satpam dengan ramah.
"Selamat malam, Pak. Satpam baru..?"
"Eh, iya, Pak. Perkenalkan saya Suroso, utusan Pak Akmal untuk menjaga rumah menantu dan cucunya."
"Oh, gitu ya, Pak. Kalau begitu saya pamit, Pak mau istirahat dulu."
"Silahkan, Tuan.. selamat malam.."
Ardian mengangguk seraya masuk kembali ke dalam mobil dan memasukkan mobilnya ke dalam garasi. Ia melihat mobil Pak Akmal ada di sana yang menandakan kalau pria itu menginap di rumah ini.
"Sehebat apa dirimu, Kek. Aku jadi penasaran dengan Kakek. Tapi, istri dan mertuaku selalu hidup sederhana, berbanding terbalik dengan Kakek yang selalu menampakkan kemewahan." Ardian bergumam sendiri sambil melangkah masuk ke dalam rumah. Saat masuk ke dalam rumah, lampu sudah dimatikan karena waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Tidak ada pertemuan yang berarti dengan Amira. Wanita itu suka berbuat semaunya. Tapi, mudah-mudahan dengan dia menghubungi Husein, masalah ini cepat selesai dan Husein bisa membawanya istrinya kembali ke Turki.
Ardian mengetuk pintu kamar karena terkunci dari dalam. Ia mengernyit heran, tumben istrinya mengunci pintu kamar saat dirinya belum pulang kerja. "Assalamualaikum, Chay.. aku pulang. Kenapa pintunya di kunci, Sayang.."
Ceklek...!
Pintu terbuka dari dalam dan menampakkan ibu mertuanya yang terlihat baru bangun.
"Sudah pulang, Nak?" Bu Santi menguap, menutup mulutnya yang menganga lebar.
__ADS_1
"Iya, Bu. Maaf merepotkan Ibu."
"Tidak apa-apa. Istrimu baru saja terlelap. Perutnya kram dari tadi. Mungkin karena anaknya sebentar lagi mau lahir, jadi kontraksi palsu semakin sering terjadi."
"Kenapa dia tidak menghubungiku, Bu."
"Ibu yang melarangnya. Masalah dengan wanita itu harus segera diselesaikan agar kalian bisa hidup dengan tenang."
Ardian menunduk. "Wanita itu Amira, Bu. Dugaanku tidak meleset."
"Kakek sudah ceritakan sama Ibu." Bu Santi menghela nafas berat. "Sudahlah, Nak. Masalah ini jangan terlalu dipikirkan. Kedepannya kita hanya harus lebih berhati-hati. Apalagi sebentar lagi anggota keluarga kita akan bertambah. Ibu hanya berpesan, kamu jangan terlalu sering meninggalkan istrimu. Kita tidak tau kapan anak kalian akan lahir. Ibu takut kejadian seperti kemarin terulang. Istrimu sakit dan tidak ada orang di rumah."
"Iya, Bu. Insya Allah, Ardian akan lebih waspada mulai sekarang."
Bu Santi menepuk pundak menantunya seraya tersenyum lembut. "Ibu mau kembali ke kamar kalau begitu." Bu Santi melangkah meninggalkan kamar putrinya. Tetapi, batu beberapa langkah, ia berbalik lagi dan menatap Ardian yang sudah siap menutup pintu. "Oh, iya, Nak. Ada asisten baru dan Satpam sekarang. Ibu rasa kalau dengan Pak Satpam kamu sudah bertemu. Asistennya dua orang dan itu semua dari Kakek kalian. Besok kalau kalian sudah pindah rumah, kedua Asisten itu akan ikut pindah bersama kalian. Ibu tidak suka memakai jasa pembantu. Ibu lebih senang melakukan pekerjaan rumah sendiri."
"Iya, Bu.." hanya itu jawaban Ardian karena mertuanya langsung berlalu. Ardian langsung membuka pakaiannya untuk membersihkan badannya, tetapi ia urungkan ketika melihat wajah tenang istrinya yang sedang tertidur lelap. Ia berjalan mendekat dan memperhatikan wajah sudah menghiasi hari-harinya dua tahun terakhir ini. "Maafkan aku, Sayang. Aku terlalu sibuk sampai tidak tau kalau anak kita meronta lagi minta dikeluarkan." Ardian mendekatkan wajahnya untuk mencium istrinya. "Ups, astagfirullah.. aku belum membersihkan badan." Ardian menjauh dan kembali ke niat awalnya untuk ke kamar mandi.
********
Saat pekerjaan Kantor sedang padat-padatnya. Tiba-tiba Pak Akmal menghubungi Ardian yang sedang ikut rapat bersama Pak Randi. Ardian meninggalkan handphonenya di ruangannya karena takut mengganggu rapat. Pak Akmal sampai berdecak kesal karena cucu menantunya itu tidak kunjung menjawab telepon darinya. "Kemana anak itu..." Ucapnya dengan kesal.
Pak Akmal menarik nafas panjang seraya beristighfar. Rencana yang sudah dia susun harus segera terlaksana agar masalah cucunya ini cepat selesai. Dia sudah muak dengan kebodohan yang dibuat Amira.
Pukul empat sore barulah rapat selesai. Ardian bergegas ke ruangannya karena perasaannya tidak enak dari tadi. Ia langsung menyambar handphone yang dia tinggalkan sebelum rapat tadi. Melepas charger yang masih menempel di handphone itu. "Ya Allah.. Kakek menghubungi ku, ada apa lagi ini.." Ardian memijit nomor Pak Akmal untuk melakukan panggilan balik. Ia sangat khawatir karena ada lima belas panggilan tak terjawab dari Kakek.
"Assalamualaikum, Kek."
"Wa'alaikumsalam.. kamu kemana saja, Ardian. Puluhan kali Kakek menghubungimu."
"Aku baru selesai rapat, Kek." Ardian menjawab dengan tergagap.
"Kamu bisa meninggalkan Kantor sekarang. Kita ke rumah itu sekarang.."
"Mm.. saya izin dulu pada Pak Randi, Pak."
"Iya, Kakek tunggu kamu di rumah."
__ADS_1
"Baik, Kek.."
Tut.. Tut... Tut...
Pak Akmal memutus sambungan telepon secara sepihak. Ardian menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ia bergegas ke ruangan Pak Randi untuk meminta izin meninggalkan kantor sebentar.
Sekitar lima belas menit Ardian menunggu Pak Randi berdiskusi dengan Bu Dewi. Sekretaris Direksi itu begitu santainya mengangkat sebelah kakinya di depan Pak Randi. Huh, Ardian mendengus saat melihat pemandangan yang bukan lagi menjadi favoritnya seperti dulu saat dirinya masih bejad.
"Ada apa, Ardian?" Pak Randi mendekati Ardian setelah Bu Dewi pergi dengan gaya lenggak-lenggoknya.
"Mm.. saya mau izin pulang sebentar, Pak. Kakek istri saya menghubungi saya karena ada masalah yang harus segera diselesaikan."
Pak Randi mengerutkan keningnya. "Memang sudah tidak ada jadwal lagi kan? Jadi kamu bisa pulang walaupun tidak minta izin. Tapi, untuk besok pagi jadwal kita penuh sampai jam tujuh malam. Jadi kamu tidak bisa izin kemana-mana untuk besok."
"Saya mengerti, Pak. Kalau begitu saya pamit, Pak. Selamat sore..."
Pak Randi mengangguk melepas kepergian Ardian. Kehidupan yang dijalani Ardian masih menjadi tanda tanya besar untuknya. Asistennya yang satu itu terkadang sering izin tanpa alasan yang jelas. Beberapa kali mempertanyakan pada Dodit, tetapi Dodit tidak pernah memberikan jawaban yang pasti. Yang dia tau, Ardian adalah laki-laki beristri dan sangat menyayangi istrinya itu. Akhirnya, Pak Randi menahan rasa penasarannya itu sampai sekarang.
Sampai rumah, Pak Akmal sudah menunggu kedatangan Ardian di teras rumah. "Kita langsung berangkat, tidak usah membuang-buang waktu lagi." Pak Akmal langsung bangkit.
"Tapi, aku belum shalat Ashar, Kek."
Pak Akmal yang terkejut sontak langsung berbalik mendengar ucapan Ardian. "Kamu kenapa belum shalat sampai jam segini, Ardian. Kamu kita ini jam berapa? Cepat shalat dulu sana. Kakek tunggu kamu disini."
"I.. iya, Kek terimakasih.." Ardian bergegas memasuki rumah. Ardian tidak mendapati istrinya atau siapapun di rumah. Sekilas dia hanya melihat dua orang wanita yang sedang sibuk di dapur. Ardian sudah memperkirakan kalau itu pasti Asisten yang pernah diceritakan mertuanya. Tapi, kemana semua orang di rumah itu. Ardian segera mengambil air wudhu. Menepis semua pikiran buruk yang mulai menari-nari di pikirannya.
Pak Akmal menoleh saat melihat Ardian keluar dengan wajah yang lebih segar. Melirik kembali ke arah jam tangannya. Dua puluh menit, Ardian menghabiskan waktu untuk shalat. Ternyata perkembangannya cukup baik sampai sejauh ini.
"Chay dan Ibu kemana, Kek?" Ardian akhirnya memberanikan diri untuk bertanya.
"Mereka sudah berangkat ke rumah itu."
"Hah," Ardian membelalakkan matanya tidak percaya. "K.. kenapa Chay juga harus ikut, Kek."
"Akan ada sidang nanti di sana. Jadi, semua harus ikut berkumpul. Tersangka, korban dan saksi. Sudah, kamu cepetan masuk. Mereka sudah capek menunggu kamu yang tak kunjung pulang."
Ardian akhirnya ikut masuk ke dalam mobil yang dibawa oleh sopir pribadi sang Kakek.
__ADS_1